
💟Happy Reading💟
.
.
"Jena, listen to me. Kita tidak aman sekarang," kata Ray tenang. Jena menatap Ray khawatir.
"Why?" Jena menatap sekelilingnya sepi. Dia menatap kembali Ray.
"Ray, tell me what?!" Jena makin panik saat kendaran yang ia tumpangi semakin melaju kencang.
"Jika aku mengatakan lompat, maka lompat. Di sana ada rumput tempat kamu mendarat," ujar Ray membuat Jena menggelengkan kepala.
"Jena!" bentak Ray.
"Hikss lalu kamu bagaimana?" tanya Jena.
"Im fine. Believe me." Jena membuka steal betnya dan membuka pintu mobil.
"Hikss Ray," isak Jena.
"1 ... 2 ... 3!"
Brak!
Jena lompat dan mengguling. Tubuhnya lecet-lecet dan merasa badannya remuk. Khawatir dengan keadaan Ray dia segera bangkit.
Mobil Ray melaju kencan dan Bruk! Dia menabrak pembatas jalanan. Kaca mobilnya pecah dan keluar asap.
"Hiks Ray ...!" teriak Jena histeris. Dia menghampiri mobil Ray dan seseorang menahannya.
"Lepaskan! Hiksss Ray!" teriak Jena histeris. Seseorang dengan cepat mengangkat tubuh Ray yang terpakar lemah. Darah menetes dari wajah tampannya.
"Hiksss Ray!" jerit Jena. Dia memeluk tubuh Ray erat.
"Ken Luis, sepertinya kamu akan tamat malam ini," ujar Ryeong.
"Akh," ringis Ray dan membuka matanya. Dia menatap wajah sembab Jena.
"Minggir, kamu menekan dadaku kuat," lirih Ray ketus. Jena mendengus tidak percaya. Dia menangis kembali dan memeluk Ray erat.
__ADS_1
Walau Ray merasa kepalanya terasa sakit, tangisan Jena malah membuatnya semakin sakit.
"Kita perlu ke rumah sakit. Obati lukamu dulu, di baseboard mobil ada kotak P3K." Jena menbantu Ray masuk ke dalam mobil Ryeong. Dia mengambil kotak P3K dan mengobati luka Ray.
"Langsung ke Bandara saja. Lukaku bukan apa-apa." Ryeong mengangguk dan mereka tiba di bandara.
Ray dan Jena berganti pakaian. Wajah Ray lebih bersih dari sebelumnya.
"Berhenti menatapku. Aku masih bernapas," ujar Ray dengan memejamkan mata.
"Ray, aku begitu khawatirnya denganmu. Siapa yang melakukan ini? Lalu, kenapa bisa mobilmu tidak bisa dikendalikan?" tanya Jena geram.
"Si ******** sialan itu, Ken Luis. Ryung memberitahuku lewat chat tadi."
"Aku akan memcekik Ken!" Jena mengepalkan tangannya kuat. Ray memandang Jena dengan sudut bibir terangkat.
Jena ikut tersenyum dan menyentuh hati-hati perbang di kepala Ray.
"Sakit?" Ray menggelengkan kepala dan menarik kedua tangan Jena.
Cup.
Ray mencium Jena begitu lembut. Kedua tangan Jena berada di atas dada Ray.
Ray mengusap bibir Jena pelan dan lembut. Kemudian dia menggelengkan kepala.
"Kita bukan ILY from 3000, but... RayJen kiss 3500." Jena tertawa lepas mendengar ucapan Ray. Ray ikilut tertawa sebelum pada akhirnya dia memeluk Jena untuk tidur bersama.
***
"Ucapan mana yang gak kamu pahami?" tanya seorang pria dengan wajah menyeringai.
"Pintu keluar di sana tuan Kim Dero. Jangan temui saya dan anak-anak saya lagi." Eunbi menahan tangisnya saat melihat pria yang teramat ia cintai dulu kini duduk dengan santai di sofa rumahnya.
"Eunbi, Jung Aghi Ryung memang santapan yang lezat. Kamu tahu jelas pria berdompet tebal," ujar Dero sakras.
"Saya tidak seperti yang anda pikirkan! Anda sangat menjijikan."
Plak!
"Beraninya bibir hinamu menghinaku," ujar Dero sambil mengcengkram kuat dagu Eunbi.
__ADS_1
Eunbi menatap tajam Dero. Hingga tubuh Dero terpental. Eunbi mematap pria di depannya dengan tangan mengepal kuat.
Sudut bibir pria itu robek? Lagi!
"Sebaiknya lo menjauh sebelum gua berikan bogem mentah," ujarnya datar.
Dero berdiri dan menepuk bajunya. Dia tersenyum miring menatap keduanya.
"Simpananmu yang mengajakku ke mari. Kami puas memuaskan napsu, ****** ini but--bugh!"
Pria itu melayangkan pukulan bertubi-tubi.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan pada anakku sialan?!" Ibu Dero datang dan menatap marah pria di hadapan anaknya yang terpakar.
"Dengar tua bangka ...." Eunbi membulatkan mata dan menahan lengan pria itu.
"Kau!" Ibu Dero menunjuk pria itu dengan gigi gemeretak.
"Jika kalian ingin selamat, berhenti menginjakkan kaki di rumah, Eunbi."
"Bawa dia." Ibu Dero menatap bengis Eunbi. Tubuh Dero sudah dipapah dan dibawa.
Pria itu mengekor dari belakang dan menutup pintu dengan sekali tendangan.
Brak!
"Akhh!" Ibu Dero berteriak karena dia masih di depan pintu. Tangannya mengepal kuat.
"Ryung," lirih Eunbi dengan takut.
Ryung menghampiri Eunbi dan duduk di sofa. Matanya terpejam. Eunbi memgambil kotak P3K dan mengobati luka Ryung.
"Ini undangan untuk lo. Pernikahan Ryeong," ujar Ryung membuat Eunbi menerimanya.
"Apa lo baik-baik saja?" tanya Ryung.
"Harusnya itu pertanyaan untukmu, Ryung." Ryung menatap Eunbi dalam dan mendorong tubuh Eunbi.
Cup.
TBC
__ADS_1
Jejak :v