
Atas banyak pertimbangan, pernikahan Dinda dan Irgi pun di lakukan di rumah sakit.
Saat itu hanya pihak keluarga yang menghadiri acara ijab kabul Dinda.
Ada Zein dan Farel yang diminta sebagai saksi nikah dan Nathan sebagai wali nikah Dinda.
Dinda masih belum bisa mendapatkan donor sumsum tulang belakang karena keadaannya yang belum memungkinkan.
Setelah resmi menjadi sepasang suami istri. maka Irgi bisa bebas membantu aktivitas Dinda di kesehariannya selama dalam pengobatan di rumah sakit.
calon mempelai pria dan kamu yang hadir duduk di atas karpet yang sudah disediakan sebelumnya karena akad nikah akan segera berlangsung. Pernikahan yang begitu sederhana, tanpa ada tamu ataupun arak-arakan pengantin. pernikahan antara Irgi dan Dinda juga terjadi secara sirih karena waktu yang tak memungkinkan untuk mengurus surat-surat pernikahan mereka ke KUA.
Irgi saat itu hanya menggenakan kemeja putih dan peci, sementara Dinda hanya mengenakan pakaian ala kadarnya.
"Bagaimana Nak Irgi, sudah siap?" tanya Pak penghulu.
"Sudah siap pak," jawab Irgi yakin.
"Bagaimana anak Nathan, Kamu sudah siap?" tanya Pak penghulu lagi pada Nathan selaku wali dari Dinda.
"Sudah siap pak," jawab Nathan.
"Kalau begitu, segera saja kita mulai akad nikahnya."
"Baik pak," ucap Nathan dan Irgi secara bersamaan.
Nathan mengulurkan tangannya kemudian langsung di sambut oleh Irgi.
"Saya nikahkan engkau saudara Irgi Fahlevi bin Leon Sebastian , dengan Adik perempuan saya yang bernama Adinda Pramesti binti Marwan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai !"
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Pramesti binti Marwan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Irgi dengan satu helaan nafas.
Sejenak hening.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.
"Sah!" sahut kedua saksi secara bersamaan.
"Alhamdulillah, Sah! sekarang kita berdoa bersama untuk kelangengan rumah tangga mereka" ucap pak penghulu.
Mereka pun berdoa menurut keyakinan masing-masing untuk kelangengan rumah tangga Irgi dan Dinda.
Dinda mencebikkan bibirnya ketika dirinya kini telah menjadi istri sah bagi Irgi.Perasaan bahagia dan haru yang tak bisa dia ungkapkan, hingga air mata pun tak mampu tertahan.
Setelah pembacaan doa, Leon dan Yura menghampiri Dinda.
"Selamat ya Dinda atas pernikahan kamu dan Irgi, semoga kamu segera sembuh, agar kalian semakin berbahagia dengan pernikahan kalian," ucap Yura sambil mencium pipi Dinda .
"Iya, terima kasih Mommy," tutur Dinda sambil meneteskan air matanya.
"Selamat ya Dinda Daddy doakan semoga kamu lekas sembuh dan bisa segera memberi Daddy seorang cucu," ucap Leon sambil mengusap rambut Dinda.
"Terima kasih Daddy," ucap Dinda lirih.
Irgi menghampiri Dinda kemudian menyodorkan tangannya, Dinda meraih tangan itu dengan sisa bulir bening yang menetes di pipinya.
kemudian Dinda mencium punggung tangan Irgi yang kini telah resmi menjadi suaminya. Irgi membalas dengan mengecup kening Dinda.
__ADS_1
karena tak mampu membendung rasa bahagianya Irgi langsung memeluk Dinda, keduanya pun menangis haru.
Setelah beberapa saat keduanya mengurai pelukan.Keduanya pun saling melempar senyum.
Dinda terus meneteskan air matanya karena begitu bahagia dan haru.
Tak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu, para tamu pun memutuskan untuk pulang.
Dengan menikahi Dinda, kini Irgi bisa leluasa menjaga dan merawat Dinda, tanpa khawatir akan melihat aurat Dinda ketika membantu Dinda untuk mandi dan bersih-bersih.
***
Para tamu sengaja memutuskan untuk pulang, terkecuali Nessa yang masih berada di ruang perawatan Dinda.
Kehadiran Farel di sana, membuatnya semakin betah berlama-lama.
Leon, Yura dan keluarga yang lainnya memang memutuskan untuk pulang lebih cepat agar Dinda bisa beristirahat.
Sementara Nessa memang biasa menemani Irgi, terkadang Nessa juga ikut menginap untuk menjaga Dinda.
***
Nisa dan Farel berada di luar ruangan.
"Terima kasih ya Farel karena kamu sudah bersedia menjadi saksi nikah untuk Dinda dan Irgi," ucap Nessa pada Farel yang kini berada di hadapannya.
"Sama-sama Nona, saya senang kok bisa membantu," jawab Farel sambil tersenyum manis ke arah Nessa hingga membuat gadis cantik itu menjadi grogi.
Keduanya kembali diam beberapa saat.
"Mungkin sore, karena aku harus membantu Irgi, lagi pula kalau di rumah Aku juga merasa sepi kalau nggak ada Irgi dan Dinda."
"Kalau gitu, biar nggak kesepian boleh dong aku temani anda di sini ?" tanya Farel sambil tersenyum menatap ke arah Nessa.
"Boleh saja," ucap Dinda sambil tersenyum seraya menundukkan wajahnya yang merah merona.
"Terima kasih," ucap Farel.
"Oh iya, kalau gitu bagaimana jika kita beli cemilan dan minuman sambil menunggu di rumah sakit," usul Nessa
"Oke Tuan Putri, ke mana saja tuan putri pergi, saya bersedia menemani anda," ucap Farel sambil tersenyum, Farel berusaha memberanikan dirinya untuk mengatakan hal itu pada atasannya itu
Nisa mengulas senyum sekilas mendengar ucapan Farel.
"Ya sudah yuk," ajak Nessa.
Nessa berjalan beriringan dengan Farel.
sepanjang melewati koridor tak ada pembicaraan di antara mereka mungkin karena mereka masih sungkan. Namun, beberapa kali Nessa tanpa sengaja memergoki Farel yang tengah menatap ke arahnya.
kedua insan berlainan jenis itu pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka.
Mereka sengaja berjalan kaki menuju supermarket terdekat dari rumah sakit.
Jaraknya mungkin hanya 100 meter dari rumah sakit dimana Dinda di rawat.
Setibanya di supermarket Nessa langsung menuju rak makanan ringan dan minuman soda kesukaannya.
__ADS_1
"Rel, kamu pilih kamu mau yang mana?" tanya Nessa sambil menunjukkan deretan minuman yang tersusun rapi di Rak
Farel mengambil sebotol air mineral.
"itu aja?" tanya Nisa.
"Iya, aku nggak suka minuman yang mengandung pemanis," ucap Farel.
"Ehm begitu ya," sahut Nessa sambil kembali meraih sebotol air mineral.
"Iya, karena semuanya sudah terasa manis, jika berada di dekat anda," cetus Farel tiba-tiba.
Mendengar ucapan Farel, Nessa seketika melirik ke arah Farel kemudian melototkan bola matanya.
"Dasar gombal," cetus Nessa, iya berkata begitu, agar tidak terlihat sedang gugup.
Farel tersenyum karena saat itu ia berhasil membuat wajah Nessa kembali bersemu.
***
Setelah berbelanja, Nessa pergi ke kasir untuk membayar, selesai membayar belanjaannya, ia kebingungan mencari Farel yang tiba-tiba saja menghilang.
Ia pun berusaha mencari keberadaan Farel di sekitar meja kasir, tapi tak mendapatinya.
Nessa keluar dari supermarket itu, tapi belum juga menemukan Farel.
"Ke mana perginya Farel?" guman Nesaa.
Ketika tengah telinga celinguk mencari keberadaan Farel, tiba-tiba ada yang menyodorkannya sekuntum bunga mawar berwarna merah dan indah.
Nessa menoleh ke arah belakang dan ternyata Farel lah Yang tengah menyodorkan sekuntum mawar itu.
"Ihh Farel! Kamu tuh dari mana saja sih, aku sampai bingung mencari kamu!" omel Nessa pada Farel.
Farel tersenyum manis ia tak menjawab pertanyaan Nessa, malah menanyakan sesuatu
"Nona, boleh saya katakan sesuatu?" tanya Farel.
"Katakan saja ?" tanya Nessa.
"Sebenarnya, saya jatuh cinta pada anda, sejak pertama kali bertemu," ucap Farel dengan lugas.
Kini mereka berdua saling berhadapan dan saling menatap dengan tatapan yang saling mengunci.
Mendengar pernyataan Farel tersebut, Seketika bola mata Nessa membulat dengan sempurna.Ia begitu kaget mendengar pernyataan Farel.
"Maukah anda menerima pernyataan cinta saya," tanyanya lagi.
"Ha?!" bola mata Nesaa semakin melebar.
Deg
deg
deg.
bersambung gengs.
__ADS_1