The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-TWENTY ONE


__ADS_3

💟Happy Reading💟


.


.


Di bawah langit biru cerah seorang adik-kakak duduk seraya menatap danau tenang di depannya.


"Menurut kamu apa yang akan dilakukan Daddy jika tahu?" tanya Ryeong kepada adik bungsunya.


Mata pria sang Adik berkedip sebentar dan mengembuskan napas berat.


"Terkadang aku berpikir, Ryung seperti adik untukku bukan hyung. Apa yang dia lakukan harus menanggung risiko," ujar Ray tenang.


"Hahahh, aku tahu kamu Ray. Acuh di luar peduli di dalam. Kamu tidak. mungkin tega saat itu terjadi." Ryeong memang benar. Sedingin dan seacuh apapun Ray di luar, dia tetap menyayangi saudaranya.


"Lantas apa yang harus kita lakukan untuk Ryung? Dia bahkan masih Ryung yang dulu, anak SMA yang selalu keluar masuk BK. Babak belur di wajahnya seperti makanan sehari-hari." Ryeong mengangguk membenarkan.


"Yang aku takutkan tentang Ryung hanya satu yaitu  ... sebuah penyesalan."


Ray diam mencerna ucapan hyungnya. Memang benar jika itu hal yang paling ditakutkan untuk sosok Ryung.


Ryeong melempar tanah ke dalam danau. Menciptakan gelombang-gelombang kecil yang kian membesar.


Ray menepuk pundak sadauaranya. Beban Ryeong memang banyak. Sebagai kakak pertama sudah koadratnya menjaga adik-adiknya. Echa sendiri seperti seorang adik ketimbang nuna.


Meski sekarang Echa sudah berumah tangga dan memiliki keluarga kecil sendiri. Ryeong terus menjaga dari jauh.


"Hyung, bagaimana dengan hubunganmu bersama Keyra?" tanya Ray.


"Kami tidak kontakan. Dia masih sekolah dan kelas tiga itu masa-masa sibuk untuk persiapan ujian masuk ke perguruan tinggi," ujar Ryeong.


"Hyung, kamu mengizinkan Keyra untuk melanjutkan pendidikannya?" tanya Ray lagi.


"Tentu. Pendidikan itu sangat penting, Ray. Kamu harus tahu, pernikahanku dengannya sebentar lagi. Menikah mudah itu sudah merenggut masa remajanya. Dia tidak akan kukekang, biarkan dia tetap merasakan masa remajanya." Ray akui Ryeong sangat bijak.


Memang Keyra tidak perlu ditakutkan hal-hal lain terjadi. Mengingat gadis itu sangat pemalu dan penurut seperti anak kucing yang manis. Andai saja Jena seperti itu, sayangnya dia adalah kucing liar.


"Apakah kamu bertemu dengan Jena?" tanya Ryeong.

__ADS_1


"Iya. Aku menginap di Apartemennya tadi malam." Ryeong mendegus tertawa.


"Sekali buka segel, jangan lepas. Kamu tahu, Jena bukan hanya pacar untukmu. Dia sepupu dan keluarga kita, Ray. Lagipula, Jena sangat mencintaimu." Ray mengangguk memang tidak ada yang bisa ia sembunyikan kepada hyungnya.


"Sedikit ragu dia tersegel. Jena sangat bar-bar dan berpenampilan kebarat-baratan. Bahkan melihatnya aku pikir, dia mungkin saja jadi warga Paris."


"Hahahaha, sungguh? Aku merindukan adik kecilku yang manis. Dia ke mana?"


"Sebentar, aku akan memanggilnya ke sini." Ray mengirim pesan kepada Jena.


.


.


"Jenasshi!" panggil seorang pemua yang membuat Jena menatapnya sinis.


"Ken  ... untuk apa lo menemui gue?!" tanya Jena galak.


"Hahaha calm down, Baby. Maafkan tanganku yang kemarin, tetapi perlu diakui jika kamu memang memiliki aset yang indah dan membuatku kecanduan," ujar Ken.


Jena tersenyum sinis dan melipat tangan di depan dada."Perlu lo tahu, aset indah itu milik Jung Aeghie Ray," ujar Jena penuh penakanan.


Rahan Ken mengeras dan dia menatap Jena santai. Tangannya menyentuh rambut Jena dan ditepis kuat oleh gadis itu.


From My Ice Love


~Datanglah ke sini. Akan aku share location.


Jena tersenyum manis dan dia mengangkat alis sebelum mendegus ke arah Ken. Dia melangkah pergi tanpa mengucapkan apa-apa.


"Jena  ... kamu sungguh menantang untuk dimiliki. Angkuh, seksi dan cantik; tunggu saatnya kamu akan jatuh ke dalam pelukanku." Kena menyeringai dan mendial nomor seseorang.


"Ikuti Jung Jena, dan laporkan setiap kegiatannya."


Kena berbalik arah dan menatap pergelangan tangannya.


.


.

__ADS_1


.


***


"Aaaaaa  ... my brother!" teriak Jena saat melihat Ryeong. Dia memeluk erat Ryeong.


"Miss you, Little Girl. Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat semakin cantik." Jena tersipu mendapat pujian kakak sepupunya. Dia duduk di bagaina tengah-tengah Ray dan Ryeong.


"Sangat baik setelah melihat kalian berdua, hehehe. Oppa tidak bilang ke sini," rajuk Jena.


"Bukannya kamu tahu hari pertamaku di sini bersama Ray? Apa Ray tidak memberi tahumu?" tanya Ryeong penuh selidik. Ray yang ditatap Reyong acuh.


"Tidak, Oppa. Bahkan s


dia datang tiba-tiba di depanku. Saat itu aku sedang pemotretan outdoor. Tapi, aku sangat senang Oppa. 2 tahun sangat lama dan dia tidak mengunjungiku sama sekali," ujar Jena sedih. Ryeong mengusap rambut Jena sayang.


"Aku sibuk. Kasus di kantor sangat banyak." Jena mecibikkan bibirnya membuat Ray menarik pipinya kuat.


"Akhhh! Sakit!" rengeknya.


"Hahaha itu karena kamu yang tak mau mengerti." Ray merangkul Jen membuat Ryeong tersenyum melihat perubahan adiknya.


"Bagaimana dengan Pemotretanmu hari ini? Apa masih ada adegan remas-remasan?" sinis Ray saat mengingat kejadian kemarin.


"Remas-remasan?" gumam Ryeing sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, Hyung. Dia sangat professional sambil membiarkan lelaki lain meremas bokongnya di depan kekasihnya sendiri," sinis Ray yang mendengar gumaman Ryeong.


Jena menarik diri dan menjelaskannya."Aishhh  ... aku tidak seperti itu, Oppa. Ray saja yang salah paham. Ken meremasku tanpa bisa aku cegah, semua mendadak. Aku bahkan sinis padanya," ujar Jena kepada Ryeong.


Ryeong cukup tahu Ken Luis. Bagaimana tidak? Semua majalah memuat berita tentang Jena Dan ken yang keluar di hotel yang sama.


Pasti itu membuat adiknya uring-uringan sejak datang ke Paris. Rupaya Ray cemburu hahaha. Baguslah karena ini menandakan bahwa Jena berhasil membuat hati Ray yang beku mulai mencair.


"Ken Luis, jika kamu berani mengusik percintaan adikku, kamu akan tahu akibatnya," batin Ryeong.


Inilah sosok Ryeong, tenang dan tegas tetapi dia tetap sosok kakak yang akan berada di depan untuk melindungi keluarga dan adik-adiknya.


TBC

__ADS_1


Jejak ...


Malas jejak mendingan jangan baca.


__ADS_2