The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-FORTY THREE


__ADS_3

Seorang anak kecil mematung menatap ke arah sofa dengan wajah polosnya.


"Uncel sama Aunty gigit bibil," ujarnya membuat kedua pasangan itu terbalalak.


"Yakkk! Jena! Ray! Kalian mesum aduh putriku ternodai penglihatannya!" pekik Eunbi.


Jena dan Ray sama-sama panik. Mereka berdiri dengan canggung. Ray memasang wajah datarnya dan Jena menyengir.


"Huffgghh." Eunbi menghela napas.


"Gita sayang, Aunty sama Uncel gak gigit bibir, Nak." Eunbi berusaha menjelaskan kepada anaknya yang polos.


"Tapi Uncel jilat bibil Aunty telus gigit." Mereka bertiga menatap horor Gita. Berarti sudah sejak lama anak itu berdiri di sini.


"Ah bibir Aunty sakit sayang, makanya Uncel  ... Uncel  ... tiup." Ray menjelaskannya dengan terbata-bata. Anak orang tercemar. Apalagi Gita ini terbilang anak yang cerdas.


"Sudah, jangan bahas lagi. Nak, kamu mau makan?" Eunbi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Gita lapal," ujar Gita sambil memegan perutnya.


"Ayo ikut Mommy, Nak. Kita makan, tadi Aunty beli Sup loh," ujar Eunbi membuat Gita loncat-loncat kegirangan.


Gata dan Gita tahu sup itu enak karena sering menikmati buatan Eunbi. Apalagi dia sering dibawakan oleh Ryung. Jika pun mereka keluar bersama Ryung suka membawanya menikmati sup ayam.


Sementara Ray dan Jena menghela napas lega di ruang tamu.


"Eonni! Jena pulang dulu!" Ray menarik hidung Jena karena berteriak.


"Ne!" sahut Eunbi.


.


.


.


***


Skip. Keesokannya kediaman Jena sangat ramai. Jena selalu menampilkan senyum manis miliknya. Begitu banyak awak media yang meliput acara lamaran Ray kepada Jena.


Hingga tamu-tamu kini menikmati jamuan yang disediakan. Jena dan Ray berkeliling menyapa tamu.


"Ray," bisik Jena.


"Ya?" Jena membawa Ray ke salah satu meja. Mereka duduk di sana dan mengobrol.


"Kamu yang senyum dong, masa pasang wajah tembok aja," ujar jena kesal.


"Iya, ini senyum."  Ray tersenyum lebar membuat Jena tertawa geli.


"Ray," panggil seorang gadis yang tak lain adalah Cessy. Ray mengenggam tangan Jena.


"Ya," sahut Ray. Jena tidak menyembunyikan wajah tak sukanya. Dia menatap sinis ke arah Cessy.


"Aku gak nyangka kamu mau menikah dengannya," ujar Cessy.


"Kami pacaran," ujar Ray.


"Dan sebentar lagi kami menikah," tambah Jena.


Cessy tersenyum sinis kepada Jena."Ternyata Hama sepertimu sudah menabur racun," ujar Cessy.


Ray waswas jika Jena mengamuk di sini dan sepertinya inilah keturunan Hana. Pintar dalam situasi.


"Seperti yang kamu lihat, aku hama yang berbahaya. Racunku sangat berbisa," ujar Jena membuat Cessy mendengus kesal.


"Tak usah khawatir Jena. Kami juga hanya teman tak lebih. Bukankah saat dulu kami kencan kamu selalu menganggu? Dan bagaimana jika aku melakukan hal yang sama?" Jena mengepalkan tangan kuat. Tentu dia ingat, Cessy adalag gadis yang sangat disukai Ray dulu di antara teman kecan pria itu.


Cessy jugalah yang berhasil beberapa kali kencan dengan Ray walau tanpa status karena Jena tidak membiarkan itu terjadi.


"Ta--" Jena merasa keluh untuk membalas ucapan Cessy. Apalagi gadis itu kini tersenyum penuh kemenangan.


"Cessy ada hal yang harus aku luruskan di sini." Ryung menimpali obrolan mereka. Tangannya mebelit sempurna di pinggang Jena. Jena menoleh menatap Ray.


"Dulu Jena sering menganggu kita dan aku juga terlalu sulit mengerti perasaanku padanya saat itu. Dia mendekat karena memang aku mencintainya. Jadi, berhenti untuk berharap karena aku tidak mencintai wanita manapun kecuali Jena."

__ADS_1


DOR! Poor you , Cessy.


Wajah Cessy memerah padam. Dia meninggalkan keduanya dengan wajah marah.


"Ray," ujar Jena tak percaya.


"Jangan pikirkan apapun. Persiapkan saja dirimu untuk pernikahan kita," ujar Ray membuat Jena tertawa. Dia memeluk Ray erat.


Kemesraan mereka selalu dilihat oleh publik. Keduanya memang pasangan serasi.


"Aku cinta kamu."


"Aku lebih cinta kamu."


.


.


.


Sejak lamaran itu, kini keduanya sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya.


Karen Jena dan Ray lebih dulu sudah fingit baju dan memesan cincin, kini mereka hanya melakukan foto prawed.


Jena dan Ray sama-sama mengenakan pakain putih.


(Ps : Baper sama pict yang mana?)


"Aku haus," ujar Jena membuat Ray mengambilkannya air mineral.


"Minum dulu," ujar Ray sambil menyeka peluh calon istrinya.


"Makasih," ujar Jena.


Mereka baru ke kembali setelah malam harinya. Dekor gedung pernikahan mereka juga sudah disulap sedemikian cantiknya.


***


"APA?!" Jena memekik kaget saat dia dia mendengar ucapan ibunya.


"Eomma aturan mana itu?" Protes Jena.


"Nurut kata Eomma, ini juga Grandma yang bilang." Hana duduk di dekat suaminya. Jena mengerucutkan bibirnya dan duduk di dekat ayahnya. Kini JHope diampit dua wanita berharga dalam hidupnya.


"Appa," rengek Jena.


"Turuti ucapan Eommamu, Nak. Ini semua demi kebaikan kalian. Tidak lama lagi tinggal seminggu," ujar JHope.


"Appa, seminggu itu berasa setahun," ujar Jena membuat Hana tergelak.


"Tapi aku boleh VC kan?" tanya Jena membuat Hana mengangguk saja.


"Hm aku pasti sangat merindukan,  Ray." Jhope menggelengkan kepala melihat putrinya begitu cinta kepada Ray.


"Eomma, Appa terimakasih untuk semuanya," ujar Jena tulus kepada kedua orang tuanya.


Bagi Jena, Jhope dan Hana orang tua yang hebat. Mengerti dirinya dan mendukungnya.


JHope mencium kening putrinya dengan sayang." Kebahagianmu adalah segalanya, Nak," ujarnya membuat Jena dan Hana memeluk Jhope erat.


"Astaga!" Jena memekik mengingat Eunbi. Dia lupa membawa Eunbi cek kandungan.


"Eomma, Appa, Aku dan Ray kemarin lupa mmebawa Eonni cek kandungan."


"Kalau begitu ayo kita ke rumah Eunbi," ujar Hana.


"Tidak Eomma, biarkan aku saja."


"Jena kamu mau ketemu Ray?" Jena menggelengkan kepalanya.


"Aku janji, aku khawatir. Aku akan ke sana sendiri."


.


.

__ADS_1


.


***


Di sisi lain.


Eunbi kedatangan tamu sejak satu jam yang lalu.


"Eunbi,  aku mohon pikirkan ini. Aku sangat mencintaimu, aku mohon menikahlah denganku," ujar Se Yeung.


"Ak---"


Ting tong!


"Aku buka pintu dulu," Eunbi meninggalkan Se Yeung cepat. Dia merasa terselamatkan. Sejak tadi oria itu memintanya menjadi istrinya.


"Jena," ujar Eunbi kaget.


"Ayo kita ke rumah sakit. Eonni harus ikut aku," ujar Jena membuat Eunbi tertawa.


"Kita bisa besok ke sana," ujar Eunbi.


"Tidak, aku tidak mau telat mengantarkanmu, Eonni," ujar Jena membuat Eunbi mengangguk. Dia tahu Jena keras kepala.


Jena menerobos masuk ke dalam dan melihat Se Yeung.  Dia melempar senyum kepada pria itu.


"Sepertinya kamu harus pulang dulu, Oppa. Kami harus pergi," ujar Jena tanpa mencerna ucapannya sama sekali.


Eunbi meringgis mendengar ucapan Jena begitu ceplas-ceplos. Se Yeung sudah mengenal Jena dan tahu sifat gadis itu.


"Baiklah," ujar Se Yeung.


"Aku pulang dulu. Tolong pikirkan perkataanku." Se Yeung pergi membuat Jena menatap Eunbi dengan alis terangkat.


"Eonni  ... dia melamarmu lagi?" tanya Jena.


"Aku mohon, aku tidak bisa." Jena mengerti perasaan Eunbi. Dia mengusap pelan bahu Eunbi.


"Gata dan Gita ada di kamar," ujar Eunbi.


Jena menghampiri kamar Gata dan Gita sedangkan Eunbi sudah mengganti baju.


.


.


.


Mereka tiba di rumah sakit, tentunya Gata dan Gita dititip di rumah Jeneni. Mereka menyambutnya dengan bahagia.


"Pasien nomor 235 masih kritis?" tanya seorang suster kepada suster lainnya.


Eunbi duduk di antrian sedangkan Jena pergi membeli minuman. Dia merasa haus.


"Dia baru saja melewati masa kritisnya. Dia korban kecelakaan. Sayang sekali,  dia sangat tampan," ujar suster satunya.


"Aku semangat merawatnya," ujar suster berambut pendek.


"Hihihi aku malah penasaran dengan temannya. Walau wajahnya terua datar tapi dia kelihatan misterius."


"Tapi  ... aku merasa. Familier dengan wajahnya. Mirip dengan seorang pengusaha."


"Nyonya Eunbi."


Eunbi kaget dan masuk ke dalam ruangan rumah sakit. Tapi samar-samar dia mendengar nama seseorang.


"Kalau tidak salah nama temannya Kevin ah Devin."


"Namanya Levin."


Eunbi tidak tahu tetapi hatinya merasa sesak.


"Nama Levin banyak di dunia ini," gumam Eunbi." Lagian Levin dan Ryung pergi ke luar negeri," lanjutnya.


Jena kembali dan masuk ke dalam bersama Eunbi.

__ADS_1


TBC


Jejak :)


__ADS_2