The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-THIRTY EIGHT


__ADS_3

Selamat pagi, jika belum follow silakan di follow :) jangan lupa vote dan komentarnya.


Happy Reading.


~Harusnya aku dan kamu saling bicara.


Berapa lama lagi bulan harus harus berganti bulan? Atau berapa lama lagi bulan bertemu bulan? Tahun berganti tahun? Berapa lama itu semua agar rasa rindu ini terbayar?


"Hey, di mana, Mommy sayang?" tanya gadis cantik berambut merah maron.


"Mommy di dapur, Aunty." Tebak gadis kecil berpipi tembem yang tak cendel lagi. Dia adalah Han Gita. Kembarannya menghampirinya.


"Aunty Jena!" pekiknya bahagia dan memeluknya. Jena membalas pelukan Gata.


"Jena, kapan kamu datang?" tanya Eunbi yang keluar dari arah dapur. Jena tersenyum melihat wanita cantik itu.


"Hahaha aku baru saja tiba. Ini ...." Jena mengangkat kantung plastik membuat Eunbi memutar bola mata jengah.


"Aku sudah bilang, aku bisa membelinya sendiri." Eunbi melayangkan protesnya yang tak bosan ia katakan sejak lima bulan ini.


"Hahaha, aku tidak ingin diomeli oleh Pak Jaska. Terimalah, ini juga demi dia." Tatapan Eunbi berlaih ke perutnya.


Kalian bisa menebak sendiri? Sekali bobol langsung jadi. Benih Ryung tertanam di dalam rahim Eunbi. Wanita itu kini hamil lima bulan.


"Arasso." Eunbi menerima kaleng susu yang diberikan Jena. Memang Jena dan Ray senantiasa memperhatikan Eunbi, bahkan semua keluarganya.


"Em, Eunbi," panggil Jena dan duduk di salah satu kursi. Eunbi ikut duduk dan menatap Jena dengan pandangan bertanya.


"Bagaimana dengan tawaran Se Yung Oppa?" Eunbi menatap Jena dan menyunggingkan senyum tipis.


"Sesungguhnya aku tidak ingin membicarakannya padamu. Tapi, kamu berhak bahagia. Mommy Aeri juga mendukung, kamu butuh pendamping hidup." Mata Jena berkaca-kaca menatap Eunbi. Sungguh hamil di luar nikah serta kejadian mengenaskan itu membuat ia harus menelan ludah pahit.


"Aku tidak masalah," ujar Eunbi.


"Tapi, anak kamu butuh ayah." Jena tak habis pikir dengan Eunbi. Apa yang ditunggunya? Bahkan sepupu brengseknya hilang. Jena berjanji akan mengamuk kepada Ryung.


"Aku sudah terbiasa hidup tanpa pendamping hidup, Jena. Kamu jangan khawatir. Gata dan Gita hidup selama ini tanpa ayah." Eunbi mengenggam tangan Jena.


"Setegar apa hatimu? Sekuat bajakah hatimu? Seluas samudrakah kesabaranmu? Sejerni airkah hatimu? Sebiru langitkah pandanganmu? Dan sebesar duniakah cintamu kepada dia yang melukaimu?"  batin Jena.


"Kamu dan Ray, serta yang lain sangat baik kepadaku. Aku sangat berterimakasih." Saat ini Eunbi memang membuka usaha restoran dan restoran miliknya sangat terkenal. Bahkan menjadi tempat favorite kalangan atas. Seperti yang dilansir oleh salah satu majalah termuka di Seoul.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Jena membuat Eunbi hanya diam. Jena bisa tahu Eunbi mencintai Ryung.


"Dia sudah berdosa kepadamu, Eonni." Jena menggigit bibirnya.

__ADS_1


"Aku tahu. Tapi, aku juga salah. Bahkan kita gak tau gimana keadaan dia." Eunbi merindukan Ryung dan kesal kepada laki-laki itu.


"Hiksss Ryung Oppa sangat beruntung. Lalu di mana si Brengsek itu," ujar Jena marah bercampur sedih. Dia juga mengkhawatirkan kondisi Ryung.


"Jika aku bertemu dengan Levin, aku akan menamparnya," ujar Jena kesal membuat Eunbi tertawa.


Tatapan Jena mengedar ke seluruh penjuru sudut restoran Eunbi. Matanya terpaku kepada seseorang yang duduk di sana menikmati makanannya.


Jena segera berdiri dan mengambil jus di depan pria itu.


Brush!


"APA-APAAN INI?! DASAR GILA!" teriak pria itu dan menatap tajam Jena.


"BRENGSEK! DI MANA RYUNG?!"


Eunbi berdiri dengan panik. Bahkan Jena menjadi sorot tatapan pengujung restoran Eunbi.


"Arghhhh! Siapa lo?!" tanya pria itu marah.


"Gue--" Jena menunjuk dirinya."Gue adalah orang yang akan membunuhmu jika lo membahayakan sepupu gue?!" lanjut Jena dengan tangan menyilang di depan dada. Angkuh.


"Dasar gila. Aishhh keamanan resto ini sangat sial," umpat pria itu.


"Haruskah gue berteriak jika seorang mafia seperti lo butuh keamanan yang ketat?" Levin menajamkan matanya dan mendekat ke arah Jena. Bahkan dia berdiri begitu dekat.


"Jena!" Ray datang dan menghampiri kekasihnya. Ray kaget melihat Levin.


"Lo." Ray menunjuk Levin yang mendapat dengusan pria itu.


"Dengar jangan cari Ryung karena gua gak akan ngomong apa-apa soal dia." Levin hendak pergi tapi ditahan oleh Ray.


"Gimana keadaan dia?" Levin menyeringai sinis. Dia menepis tangan Ray.


"Lebih buruk dari bayangan lo. Tabak siapa gua? Menurut lo, Ryung bagaimana sekarang?"


Ray mengetakkan rahangnya. Jena menarik Ray dan maju selangkah dengan tatapan tajamnya.


PLAK!


Levin menatap tak percaya Jena. Dia seumur hidup tidak pernah di tampar, lalu gadis di depannya menamparnya dengan angkuh. Wah, bahkan semua wanita bertekut lutut di hadapannya tetapi dengan gadis ini datang dan menyiramnya.


"Gue bisa memberi yang lebih lagi," sinis Jena.


"Andai lo bukan cewek, lo habis ditangan gua," desis Levin. Jena tertawa remeh. Telunjuknya mendorong dada Levin.

__ADS_1


"Gue cewek ataupun bukan, lo gak ada apa-apanya. Lo itu--dia tuk  ... tuk  ... tuk  ...." Jena mengentuk-ngetukkan sepatunya dan menatap Levin remeh."Di bawah gue," lanjutnya membuat Levin marah sampai ubun-ubun.


Ray menarik Jena ke belakanganya. Dia menekan egonya sebab ia hanya bisa menerima info hyungnya dari pria ini.


Levin pergi dari sana dengan hati dongkol. Jena hendak mengejarnya tetapi Ray menahan pergalangan tangannya.


"Ray," ujar Jena memelas.


"Biarkan dia pergi. Dia pasti malu." Ray mengguman dan menarik Jena masuk ke dalam ruangan pribadi Eunbi. Eunbi menghela napas lega.


Dia tersenyum tak enak kepada pelangangganya yang lain.


"Eunbi," panggil seorang pria dan menatap Eunbi penuh cinta.


"Se Yung," lirih Eunbi.


"Aku dengar ada keributan di restoranmu, ada apa?" tanya Se Yung membuat Eunbi menggeleng.


"Bukan apa-apa. Kamu ingin minum?" tawar Eunbi yang diangguki pria itu.


"Kita minum di retroff." Eunbi mengangguk dan berjalan ke sana. Dia menyeduh susu hamil yang diberikan Jena dan membuatkan Se Yung coklat panas.


"Kamu sudah melakukan cek kandungan hari ini?" tanya Se Yung menatap perut Eunbi. Eunbi mengelus pertunya penuh kasih sayang.


"Belum, akh," ringis Eunbi saat anaknya mendang. (Maafkan Author kalau ada salah soal kehamilan 😁🙏 aku gak tahu dan masih lajang hahah)


"Apakah boleh aku memengannya?" tanya Se Yung membuat Eunbi mengangguk. Dia mengelusnya dan berteriak senang.


"Wahhh lihat dia menendangku juga, hahaha." Eunbi ikuy tertawa dan semua itu disaksikan oleh seorang pria tak jauh darinya.


Pria itu tersenyum kecut membuat pria di dekatnya merasa tak enak.


"So--sorry, gua pikir kagak gini, Bro."


"Sudahlah, hari ini kita kembali dan banyak hal harus diselesaikan. Transaksi senjata lo sudahkan?" Pria itu mengangguk. Sekian lama dia baru kembali ke Korea itupun untuk mengimpor senjata.


"Halo, lakukan transaksi di Singapur. Pastikan sudah diselesdiki dengan baik."


"  ...."


"Ya, harus dengan kemasan rapi dan mangsa kita kali ini orang kaya yang berpanguruh di Singapur. Berikan dia bubuk yang berkualitas tinggi."


Tutttttt.


TBC

__ADS_1


Apa itu? Mwo? Tebak-tebak😂😂😂😂


__ADS_2