The Triplek's

The Triplek's
THE TRIPLEKS-TWENTY NINE


__ADS_3

          💟Happy Reading💟


              💟ARTHA'S💟


Pagi yang cerah, menandakan hari baru telah tiba. Lembar baru baru saja dimulai oleh pasangan pengantin baru yang masih terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya.


"Enghhh." Lengguhan itu berasal dari bibir tipis berwarna merah mudah dari seorang gadis. Kelopak matanya mulai terbuka. Pertama kali yang ia lihat adalah dada bidang milik suaminya.


Pipinya bersemu tanpa komando. Seolah bayangan pergulatan panas tadi malam berputar di otak cantiknya.


"Morning," sapa suara serak khas bangun tidur dari laki-laki tampan itu.


"Mo--morning," balas Keyra.


Ryeong bangkit dari tidurnya dan memejamkan mata sejenak. Setelah nyawanya terkumpul dia menoleh ke samping.


"Sebaiknya kamu mandi duluan," ujar Ryeong membuat Keyra mengangguk patuh.


Wajah Keyra memanas karena suaminya tanpa malu beranjak dari kasur dan memakai boxernya kembali.


"Apa kamu tidak bisa berjalan?" tanya Ryeong khawatir. Dia tahu, ini yang pertama untuk Keyra dan tentunya bawah wanitanya pasti masih perih.


"Emm  ... ak--aku bisa jalan," ujar Keyra gugup.


Ryeong mengangguk dan Keyra mengetatkan selimutnya. Kaki polosnya menginjak lantai kamar Ryeong. Wajahnya masih memanas saat suaminya tak lepas memandangnya.


"Akh," ringis Keyra saat baru melangkah. Kewanitaannya begitu perih dan Ryeong menghampirinya.


"Akh! Ap--apa yang kamu lakukan?!" tanya Keyra khawatir. Dia mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Menggedongmu tentu saja," jawab Ryeong. Dia berjalan ke kamar mandi dan menurunkan Keyra.


Dia mengisi bathup dengan air hangat lalu memberinya busa. Keyra memperhatikan gerak-gerik suaminya. Dadanya berdesir saat Ryeong begitu memperhatikannya.


"Mandilah," ujar Ryeong dan meninggalkan kamar mandi.


Keyra melepas selimutnya dan mulai berendam. Dia merasa sejuk saat air menyentuh kulitnya.


***


"Hahahaha,  kita harus menjelajahi semua tempat!" pekik gadis itu mengebu-ngebu setelah keluar dari ruang karaoke.


Dia berjalan di samping kekasihnya yang tak bersemangat. Di sampingnya ada tiga pria yang begitu sama hebonya. Dia adalah Yeonjun, Bomgyun dan Sehun. Mereka sedang melakukan vlog di mall seputar keseruan mereka.


Lain halnya dengan pria berwajah swag itu. Kembarannya lebih terlihat hangat, mereka berjalan berdampingan untuk menjadi pembatas antara dua orang gadis yang tak pernah akur.


"Jena! C'mone! Time zone ready  ...!" jerit Ulfie dengan bahagia. Jena ikut berteriak histeris.


Mereka memasuki ruang time zone dengan wajah semangat. Kencan mereka bisa dikatakan double sedouble datenya.


"Bagaimana jika kita punya tim sendiri!" usul Suga.


"Bagus, siapa yang kalah harus push up 50 kali!" timpal Vira semangat.


"Baiklah, tidak mungkin Ladis push up sebanyak 50 kali," ujar Ulfie.


"Tidak, tugas kita cewek-cewek menyemangati para pacar kita," sela Jena. Kompak cewek-cewek semua mengangguk.


Para pria pasrah dengan pacar mereka. Jena menarik pipi Ray membentuk simle karena pacarnya hanya memasang wajah datar tanpa semangat.

__ADS_1


"Senyum dong, hehhee," ujar Jena membuat Ray senyum tipis. Ray mengacak rambut Jena pelan dan merapikannya kembali. Jena mengambil lengan Ray dan merangkulnya.


"Semangat," kata Jena pelan dan mendongak menatap Ray yang lebih tinggi darinya. Ray mengangguk.


"Kita main basket!" ujar Bomgyun.


Mereka mulai bermain dan teriakan mereka beradu. Jena semakin hisyeris begitipun dengan yang lainnya.


"Yahh!" ujar mereka saat waktu habis.


Ternyata skor Ray lebih unggul beda lima dengan Suga. Sementara Yoongi menempati posisi ketiga. Jena melap keringat Ray.


"Cepat push up dan ke cafe mall," ujar Jena.


Mereka mulai push up dan berjalan ke cafe. Jena memberi Ray air mineral dingin. Ray menenguknya sampai setengah botol.


"Menonton bioskop yuk!" ajak Vira.


"Boleh mumpung lagi jam 8 malam, genrenya YD!" ujar Yeonjun semangat.


"Yeeee!" sorak para wanita.


"Brak! Setuju banget gua!" kata Yoongi sambil mengebrak meja membuat mereka kaget. Ulfie mendengus melihat kelakuan kekasihnya. Mereka memesan makanan dan menikmatinya.


.


.


.


"***** ini genrenya 21+, Monkey!" umpat Jena mendapat delikan tajam Ray. Jena menyengir.


Di sini benar-benar ketat penjagaannya. KTP untuk memungkinkan menonton. Tentunya tempatnya juga privasi.


Ruangan bioskop ini benar-benar diboking oleh mereka. Hingga mereka memiliki tempat duduk masing-masing pojok dengan jarak jauh dari teman-temannya.


Ruangan hanya diterangi layar monitor film yang mereka inginkan. Adegan panas mulai terlihat.


Seorang pria dan wanita sedang bericiuman panas. Ray menenguk air yang dibelinya. Jena merasa badannya panas dingin saat adegan penyatuan mereka.


Teman-teman mereka sudah dalam penampilan acakan. Baju yang sudah terlepas sempurna dibadan mereka.


Jena menenguk ludahnya sendiri. Matanya tetap fokus ke depan. Napasnya terenggah-enggah. Bawahnya terasa hangat dan panas.


Dia bergerak gelisah di tempat duduknya. Ray tetap fokus menonton. Dia menatap Jena yang tersenyum kaku kepadanya.


Ray menarik Jena ke dalam pelukannya. Jena merasa jantungnya berdetak kencang.


"Jena, I want you," serak Ray.


"Yeah," balas Jena serak.


"But, sebatas pemanasan. Blow job, Baby." Jena menarik dirinya dan menatap memicing Ray. Tiba-tiba dia kesal.


"Apa kamu tidak menginginkan tubuhku, Ray?!" tanya Jena jengkel.


"Sangat, bahkan bukan hanya tubuhmu tetapi hatimu," ujar Ray datar tetapi membuat  kembang api dalam dada Jena meletus.


"Lalu kenapa hanya sebatas blow job?" tanya Jena merajuk.

__ADS_1


"Kamu masih perawan?" tanya Ray hati-hati. Dia tidak mengapa sebenarnya jika Jen tidak perawan karena mengingat dulu dia mengabaikan Jen.


Ray kira Jena pernah jenuh dan bermain bersama beberapa laki-laki. Walau dia berharap ucapan Jen selama ini jujur ketika mengatakan jika dia hanya liar dan tetap menjaga tubuhnya untuk Ray.


"Im really virgin, Ray," lirih Jena.


Ray tersenyum."Aku ingin melakukannya di kamar, bukan di sini. Kamu tahu kan maksudku," ujar Ray. Jena mengerti, dia mengangguk. Tentu jika melakulannya di sini, darah keperawanannya bisa membuat syok oetugas pembersih, walau dia yakin,  tempat ini lebih mirip club dan hotel.


.


.


.


Jena POV


Ray meraih tengkuk gue dan ******* bibir gue rakus. Bisa dikatakan anak Daddy Juki sangat liar dalam kissing.


Lidahnya menyapu setiap rongga gigi gue. Membelit dan memainkan lidah gue. Kami bertukar seliva dan ciumannya turun ke rahang gue.


"Auhh ahhh, Ray!" erang gue dan menjambak pelan rambutmya. Dia. semakin lihai menjilati rahang gue.


Tangannya meremas benda keyal gue yang masih terbungkus pakaian dan bra gue.


"Eghh Ray," desah gue saat dia mengigit kecil leher gue.


Baju gue disingkap Ray dan dia menegluarkan bukit kembar gue dengan melapas kait bra gue.


.


.


.


"Ahhh," desah Jena semakin menjadi-jadi saat Ray menempelkan tubuhnya lebih dekat dengan Jena.


Tubuh Jena mentok di dinding dan lidah Ray mejilat niple Jena yang mengeras. Jena menekan kepala Ray.


Tangan Jena menegelus dada bidang Ray. Dia membuat Ray semakin terbakar gairah. Suara decakan dan gesekan film bioskop yang tanyan menambah sensual keduanya.


Napsu Ray semakin mengebu saat tangannya mentuh sisik sensitif Jena. Dia memasukmmkan jarinya di liang bawah Jena.


"Auhhh ahhh yeahh!" racau Jena saat jari Ray memenuhi miliknya.


Crortttt 💦 Jena menyadarkan tubuhnya pada Ray. Dia baru saja *******. Persendian tubuhnya terasa lemas.


Ray mengusap surai hitam Jena. Kini saatnya Jena yang merservice Ray.


Dia mecium dan ******* bibir Ray liar. Tangannya mengelus dada bidang Ray sampai turun ke bawah. Dia membuka resleting celana Ray dan menemukan aset kekasihnya.


Jena merasa milik Ray mengeras dan menonjol. Dia mengelusnya, mengurut dan mengeluarkannya.


Jena menurunkan wajahnya dan menjilat milik Ray seperti es krim. Wajahnya naik turun saat benda panjang itu masuk ke dalam mulut seksinya.


Ray memejamkan mata menikmati permaianan lidah Jena. Dia merasa akan meledak di dalam mulut Jena.


***** 💦 Setelah cukup lama mengulum milik Ray, akhirnya pria dingin itu mengalami *******. Jena menelan semua cairan ****** milik Ray. Mereka kembali berciuman hingga Ray dan Jena memisahkan diri.


Mereka memperbaiki pakaiannya bersamaan dengan film yang sudah habis. Jena dan Ray sama-sama tersenyum. Lewat tatapan keduanya mengambarkan betapa tadi sangat mendebarkan perasaan mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2