The Twins CEO

The Twins CEO
Semakin Cemburu


__ADS_3

Sudah lebih 2 jam Nessa berada di kamar perawatan Farel, waktu juga sudah sore.


"Nes kamu istirahat saja,pulang. Biar aku saja yang menjaga Farel," usul Irgi.


"Enggak lah nanti saja setelah Farel siuman baru aku pulang."


"Oh ya sudah kalau begitu, aku keluar sebentar mau beli cemilan, kamu mau nitip apa?"tanya Irgi.


"Nggak ada, Aku lagi males aja."


Leon dan Sheon tengah merundingkan sesuatu, kemudian Leon menghampiri Stefan.


"Stefan Kamu masih menunggu di sini?"


"Masih tuan, saya akan menemani Nessa di sini."


"Baiklah, saya dan Sheon berencana ke kantor Polisi, untuk melaporkan kejadian ini."


"Saya titip Nessa pada kamu," ucap Leon.


"Baik Tuan."


Leon dan Sheon keluar dari ruangan itu.


Nessa mengotak-atik handphone nya ia duduk di samping Farel yang masih terbaring tak berdaya.


Beberapa saat kemudian Farel mulai membuka matanya.


"Farrel kamu sudah sadar?"tanya Nessa yang terlihat senang.


"Nona," lirih Farel.


"Iya, kamu habis menjalani operasi, karena ada pendarahan di kepala kamu."


Farel mengerjap-ngerjapkan matanya, karena pandangan yang masih kabur, kepalanya juga masih terasa sakit.


Kemudian ia melirik ke arah pria di samping Nessa yang memandangnya dengan tatapan sinis.


"Nona, tidak terjadi sesuatu kan pada anda, ketika saya tidak sadarkan diri?"


Nessa tersenyum simpul, "Tidak kok. Saya baik-baik saja. Sudahlah, kamu Jangan pikirkan saya. Pikirkan saja diri kamu untuk saat ini."


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Nessa.


Farel melirik ke arah botol mineral yang ada di sampingnya. Tenggorokan terasa kering.


"Kamu haus ya?" tanya Nessa.


Farel mengangguk lirih.


Nessa tersenyum kearah Farel,


" Maaf ya Farrel, Dokter bilang kamu belum boleh minum."


Kemudian Nessa menuang air mineral ke dalam gelas, dengan sendok, ia mengambil beberapa tetes air kemudian membasahkan bibir Farel dengan air yang ada di sendok.


Nessa sangat berhati-hati dalam melakukan itu, karena saat itu bibir Farel mengalami bengkak, begitu pula pada bagian wajah dan matanya sedikit lebam.


Bulir bening menetes di pipi Nessa saat ia membasahi bibir Farel dengan menggunakan air.Wajah ganteng tertutupi dengan luka memar.


'Tega sekali mereka melakukan ini,' batin Nessa.

__ADS_1


Farel menatap sendu ke arah gadis cantik yang menangis di hadapannya.Ia tertegun atas perhatian Nessa terhadapnya.


Setelah dua kali membasahi bibir Farel dengan air, Nessa kembali duduk.


Keadaan kembali hening. Stefan masih memandang dengan tajam ke arah keduanya.


"Farel apa yang kamu rasakan?" tanya Nessa.


Farel menggeleng kepala dengan lirih.


"Sudah, kamu istirahat saja ya, Jangan pikirkan apapun, saat ini kesehatanmu lebih penting."


"Farel apa kamu punya keluarga yang bisa dihubungi?" tanya Nessa.


"Tidak ada nona, saya besar di panti asuhan. Saya bisa seperti ini karena kebaikan hati Tuhan Sheon yang mengangkat saya jadi asistennya."


"Oh baiklah. Kamu harus banyak istirahat, tidurlah," ucap Nessa.


Melihat Nessa yang terlihat peduli terhadap asistennya, membuat Stefan semakin cemburu.


'Dia bersikap dingin terhadapku, tapi begitu hangat terhadap asistennya itu," batin


Irgi datang membawa makanan kemudian menghampiri Nessa.


"Bagaimana Ness, apa Farel sudah siuman ?" Tanya Irgi.


"Iya, dia sudah siuman."


"Gi, Farel itu nggak punya siapa-siapa Gi, kamu temani aku ya nginep di sini. Kasihan dia kalau butuh apa-apa nggak ada yang bantuin."


"Iya kamu tenang saja."


"Tapi harus izin sama Daddy dan mommy dulu. Karena kamu kan anak perempuan."


"Gi, kalau begitu Aku pulang dulu ya, mau ambil pakaian ganti sekalian bawa pakaian kamu."


"Oke."


Mendengar Nessa yang hendak pulang, Stefan mengambil kesempatan.


"Aku antar ya Ness?" tawar Stefan.


Karena sudah beberapa kali menolak ajakan Stefan, akhirnya Nessa setuju dengan usul yang diberikan oleh Stefan.


Mereka pulang bersama.


Di dalam mobil keadaan hening,sesekali Stefan melirik ke arah Nessa.


"Kenapa sih harus kamu mau jagain si Farel itu, kalian kan punya banyak asisten rumah tangga. Kenapa nggak suruh mereka saja?"Tanya Stefan bernada protes.


"Iya sih, tapi aku khawatir saja. bagaimanapun, aku atasannya dan saat itu Farel pergi bersamaku, dia melindungiku jika hanya menjaganya di rumah sakit aku rasa tidak masalah."


Stefan melirik ke arah Nessa dengan sinis.


"Kenapa sih? kamu begitu perhatian pada Farrel. Dia kan hanya asisten kamu, atau kamu menyukainya?"


Nessa melirik sinis ke arah Stefan.


"Itu urusan aku, mau suka atau nggak sama Farel," sahut Nessa ketus. Ia jadi semakin ilfil terhadap Stefan.


"Urusan kamu? Ness kita itu sebentar lagi bertunangan, sebagai calon tunangan kamu, aku nggak setuju saja kalau kamu terlalu dekat dengan Farrel," tutur Stefan dengan yakin.

__ADS_1


Nessa kembali menoleh ke arah Stefan dan meliriknya dengan sinis, sebagai ungkapan sikap protesnya.


"Kamu kok sepertinya semakin berani ngatur aku sih? Ingat kita cuma calon, belum ada komitmen apa-apa diantara kita!" Ucap Nessa dengan penuh penekanan.


"Iya aku tahu aku salah, tapi percayalah, cuma aku yang cinta mati sama kamu," ucap Stefan sambil meraih tangan Nessa.


Nessa menepis tangan Stefan .


"Daddy ku memang mengizinkan kamu untuk mendekati aku , tapi hanya untuk agar kita saling mengenal, istilah sekarang Pedekate,tapi


Bukan berarti Kamu bisa ngatur-ngatur aku," dengus Nessa.


"Iya Nes, Aku tahu aku lancang."


"Tapi itu semua karena aku hanya ingin melindungi kamu."


"Kamu lihat kan Farel itu sampai dihajar dan dikeroyok oleh orang tak dikenal."


"Dari peristiwa itu bisa kita tarik kesimpulan, jika Farel itu mungkin saja memiliki musuh yang dendam dan sakit hati terhadapnya, mungkin Farel telah melakukan perbuatan yang sangat merugikan seseorang ,hingga orang tersebut begitu dendam hingga menghajarnya hampir tewas begitu."


"Dari situ saja kita bisa lihat jika Farel itu bukan anak baik-baik, selama ini dia pura-pura baik saja di depan keluargamu agar bisa mencari simpati dari kalian. Dia mempunyai rencana untuk mendekati kamu Nes."


"Kamu lebih baik menjauh dari orang seperti itu sebelum kamu sendiri yang jadi korbannya," tutur Stefan agar bisa mengadu domba Nessa dan Farrell.


Nessa bergeming sambil menoleh ke arah Stefan.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Nessa.


"Aku bisa lihat di matanya, Aku ini seorang pria, jadi aku tahu Bagaimana jika pria menyukai seorang wanita. Farel itu menyukai kamu, jangan-jangan ini hanya akal-akalan dia saja, biar kamu simpati. Dia menyuruh orang untuk menghajarnya, agar kamu makin perhatian dan peduli terhadapnya ."


Stefan berusaha membuat alasan-alasan untuk mempengaruhi Nessa, agar Nessa menjauhi Farel.


Mendengar hal itu Nessa semakin emosi dia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu fakta dan realita yang ada.


"Kamu pikir pengeroyokan itu main-main?! Apa kamu sadar?! Farel itu hampir meninggal ada pendarahan di bagian kepalanya dan kamu bilang itu disengaja olehnya hanya untuk mencari perhatian dari keluargaku?!"tanya Nessa dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Melihat Nessa yang sudah tersulut emosi, Stefan berusaha untuk meredakannya.


"Sudahlah nggak usah dibahas lagi!" Pungkas Stefan.


Nessa mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.


"Kalau begitu, aku boleh dong temani kamu tidur di rumah sakit?"


Nessa kembali melirik ke arah Stefan.


"Nggak boleh!" Cetusnya.


"Loh kenapa? bukannya kamu minta Irgi menemani kamu juga,jadi kita gak hanya berduaan kan?"


"Aku gak mau lah, kamu kan orang asing.Laki-laki pula."


"Loh, bukan yang Farel itu pria asing, Kenapa juga kamu mau bela-belain menunggunya di rumah sakit, kamu serahkan saja pada petugas rumah sakit untuk menjaganya, lagi pula di ruang VIP pelayanannya pasti lebih baik."


Stefan semakin menunjukkan kecemburuannya terhadap Farel.


Nessa mendengus kesal.


"Pokoknya aku nggak mau kamu ikut bermalam di rumah sakit, biar aku sama Irgi saja yang menjaga Farel," ucap Nessa.


Karena mereka tiba di rumah Nessa langsung keluar dari mobil Stefan dengan kesal.

__ADS_1


bersambung dulu gengs, Terima kasih,🙏


__ADS_2