
💟Happy Reading💟
💟ARTHA'S💟
Couple ReyJena 💏
.
.
Di dalam kamar nuangsa putih seorang pria terlelap. Badannya hangat akibat luka yang ia dapatkan. Di sampingnya seorang gadis sedang memainkan gadgetnya.
"Jena," panggilnya serak.
"Ya, Sayang?" tanya Jena dan melihat kekasihnya baru bangun tidur. Jena menyimpan gadgetnya dan menatap Ray.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Jena khwatir. Ray menggelengkan kepalanya.
"Aku lapar," ujar Ray membuat Jena berdiri.
"Aku ambilkan makanan. Tunggulah di sini." Ray menggelengkan kepalanya. Dia beranjak dari kasur dan berjalan gontai ke kamar mandi.
Ray muncul dengan wajah basahnya. Jena mengambil handuk dan melap wajah Ray.
"Baju kita bagaimana?" tanya Ray. Jena cemberut saat mengingat ia batal memesan baju untuknya dan Ray.
"Kenapa?" tanya Ray sambil menekan kuat pipi Jena hingga bibir kekasihnya seperti mulut ikan. Jena memangan tangan Ray.
"Akh, sakit," rengek Jena.
"Cup ... masih sakit?" tanya Ray dengan mengangkat alisnya sebelah. Jena mengulum bibirnya menahan senyum.
"Enggak lagi," kata Jena dan kini memperlihatkan deret giginya.
"Turun yuk, aku lapar banget." Jena mengangguk dan menarik tangan Ray lembut.
__ADS_1
Ray duduk di kursi meja makan. Meski di dapur sangat ramai, tetapi putra terakhir Jung Jungkook itu cuek bebek.
"Oppa," panggil seorang gadis dan memeluk leher Ray erat. Ray kaget dan mematung. Jena berdiri tidak jauh darinya dan menatap tajam gadis itu.
"Lepaskan tangan kotormu dari pacarku," ujar Jena dingin. Aeri menyiku Hana yang tidak jauh darinya. Selalu ada saja oerang antara Jena dan gadis itu sejak bertemu.
"Hai, Nak. Mommymu di mana?" tanya Hana sebelum putrinya mengamuk.
"Hay Aunty," balas gadis itu dengan ceria. Dia memeluk Hana erat.
"Yunhui!" teriak seorang wanita paruh baya. Dia menatap anaknya kahwatir.
"Hey, Mina. Bagaimana kabarmu?" tanya Aeri kepada Mina; sepupu dari Park Jimin.
"Baik, bagaimana denganmu? Dan oh ya ampun inikah putri Echa?" tanya Mina membuat Aeri tertawa.
"Iya, ini Avy."
"Aku ingin sekali menggedong cucu." Aeri tersenyum manis tetapi tidak bertahan lama karena di rumahnya terjadi pertengkaran hebat.
Brak!
Jena melempar sup milik Ray di tangannya dan pecah di lantai. Sekali gerakan tangannya menjambak rambut Yunhui.
"Astaga!" jerit Hana.
"Dasar wanita sialan! Berani kau merebut milikku!" Jena menarik keras rambut Yunhui dan seolah teriakan Yunhui tidak ada artinya.
"Akhhhh! Lepas! Dasar wanita bar-bar!" jerit Yunhui.
"Jena!" bentak Ray dan menarik keras Jena. Tubuh Jena mundur ke belakang. Lengannya terasa perih akibat tarikan Ray.
"Jena! Bisa-bisanya kamu menarik rambut Yunhui!" bentak Hana.
Dada Jena naik turun menahan emosinya. Bahkan rambut Yunhui ikut rontok akibat tarikan Jena. Yunhui menangis di dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Kamu bisa gak sih jangan bar-bar?! Kamu sudah dewasa, harusnya kamu tidak bersikap kekanakan! Cukup penampilanmu terlihat ******." Jena merasa hatinya ditusuk ribuan panah. Kata-kata Ray menyakitinya. Hana juga ikut membentaknya.
Jena meninggalkan dapur dengan menahan tangis. Ray memejamkan mata dan merasa kepalanya berdeyut sakit. Ia kembali ke kamarnya dengan tangan mengepal kuat.
***
"Hikss ... hikss aku benci Ray," lirih Jena. Dia duduk di ayun-ayun belakang rumah Jungkook.
Seorang gadis ikut duduk di samping Jena. Gayanya bahkan khas Jena sekali. Wajahnya sangat cantik bak model.
"Perlukah aku menyingkirkan gadis sialan itu?" tanyanya dengan angkuh. Bagaimana bisa gadis berusia sepuluh tahun berkata sedemikian? Tapi inilah putri dari Yuna dan Heseok, tante kecil Jena.
"Zeza, hikss aku bahkan ingin dia mati," ujar Jena kesal.
Zeza tersenyum angkuh. Dia menyeringai kecil. Otak kecilnya menyusun rencana buruk. Zeza adalah hal buruk yang bisa membuat orang akan menyerah.
"Hang out, wine or ber? Club, eoh?" tanya yang membuat Jena tersenyum. Zeza terlalu dini untuk mengerti itu tetapi tante kecilnya itu tahu cara bersikap angkuh.
"Apa menurutmu Ray harus dihukum?" tanya Jena membuat Zeza mengangguk mantap.
"Apa hukuman yang pantas untuknya?" tanya Jena.
Zeza menyerahkan ponselnya pada Jena dan Jena membulatkan mata terkejut.
"Gila!" jerit Jena dengan suara seraknya.
Mereka berdua tidak menyadari jika Ray memandang keduanya dari jendela kamar pria itu.
"Zeza ... apa yang dia lakukan?" gumam Ray.
***
TBC
Jejak
__ADS_1