The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-EIGHT


__ADS_3

Happy Reading :) Double up Shipernya RayJena bisa kangen nanti 😂


.


.


~Jika ada yang harus di singkarkan maka itu bukan aku.


Berapa banyak penolakan dan luka yang harus di terima oleh gadis yang tersedu-sedu di dalam pelukan sahabatnya.


"Hiksss hiksss Appayo. Hikss aku sangat mencintainya," isak Jena. Ulfie yang memeluknya menahan matanya agar tidak berkedip. Bisa dipastikan dalam satu kedipan air matanya akan tumpah.


"Jenasshi! Tidak bisakah lo bertingkah jual malah sedikit saja pada Ray?" tanya Ulfie kesal. Suaranya serak menahan tangis.


Jena menarik dirinya. Matanya memerah menatap Ulfie.


"Hiksss gg-guee hikss tidak punya harga diri lagi hiksss," isak Jena.


"Waeyo?! LO PUNYA!" teriak Ulfie.


"Ray itu dingin,  Fie! Dia seperti kutub utara dan lebih beku dari salju. Jika gue sama-sama keras dan jadi es, bukankah malah semakin beku? Sebaliknya jika gue jadi matahari,  dia akan meleleh di bawah sinarku," ujar Jena membuat Ulfie mengigit bibir bawahnya. Entah sahabatnya polos atau bodoh.


"Arayo! Tapi Jenasshi cobalah. Hoo sekali saja. Buat dia tahu kamu juga bisa menyerah," ujar Ulfie menatap iba sahabatnya.


Jena tersenyum tipis. Dia memegang tangan Ulfie.


"Lo harus percaya,  kalau Ray akan jatuh cinta pada akhirnya."


"Bagaimana jika Ray tidak jatuh cinta pada lo tapi pada gadis lain? Haruskah ada yang disingkirkan?"


"Jika ada yang harus di singkarkan maka itu bukan aku."


"Mwoo?!"


"Ray cuma milik  Jena. Jena cuma milik Ray."


"Yakkk apa lo gila?! Jenasshiiiiii!"


Ulfie sudah bertahun-tahun jadi sahabat Jena. Melihat setiap tetes air mata luka sahabatnya. Mendengar bibir bergetar Jena menyebut nama Ray. Kenapa cinta tidak bisa seadil ini?


"Oh ya, selamat.  Lo harus cerita soal gimana bisa lo jadian sama Yoongi Oppa dan gue pasti datang nanti malam di club."


Jena meninggalkan Ulfie yang menatapnya kasihan.


"Sampai kapan kamu berjuang sendiri? Cinta sepihak sangatlah menyakitkan,  Jena," lirih Ulfie.


.


.


***


Di rumah kediaman Jungkook. Seorang pria duduk di kursi balkom kamarnya.


Pikirannya kacau. Dia mengingat hama penganggunya.


"Aku sepertinya terlalu kasar padanya tadi siang," ujarnya sambil memandang bulan sabit.


Ray tersentak kaget saat seorang gadis duduk di dekatnya. Inilah hamanya,  Jung Jena.

__ADS_1


"Masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin. Sungguh sopan," sindir Ray membuat Jena tertawa. Ray berpikir apa hati Jena tidak sakit? Andai kau tahu Ray,  hati Jena bukan pagi sakit bahkan nyaris retak tidak tersisa.


"Kenapa datang ke sini?" tanya Ray dingin.


"Oppa tidak datang di acara Ulfie dan Yoongi Oppa. Dia bilang memberi Oppa kabar," ujar Jena.


Ray hanya diam. Hingga ia melontarkan kata sinis,"Gua tidak datang karena hama seperti lo ada di sana."


Deggg. Jena merasa hatinya berdenyut sakit.


"Oppa lihat bulan sabit itu. Bagaimana pun gelapnya malam, bagaimana pun bintang yang tak selalu menemaninya,  dia selalu tersenyum." Ray menatap bulan sabit itu.


"Begitu juga denganku Oppa, segelap apapun hatimu padaku, sesering apapun kamu meninggalkan dan menolakku,  aku akan tersenyum dan menunggu."


Ray menoleh melihat Jena yang tersenyum mengatakan kalimat puitisnya.


"Seperti halnya bulan sabit,  dia hanya perlu melewati hari-hari dengan tersenyum sampai dia jadi bulan purnama. Aku juga sama Oppa  ... aku hanya perlu menjalani hari hingga aku mendapat hatimu secara untuh hingga cintaku begitu sempurna," ucap Jena dan matanya memanas. Air matanya jatuh dan dia mengusapnya. Ray bisa melihat betapa terluka Jena karenanya.


Ray menautkan tangannya dan menunduk. Dia menghela napas dan mengangkat wajahnya. Tangannya mengacak rambutnya.


"Sebesar apa rasa cintamu padaku?" tanya Ray pada Jena.


"  ...." Jena diam saja. Tapi, tatapannya tidak lepas dari netra hitam Ray.


"Ck,  cinta monyet. Bahkan kamu diam tidal bisa menjawabnya," decak Ray.


"Aniyo Oppa. Aku diam bukan karena ini cinta monyet. Tapi, aku tidak punya jawaban untuk menyamakan dan menggambarkan besarnya cintaku padamu," ujar Jena tulus. Ray diam tidak berkutik.


Ray menatap bulan dengan pandangan sulit diartikan. Jena cuma diam melihat keacuhan Ray. Duduk di dekat pria itu tanpa diusir sudah membuatnya bahagia.


"Buatkan aku coffe," ujar Ray. Jena kebingunan dan tersenyum lebar. Dia menyimpan tasnya di dekat Ray.


"Tunggu sebentar," ujar Jena. Dia bergegas ke dapur dan membuatkan Ray coffe.


Ray menyeruputnya. Jena khawatir Ray tidak menyukai coffe buatannya tapi melihat pria itu begitu menikmatinya, sepertinya tidak buruk.


"Jena, kamu tahu aku bukan pria romantis dan tidak punya cinta untukmu," ujar Ray sakras. Jena cemberut,  berada di dekat Ray haris siap-siap mendengar kata-kata pedih darinya.


"Arasso," ujar Jena kesal. Ray menoleh dengan cepat dan menatap tajam Jena. Jena mengepalkan tangannya dan memukul kepalanya berkali-kali dengan pelan.


"Ahh ashhh aku salah. Mian," rutuknya pada dirinya sendiri. Dia tanpa sengaja ketus pada Ray karena kesal.


Jena menghentikan pukulannya. Sudah tengah malam. Sepertinya dia harus menginap.


"Jena, aku tidak bilang mencintaimu karena memang tidak. Tapi akan aku beri kesempatan, eoh," ujar Ray. Jena menbesarkan pupil matanya.


"Ke-kessmpataann?" tanya tidak percaya. Dia mencubit pipinya keras.


"Hm."


"Apa kita pacaran?!" tanya Jena semangat. Ray terlihat berpikir dan menatap penuh selidik Jena.


"Tidak, kesempatanmu hanya boleh mendekat. Aku akan menunjukkan jika aku tidak menyukaimu agar kamu menyerah. Menyakitimu membuatku sakit, kamu keluargaku,  Jena," lirih Ray. Dia lelah dan juga tidak bisa menyakiti Jena terlalu dalam.


Jena nyaris bahagia tapi Ray memang tahu cara meretakkan hatinya.


"Hiksss hiksss jahat! Hiksss wae  ...  waeee?! Aku bilang kamu kamu tidak perlu bersusah payah Ray, biarkan aku sendiri. Sekalipun kamu tidak menyukaiku!" isak Jena. Dia memukul Ray dengan kepalan tangannya. Meluapkan rasa sakitnya.


"JENA!" bentak Ray. Jena berdiri dan menatap Ray emosi.

__ADS_1


"Hiksss benar! Lakukan itu Ray! HIKSSS KAMU HANYA PERLU MEMBENTAKKU HIKSS! BENTAK AKU! ITU YANG HARUS KAMU LAKULAN!" teriak Jena. Tangisnya pecah. Ray memejamkan mata mengontrol emosinya.


"APA KAMU MAU JADI PACARKU WALAU JELAS-JELAS AKU TIDAK MENCINTAIMU, EOH?!"


"YE! Bahkan saat aku tahu bahwa hanya ada kebencian,  aku mau hikksss."


"YEOJA GILA!" bentak Ray. Dia meninggalkan Jena dan berdiri di dalam kamarnya. Napasnya tidak teratur. Rahangnya mengeras.


"Ray," panggil Jena dan memeluk Ray dari belakang. Air mata Jena membasahi punggung Ray.


Ray benci air mata keliarga. Dulu dia berjanji menjaga Echa dan Jena,  tapi suatuasinya beda. Jena mencintainya.


"Jena, tidakkah kamu tahu ini sulit,  hm?" tanya Ray dingin. Dia membalikkan badan dan menatap tajam Jena.


"Karena darah kita sama?" Ray mengangguk. Jena memejamkan mata merasakan denyit jantungnya yang kian mendera rasa sakitnya.


"Mommy Aeri bilang tidak apa-apa. Aku mohon,  Ray. Kita pacaran, oeh. "


Ray memijat kepalanya pusing. Jena menunduk mrlihat betapa frustrasinya Ray.


"Jika aku berkata ketus padamu dan menyakitimu dengan perlakianmu, itu salahmu sendiri," kata Ray ketus.


Jena mengusap air matanya dan tersenyum,"Apa artinya kamu mau?"


Ray mengangguk. Jena mengigit pipinya dalam. Dia ingin menjerit bahagia tapi dia tidak mau Ray membentaknya.


"Tapi ini bukan pacaran. Semacam beradaptasi," ujar Ray membuat Jena menatapnya cemberut.


"Oppa beradaptasi apanya? Apa kita mahluk lain yang punsah tempat?" tanya Jena dengan suara seraknya habis menangis.


"Ya jelas. Kamu hama dan aku manusia. Sudah jelas aku harus beradaptasi dengan hama sepertimu," ujar Ray.


~Tahan, Jena. Ingat kamu calon pacarnya.


"Sampai kapan Oppa butuh beradaptasi?" tanya Jena mencoba sabar.


"Tergantung. Jika kamu Hama liar pasti sangat lama," kata Ray Santai.  Jena hanya membuat ucapannya sampai di tenggorokan. Dia kesal.


"Apa Oppa melihatku seperti binatang?" Jena menatap Ray memelas.


"Tentu. Jadi jaga sikapmu, sebelum aku memberimu pengusir hama."


Ray naik di atas kasurnya dan memejamkan mata. Dia merentangkan tangan. Jena menatap Ray pasrah.


"Setidaknya ini lebih baik," ujar Jena.


Plok! Ray menepuk lengannya berulang kali. Jena menyerit.


"Kemarilah. Hitungan ket--"


Hap!


Jena kemudian berbaring di dekat Ray. Menjadikan lengan Ray sebagai bantal. Dia tersenyum cerah.


Ray diam saja saat Jena memeluknya erat.


"Apa ini bagian beradaptasi?" batin Jena bajagia. Ray tersenyum tipis. Mereka terlelap dan Jena beraharap ini bukan mimpi.


TBC

__ADS_1


🙈🙈🙈


Jejak :)


__ADS_2