
"Salah satu penyebab kanker adalah keturunan genetika, jika salah satu dari kedua orang tua Anda atau kakek anda memiliki riwayat penyakit kanker maka anda memiliki faktor risiko yang lebih besar,"
Ucapan dokter tersebut terngiang-ngiang di telinga Dinda. Sampai saat ini ia sulit untuk menerima kenyataan. Jika dirinya kini mengidap penyakit kanker darah.
Tatapan Dinda lurus ke arah depan, menerka-nerka apa yang terjadi di hari esok.
Dinda tak ingin memberitahu tentang penyakitnya itu pada anggota keluarganya, karena ia tak ingin merepotkan.
Sudah disekolahkan kedokteran di luar negeri, Dinda merasa sudah terlalu banyak utang budi pada keluarga Leon dan Yura. Ia tak mau membebani kedua orang tua angkatnya itu dengan penyakitnya saat ini.
"Kamu sering mimisan?" tanya Irgi.
"Ah nggak kok Mas, Mungkin karena aku kelelahan saja .Hari ini aku sibuk banget, mungkin karena itu,"
Dinda terlihat gelisah saat itu sesekali ia mengganti posisinya mencari posisi yang nyaman, karena ia tak terbiasa berbohong. Namun kali ini Dinda harus berbohong.
"Bagaimana kalau kita periksa saja penyakit kamu, jika ada sesuatu kan bisa segera ditangani," usul Irgi.
Sebenarnya ini juga khawatir terhadap Dinda. Orang tua mereka memiliki riwayat penyakit kanker, dahulu sang ibunda juga seperti itu, setiap kali kelelahan ibunya selalu mimisan.
"Nggak kok Mas, aku nggak papa kalau dibawa istirahat juga sembuh."
"Tapi alangkah bagusnya kalau kamu periksa."
"Iya deh Mas, lain kali aku periksa."
“Kalau begitu sekarang kamu istirahat saja.” Irgi membawa Dinda pulang ke rumah.
Setibanya di rumah keduanya turun dari mobil secara bersamaan.
"Kamu nggak apa-apa kan Din? kalau nggak papa Mas kembali ke kantor."
"Iya Mas, aku gak apa-apa kok."
Dinda menuju kamarnya setibanya di kamar ia langsung minum obat, sebagai dokter Dinda tahu obat itu hanya memperlambat pertumbuhan sel kankernya. Namun tidak akan membuatnya terbebas sepenuhnya dari penyakit yang mematikan tersebut.
Dinda berbaring terlentang di atas tempat tidurnya.
Sambil meneteskan air mata dan menengadahkan kepalanya.
"Berapa lama lagi aku bisa bertahan dari penyakit ini," ucap Dinda.
6 bulan yang lalu Dinda baru mengetahui jika dirinya mengidap kanker darah.
Bulir bening menetes di pipi Dinda, ia merasa sedih, membayangkan jika sebentar lagi ia akan pergi meninggalkan dunia ini, padahal begitu banyak mimpi dan cita-cita yang belum sampai kan olehnya.
Dinda menutup matanya agar air matanya berhenti mengalir, 6 bulan yang lalu dia menangis dan hampir depresi ketika mengetahui dirinya menderita penyakit ganas yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Namun saat ini Dinda sudah bisa ikhlas dan pasrah, sebisa mungkin di sisa waktunya, ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menolong orang lain, dengan menjadi dokter.
Ada satu keinginan di lubuk hati kecil Dinda. Sebelum kepergiannya untuk selamanya, Dinda ingin memiliki keluarga, ia ingin menikah dengan seorang pria yang ia cintai, meski hanya beberapa saat saja, Dinda ingin merasakan rasanya dicintai.
Meski telah coba menguatkan hatinya. Namun tetap saja Dinda tak bisa menahan air matanya.
Dinda kembali menangis di kesunyian kamarnya.
***
Malam ini keluarga Leon makan malam bersama. Biasanya setelah makan malam mereka ngobrol di meja makan.
"Nessa, tadi siang tuan Andre menghubungi Daddy, katanya Stefan ingin kalian bertunangan secepatnya."
Seketika raut wajah Nesya berubah.
"Steven kerja di luar negeri, karena dalam Minggu ini ia akan kembali ke Amerika, Karena itulah malam ini ia akan datang untuk menanyakan secara langsung kepada kamu."
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Leon.
"Aku rasa ini terlalu cepat Daddy, Aku nggak tahu Stefan bagaimana, baru bertemu dua kali dia sudah ingin bertunangan."
"Karena itulah Daddg bertanya pada kamu, kira-kira kamu mau nggak bertunangan di minggu ini dengan Stefan?"
__ADS_1
"Nggak mau lah Daddy, Aku mau kenal dulu Stefan itu orangnya seperti apa."
"Iya Daddy, Mommy tahu jika Tuan Andre dan keluarganya Itu keluarga yang baik dan dari keluarga yang terpandang. Tapi bukan berarti kita bisa segera menerima lamaran mereka."
"Nessa itu Putri kita satu-satunya jadi mommy nggak mau sembarangan, lebih baik selidiki dulu siapa Stefan sebenarnya. Agar tak menyesal di kemudian hari."
Baiklah jika begitu nanti Daddy yang akan bicarakan pada Tuan Andre.
***
Pukul 08.00 malam Stefan dan Andre bertamu di rumah Leon.
"Bagaimana Tuan Leon, Apa rencana pertunangan putra-putri kita bisa segera dilaksanakan?"
"Begini Tuan Andre, kami sudah kompromi keluarga, istri saya dan Nessa sendiri kurang setuju jika pertunangan mereka dipercepat. Maklum saja, mereka belum saling mengenal satu sama lain. Jadi saya rasa tolong berikan waktu untuk mereka agar lebih mengenal satu sama lain."
"Hahaha kalau itu tak usah khawatir Tuan Andre, jika memang seperti itu, saya akan menggantikan tugas Stefan di Amerika, sementara Stefan mengurusi perusahaan saya yang ada di sini. Itu semua agar ia dan Nessa lebih sering bertemu dan bisa mengenal lebih lanjut.
" Syukurlah jika anda mau mengerti," ucap Leon.
Meski sedikit kecewa dengan keputusan Leon dan Nessa, Stephen dan Andre bisa menerima keputusan tersebut.
Stefan dan Andre pulang di dalam mobil mereka kembali berbincang-bincang.
"Lalu Apa rencana kamu selanjutnya? Tanya Andre pada putranya.
"Aku akan tetap mendekati Nessa daddy. Aku harap Daddy bisa menggantikanku di Amerika, sampai aku bisa menikahi Nessa."
"Haha, kau memang putra Daddy." Tuan Andre begitu bangga pada Stefan yang tak mudah menyerah dan tak mudah putus asa sama seperti dirinya.
***
Keesokan harinya Nessa dan Farel berencana akan menghadiri undangan rapat di sebuah perusahaan.
"Sudah siap Nona, Sebentar lagi kita akan pergi," ucap Farel.
"Oh iya sudah," Nessa bangkit dari tempat duduknya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati koridor, Farel senantiasa berjalan di belakang Nessa, karena status mereka yang berbeda, Farel tak berani berjalan beriringan bersama Nessa.
Karena kedatangan Stefan semalam, Nessa semakin ragu terhadap Stefan, Karena itulah ia kurang menyukai kehadiran Stefan saat itu .
Stefan memang memiliki perasaan cemburu yang kuat.
Ia cemburu ketika melihat Nesya dan Farel berjalan bersama keluar dari pintu, meskipun mereka tidak berjalan beriringan.
Nessa menghentikan langkahnya, ketika melihat Stefan yang berjalan cepat menghampiri dirinya.
"Nessa kamu mau ke mana?" tanya Stefan.
"Aku mau ada urusan di luar sebentar."
"Kalau gitu aku antar ya?"
"Ah nggak usah, aku bersama Farel, karena ini urusan bisnis."
Mendengar penolakan Nessa, Stefan jadi merasa sakit hati.
Semalam Nessa menolak pertunangan dengannya dan hari ini ia kembali menolak untuk jalan bersama.
"Nggak apalah, aku yang antar nanti asisten kamu menyusul saja," tawar Stefan.
"Ah nggak usah lah, lain kali saja ya," ucap Nesa sambil berlalu meninggalkan Stefan.
Stefan menatap tajam ke arah
Nessa dan Farel yang masuk ke dalam mobil.
'Lihat saja akan kubuat kau bertekuk Nessa,' batin Stefan sambil tersenyum menyeringai
Kemudian Stefan merogoh saku celananya untuk mengambil telepon seluler setelah itu ia menghubungi seseorang.
__ADS_1
***
Pukul 01.00 siang Nesaa dan Farel keluar dari gedung pertemuan. Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor, karena saat apapun mereka sudah sekalian makan siang.
Kedua insan itu saling menjaga jarak, Karena itulah jarang terjadi obrolan diantara Nessa dan Farel jika pun ada itu hanya karena urusan bisnis.
Meski begitu, sesekali Farel selalu mencuri pandang ke arah Nessa karena mengagumi kecantikannya, begitu pun Nessa entah kenapa matanya selalu ingin melihat Farel.
Mereka melewati jalanan yang agak sepi, tiba-tiba ada sebuah mobil menghadang jalan mereka.
"Ada apa ini?" tanya Nessa ketika melihat 4 pria bertubuh kekar keluar dari mobil itu kemudian menghampiri mobilnya.
Tok tok tok mobil mereka diketok-ketok oleh 4 Bodyguard tersebut.
"Hai keluar Kau! Kalau tidak akan ku bakar mobil ini!" ancam pria bertato berbadan tinggi.
"Ada apa ini?" tanya Farel ia masih tak mau membuka kaca mobilnya.
"Keluar Kau! Aku ada urusan denganmu," ucap pria itu memukul-mukul kaca jendela mobil.
Nessa begitu panik! ia langsung menghubungi Leon saat itu juga .
"Bagaimana Nona apakah mereka Kita lawan saja?" tanya Farel yang sudah merasa terancam.
"Jangan mereka berempat kamu sendiri, jika terjadi sesuatu pada kamu bagaimana?" tanya Nessa.
Sementara para penjahat itu menggedor pintu mobil semakin keras.
"Woi keluar woi! jangan sembunyi saja di dalam pengecut!" teriak-teriak penjahat tersebut.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Nesa ia hampir menangis, karena panik.
"Tidak apa-apa, kami menginginkan nyawa pria ini," ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai.
Pria itu memukul-mukul kaca mobil sambil berteriak.
"Keluar b****** ! Ayo kau keluar, akan kuberi kau perhitungan!" ucap salah seorang pria yang bertato kepada Farel.
Nona anda kunci pintunya, saya akan keluar menerima tantangan dari dua orang itu," ucap Farel.
"Jangan nanti terjadi sesuatu pada kamu."
"Iya saya tahu, tapi kita tak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Nisa sebenarnya tak memberi izin hanya saja Farel langsung membuka pintu mobil dan menutup pintu tersebut.
Farel keluar dari mobil secepat mungkin Nesya menutup pintu dan meminta Nisa menguncinya.
"Apa sebenarnya yang anda inginkan?" tanya Farel.
"Kau terima saja hukumanmu!" Tanpa aba-aba,
Itu langsung mendaratkan pukulannya ke wajah dan perut Farel untuk saja Farel bisa menangkis serangan mereka.
Jika dibandingkan dengan tubuh mereka Farel memang lebih kecil.
Farel berduet dengan penjahat itu, iya sendiri tak tahu kenapa penjahat itu mengincar dirinya.
Melihat perlawanan yang berimbang para penjahat yang lain segera membantu temannya Mereka pun mengeroyok.
"Nona cepat pergi dari sini!" teriak Farel ketika tubuhnya dihujani pukulan oleh empat orang pria bertubuh kekar itu.
"Banyak bacot loh!" teriak Bodyguard tersebut sambil terus menghujani Farel pukulan.
Hiks Farel menangis di dalam mobil ,beberapa kali ia menghubungi daddynya, rasanya ia ingin keluar membantu Farel tapi ia juga takut.
Keempat pria itu masih memukul dan menendang Farel yang sudah tersungkur di atas aspal.
Setelah berhasil membuat Farel terkapar tak sadarkan diri mereka bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Melihat kawanan penjahat itu pergi, sambil menangis Nessa menghampiri Farel.
__ADS_1
"Hiks hiks Farel! Bangun Farel!" teriak Nessa sambil menepuk-nepuk pipi bawel yang berlumuran darah.
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.