The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-NINETEEN


__ADS_3

💟Happy Reading💟


Seperti biasanya Jena dan Ray kembali LDR-an. Hubungan keduanya sedikit mengalami perubahan. Ray tidak lagi menolak tingkah manja Jena kepadanya walau sikap dinginnya masih melekat sempurna.


"Halo Ray!" sapa Jena riang saat dia melakukan vidio call dengan Ray.


"Hm," guman Ray setengah mengantuk.


Mata Jena berbinar-binar melihat Ray telanjang dada. Kekasihnya juga punya wajah baby face sehabis bangung tidur.


"Sayang, aku menerima iklan brand vektoria. Aku jadi semangat!" ujar Jena mengebu-ngebu.


"Baguslah," kata Ray cuek.


Jena mencibirkan bibirnya kesal."Ray kamu ke sini dong. Aku rindu banget," ujar Jena manja. Dia memang jujur. Sekarang sudah dua tahun lamanya, tetapi Ray dan dia tidak pernah bertemu lagi.


Ray sibuk dengan kuliahnya, Jena juga mimiliki banyak tawaran iklan karena tubuhnya semakin bagus.


Hana benar-benar mewariskan kecantikannya kepada putrinya Jena. Tidak terhitung banyaknya laki-laki tampan yang mencoba mengajaknya berkencan.


"Jena," panggil Ray serius. Jena memeperbaiki duduknya dan menatap wajah kekasihnya di dalam layar.


"Hm?" Jena menunggu Ray mengatakan sesuatu.


"Siapa Ken Luis?" tanya Ray datar.


Jena kegegalapan kendakati pertanyaan Ray.  Yakni Ken Luis adalah pria asal Paris itu seorang model yang mencoba mengajaknya kencan.


Walau Jena terang-terangan mengatakan memiliki pacar, Ken tetap saja tidak menyerah.


"Oh di mana kamu tahu nama itu?" tanya Jena.


"Di majalah dan di TV banyak meliput beritamu yang keluar dari hotel bersamanya," ujar Ray semakin dingin. Jena tersenyum lebar menyadari kekasihnya cemburu.


"Untuk apa kamu tersenyum?" sinis Ray.


"Hahaha  ... aku ingin sekali bertemu denganmu Ray. Melihatmu cemburu saja membuatku ingin menciummu," ujar Jena.


"Sudahlah. Jika kamu selingkuh, akhiri saja hubungan kita." Jena memudarkan senyumannya. Semudah itukah? Bahkan dia tidak beramah tamah pada Ken.


"Aku gak selingkuh," lirih Jena.


Jena memang pembrontak tetapi setelah hidup di negara orang lain dia berubah banyak.


Walau di sini terkenal pergaulan bebas, tetapi Jena hanya senakin seksi, dirinya tetap ia jaga.


"Ray," panggil Jena saat Ray hanya diam.


"Aku ke kampus dulu," ujar Ray setelah terdiam cukup lama. Air mata Jena jatuh saat Ray mematikan sambungan tanpa memandang wajahnya.


"Rasanya aku ingin di kamar seharian," lirih Jena.


Dreetttt. Sebuah pesan masuk dari manangernya Laura.


~Bersiap-siaplah. Pemotretanmu jam 3.

__ADS_1


Jena beranjak dari kasurnya malas-malasan. Dia meraih celana selutut jeans dengan kos putih crop lengan panjang.


Jena meyisir rambutnya yang sedikit bergelombang. Wajahnya sudah ia polesi dengan bibir merah menggoda sebaga sentuhan terakhir.


Jena memakai sepatu bothnya dan memasang kacamata pelangi. Jena keluar dari Apartemennya dan bergegas melajukan mobil merahnya.


***


Jena POV


30 menit kemudian, gue tiba di lokasi pemotretan. Laura menghampiri gue saat dia melihat gue berjalan ke arahnya.


"Outdor?" tanya gue kepada Laura.


"Ya, kali ini akan lebih fantastis, Jena! Bokong dan buah dadamu akan jadi pusat perhatian," ujar Laura mengebu-ngebu.


Bicara mengenai tubuh gue selalu teringat perlakuan Ray sewaktu pesta dulu.


See, seorang laki-laki tampan menghampiri gue dengan wajah putih bersih. Rambutnya disisir acak dengan pakaian santai.


Gue memutar mata malas. Dia akar pertengkaran gue sama Ray.


"Hay Jena," sapanya yang gue balas anggukan malas. Secara gue lagi kerja, harus professional.


"Sebaiknya kalian bicara." Laura pergi begitu saja dan meninggalkan gue bersama dengan Ken.


"Oh ya Ken, sebaiknya jaga jarak dengan gue. Majalah pagi ini sangat mengejutkan," sinis gue yang membuat dia tertawa.


"Gua rasa majalah lebih tahu yang serasi, Jena," ujarnya dengan suara khas miliknya.


Gue menghampiri Laura yang menandang gue sedikit aneh? Ada apa dengannya?


"What's wrong, Laura?" Dia tersenyum manis, mencoba membujuk.


"Jena, aku rasa ini tidak ada salahnya," ujarnya dan menyerahkan sebuah buku dan mata gue membulat sempurna.


"What?!" teriak gue membuat beberapa staf dan kru menatap gue.


Kalian tahu, pose seksi dengan gaya seintim ini dengan adalah masalah besar. Selama ini gue profesional kalau kerja tetapi ini pertama kalinya gue harus pake bikini saat pemotretan dengan gaya seksual bersama Ken. Outdoor lagi, bisa-bisa Ray benar-benar meninggalkan gue.


"Jena-sshi, professionallah," ujar Laura sedikit tegas.


"Lau, kamu tahu Ray, dia bisa-bisa marah dan memutuskanku," erangku frustrasi.


"Ini job," tegas Laura.


Dia meninggalkan gue dan mulai menyediakan pakaian sialan itu. Gue suka pake bekini, bukan pertama kalinya.


Ini di sisi pantai dengan suasana ramai. Cahaya senja juga membuat pemotretan akan menghasilkan gambar yang bagus.


"Lakukan dengan cepat," kata gue datar pada Laura.


Pertama gue pake dengan bikini warna merah menyala. Kena mengenakan boxer dan memperlihatkan purut sixpacknya.


Kami berdua melangkah ke air laut dan Ken memeluk gue dari belakang. Tangannya sengaja ia gesekkan di perut gue. Bisa gue rasakan punyanya mengeras, sialan!

__ADS_1


Dengan posisi miring seperti berciuman. Gue terpaksa senyum manis dan menggoda kepada Ken.


Cukup tersiksa dengan tiga potongan bekini seksi dengan gaya lebih itim lagi.


"Jaga tangan sialan lo," ketus gue kepada Ken saat sesi pemotretan berakhir dia sengaja meremas bokong gue. Sorry,  hak paten Ray!


Tubuh gue mematung sempurna. Di depan sana seorang pria memasukkan tangan di saku celananya. Tubuhnya semakin tinggi dan wajahnya lebih tampan.


Dengan bikini hitam yang basah, gue menghampirinya dengan gugup.


"Ray," lirih gue gugup. Gue gak bisa menebak isi kepalanya, tatapannya datar.


"Ak-akku--" Bahkan menjelaskan saja gue gak tahu darimana. Help me please!


"Cepat ganti baju." Dia berbalik setelah mengatakannya. Gue ceoat-cepat berlari ke arah Laura dan mengambil bathrobe.


Setelah berganti baju, gue ke mobil Ray. Dia menjalankan mobilnya tanpa kata.


"Ray--"


"Shut up." Bibir gue bukam seketika. Gue cemas banget. Gue takut kehilangan Ray,  gue gak sanggup berjuangn dari nol kembali.


"Hiksss maaf," isakku sambil memeluknya dari samping. Gue gak peduli dia lagi menyetir.


"Ray hiksss jebbal," isakku saat dia tidak peduli.


"Hufgghhh  ... apa kau ******?" tanya sakras. Gue menggelengkan kepala. Gak apa-apa ucapannya pedas yang penting jangan putus.


"Untuk apa memakai baju sialan itu di depan laki-laki itu, eoh? Kamu suka dia melihat tubuhmu dan oh  ... apa remasan di bokongmu saat menyenangkan?" Gue gak tahu kalau Ray melihat itu semua.


"Ray hikss," rengek gue. Gue gak suka sama sekali.


"Hikss aku gak tahu, Ray. Dia tiba-tiba remas gitu aja. Aku gak hikss bisa nolak pake bikini hikss aku harus professional," ujar gue berusaha menjelaskan. Kedatangan Ray sungguh tidak terduga. Tapi, yang gue mau lakukan sekarang itu jelasin sama dia.


"Ray  ... hiksss, maaf," ujar gue memohon.


"Berhentilah menangis. Itu menganggu konstrasiku," ketusnya.


Gue mengusap air mata gue. Sedikit tersenyum. Kalian jangan heran, gue kenal Ray lama. Dia gak tahu cara menyampaikan perasaannya secara manis.


"Aku sayang sama kamu dan aku cinta sama kamu."


"Kamu tahu jawabanku," ujarnya dan tentu jawaban yang sama.


"Kamu bisa hapus bekasnya," lirih gue dan menatap dia dari samping.


Ray benar-benar berubah. Fisiknya semakin matang dan yang buat gue gak tahu, jantung gue makin berdebar-debar.


"Mampir makan dulu," ujar Ray yang singgah di sebuah restoran ala Korea. Gue juga rindu dengan masakan khas Korea.


"Yuk," ajaknya sambil mengenggam tangan gue. Gue bakal kenyang malam ini dan gak sabar buat sampai di Apartemen, hahaha. Mikir jorok kan semua, memang gitu kok. Gue sama Ray bakal khm.


TBC


Hayooo 😂😂 part selanjutnya gimana? 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2