
Sheon dan Shasa memutus untuk menginap di rumah orang tua mereka untuk menemani adik-adiknya.
Setelah makan malam, mereka berkumpul dan ngobrol bersama. Dinda juga ikut ngobrol bersama Nessa dan juga Sasha.
Mereka berkumpul di ruang tengah, begitupun dengan bayi Shasa yang baru berumur 2 bulan diletakkan di lantai diatas tempat tidur bayi agar mereka semua bisa lebih santai mengontrolnya.
"Kak Shasa, lebih sakit mana operasi caesar atau lahiran normal sih?" tanya Nessa sambil mengelus bayi perempuan Shasa.
"Sama saja lah, keduanya sama-sama sakit. Tapi nggak kakak nggak kapok kok, malahan pengen nambah satu lagi," ujar Shasa sambil tersenyum.
"Bikin lagi saja kak, biar rumah kita semakin ramai. Kamu juga dong Din, kan aku juga pengen lihat anaknya di Irgi seperti apa," cetus Nessa kemudahan tertawa kecil.
Dinda tersenyum mendengar ucapan Nessa.
"Kak Nessa saja dulu, Aku nggak tahu bisa melahirkan atau enggak, bisa hamil atau enggak," sahut Dinda.
"Nggak usah gitu Din, Kakak yakin kok setelah kamu menjalani transplantasi sumsum tulang belakang, kamu akan sembuh, kamu akan jadi wanita normal yang bisa hamil dan melahirkan," jawab Shasa.
"Iya Din, Karena itulah kamu harus bersemangat menjalani hidup kamu, sekarang saja kamu sudah sehat seperti ini," sahut Nessa.
Dinda kembali tersenyum kecut.
'Iya,tapi sepertinya mas Irgi gak selera sama aku,' batin Dinda.
Tiba-tiba Dinda merasa sedih.
"Oh iya kak, Dinda permisi dulu ya. Dinda mau minum obat, terus istirahat. Besok lagi ya kita lanjutin ngobrolnya," ucap Dinda.
"Oh iya Dinda, Kak Shasa masih beberapa hari kok di sini, besok kita bisa ngobrol panjang lebar lagi. Sekarang kamu istirahat saja," sahut Shasa.
"Iya Kak, Dinda permisi dulu," ucap Dinda sambil berlalu meninggalkan Nessa dan Sasha.
Jika para wanita ngobrol di ruang tengah yang berada di lantai 1.
Irgi dan Sheon ngobrol di ruang tengah yang ada di lantai 2.
Ketika sedang asyik ngobrol, membicarakan masalah bisnis Irgi melihat Dinda yang melewati mereka.
Dinda melemparkan senyum ke arah Sheon dan dibalas senyum pula oleh Sheon. Tapi, Dinda terlihat cuek di depan Irgi. Dia langsung nyelonong masuk ke dalam kamarnya tanpa tersenyum ke arah Irgi.
"Mau ke mana Dinda?" tanya Irgi.
"Tidur!" Sahut Dinda terdengar ketus.
Sheon dan Irgi saling melempar senyum.
Sheon menepuk pundak Irgi.
"Sudah, kamu bujuk dulu istrimu biar nggak ngambek lagi. Kata orang kalau istri ngambek Itu rezeki suaminya susah," cetus Sheon.
Mendengar itu Irgi tertawa kecil sambil mengacak rambutnya.
"Iya deh Kak. Aku bujuk Dinda dulu ya."
Irgi beranjak dari sofa kemudian berjalan menghampiri kamarnya, kemudian Ia membuka pintu kamarnya.
Kreak!
Baru saja masuk ke kamarnya, Irgi sudah disambut wajah cemberut Dinda.
Irgi sambil berjalan menghampiri Dinda, ia melempar senyum manis kearah istrinya. Tapi dibalas dengan tatapan wajah sinis oleh Dinda.
__ADS_1
Kemudian Irgi mendaratkan bokongnya di samping Dinda.
"Kamu marah ya sama Mas Irgi?" tanya Irgi.
"Enggak kok mas, aku nggak marah," cetus Dinda sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dinda memiringkan tubuhnya membelakangi Irgi.
Irgi tersenyum melihat tingkah Dinda. Sebelumnya, Dinda bukan tipe gadis manja yang suka merajuk.
Kemudian Irgi berbaring di samping Dinda, sambil melingkarkan tangannya pada perut Dinda. Irgi juga mengusap lembut rambut Dinda.
"Din, jangan tidur dulu ya," bisik Irgi di tepi daun telinga Dinda.
Dinda hanya diam. Kemudian Irgi membalikkan tubuh Dinda hingga menghadap ke arahnya.
Keduanya saling memandang.
Irgi tersenyum ke arah Dinda agar bisa mencairkan suasana kaku yang mereka rasakan.
Jantung Dinda berdetak dengan kencang ketika melihat tatapan Irgi, tatapannya tak seperti biasanya.
Dan jantung Dinda kembali berdetak semakin kencang, tak kalah ia merasakan bibirnya disentuh Irgi dengan bibirnya.
Ser! Aliran darah Dinda melesat dengan cepat hingga ke puncak ubun-ubunnya.
Tak hanya menyentuh bibir Dinda, Irgi juga menyesap dan mengu*lum bibir Dinda.
Sejuta rasa Indah terasa di hati Dinda saat itu. Dengan lembut ia membalas pagutan lembut bibir suaminya.
Keduanya saling melu*mat dengan tatapan sayu yang membangkitkan hasrat.
Tak hanya meng*lum dan menyesap bibir Dinda, tangan Irgi mulai merayap pada bagian dada Dinda.
Suara decakan sesekali terdengar ketika bibir mereka saling bertaut.
Irgi menyibak piyama itu, kemudian mendarat kecupan pada ceruk leher Dinda.
"Akh! Mas Irgi," lirih Dinda ketika merasakan sensasi yang berbeda, setiap kali sentuhan lembut telapak tangan Irgi yang menyentuh kulitnya.
Tanpa banyak membuang waktu, Irgi bangkit untuk mematikan lampu kamar mereka.
Kemudian ia melepas semua penutup tubuhnya hingga tak sehelai benang pun melekat pada tubuhnya.
Detak jantung Dinda semakin berdetak kencang, sudah lama iya menantikan saat-saat ini. Dan sebentar lagi ia akan mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya kepada pria yang ia cintai dan yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Tempat tidur terasa berguncang karena pergerakan Irgi yang merayap menghampiri Dinda yang kini terlentang di tengah-tengah tempat tidur.
Irgi kembali mendaratkan kecupan pada bibir Dinda sambil melepas penutup tubuh Dinda.
Tubuj Dinda menggelinjang ketika tanpa sengaja telapak tangan IG
rgi menyentuh area sensitifnya yang telah terbuka.
Setiap sentuhan Irgi pada permukaan kulitnya membuat Dinda bergidik. Irgi terus menggerayangi tubuh Dinda sambil melumat bibir sang istri. Ketika hasrat keduanya tak mampu lagi dibendung.
Pertarungan perdana itu pun dimulai.
***
Dinda mencengkram lengan Irgi sambil berusaha untuk tak berteriak ketika senjata suaminya itu berusaha merenggut dinding suci miliknya.
__ADS_1
Berkali-kali Dinda menahan nafasnya karena merasakan sakit yang luar biasa.
"Akh!" Dinda menggigit bibir bagian bawah Irgi hingga berdarah ketika senjata suaminya berhasil menerobos dinding suci miliknya.
Detik berikutnya secara perlahan-lahan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa.
Irgi terus memompa tubuh istrinya dengan mata yang merem melek.
Sesekali terdengar suara lenguhan tertahan.Tubuh mereka bercucuran keringat dengan ranjang yang sedikit berantakan.
Lima belas menit kemudian, Irgi mengakhiri permainan dengan satu hentakan terakhir.
"Akh!" lengkuh Irgi sambil memeluk tubuh Dinda dengan napas yang terengah-engah sambil menikmati sisa-sisa pelepasan, Kemudian ia mendaratkan kecupan di kening Dinda. "Terima kasih sayang," bisik Irgi sambil tersenyum puas.
Dinda membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Iya Mas, aku juga bahagia bisa mempersembahkan sesuatu yang berharga di diriku untuk kamu," ucap Dinda sambil meraba wajah tampan Irgi yang bersimbah keringat.
Kemudian keduanya saling melempar senyum.
Irgi merebahkan tubuhnya di samping Dinda, ia kembali mendaratkan kecupan pada kening dan bibir Dinda.
Irgi menatap Dinda sambil mengulum senyumnya. Membuat Dinda jadi gugup.
"Kenapa sih Mas?" tanya Dinda karena merasa risih ditatap dengan senyuman seperti itu.
"Ngak apa-apa, sekarang mas tau apa yang membuat kamu ngambek," tutur Irgi sambil tersenyum serta menaik turunkan alisnya, seperti sedang mengejek Dinda
Mendengar itu pipi Dinda memerah karena malu.
"Ih mas Irgi jahat! Jahat! Jahat! " Seru Dinda sambil memukul-mukul dada Irgi, Irgi menarik tangan Dinda kemudian merangkul tubuhnya.
Mendapatkan perlakuan manis seperti itu, Dinda berhenti memukul dada Irgi, ia pun memeluk Irgi karena begitu bahagia.
"Jangan ngambek lagi ya," bisik Irgi dengan nada mengejek.
"Ih mas Irgi! Nggak Usah godain Dinda terus!" seru Dinda sambil mencubit perut Irgi.
"Haha gitu ya, cewek kalo ngambek jelek banget! Ternyata itu penyebabnya," cetus Irgi sambil tertawa.
"Ah! Mas Irgi, udah dong! Dinda kan malu!" Seru Dinda sambil melepaskan pelukan Irgi.
Dinda kembali membalikkan tubuhnya, bermaksud agar Irgi berhenti mengejeknya.
Irgi tersenyum sambil memeluk Dinda.
"Gak usah ngambek gitulah. Biar mas Irgi tambahin bonus satu ronde lagi, mau gak?" bisik Irgi
"Ih mas Irgi apaan sih!" dengus Dinda sambil tersipu-sipu.
"Ih, mau gak?" tanya Irgi.
"Mau apanya?" tanya Dinda pura-pura tak tahu.
"Satu ronde lagi," bisik Irgi mesra.
Dinda menggigit bibir bagian bawahnya. Ia pun membalikkan tubuhnya hingga menghadap Irgi.
"Mau," jawab Dinda dengan wajah yang merona.
Irgi tersenyum kemudian ia kembali berbaring di atas tubuh Dinda untuk melanjutkan pertempuran ronde kedua.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya. Mohon maaf akhir -akhir ini otor sibuk, jadi up malam, dan kadang gak up karena sudah lelah disibukkan oleh kegiatan Real hehe