The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FIFTY ONE


__ADS_3

Last Part :)


~Aku menemukan tempatku untuk berpulang.


Kehidupan itu tidak pernah ada yang tahu akhirnya jika tidak kita coba jalani. Seperti halnya ketiga pria itu yang memiliki kisah penuh warna. Canda, tangis, duka dan tawanya menghiasi rumah megah pria bernama Jung Jungkook.


Kini ketiganya sudah dewasa, memiliki kehidupan masing-masing dan memiliki tanggung jawab sendiri. Sisah hidup yang dihabiskan bersama orang yang dicintainya.


Bagaiman sosok Jena yang hanya hama bagi kehidupan pria dingin bernama Ray kini menjadi kupu-kupu yang selalu memetik dan menyesap sari bunga di dalam hatinya.


"Aku tak akan pernah lelah, bahkan jika aku harus kau tolak seribu kali, dan bahkan bila aku harus kau sakiti berjuta-juta kali, karena cinta yang aku punya sudah sejak dulu adalah milikmu."


Pedoman kata sederhana Jena membuat langkahnya tak pernah gentar dalan mengejar Ray. Inilah Akhirnya, mereka hidup bersama.


Sudah berapa tahun lamanya berlalu? Berapa tempat terindah yang mereka habiskan bersama? Kini mereka dikaruniai dua orang anak.


Pertengkaran punya sulosi. Pertengkaran menyebabkan kebukaman, tapi sebagai kepala rumah tangga, Ray berhasil mengatasinya.


15 tahun kemudian.


"Jung Leon!" teriak seorang wanita dengan dress pendeknya. Dia semakin dewasa semakin cantik.


"Ada apa, Mom?" tanya pria yang dipanggil Leon itu.


"Dimana Lea?" tanya wanita yang dipanggil ibu itu.


"Lea berada di kamarnya." Jawaban kalem Leo membuat Jena beranjak ke kamar anak perempuannya.


Benar saja Jung Leon dan Jung Lea adalah buah hati Jena dan Ray. Nama Leo sebenarnya diperdebatkan Ray karena istrinya ngotot memberi nama anak mirip singa.


Jena juga keras kepala karena mengingat saat mereka remaja Rey mengatakannya dulu, jika kalian hahah cari sendiri. Biar Jena ingatkan,  Rey dan dia waktu itu menonton TV dan mengatakan jika Jena punya anak beri saja nama Singa karena wanita itu mirip Singa,  siapa sangka mereka malah menikah.


Pria berusi lima belas tahun itu menatap punggung ibunya hingga hilang. Dia menekan pangkal hidungnya melihat ibunya seperti gadis remaja.


"Bagaimana bisa Daddy menikah dengan Mom?" gumamnya, untung saja Jena tidak mendengarnya.


Di kamar Lea dia tengah sibuk membaca. Jena tersenyum melihat putrinya.


"Lea, kamu mau keluar sama Mom? Mom mau ke kantor Daddy," ujar Jena.


"Aku ulangan besok, Mom. Sampaikan salamku saja pada, Daddy."


Tidak ada yang mewarisi sikap Jena, kedua anaknya kalem seperti Ray. Apalagi Singa Leon, dia sangat kalem dan dingin. Kalau masalah cantik, Lea tidak bisa diragukan.


"Baiklah Mommy ingin mengunjungi Daddymu." Jena meninggalkan anaknya dan bergegas ke kantor suaminya.


***


Lain di tempat kediaman Ryeong, pria itu pulang makan siang dan melihat putranya bermain dengan kedua adik kembarannya.


Jung Ryedka putra pertamanya,  dan anak kedua kembar cewek dan cowok. Mereka bernama Ryena dan Ryeno.


Usia Ryedka enam belas tahun sedangkan adiknya dua belas tahun.


Mereka tampan-tamapan dan cantik.


"Ryedka!" teriak kedua adiknya menghampiri abangnya yang baru pulang sekolah.


"Abang capek, mau tidur." Ryena dan Ryeno mendengus kesal.


"Ayo Bang kita menonton! Ada film baru!" Inilah kebiasaan Ryena dan Ryeno, mengajak Ryedka yang malasan keluar. Dia mirip Ryeong yang tinggal di rumah dan belajar.


"Nak, Abang jangan diganggu," tegur Keyra. Dia membiarkan putranya pergi ke kamar.


"Mommy kita ingin mengajak Abang keluar," ajak Ryena.


"Iya, Mom."


Ryeong yang selesai makan memghampiri kedua anaknya."Bagaimana jika menontonnya sama Daddy?" tanya Ryeong membuat mereka memeiki senang.


"Aku juga ikut," ujar Keyra mendapat anggukan suaminya.


Mereka keluar bersama dan membiarkan Ryedka tidur pulas. Keyra sudah menyiapkan makanan untuk putranya itu.


Lain dari yang lain. Rumah berjejer tiga itu terlihat asri dan tenang dari luar. Tapi,  rumah di tengah itu sangat rusuh.


"Gata! Gita! Kenapa badan kalian lecet gini?!" tanya Eunbi kaget melihat putrinya terluka.


"Mommy, Gata dan Gita hanya jatuh," ujar Gata.


"Jatuh dari mana?" Eunbi menajamkan matanya.


"Sudahlah, putri-putri Daddy baik-baik saja kan?" tanya Ryung dari belakang dan mengedipkan mata membuat Gata dan Gita menahan senyum.


Eunbi melepas rangkulan Ryung dan menatap memicing suaminya. Ryung terlalu membebaskan Gata dan Gita.

__ADS_1


Hingga seorang pria muncul dengan jaket hitam mebalut tubuhnya. Wajahnya bahkan dangat datar.


"Ryuka!" panggil Eunbi melihat wajah putranya babak belur.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Eunbi berkacak pinggang.


"Mommy ini sudah biasa untuk laki-laki. Iyakan Dad?" Ryung mengangguk.


"Kalian berempat ...." Eunbi menarik napas dalam."Masak sekarang! Atau kalian semua dapat hukuman bersihkan kolam renang, taman sama nyuci, ngepel," lanjut Eunbi.


"Yah kok gitu sih Mom. Malam ini kan malam minggu," kata Gata protes.


"Mommy sekarang itu waktunya anak remaja lagi hang out. Masa disuruh masak," ujar Gita ikut protes seperti kembarannya.


"Aku banyak kerjaan kantor, By." Ryung menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Aku ada janji sama teman malam ini, Mom," kata Ryuka.


Eunbi memejamkan mata dan tersenyum lembut."Kalian boleh kok gak masak, boleg banget. Tapi tidur di ruang tamu."


Mereka berempat membulatkan mata.


"Andwee!" Sontak keempatnya berteriak kompak.


"Maka kerjakan sekarang," ujar Eunbi masih tersenyum. Mereka beridik ngeri, walau tutur kata Eunbi lembut tapi mereka malah merinding.


"Mommy Gata gak tau masak," ujar Gata cemberut.


"Makanya belajar masak. Makan apa suami kamu nanti kalau kamu gak tau masak," ujar Eunbi.


"Aku gak peru masak Mom, laki-laki itu dimasakkan bukan memasak," ujar Ryuka.


"Ryuka  ... jangan pikir Mommy gak tau kamu itu playboy. Banyak anak gadis remaja di sini menangis karena kamu putusin. Mommy gak mau tahu, kalian harus masak."


"Kalian nurut, Nak. Masak sama Daddy! Kita pake Tim, Ryuka sama Gata,  dan Daddy sama Gita."


"Mauuuu Dad!"


Mereka bersorak bahagia.


"Mandi," ujar Eunbi saat mereka berlari ke kamar. Ryung mendekat ke arah istrinya dan memeluk Eunbi.


"Lelah banget ya, Sayang kamu ngurusin kami?" tanya Ryung mendapat ciuman dari istrinya.


"Aku manusia dan kata lelah gak ada cuma capek aja. Aku juga senang mengurus kalian yang nakalnya minta ampun." Ryung tertawa.


"Senakal apapun mereka, Sayang. Kamu harus tahu di luar mereka tampak mewarisi aku, dan kamu harus tahu, hati mereka adalah didikan kamu. Di dalam hatinya ada kamu, ada kebaikannya."


Eunbi tersenyum. Dia juga percaya senakal apapun mereka pasti berubah.


"Kamu jangan terlalu manjain mereka," bisik Eunbi.


"Aku gak mau mereka merasa kurang kasih sayang, banyak anak di luar sana yang kurang kasih sayang orang tuanya dan aku gak mau anak-anak kita merasakan itu. Cukup Gata dan Gita merasakannya dulu, aku gak mau dia merasakan itu."


Gata dan Gita bahkan tahu jika dia bukan anak kandung Eunbi dan Ryung. Bahkan keluarga dari ayah kandungnya sekarang tahu kebenarannya, tapi Gata dan Gita tetap membencinya.


Bahkan keluarga Eunbi sangat menyesal. Gata dan Gita tetap ngotot agar berhenti berhubungan sama mereka. Eunbi juga berat melakukannya tetapi dia juga sakit hati.


Eunbi awalnya sulit memaafkan, tapi karena Aeri,  dia berusaha ikhlas. Apalagi Suhon meninggal.


"Aku bahagia memilikimu," ujar Ryung dan mencium bibir istrinya.


"Ekhm!" Deheman seseorang membuat mereka kaget.


Saat melihat pelakunya, Ryung berdecak kesal. Dia merengku pinggang istrinya.


"Apalagi yang kamu lakukan siang-siang begini di rumah orang? Kami mau ***** juga," ujar Ryung membiat pipi Eunbi memerah malu.


"Ck," decak pria itu.


"Makanya nikah, nikah itu enak." Pria itu semakin berdecak kesal. Dia mencomot kue di atas meja dan duduk di sofa dengan santai.


Ryung dan Eunbi ikut duduk menatap pria yang tak lain adalah tetangganya. Pria itu membangun rumah dua tahun yang lalu, tetapi tidurnya tetap di rumah Aeri dan Jungkook.


Levin membuat rumah itu untuk menghindari teror Aeri untuk menikah. Dia bahkan kabur diacara saat Aeri dan Jungkook ingin mengenalkannya dengan beberapa gadis teman bisnis mereka.


Ryeong bahkan ikut merencanakan perjodohan Levin. Mereka benar-benar mirip seperti saudara kandung.


Echa juga tak sungkan memarahi Levin, sementara Levin juga tak sungkan marah kepada Echa jika salah.


"Levin, Mommy tahu kamu di sini."


Levin hampir tersedak kuenya. Dia menoleh melihat Aeri datang dengan balutan dress anggung miliknya.


"Mom  ... aku tidak mau." Levin menatap Eunbi datar. Aeri duduk di samping Levin. Dia tidak menanggapi ucapan putranya.

__ADS_1


"Mommy bukan mengajakmu ke pesta, tetapi Mommy ingin menjagakmu ke rumah Aunty Yuna."


Ibu Jimin? Ada apa di sana. Levin mengangguk saja karena dia juga tahu  Yuna. Wanita yang kerap dipanggil bunda itu.


"Baik, Mom."


"Anak-anak kalian di mana?"


"Memask Mom," ujar Eunbi.


"Tumben," ujar Aeri.


"Dia dapat hukuman, Mom."


Aeri tahu ketiga cucunya itu sangat nakal. Dia dan Levin pamit.


"Kita ke kamar," ajak Ryung.


"Nagapain?" tanya Eunbi.


"Make a baby," bisik Ryung serak.


"Mesum." Ryung mencium bibir Eunbi dan **********. Eunbi mengalungkan tangannya dan mereka masuk ke dalam kamar.


Mereka sama-sama tersenyum bahagia. Di dapur Gata dan Gita cemberut.


"Mommy kok gitu. Aku pikir dia nyuruh Daddy masak di dapur, tau-taunya masak di perutnya Mommy," gerutu Gita.


"Heem." Gata cemberut.


Ryuka meringgis dalam hati mendengar kata-kata nunanya.


"Kalau tau gini gua juga mendingan mampir ke rumah cewek gua," batin Ryuka.


"Cepetan masak ah malas banget nih sumpah."


"Lo berdua doyang makan tapi malas masak." Ryuka mencibir ke arah mereka. Dia memang lebih jago masak, bakat Eunbi sepertinya menurun kepadanya.


"Cowok tuh cari istri bukan pembantu!" teriak keduanya.


"Cowok butuh masakan bagus bukan masakan hangus."


Mereka mendengus bersamaan. Usia mereka memang terpaut jauh. Gata dan Gita umur dua puluh satu sedangkan Ryuka umur delapan belas tahun tetapi mereka kadang seperti teman sebaya. Apalagi tinggi Ryuka sama dengan Ryung. Pria itu juga sangat pintar sekali. Mengambil kelas akselerasi.


"Yuk turun ke bawah. Mereka masak apa kira-kira, " ajak Eunbi sehabis mandi bersama suaminya. Ryung mengangguk dan berjalan ke dapur.


"Hummmm baunya harum," puji Ryung membuat Gata dan Gita tersenyum senang.


"Aku yang masak, Dad. Mereka berdua hanya bawel," ujar Ryuka dengan mata mengejek kelada nunanya.


"Enak aja."


"Memang enak."


Mereka berdua hampir kembali berdebat jika Aeri tidak melerainya.


"Gak boleh berantem di depan makanan." Eunbi mengambilkan nasi untuk suaminya. Gata dan Gita duduk dengan wajah kesal. Ryuka sendiri tersenyum penuh kemenangan.


Gata dan Gita mengacukan garpunya seolah bersiap menyantap Ryuka.


"Gata  ... Gita," tegur Ryung. Gata dan Gita menggumaan maaf. Ryung mengangguk.


"Makan yang banyak, Sayang." Ryung menyuapi Eunbi. Mereka memang lebih suka makan sepiring berdua.


Ryung menatap keluarganya bahagia."Aku akhirnya punya tempat untuk berpulang. Terimakasih telah hadir di dalam hidupku, By. Memberikan anak-anak seperti mereka. Aku bahagia, sangat bahagia. I love you my wife," bisik Ryung. Eunbi mengelus pipi suaminya.


"Eunbi love Ryung," bisiknya juga.


Gata, Gita dan Ryuka tersenyum melihat kedua orang tuanya yang terlihat kasmaran.


Eunbi dan Ryung merasa diperhatikan menoleh melihat anak-anaknya tersenyum lebar ke arah mereka.


"I love you Mommy, Daddy dari ketiga anak-anakmu ini," ujar mereka serentak. Eunbi menahan air matanya haru.


"Lov you my litle girl's and my boy!"


Mereka sama-sama tertawa.


Pada akhirnya Ryeong, Ryung dan Ray menumukan tulang rusuknya. Mereka punya perjalanan hidup yang masih panjang.


Tetapi, inilah The Triplek's dengan kisahnya. Ketiga pria itu akhirnya menemukan wanita tempat mereka berlabuh.


"We are Happy and story life  ... happy ending."


Triplek's sama-sama tertawa bersama keluarga kecil mereka.

__ADS_1


Tamat.


Terimakasih semua mengikuti kisah The Triplek's 😘💕


__ADS_2