
~Kamu akan cantik jika tersenyum.
Berapa lama pria yang terlelap kini kelopak matanya mulai terbuka. Dia meringgis pelan dan merasa tubuhnya sulit digerakkan.
Sesaat dia terdiam. Ekor matanya melirik jam dinding yang senang tiasa menunjukkan jika ia akan terkena masalah ketika sampai di Kampusnya.
Jam 13:00 siang, dan dia merasa perutnya perih. Walau sakit dia berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Tangannya meraih ponselnya dan melihat banyak notifikasi. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah pesan dikirim dari screet number.
To Ryung
Bagaimana sambutan keluargamu?
"Ck," decak Ryung pelan.
Pantas saja dia merasa bingun darimana keluarganya tahu ini semua. Dia menduga-duga Eunbi mengadu dan rasanya tidak. Sekarang ia menebak pasti mommy dan daddynya di sana.
"Ryung kamu sudah sadar," ujar Echa sambil membawa nampan berisi sup.
Ryung membuka mata dan melihat nunanya. Ryung diam saja karena bibirnya sobek dan terasa perih.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Echa kahwatir dan duduk di tepi kasur Ryung.
"Ya," lirih Ryung.
"Aku suapi kamu dan minum obat setelahnya," ujar Echa tetapi Ryung menunduk.
"Nuna tahu kamu salah, tetapi Nuna tidak marah. Jangan sedih, ada Nuna dan juga V, Avy, dan Ey." Ryung menatap nunanya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadikan ini pelajaran saja. Biarkan dulu mereka seperti itu." Ryung mengangguk. Dia menerima suapan dari Echa walau sangat susah.
Sejujurnya Echa menahan air mata melihat adiknya menahan ringgisan tiap makan. Dia melihat wajah Ryung sangat bengkak.
"Tidurlah," ujar Echa membuat Ryung hanya mengangguk.
***
Di ruang keluarga.
Keluarga Jungkook berkumpul. Rudiger dan Jeneni sebenarnya baru pulang. Dia melihat kondisi Ryung saat pria itu masih terlelap. Saat ini Gata dan Gita dimonopoli oleh mereka.
Hana dan Jhope hanya melakukan vidio call kepada Aeri. Mereka kecewa juga tapi begitu cemas setelah mendengar kondisi Ryung.
Lain dari lain, Jimin justru marah atas tindakan Ryeong dan Ryung. Pria yang memiliki dua buntut itu mengatakan ingin menghajar Ray dan Ryeong yang hampir membuat Ryung mati.
Untung sang istri--Zia meredakan amarah suaminya. Lalu, Amela anak pertama Jimin sudah tumbuh jadi gadis remaja dua belas tahun. Dia sangat cantik dan tentu ikut sedih mendengar sepupunya sakit. Jia sang adik yang belum mengerti apa-apa tetap terlelap.
"Bagaimana adikmu?" tanya Aeri kepada Echa saat putrinya duduk.
"Dia tentu sakit, Mom. Bahkan dia makan dengan susah payah," ujar Echa dengan napas lelah.
"Sudahlah, ini sudah terjadi. Musibah datang kepada siapapun dan bisa terjadi di mana pun. Ryung salah dan sudah mendapat hukuman, jangan hakimi lagi." Akhirnya V angkat bicara kepada keluarganya. Dia tidak ingin mertuanya juga ikut memberi Ryung bogem mentah.
Jungkook yang melihat kondisi putranya amarahnya lenyap. Dia mengangguk membenarkan menantunya.
"Setidaknya dia harus sadar, jika tidak dipukul dia akan selamanya bersikap semaunya." Ryeong masih diliputi rasa panas begitupun Ray.
Echa yang kesal mendengar jawaban adiknya, akhirnya marah.
"Apa yang kau tunggu kalau begitu! Kau melihat kamarnya, datanglah ke sana dan bunuh dia!" ujar Echa kesal membuat keluarganya memandangnya kaget. Ryeong dan Ray juga sama kagetnya.
V mengusap lengan istrinya. Situasi memang memanas dan dia tidak mau emosi menyelesaikan masalah. Dia berusaha bersikap bijak.
"Queen," tegur V pelan. Echa memalingkan wajahnya kepada suaminya dan memelas. V mengusap surai hitam Echa.
Ryung keluar dari kamar dan melihat keluarganya berkumpul. Dia berdiri kaku saat orang tuanya memandangnya, sedangkan kembarannya enngan menatapnya.
"Oppa," panggil Keyra lembut."Kemarilah," ujar Keyra lagi.
Echa mendengarnya langsung menoleg dan melempar senyum kepada Ryung.
"Kemarilah, Ryung." Ryung melangkah pelan ke sana.
"Uncel!" pekik Avy dan Ey senang. Mereka menghampiri Ryung dan menatap polos wajah pamannya.
"Uncel mhkanya kenapa?" tanya Ey menunjuk wajah pamannya. Avy ikut menunjuk wajah Ryung.
"Abang, Uncel akit," ujar Avy cendel.
"Ufhhhh." Avy meniup-niup ke arah Ryung membuat Ryung mengacak gemas keponakannya. Echa tersenyum melihat tingkah menggemaskan putrinya.
Ryung tahu semua kecewa kepadanya. Bahkan mommy tak mengajaknya berbicara. Aeri pun juga tak tahu dia kenapa bisa mengabaikan putranya. Mungkin dia ingat tangisan Eunbi kemarin. Dia benar-benar menemani Eunbi saat wanita itu merasa sedikit baikan.
Ponsel Ryung bergetar dan melihat nama Levin. Hampir dia lupa jika dia diajak ke Australia. Harusnya dia bertemu dengan Levin hari ini.
.
__ADS_1
.
.
Ryung sudah ganti baju dan berjalan terseok-seok. V yang melihatnya menghampiri Ryung.
"Ryung, mau ke mana?" tanya V membuat Ryung berhenti berjalan.
"Hyung, aku ingin bertemu dengan temanku," ujar Ryung.
"Dengan kondisi seperti itu?" Ryung mengangguk.
"Panggillah ke sini. Kondisi kamu parah, lebih baik di sini." Ryung mau tak mau mengangguk patuh. Dia kembali ke kamar dan menyuruh Levin datang ke rumahnya.
"Queen," panggil Echa sehabis memberi Avy asi. Echa menoleh kepada suaminya dengan alis terangkat.
"Nanti teman Ryung datang, buatkan mereka minuman, Queen." Echa mengangguk patuh.
***
Ryung POV
Diabaikan dengan keluarga sendiri itu sakit. Apalagi ini pertama kalinya. Gua terima-terima saja karena gua memang salah.
Gua tahu mommy juga kecewa, bahkan saat berpapasan dia berpura-pura tidak melihat gua, begitu juga dengan Daddy.
Gua sudah ganti baju dan menunggu Levin di teras rumah. Pikiran gua tertuju pada Eunbi. Gua menatap foto gua sama dia saat liburan di kebun binatang. Tanpa gua sadari, gua tersenyum kecut mengingat semua itu. Segalanya hancur karena satu kesalahan gua.
Bertahun pacaran kini hancur karena satu malam yang gua perbuat ke dia. Gua menatap mobil merah masuk ke dalam rumah gua.
"Melamun aja lo," ujar Levin dan duduk di dekat gua.
"Sorry, gua lupa." Levin mengibaskan tangan acuh seolah itu tidak masalah.
"Sialan lo, kalau lo lagi sakit ngapain mau ketemu sama gua," ujar Levin sambil menyemburkan asap rokok ke arah gua.
Levin tidak mempertanyakan luka gua dan sudah gua bilang, gua suka karakter Levin. Tidak terlalu neko-neko. Di tengah obrolan gua, nuna datang dengan nampan di tangannya.
"Gomawo, Nuna." Nuna tersenyum ke arah gua sampai dia masuk kembali. Levin masih menatap nuna gua.
"Ck, jaga tuh mata. Dia sudah punya suami." Levin menatap gua kesal.
"Makanya gua gak asing sama mukanya. Kelihatan di--" Levin berusaha berpikir keras. "Ah, di majalah dan TV, dia istri dari pengusaha sukses itu Kim V," ujarnya. Gua mengangguk malas.
"Jadi ngapain ke Australia?" tanya gua kepo.
"Mengunsikan diri lo." Dasar ini kunyuk satu. Dikira gua ngapain ke Australia mengungsikan diri. Dikira ada bencana alama apa di Seoul.
"Kagak," potong gua membuat dia berdecak kesal.
"Gua belum selesai ngomong, nyet."
"Siapa monyet?"
"Lo."
"Ngaca sana lo."
Gua jadi berdebat sama dia. Gua tiba-tiba disodorkan rokok sama dia. Ck, dasar--tapi gua terima dan membakarnya. Menyesap dna mengembuskannya.
"Lo gak liat arah jam 3 sudara lo natap ke sini." Gua melirik ekor mata gua dan benar Ray dan Ryeong di sana bersama Jena dan Keyra.
"Basi banget sih saudara lo," ujarnya santai membuat gua ingin mengemplak kepalanya. "Nayatanya harusnya dia kagak hakimi lo, walau lo salah, di sini gua liat sama-sama egois." Gua tertegun. Pantas hati gua gelisah. Gua menemukan jawabannya. Yah, baru gua sadari. Kalau gua kecewa sama keluarga gua juga.
Saat gua salah ketika dia ingin menghukum gua kenapa di sata gua jatuh. Harusnya dia memberi dukungan, apa gua hanya pelaku saat ini? Gua juga korban. Apa mereka hanya berpikir jika Eunbi saja terluka? Andai gua tahu dia perawan sejak dulu, gua gak akan melakukan itu meski gua marah. Tapi, Eunbi tak jujur dan menutupi itu semua.
Kepala gua rasanya mau pecah, memikirkan siapa Gata dan Gita. Bagaimana bisa ia menjalani hidup seperti ini? Nyatanya Eunbi juga berperan andil soal kejadian ini, karena dia ternyata menyimpan rahasia besar. Tapi, mereka semua menyalahkan gua seolah-olah gua yang paling bersalah di sini.
"Kapan kita ke Australia?" tanya gua.
"Sore ini." Gua mengangguk."Lalu bagaimana dengan Suhon?"
Bibir Levin menyeringai."Apa lo gak buka berita atau menonton?"
Jantung gua degdegkan, jangan bilang dia benar-benar membunuhnya?! Dasar mafia gila. Gua cepat-cepat membuka ponsel gua dan mencari beritanya.
"Lo--lo bunuh dia." Levin mengangguk santai dan menyeruput jus buatan nuna seperti berada di pantai. Kakinya berisalang dan digoyang-goyangkan pelan.
"Lo sejauh ini melakukannya," lirih gua.
"Hahaha lo santai aja kali. Gua biasa saja. Membunuh adalah pekerjaan gua setiap hari, lagian yang mati itu memang pantas mendapatkannya," ujar Levin. Gua menggelengkan kepala melihat dia tersenyum tak berdosa.
Ini sih namanya senyum polos hati iblis.
"Cepetan, urusan gua juga banyak."
"Sekarang?" tanya gua kaget.
__ADS_1
"Ya, gak mungkin lo bawa mobil sendirian." Gua mengangguk dan menawarkan dia masuk ke dalam tapi dia menolak.
"Nuna," panggil gua.
"Ya," sahutnya. "Ryung kamu mau ke mana?!" tanya kaget saat gua menyeret koper. Nuna menangis dan gua peluk dia.
"Hikss jangan pergi. Hikss ini semua bisa hiks dibicarakan." Gua mencium keningnya dan mengusap air matanya.
"Aku baik-baik saja Nuna. Aku ingin bertemu dengan Ey dan Avy."
Gua mengecup kening dan pipi keponakan gua. Gua gak sempat pamit pada V hyung karena dia tidur.
"Gua pamit, Nuna. Nuna jangan sedih." Nuna hendak mengantar gua ke depan tetapi Avy menangis.
Gua pergi dan menyeret koper gua.
"Ayo," ujar gua kepada Levin. Levin menyudahi sesi teleponnya dan berjalan ke depan.
"Maafkan aku Mom, Dad, aku mengecewakan kalian."
Gua cepat-cepat masuk ke dalam mobil Levin saat gua melihat Jena berlari ke sini.
"Oppa!" teriaknya.
"Maafkan Oppa," batin gua. Levin menambah kecepatan mobilnya.
"Antar gua ketemu dulu sama Gata dan Gita di rumah Grandama gua dan juga nanti ke rumah Eunbi."
.
.
.
"Daddda!" Gua menahan air mata gua saat gua berada di depan kedua putri Eunbi yang tersenyum polos. Dia mracau bahagia melihat kehadiran gua.
"Ini buat kamu, Nak," ujar gua menyerahkan banyak bingkisan mainan kepada keduanya.
Gua mengecup kening mereka lama dan air mata gua lolos saat keduanya mengecup pipi gua.
"Maafkan Daddy, Nak." Gua sangat perih harus meninggalkan keduanya. Ini semua karena salah gua.
"Grandma, Ryung pergi dulu." Grandma mengangguk.
"Jaga kesehatan, Nak." Gua memeluk sebentar grandma gua. Gua memang gak memberitahukan kalau gua mau pergi ke Australia. Hanya gua dan Levin yang tahu.
***
Sekarang gua ke rumah Eubi dan dia membuka pintu. Dia hendak menutupnya tapi gua tahan.
"Aku tahu kamu marah sama aku. Aku tahu kamu benci sama aku. Aku ke sini bukan meminta maaf karena aku tahu aku tak pantas mendapat maaf itu darimu. Aku ke sini cuma mau melihat kamu, sebentar saja walaupun sedetik," ujar gua. "Karena sedetik itu yang akan gua bawa ke Australia," lanjut gua dalam hati.
Penampilan Eunbi tak bisa dikatakan baik. Bibirnya pucat dan matanya bengakak. Seberapa lama dia menangis? Semua karena gua.
"By, ak--aku pamit. Aku tahu kamu butuh waktu dan tolong jangan berpikir buat meninggalkan aku. Aku juga tahu jika kehadiranku sekarang menganggumu. Aku mohon ... aku tidak datang karena aku tahu yang kamu butuhkan adalah waktu. Berada di dekatmu bisa membuatmu tidak bisa berpikir jerni karena kesalahanku. Maaf telah menjadi sumber air mata dan duka meski aku sempat jadi sumber tawamu," lirih gua dan berbalik meninggalkannya. Gua tak sanggup liat air matanya yang kembali menetes. Eunbi bahkan enggan menatap gua. Gua tahu.
Biasanya gua tak peduli kepada wanita. Mengengcani sana-sini dan sekarang gua malah begitu peduli.
"Selamat tinggal, By."
Gua masuk ke dalam mobil dan tentu ponsel gua, gua matikan. Gua merimana sodoran ponsel baru oleh Levin. Tentu keberadaan gua gak bisa dilacak.
Pesawat yang akan akan gua tumpangi? Jangan lupa siapa di samping gua. Dia Levin seorang Mafia Internasional. Dia bahkan bebas masuk-keluar negera tanpa takut ditangkap. Dia licik dan tentu punya pengaruh besar. Gua serahkan semua dengannya.
"Kapan gua bisa hirup udara Seuol lagi? I dont know, Im not sure to back Korea."
Gua memejamkan mata dan berusaha menjernihkan pikiran gua.
TBC
Wordnya panjang 1891 loh.
Jadi mohon tinggalkan jejak juga. Jangan komentar
Next
Next and Kilat
Kilat
Next and tag
Keren
Daebak
Makin seru
__ADS_1
Penasaran
Komentral seperti apa yang kalian rasakan, baca dan tanggapan kalian. Makasih, semakin banyak meninggalkan jejak maka Author tidak akan memunda up.