The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-TWENTY FOUR


__ADS_3

💟Happy Reading


.


.


Jeritan seorang wanita mendominasi rumah megah keluarga Jung. Kedua putranya kembali dengan wajah babak belur.


Jika Ryung yang mendapatkannya itu sudah biasa, tetapi Ray? Anaknya lebih kelihatan kalem.


"Ryung, Ray  ... Apa dengan wajahmu?" tanya Aeri panik.


"Hanya kecelakaan sedikit, Mom," timpal Ryeong tiba-tiba.


Aeri mengangguk tak yakin. Dia membiarkan kedua putranya ke atas. Aeri melihat Jena luka-luka menduga jika anaknya kecelakaan.


"Jena," lirih Aeri yang mendapat pelukan hangat dari Jena.


"Its ok, Mom. Bisakah aku istirahat dulu?" tanya Jena. Dia berjalan ke kamar Ray.


"Ryeong sejujurnya adik-adikmu kenapa? Apa kalian kecelakaan?" Ryeong menarik Aeri duduk di sofa dan memeluk ibunya.


"Mommy harap tenang. Inseden ini hanya kecil. Aku janji menjaga mereka, Mom." Aeri tersenyum lembut dan mengangguk.


Ryeong berjalan gontai ke kamarnya. Dia meraih handuk dan mandi bawah guyuran air hangat.


"Hufghh lebih baik berada ditumpukan kertas daripada menikah. Lebih baik menghadapi kenakalan Ryung daripada menghadapi Keyra." Ryeong mengusap wajahnya kasar. Demi Tuhan dia tidak tahu pernikahannya akan seperti apa.


Ryeong menghabiskan 20 menit di dalam kamar mandi. Setelahnya dia keluar dengan handuk melilit sebatas pinggang.


Dia menyerit melihat Ryung terbaring di atas kasurnya. Ryeong mengacak rambutnya dengan handuk kecil.


"Ada apa?" tanys Ryeong yang tanpa menoleh.


"Hyung, malam ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku berani berumpah benda bubuk putih itu tidak pernah aku pakai," ujar Ryung frustrasi.


"Dan bodohnya kamu berada di sana. Kamu meninggalkan jejak dan kamu pasti tahu apa yang ada dipikiran Mom dan Dad."


Ryung sangat tahu kemungkinan orang tuanya percaya jika namanya dilibatkan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu mengenal Levin Serno? Dia mafia kelas atas, Ryung."


"Aku menolongnya, Hyung. Kami bertemu dan berteman, bahkan Levin tidak segan untuk menolongku juga, Hyung." Ryung berusaha menjelaskannya.


"Ya dan bagaiamana caramu menjelaskan hal tidak masuk akal ini. Levin tidak pernah menolong. Dia hanya tahu membantai manusia." Ryeong berjalan ke lemari miliknya dan mengambil baju santainya.


"Bantu aku, Hyung. Hilangkan jejak itu." Ryung menatap putus asa hyungnya.


"Serahkan dirimu pada polisi. Aku akan menghubungi polisi dan aku pastikan semua baik-baik saja."


"Hyung! Are you crazy?!" Ryung menatap tidak percaya pada Ryeong yang duduk di sofa.


Dia menghampirinya dan Ryeong tersenyum mendengar ucapan adiknya.


"Jika kamu tertangkap di sini itu memalukan, Ryung. Jika kamu menyerahkan diri dan berkata,'Jaket itu adalah milikku dan obat-obat terlarang itu bukan punyaku. Melainkan itu ada begitu saja."


"Apa ini magic? Tidak masuk akal, Hyung," ujar Ryung gusar. Dia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.


"Jika di sana kamu akan di tes. Hasilnya mines jika kamu tidak pernah memakainya." Ryung baru bisa mencerna otak jenius kakaknya.


"Kalau begitu temani aku besok ke sana." Ryeong menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingin Daddy membunuhku?" kata Ryung dengan suara tertahan.


"Aku tidak bisa keluar rumah. Izin dari Mommy tidak akan ada lagi. Aku bebas keluar setelah menikah."


"Baiklah, aku akan mengajak Ray. Ini bidang Ray soal hukum, dia calon jaksa." Ryung bersemengat seketika.


"Tidak dengan Ray. Kamu harus tahu dia kecalakan akibat Ken Luis. Sekarang,  ke ruangan Daddy," ujar Ryeong.


"Ini meragukan."


***


Di dalam ruangan Jungkook, Ryung duduk di hadapan daddynya. Jungkook menatap aneh putranya. Pasalnya, Ryung jarang menemuinya di sini.


"Kamu baik-baik saja, Son?" tanya Jungkook.


"Daddy berhenti memanggilku,'Son. ' Aku sudah dewasa." Ryung sangat jengkel jika disebut 'son'.

__ADS_1


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Jungkook.


"Dad, aku datang ke sini ingin meminta bantuanmu."


"Bantuan?" Sesaat Ryung menatap ragu Jungkook. Akankah daddynya akan membunuhnya?


"Daddy, aku terlibat kasus narkoba." Jungkook menatap datar Ryung.


"Lanjutkan." Ryung mengangkat wajahnya. Dia pikir Jungkook akan memberinya bogem mentah.


"Aku bukan pemakai atau pengedar, apalagi bandar narkoba, Dad. Temanku; Levin Serno-ketua mafia." Ryung merasa jantungnya semakin memompa keras. Daddynya sangat tenang sekali. Bukankah air tenang itu biasanya lebih berbahaya? Baiklah, Ryung meneguk ludahnya kasar.


"Jaketku ketinggalan saat bertemu dengannya seusai  ... emm  ... balapan." Jungkook semakin menatap tenang putranya.


"K-kami ... kenal saat aku menolongnya di club, Dad." Ryung menahan napas saat semua kenakalannya harus ia bongkar satu per satu.


"Ryung," panggil Jungkook membuat Ryung siap diberi hukuman.


"Daddy tidak menyalahkanmu sama sekali. Ini masa remajamu, Daddy lebih parah darimu."


Ryung mengangguk dan mendengar saksama putranya.


"Jangan coba memakai benda terlarang itu. Daddy akan kecewa." Ryung mengangguk.


"Tapi, Dad  ... namaku sudah terlibab. Aku akan membuat nama besar keluarg kita tercoret."


"Tidak, besok Daddy akan menemanimu." Ryung memeluk daddy erat. Jungkook menepuk-nepuk punggung Ryung.


Baru rasanya kemarin dia melihat anaknya menangis terlahir. Merengek di tengah malam. Dia tidak percaya bahkan Ryung lebih tinggi darinya.


Ryung akhirnya pergi. Dia meraih ganggang  pintu dan memejamkan mata mendengar ucapan Jungkook.


"Pacaran dengan yang punya anak itu menyenangkan Ryung."


Jleb. Apa Jungkook mengawasi anaknya? Ryung cepat-cepat pergi.


TBC


Jejak :p

__ADS_1


__ADS_2