The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-THIRTY ONE


__ADS_3

         💟Happy Reading💟


              💟ARTHA'S💟


Hari tanpa terasa berlalu begitu cepat. Ryeong sudah membopong istri cantiknya ke rumahnya sendiri. Jangan heran, dia CEO mudah yang tampan. Selain itu, istrinya juga bisa lebih dekat jarak sekolahnya.


Jena juga memiliki banyak Photoshopnya. Gadis itu resmi tinggal di Korea kembali setelah lama di Paris. Tempat yang takkan pernah ia lupakan. Di Parislah dia mendapat pengakuan cinta sang Pujaannya.


Tahu Ulfie sahabat Jena? Gadis modis yang tak pernah akur dengan pacar  kakak Iparnya, Suga.


Setahun yang lalu dia resmi menikah dengan Yoongi. Tentu setelah Suga menikah dengan Vira.


Bulir waktu telah datang, kini Ray resmi jadi Jaksa mudah yang banyak dikagumi dalam memecahkan kasus. Pria dingin itu kerap berhadapan dengan kasus yang tak membuat kepalanya pening. Dia lihai menyelesaikannya.


Ryung? Pria tampan memiliki gaya hidup bebas itu masih tetap sama. Pembalap liar, yang hobi adu tonjok. Bagi Ryung hidup tanpa lembam bagai makan tanpa lauk.


Kekhawatiran Aeri sebagai ibu tidak dapat ditutupi. Pasalnya anak laki-lakinya selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di luar.


"Ryung," panggil Aeri saat putranya melangkah gontai dengan wajah babak belur.


Ada apa dengannya? Ryung biasanya pulang dengan wajah ceria tetapi sekarang ditekuk.


"Mom, aku ingin istirahat." Aeri mengangguk walau dia cemas. Dia juga tidak melihat Eunbi datang ke rumahnya akhir-akhir ini.


"Apa Ryung ada masalah dengan Eunbi?"


***


Eunbi POV


Saat kedua putriku tidur, tangis yang aku tahan sejak tadi tumpah. Aku dan Ryung bertengkar hebat. Dia salah paham dan aku tidak menyalahkannya juga. Sebab, posisi mantan suamiku di atasku membuat ia pasti mengira yang tidak.


Biar aku ceritakan.


Flash back


Setelah mandi aku tidak menyangka, bagaimana bisa mantan suamiku datang dan masuk ke dalam kamarku.

__ADS_1


Entah setan mana yang merasuki tubuhnya. Dia menghentakkan tubuhku ke kasur dan menindihku. Berulang kali ia mencoba mengcium bibirku tetapi aku memberontak.


Perlawananku membuat ia semakin menahan tanganku. Kedua tanganku menahan dadanya ketika ia berhasil mencium bibirku. Tepat setelah itu Ryung datang.


Dia menariknya dan memberikan bogem mentah. Aku semakin menangis saat menyaksikan ini semua. Ryung lepas kendali.


Setelah itu, kami tinggal di kamar berdua. Aku tahu dia masih sibuk mengatur napasnya. Tanpa aku sangka dia melap bibirku kasar dan membukangnya dengan kasar.


Aku meronta pun dia tidak peduli. Dia hanya berusaha melampiaskan emosinya. Aku merasa bibirku sobek tetapi Ryung dikuasi hawa napsunya.


Air mataku bahkan tidak ia hiaraukan. Hatiku tercabik-cabik.


"Apa kamu ******?!" teriaknya marah. Hatiku tambah sakit.


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal murahan itu? Cih, disaat aku ingin berbuat lebih kamu menolak, disaat dia ingin mencicipi tubuhmu, kamu berikan!" Aku ingin berteriak kepadanya, lagi aku hanya diam bersama tangis kesedihanku.


Ryung pergi dan meninggalkanku. Akhir-akhir ini dia seperti berubah. Banyak emosi dan marah. Dia juga sangat posesif sekali.


Flashback off.


Aku merebahkan diri dan berharap cepat tertidur. Saat mataku terpejam, tiba-tiba aku mendapat sebuah pesan dari seseorang tidak aku kenal.


Tangisku semakin pecah saat aku melihat Ryung bermain panas dengan wanita lain. Dadaku bagai ditusuk jarum.


"Hiksss." Aku membekap mulutku agar kedua putriku tidak mendengar tangisku. Kenapa juga Ryung setega ini padaku?


***


Ray POV


Kali ini gua pulang cepat. Setelah kasus itu, Jena dengan manjanya ingin bertemu di Apartementnya.


Jena tetap genit dan blakblakan. Sialnya, tubuhnya juga makin seksi. Hasrat ingin menyentuhnya tinggi.


"Jena," panggil gua ketika dia berdiri menatap jendela keluar.


"Ray." Sudah gua duga, dia kini memancing hasratku. Dia memakai pakaian tidur tipis yang memperlihatkan pakian dalam berwarna hitam berendanya.

__ADS_1


"Ekhm, kenapa?" Pertanyaan gua diabaikan dan dia mencium bibir gua secara intes. Cobaan apa ini?! Gue normal dan tentunya gua balas ciuman Jena.


"Aku lapar," kata gue membuat dia memanyungkan bibir. Gua tahu dia ingin lebih dari sekedar ciuman. Dasar si Jena, untung gua sayang.


"Kalau gitu duduk dulu yuk di sana, aku buatin makanan." Gua melangkahkan kaki ke sofa dan menyalakan TV. Jena ke dapur sendiri.


Gua malah tidak fokus dan melamun. Bahkan gua tidak menyadari jika Jena sudah datang.


"Ray, kamu ada masalah?" tanyanya.  Dia menyodorkan sepering nasi goreng.


"Em," gumam gua dan memakan nasi goreng buatan Jena. Enak-satu kata yang selalu terlintas dalam benak gua saat mengcicipi masakannya.


"Apa dong, My Honey," katanya sedikit memaksa.


"Aku kepikiran sama Ryung,  akhir-akhir ini dia banyak berubah. Makin buruk pergaulannya." Jena mengangguk mengerti. Kakak sepupunya itu selalu menempatkan diri pada situasi sulit.


"Dia ada masalah?" tanya Jena yang dibalas angkat bahu Ray.


"Jangan pikirin dulu, senakal-nakalnya Oppa, dia akan tahu batasnya juga," ujar Jena ealau dia juga khawatir. Bagaimana tidak khawatir, Eommanya saja berkata khawatir dengan Ryung.


"Mungkin ada masalah sama pacarnya," ujar Jena membuat Ray tersadar jika hyungnya memiliki kekasih.


"Mungkin," jawab Ray. Dia menaruh piring di atas meja dan menerima air yang disodorkan Jena.


"Ray,  aku boleh nanya gak?" tanya Jena hati-hati.


"Nanya apa?" tanya Ray sambil memiringkan badan menghadap Jena. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut Jena.


"Kenapa setiap aku, ah kita ingin melakukan lebih, kamu banyak alasan?" tanya Jena. Mrmang saat dulu di bioskop Jena merasa diberi lampu hijau. Nyatanya balik ke Apartment, pri itu malah tidur. Bahkan sekarang sudah bertahun lamanya, Ray tidak melakukan hal lebih.


Ray menatap dalam Jena. Wajahnya begitu datar. Jena sangat waswas. Jawaban Ray sangat ia nantikan.


"Karena aku--" Jena menahan debaran jantungnya. Dia tahu jawaban Ray bisa saja membuat hatinya mengcolos.


Ray membuka bibir hingga membuat Jena menetskan air matanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2