
Happy Reading 😊
.
.
Saat matahari hampir di atas kepala seorang laki-laki masih asyik di balik selimut tebalnya. Wajahnya perlahan terusik sinar yang membuatnya melipat wajah karena silau.
Bulu mata lentiknya perlahan terbuka. Dia menatap samar-samar seseorang bediri berkacak pinggang.
Matanya membulat sempurna saat melihatnya. Siapa lagi jika bukan Aeri mommynya tercinta menatapnya jengah.
"Ryung kamu ini bangunnya kesiangan mulu," omel Aeri.
Ryung menguap dan menutup mulutnya. Matanya masih setengah mengantuk. Tapi dia duduk di atas kasurnya.
"Mommy, Ryung juga mau bangun pagi tapi tidak bisa," jelas Ryung membela dirinya.
"Mommy kasihan sama istri kamu nanti, dapat suami pemalas," ujar Aeri sambil mendekati Ryung.
Ryung berdiri cepat. Dia masih sayang telinganya. Dengan gerakan cepat dia berlari ke kamar mandi.
Aeri membereskan tempat tidur putranya dan menyiapkan seragam putranya. Tatapan Aeri jatuh pada benda segi empat.
Mata Aeri menatap pintu kamar mandi Ryung. Bagaimana bisa Ryung merokok? Aeri mengembuskan napas lelah.
Dia akan menunggu putranya keluar. Saat Ryung melihat Aeri duduk tenang dan di tangannya ada bungkus rokoknya. Dia mengusap rambutnya dengan handuk kecil gerakan cepat.
"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Aeri penuh selidik.
"Mommy, Ryung cowok jadi wajar merokok," elak Ryung. Matanya menatap Aeri memelas.
"Mommy tidak mau paru-paru kamu rusak karena rokok, Ryung. Kamu tidak baca ini pringatannya?" tanya Aeri setengah marah.
"Mommy semenjak aku membaca peringatan itu, sejak saat itu jugalah aku berhenti membacanya," ujar Ryung membuat Aeri menatapnya tajam.
"Aish maling kundang Mommy bisa kambuh," ringisnya dalam hati.
"Pilih merokok atau jadi batu?" tanya Aeri membuat Ryung memutar bola matanya. Dengan sayang dia memeluk tubuh mungil Aeri. Mommynya sangat menggemaskan.
Aeri tentu lemah jika putranya bersikap manis. Dia menarik diri karena Ryung masih memakai handuk dan badannya masih basah.
"Jangan membujuk Mommy, aku akan katakan pada Daddymu soal ini. Sebaiknya kamu jadi anak asrama saja," ujar Aeri membuat mata Ryung membulat.
"Mommy tega, Ryung gak mau." Ryung menatap Aeri kecewa. Aeri kegegalapan mendapat tatapan kecewa Ryung. Dia tidak bermaksud.
Dengan hati kecewa Ryung memakai bajunya cepat dan meraih tangan Aeri. Dia pergi ke sekolah. Aeri mematung di tempat.
Air matanya menetes."Mommy sayang sama kamu, Nak. Mom tidak mau kamu sakit."
***
Di lain tempat seorang gadis mengebrak meja di mana seorang remaja laki-laki dan perempuan menikmati menu restoran.
Gadis yang mengenakan rok pendek dengan baju potongan dada rendah, terlihat menegaskan betapa gadis ini memiliki tubuh ideal.
Brushhh!
"Akhhhh!" Tidak ada yang dapat mencerna apa yang terjadi. Pekikan gadis yang baru saja terkena siram jusnya membuat beberapa pengunjung menatapnya.
"JENA!" bentak Ray.
Jena datang di sini selepas menyelesaikan Photoshopnya. Saat dia tahu Ray berkencan dengan salah satu gadis di sekolah yang sama dengan Ray. Jena menghampirinya.
"APA?! Apa aku harus diam saat seseorang mencoba menggoda kekasihku?!" Tatapan yang menyalahkan Jena kini beralih menatap mencemoh gadis tak bersalah itu.
__ADS_1
"OMONG KOSONG APA INI JENA?!" Ray dibuat naik pitam oleh Jena. Jena mengabaikan Ray dan menatap tajam Aura.
"Dengar baik-baik, jangan tunjukkan batang hidungmu lagi. Dasar PLAKOR!" Aura sangat malu. Dia Mengambil tasnya dan pergi. Ray mengusap rambutnya ke belakang. Matanya menatap tajam. Jena.
Ray dan Jena saling memandang. Butarkan lamunan kalian soal saling tatapan mesra karena yang ada kilatan amarah pada netra kedua remaja yang terjebak pada situasi sulit.
Dretttt.
Jena menggeser warna hijau saat melihat ayahnya yang menelepon.
"Appa," jawab Jena.
"Â ...."
"Aniyo, aku hanya punya Photoshop tadi, 5 kali track saja," ujar Jena.
"Â ...."
"Aku sudah sembuh Hakcimm App hacimm pa," ujar Jena.
Ray tahu Jena sakit akibat main hujan. Inilah dia maksud, Jena terlalu sempit berpikir main hujan-hujan agar romantisan. Otak ******* sekali gadis ini.
"Ne, Appa. Bye muachh." Jena menutup teleponnya. Dia menatap Ray yang membuang muka.
Ini bukan kali pertamanya Jena menghancurkan pdkt Ray. Ray sangat jengkel. Jena mengeluarkan tiga lembar uang merah dan menarik tangan Ray.
Ray mengikuti Jena. Dia sangat malu sekarang. Tidak peduli dengan tatapan protes Ray, Jena masuk ke dalam mobil pria itu.
Ray terpaksa menjalan mobilnya. "Aku ingin ke rumahmu, aku rindu dengan Mommy Aeri," ujar Jena.
Skip. Mereka tiba di rumah Ray. Ray meninggalkan Jena dan masuk ke dalam rumah.
Dia melihat Ryung dan Ryeong menikmati Sup ayam dan Iga bakar. Sup ayam itu? Sepertinya mommynya dan Ryung cekcok.
Aeri selalu membuat sup ayam dan iga bakar ketika dia dan Ryung pernah marahan.
"Jena sayang kamu keluyuran. Kata Hana kamu sakit, Mommy berencana menjengukmu nanti jika Daddy Jungkook pulang," ujar Aeri.
Jena memeluk Aeri dan memperlihatkan deret giginya. "Aku ingin minum susu Mom," ujarnya. Aeri mengusap lembut pipi Jena dan segera membuatkan susu untuk keponakannya.
Aeri menyodorkan segelas susu kepada Jena.
"Mommy Aeri, kenapa hanya buat segelas susu saja? Jena mau memberikan segelas juga pada Ray Oppa," ujar Jena membuat Ryung dan Ryeong berdehem. Aeri tersenyum lembut.
"Jena sayang, Ray alergi susu," ujar Aeri membuat Jena membuka setengah mulutnya. Fakta mengejutkan dari pria es itu.
Jena menatap Ray yang cuek. Dia memekik dengan suaranya membuat Ray tersedak karena ucapan frontalnya. Sedangkan Ryeong dan Ryung terbahak-bahak.
"ANDWEEE! Ottoke Mom, bagaimana jika kita menikah? Apa Ray Oppa tidak akan minum susuku?" tanya Jena polos.
"Uhukk ... Uhukkkk." Ray menatap tajam Jena.
Aeri menepuk punggung Ray.
"JENA!" bentak Ray.
Jena cemberut. Tiada hari tanpa bentakan Ray yang sialnya terdengar seksi di telinga Jena.
"Hahahahah!" Saudara kembarnya hanya tertawa melihat wajah merah padam Ray.
Aeri menahan tawanya. Sosok Jena sangat mirip dengan Hana.
"Jangan teriak sayang di depan makanan," tegur Aeri masih mengusap punggung Ray.
"Jena gua beruntung dapat sepupu kayak lu," ujar Ryung kelepasan.
__ADS_1
"Ryung perlu Mom belikan kamus KBBI agar kamu tahu ngomong yang sopan?" tanya Aeri membuat Ryung mengangkat tangannya membentu 'V'.Â
Mata Jena terlihat memerah, hidungnya juga. Tiba-tiba Jena kepikiran Ulfie. Gadis itu bercerita insiden bertemunya Ray dan Yoongi.
"Oppa, bisakah bilangin Yoongi Oppa agar tidak mengangguk sahabatku, Ulfie," ujar Jena.
"Yoongi itu dingin Jena, jadi tidak mungkin sampai ganggu sahabatmu," ujar Ryung.
"Faktanya dia menganggunya. Oppa kan tahu aku sama Ulfie sahabatannya lama," ujar Jena dan menyesap susu buatan Aeri.
"Mungkin ada something," tebak Ryeong. Jena mengangkat alisnya tertarik.
***
Ulfie POV
Gue lagi di mall. Sehabis jenguk Jena gua jalan-jalan sendirian. Gua habis curhat sama dia soal cinta matinya dan juga sahabatnya yang sama-sama mirip kulkas.
Bete gue soalnya Jena lagi sakit dan tau-taunya tuh anak lagi Photoshop.
Gue tau karena satu agensi dengan Jena. Gue sudah Photoshop kemarin. Semenjak gue luncur di dunia modeling, gue lebih memperhatikan fashion gue lagi.
Selama ini gue sering main juga sama beberapa photografer. Well, mereka tampan-tampan. Gue gak ada komitmen sama mereka, sebatas kesenangan doang.
Di sinilah gue berada pusat perbelanjaan di Seoul, dekat kosan gue sih.
Sial banget hari ini, gue di maki-maki sama cowok. Mana uratnya keras banget. Maksud gue tuh gak mau kalah.
"Punya mata gak lu?! Buta, eoh," tanyanya dengan teriakan yang buat gue bisa tuli.
"Eh lu kali yang buta. Masa lu nanya mata gue di mana, jelas-jelas lu liat mata gue," bentakku balik. Matanya melotot dan gue balas melotot.
Persetan tatapan pengunjung. Reputasi gue enggak bakal hancur walau gue berantem di sini.
Drghh! Dorongannya keras membuat gue terhuyung ke belakang.
"Banci lu!" Dia semakin emosi dan mencengkram dagu gue kasar. ***** sakit woy, tapi gue kagak mau meringgis. Pantang bagi gue sama Jena menunduk sama orang lain.
Bugh! Tiba-tiba laki-laki itu sudah tergeletak di lantai. Gue kaget tentunya.
Dari samping gue lihat wajah marah cowok ini. Keamanan datang dan di sini lagi gue terjebak.
Di taman dekat mall tadi. Cowok ini diam-diam saja. Sariawan kali. Di sskian ribuan orang di mall, kenapa cowok ini Tuhan kirim buat nolong gue?
"Makasih," ujar gue. Wajarlah gue terimakasih, secara dia nolong gue.
"Hm." Terimakasih gue harus di balas deheman. Nyantai aja kali, gue dongkol ini.
"Lagi sariawan lu?" tanya gue jengkel. Dia menatap gue dan
Dug
Dug
Dug
Sialnya jantung gue berdetak. Dia memegan bahu gue dan menatap mata dalam banget.
"Jangan terlibat lagi perkelahian. Lu terlalu banyak rekor perkelahian sama Jena," ujarnya lembut. telinga gue lagi gak bermasalahkan?
Cowok dingin ini, yang nyebelinnya selangit ngomong lembut sama gue? Gue berasa mimpi.
"Arasso?" Tanpa sadar gue mengangguk patuh. Gue tau gue lagi dalam masalah. Im feeling love with him.
TBC
__ADS_1
Thankss kalau mau ninggalin jejak :)
Ini kisahnya masih Triplek's sekolah ya :)