The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS -TWO


__ADS_3

Happy Reading


.


.


.


Wajah pasrah sangat terlihat jelas menghiasi raut wajah pria brambut biru itu. Dia memasuki rumahnya dengan langkah gontai.


Berbeda dengan kedua laki-laki yang berjalan santai di hadapannya. Mereka berjalan ke kamar.


"Ryung," panggil Aeri saat Ryung ingin berjalan ke kamarnya.


Ryung menghentikan langkahnya. Dia menatap Aeri memelas. Aishh gara-gara guru sialan itu,  dia jadi kenapa dampaknya.


"Awwhhhhhh Mommy!" teriak Ryung saat Aeri menjewernya.


"Kenapa kamu bandel sekali, eoh? kamu tahu jika Eubi-nim itu gurumu. Kenapa kamu melawannya terus! kamu juga berkelahi,  eoh? Mommy kan menyekolahkanmu untuk belajar bukan berkelahi!" omel Aeri yang membuat telinga Ryung makin panas.


Jungkook duduk di sofa menyaksikan penderitaan putranya. Dia tersenyum geli melihat tubuh mugil Aeri menarik telinga putranya.


Putranya yang lebih tinggi dari Aeri menunduk daripada telinganya putus. Jungkook mengedikkan bahu saat putranya menatapnya memelas.


"Mommyku sayang, sakit," rengek Ryung.


Aeri melepasnya dan melihat telinga Ryung memerah. Berkacak pinggang. Anaknya ini sangat nakal sekali.


"Mommy tuh kalau nanya dijawab, Ryung," omel Aeri.


"Mommy, Ryung gak salah tapi Eunbi saj--" Belum selesai Ryung bicara, Aeri memotongnya.


"Banyak alasan kamu," kata Aeri garang.


Ryung kesal, mommy bagaimana sih minta dijawab tapi malah dibilang banyak alasan. Aeri selalu begini.


"Diam kan sekarang? kamu harus minta maaf sama guru kamu," ujar Aeri melipatkan tangannya di depan dada.


"Aduh Mommy, bicara salah, diam juga salah. Mommy gimana sih," sunggut Ryung.


Aeri sontak melototkan matanya. Ryung meringgis dalam hati.


"Mak gua galak banget, **** pasrah gua," batin Ryung.


"Kamu sekarang ngelawan Mommy, eoh?! kamu ingin seperti Maling Kundang jadi batu?" tanya Aeri galak.


Ryung terbalalak kaget. Aishhh mommynya selalu mengukit maling kundang saat dia berbuat kesalahan.


"Mommy tega kalau ngutuk Ryung jadi batu," kata Ryung memelas.


Jungkook meraih pinggang Aeri sampai Aeri duduk di atas pangkuannya. Dia jadi kasihan melihat putranya. Tapi putranya juga bandel sekali.


"Ryung kamu ke kamar, obati luka kamu," kata Jungkook tegas.

__ADS_1


Ryung mengangguk dan berlari cepat ke kamar sebelum Aeri mengeluarkan lavanya, hahaha.


***


Sore ini seorang laki-laki baru saja keluar dari sebuah tokoh game. Dia menatap jam yang melingkar di tangannya. Netranya memandang langit yang keabu-abuan.


"Sepertinya akan hujan," ujarnya pelan.


Dia menghampiri mobilnya. Tangannya hendak meraih knop pintu mobil tetapi suara keributan membuatnya menatap memicing ke sana.


"Yakkk! Jena pikir lo bisa ngalahin gue? Lo tenar karena lo itu jajanin tubuh lo!" teriak seorang gadis yang mengenakan dress menampilkan lekuk tubuhnya.


"Jena, ahh nama itu banyak di dunia ini," pikir Ray.


"Dasar *****! Gua bukan lo yang sudah ba! Lo bilang aja kalau ngiri karena gue lebih seksi dan tentunya memang cantik daripada lo," sinis Jena.


"Suara itu  ... arghhh! Jena-gadis itu--"


"Stop!" teriak Ray melihat kedua wanita itu saling menjambak rambutnya.


Ray menarik kasar lengan Jena. Jena mengigit bibir agar tidak mengeluarkan ringisannya. Ray menariknya terlalu kuat.


"PULANG!" bantak Ray.


Ray menyeret Jena sampai di dekat mobilnya. Dengan kasar Ray membuka pintu mobil dan mendorong Jena masuk.


Jena mendengus tidak percaya. Dadanya masih naik turun akibat emosi. Ck, wanita itu benar-benar membuatnya geram.


Ray memeacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mata Ray menatap tajam ke depan. Tangannya mengcengkram kuat stir mobil. Rahannya mengatup keras.


Jena mengalihkan tatapanya. Melihat lengannya yang memerah. Bibirnya tersenyum sabar.


Jena melihat ke samping. Ray mengantarnya pulang. Sungguh pria ini sangat arogan.


"Turun," ujar Ray.


Langit di atas sudah menumpahkan tangisnya. Dia seolah mengungkap air mata yang ditahan Jena.


"Kenapa,  Ray? Dia menghinaku sebagai wanita ******," tanya Jena sedikit emosi.


Ray menatap Jena tajam. Bibirnya tersenyum sinis.


"Kamu memang ******," ujar Ray menusuk hati Jena.


Jena tertawa miris. Air matanya jatuh begitu saja. Dengan kasar dia menghapusnya.


"Keureyo? Arasso, setidaknya ini lebih baik,  Ray. Aku hanya bersifat ****** kepadamu," ujar Jena dan dia keluar dari Mobil.


Ray mengembuskan napas melihat pumggung Jena. Dia melihat tubuh rapuh itu diguyur hujan. Air mata Jena beradu dengan hujan. Orang tidak akan tahu jika ia menangis.


Jena bukan masuk ke dalam rumahnya malah berjalan ke samping rumahnya. Matanya memerah. Tubuhnya bergetar hebat.


"Hikss  ... Aku mencintaimu, Ray. Tidak bisakah kamu melihatnya," isak Jena.

__ADS_1


***


Berulang kali Ray menghela napas. Ia memutuskan keluar dari mobilnya. Dia mencari Jena sampai dia melihat Jena menari bawah hujan.


"Melankolis," komentar Ray sinis.


Dia berjalan ke sana, membiarkan tubhnya basah kuyup. Dengan sekali hentakan Ray membalikkan badan Jena menumpuk dada bidangnya.


"Ray," kata Jena terkejut.


"Ck,  kamu sangat bodoh. Apa-apan ini main hujan-hujanan," kata Ray tajam.


Jena menghentakkan kakinya kesal. Mata memerahnya menatap Ray kesal. Ray menatap Jena semakin tajam.


"Ray ... kamu itu sebenarnya manusia apa bukan sih?" tanya Jena memicing yang menurut Ray itu sangat membuatnya jengkel.


"Heheheh oh My Chagiya," kekeh Jena melihat tatapan masam Ray.


Mood gadis ini mudah berubah-ubah. Padahal dia tadi menangis dan sekarang dia malah asyik bermain hujan.


"Ayolah Ray, tatapanmu seolah mengajakku ke kamar," ujar Jena membuat Ray mendengus keras.


Suara Jena semakin meninggi menandingi Hujan.


"Ray!" pekik Jena saat Ray menariknya untuk pergi.


"Hentikan pikiran bodohmu,  Jena! Kau harusnya tahu jika sekarang hujan."


"Ohhh Ray! Ini waktu yang sangat romantis untuk kita berdua. Menari di bawah hujan,  dan menyanyi saling menatap penuh cinta," ujar Jena semangat.


Ray memandang datar Jena. Dia tidak habis pikir, gadis di depannya sangat bodoh.


"Awwww," ringis Jena saat keningnya disentil Ray.


"Itu hanya ada di dalam novel. Kamu harus bangun dari mimpimu.  Jika bermain hujan,  itu akan membuatmu sakit," bentak Ray sakras.


"Wowww apakah itu bentuk perhatianmu,  Ray?" tanya Jena takjub.


Ray memandang Jena tidak percyaa. Sialan kau Jena! Bahkan dia tidak bermaksud perhatian. Ck,  terserah. Sakitlah! Dia akan pulang saja.


Ray meninggalkan Jena. Melihat Ray pergi Jena memutar bola mata kesal. Dia berlari mengejar Ray.


Sampai di samping Ray,  Jena memeluk Ray dari samping. Ray yang sudah lelah, pasrah dipeluk Jena. Untuk saat ini biarkan Jena memeluknya. Besok-besok, hama ini harus ia basmi.


TBC


Jejak Say :)


Jangan jadi Sider aja :)


Hargai waktu, pikiran dan kepegelan Author dalam menulis. Menulis dan memikirkan sebuah ide bukan perkara mudah, jadi jangan cuma taunya ingin membaca kilat.


Author menulis dan berpikir tidak sekilat saat kalian membaca dan meninggalkan jejak :)

__ADS_1


Terimakasih sebelumnya atas jejaknya :)


__ADS_2