
Waktu tidak terasa bergulir begitu cepat. Bagaimana mood Jena buruk dalam seminggu full karena tidak bisa bertemu dengan Ray.
Lebih nenjengkelkan lagi karena kekasihnya mengabaikan teleponnya. Chatnya cuma diread doang, nyesek tau.
Gadis itu sedang berleha-leha di atas kasur santai miliknya yang menghadap jendela kaca besar bening. Pemandangan asri serta langit biru memanjakan matanya.
Tutttt ....
"Halo!" Jena mencibir mendapat suara cempreng milik sahabatnya.
"Aduh nih anak mentang-mentang udah ada buntutnya susah banget dihubungin," omel Jena membamuat Fie terkikik geli.
"Hahaha apa sih, Beb? Wajar kan, anakku masih kecil. Ul itu butuh Mommy-nya," ujar Ulfie membuat Jena memutar bola mata jengah.
"Terserag aja lo. Gue lagi beteeeeee!" ujar Jena curhat.
"Bete kenapa sih? Heren juga, orang mau nikahan itu bahagia, degdegkan, nah lo malah bete."
"Ray susah banget dihubungin. Chat gue gak dibalas lagi."
"Pulsanya habis kali atau koutanya habis." Jena ingin membenturkan kepala sahabatnya ke dinding.
"Oh may Fieee! Yakali dia kehabisan pulsa sama kouta." Ulfie tergelak.
"Ngakak aja lo. Gue bete nih, mana ada pelakor lagi dalam hubungan gue sama Ray." Memgingat Cessy membuat Jena ingin mengcakarnya.
"Siapa?" Ulfie begitu penasaran.
"Cessy-Cessy ... Sialan tuh cewek nongol aja. Gue heran, dia tuh harusnya tinggal di Amerika aja, ngapain kembali ke Korea," sebal Jena.
"Bukannya Cessy itu yang pernah lo gangguin pas kencan sama Ray Oppa?" tanya Ulfie membuat Jena mendelik tajam seolah Ulfie ada di dekatnya.
"Ya enggak gitu juga ihhh. Gak usah ingetin, dari awal tuh ya Nenek Lampir itu yang gangguin." Ulfie menginyakan saja.
"Sudah ah, bete!" Jena mematikan ponselnya. Dia mebanting-bantingkan kakinya kesal di atas kasur.
"Awas kamu Ray! Kalau kita menikah, pokoknya aku kurung kamu di kamar." Jena teesenyum licik. Dia sudah menyiapkan beberapa bekini seksi.
"Jena!" panggil Hana membuat pikiran mesum Jena buyar.
"Iya, Eomma?!" sahut Jena dengan malas. Dia turun ke bawah.
***
Ray POV
Tidak terasa gua sama Jena sudah menikah besok. Gua sengaja gak tanggapi chat dia atau angkat telepon dia. Gua juga kangen sama dia, tapi ini hukuman buat dia yang membuat gua gugup di depan Gita beberapa hari yang lalu.
Gua tersenyum mengingat tingkah Jena. Bagimana bisa gua jatuh cinta sama dia? Apa sih sebenarnya definisih cinta? Kenapa gua sulit sekali menjabarkan arti cinta?
Saat Jena menangis, gua juga sedih melihatnya. Saat dia tertawa gua bahagia. Tapi saat dia blakblakan, gua pengin tikam dia saat itu juga.
"Ray," panggil Hyung.
"Hyung," ujar gua dan ikut duduk di sofa. Saat ini gua berada di ruangan kaca rumah gua. Gua jadi teringat dengan Ryung, saat Ryeong menikah, malamnya kami duduk di sini menggodanya. Gua merindukan kebersamaan kami.
Kenakalan kami hingga mommy tidak perlu menyebut nama kami, cukup dengan triakan "Triplek's" maka kami akan mendapat pelolotan mommy.
Banyak hal yang gua lalui. Semua kenakalan dan hal menantan lainnya karena Ryung. Gua juga merasa punya tantangan disetiap masalah yang kami hadapi.
Tapi sekarang, gua merasa hambar. Hanya ada kami berdua tanpa Ryung.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ryeong memecahkan keheningan.
"Aku hany mengingat kebersamaan kita." Hyung mengangguk.
"Aku juga merindukan kebersamaan kita. Tapi, Ray, ingatkan kamu soal liburan kita di Bali? Sekarang waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah menikah dan aku sudah berbulan madu di Jepang, menikmati indahnya pemandangam bunga sakura. Sekarang, saatnya kamu."
Gua tentu mengingatnya dengan baik
Saat kami berbaring di atas pasir dan mengutarakan keinginan kami di masa depan.
Saat itu aku tidak ingin bulan madu ke mana-mana karena mau di manapun akan berakhir di kasur. Tapi, setelah ini, Jena berhasil mengubah gua.
__ADS_1
Gua punya banyak rencana, ingin mengajaknya berkeliling dunia. Mengunjungi banyak tempat romantis lainnya, tetapi gua terlintas satu negara.
Paris.
Negara yang membuat gua mengakui perasaan gua di depan menara Iffel.
"Aku ingin berbulan madu di Paris." Ryeong menepuk bahu gua.
"Tapi, ada yang mengganjal dalam diriku, Hyung. Aku merasa sesuatu menimpa Hyung (Ryung)."
"Dia berangkat ke luar negeri."
"Bahkan dia menelepon, Mommy saat dia berada di atas pesawat."
"Mungkin aku hanya cemas saja." Gua menyakinkan diri jika saudara kembar gua itu baik-baik saja.
"Apa Hyung mengatakan soal kehamilan Nuna?" Ryeong menggelengkan kepalanya.
"Membicarakan topik sensitif saat bertemu setelah sekian lama, pilihan yang tidak tepat, Ray."
Hyung berdiri dan menepuk pundak gua."Tidurlah lebih awal, besok hari pernikahan kalian. Ryung akan datang," tambah Hyung dan pergi.
.
.
.
"Jika Hyung mau datang, harusnya dia ada sekarang di sini." Ray beranjak dan merebahkan diri di atas kasurnya.
Besok adalah jawaban dari rasa gelisahnya. Dia ingin Ryung hadir dan tahu kebenaran mengenai kehamilan Eunbi.
Dia ingin memastikan semua baik-baik saja. Saat matanya terpejam, ponselnya berdering di tengah malam yang panjang.
Ray membuka matanya dan melihat nomor asing yang meneleponnya. Ray berdehem sebetar dan mengangkatnya.
"Halo?"
" ...."
Ray menutup teleponnya dan mengatur napasnya yang tersenggal. Dia menecuci muka dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.
Ray keluar dari rumahnya dan berjalan ke begasi dengan langka cepat.
"Arghhhh! Ryung!" ujar Ray dan menancap gasnya cepat.
Hingga dia tiba di sebuah rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan ke resepsionis.
"Pasien atas nama Jung Aeghie Ryung, nomor berapa?" tanya Ray cemas.
"Dia berada di ruang VIP nomor 12." Ray meninggalkan resiopsionis itu.
Tap ... tap ... tap ....
Langkah kaki Ray menyusuri kridor hingga tiba di kamar lift. Matanya terlihat memerah. Dia menghela napas burulang kali.
"Ray," ujar Levin membuat Ray menghampirinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Ray kepada Levin. Levin mengajak Ray duduk.
Levin menatap Ray dan menceritakannya.
Flashback.
Levin menatap Ryung yang hanya diam setelah menelepon Mommy-nya. Bahkan Levin saksi pria itu menangis mendengar suara tangis ibunya yang mengucapkan banyak kata maaf.
"Ryung, sebaiknya kita kembali ke Korea," ujar Levin tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Ryung sebab mereka sudah di pesawat. Lantaran pria itu tiba-tiba ingin membatalkannya.
"Bahkan peswat ini sudah fliying jika lo lupa," ujar Ryung.
"Kita akan singgah, lo lupa?" Ryung tidak lupa. Pesawat ini pesawat pribadi Levin dan mereka puny perusahaan yanh di atasnya ada sebuah tempat landing pesawat pribadi Levin untuk bisnis kotornya.
__ADS_1
"Gua ... gua ingin pulang. Gua ingin bertemu dengannya, walau ini jadi pertemua terakhir. Gua tahu dia sudah punya suami, bahkan ~dia hamil," lirih Ryung.
"Sebaiknya kita pulang. Gua juga mengunsikan lo karena keadaan saat itu gak baik dan sekarang semua membaik. Jangan mempersulit ini, Ryung."
Akhirnya mereka menunggu mendarat dan sejam istirahat. Levin dan Ryung kembali ke Korea.
Siangnya, mereka dalam keadan tidak fit karena perjalanan mereka membuat tubuhnya kurang istirahat.
"Vin kita bisa kembali malam nanti ke Singapura. Gua mau ke rumah Ryeong dulu."
"Lo ikut gua saja. Gua mau ke suatu tempat juga. Katanya ada restoran baru yang terbuka, ini yang ngajak teman gua. Mendingan makan dulu," ujar Levin. Ryung mengangguk setuju dan mereka masuk ke dalam mobil.
"Shit! Ada yang mengerjai mobil ini." Ryung tetap bersikap tenang. Levin mendengus saat remnya blong.
"Kita di jalanan raya, banyak kendaran lainnya." Levin mengumpat saat mobilnya tidak bisa dihentikan.
"Prediksi kita akan berada di antara lampu kuning-merah dalam dua detik. Saat itu lampu merah sebelah kanan menyala, gua bakal banting mobil ke arah pembatas jalanan sana. " Ryung mengangguk mengerti. Tanpa Levin sadar Ryung membuka stealbethnya dan jaketnya.
Levin terlau fokus hingga dia tidak menyadari tatapan Ryung kepadanya.
Hingga.
Brak!
Ryung maju ke depan di arah kemudi Levin. Hingga membuat Levin terbentur ke arahnya, sedangkan dia harus terbentur di stir dengan posisi tubuh terjepit.
Pecahan kaca membuat kepalanya berdarah. Levin hanya mendapat luka kecil dan terbelak saat Ryung melakukan aski gila.
"Ryung! Pabo! Bagaimana bisa lo jadikan diri lo temeng?!" Levin tidak percaya Jika Ryung menolongnya. Kemungkinan besar, dia terluka parah dan berakhir mati di tempat sebenarnya. Tapi, Ryung malah menjadikan dirinya temeng. Bisa dibayangkan luka yang didapat pria itu.
Flashback off
Ray menepuk pundak Levin yang menetskan air matanya. Dia sudah menganggap Ryung sebagai adiknya sendiri.
Hidup sendiri selama ini membuat ia merasa lunya saudara. Apalagi Ryung sama bandelnya dengannya. Dia merasa sejalan dengan Ryung, tapi dia tidak ingin Ryung terlibat bisnis kotor yang sama dengannya.
"Pasti dia punya alasannya sendiri. Jangan menyalahkan diri karena dia menolong lo atas kemauannya sendiri."
"Gua tetap merasa bersalah."
"Apakah gua boleh masuk ke dalam?" Levin mengangguk. Dia menunggi di luar, memberikan waktu kepada Ray dan Ryung.
Ray menatap tubuh Ryung yang terbaring lemah di atas bangkar. Ryung bergerak saat melihat Ray. Dia terkejut.
"Ray," ujarnya kaget.
"Hyung," ujar Ray dan memeluk kembarannya. Ray memang sosok penyayang.
"Gua baik-baik saja." Ray melepas pelukannya dan melihat tubuh Ryung yang banyak lukanya.
"Kepala lo?" Ray menanyai Ryung cemas.
"Gua bersyukur tidak hilang ingatan," ujar Ryung bercanda membuat Ray mengembsukan napas lega.
"Apa yang paling parah?" tanya Ray.
"Tulang rusuk gua patah," ujar Ryung.
Ray meringgis dan duduk di dekat Ryung."Gua bakal datang ke pernikahan lo. Gua baik-baik saja asal gua gak banyak gerak, gua bakl duduk di pesta lo," ujar Ryung membuat Ray mengangguk.
"Kalau lo gak bisa gak apa-apa," ujar Ryung.
"Gua gak bisa gak datang. Pesta pernihakan lo harus gua datang," ujar Ryung. "Lagian gua pernah luka parah, Ray. Ini bukan pertama kalinya," tambah Ryung membuat Ray mendengus kesal.
Ray ingin menyampaikan soal Eunbi tetapi dia teringat perkataan Ryeong bahwa dia tak harus menyinggung soal Eunbi di depan Ryung.
"Gua dapat perawatan bagus di sini. Levin mengeluarkan banyak biaya untuk gua," ujar Ryung.
"Gua sama dia juga mengobrol. Dia menangis." Ryung tergelak sampai badannya bergetar.
"Ahhaha akhh ***** sakit," ringisnya. "Ray lo pulanglah, besok lo menikah dan ini sudah jam 02:18. Lo kecapean nanti."
Ray mengangguk dan kembali. Besok dia akan menikah dan respsinya juga akan digelar.
__ADS_1
TBC
Cieeee nungguin part selanjutnya 😋komentar yang banyak biar updatenya cepetan juga. Biar gak gantung juga.