
Keluar Leon tengah menikmati makan malam bersama. Setelah makan Malam mereka biasanya berbincang di meja makan.
Ada saja hal yang akan mereka bicarakan seperti saat malam ini.
"Besok, rencananya Daddy sama mommy mau terbang ke Swiss," cetus Leon.
"Memangnya ada apa Deddy?" tanya Nessa.
"Daddy diundang oleh salah satu pengusaha Indonesia yang menetap di sana. Mereka akan mengadakan resepsi pernikahan putra mereka."
"Mungkin ,Daddy dan Mommy akan pergi selama dua minggu, selama itu kalian harus menjaga diri kalian baik-baik, terutama kamu Nessa," ucap Leon dengan sorot mata terarah ke Nessa.
"Aku daddy? Emangnya aku kenapa?" tanya Nessa dengan bibir yang cemberut.
"Iya kamu, karena kamu yang masih gadis."
"Daddy akan menyuruh Bodyguard untuk mengawasi kamu lagi," cetus Leon.
"Ih daddy, aku bisa jaga diri sendiri kok, aku rasanya nggak nyaman kalau apa-apa selalu diawasi," cetus Nessa.
"Iya Daddy, Nessa bener, saat ini Nessa bukan anak kecil yang harus diawasi terus, berilah kepercayaan bagi Nessa untuk menjaga dirinya."
Leon mengerutkan keningnya menatap ke arah sang istri.
"Mommy nggak khawatir, kalau Nessa nggak dikawal Bodyguard?" tanya Leon.
"Nggak dong, Mommy yakin sama anak mommy, biara kan aja Nessa menikmati masa mudanya, jangan terlalu dikekang lah Daddy."
"Baiklah, kalau begitu Daddy akan memberikan kebebasan untuk kamu menikmati masa muda, kamu Nessa, tapi kamu tahu sendiri kan Bagaimana budaya kita. Daddy nggak mau kamu sampai terjebak pergaulan bebas, ingat kamu harus menjaga nama baik keluarga ini," ucap Leon.
Mendengar hal itu Nessa jadi tersenyum, akhirnya dia dan Farel bisa kencan berduaan saja
"Kalau begitu terima kasih Daddy. Aku janji aku nggak akan mengecewakan Daddy," tukas Nessa lagi
"Oh harus itu," sahut Leon.
***
Setelah makan malam dan berbincang dengan keluarga, Irgi dan Dinda kembali ke kamar.
Dinda dan Irgi terlihat tak banyak bicara, terutama Dinda yang menunjukkan wajah masam dan mengkerut di depan Irgi.
Tiba di kamar, Irgi langsung menutup pintu kamarnya.
"Dinda, kamu sudah minum obat ?" tanya Irgi laci lemari tempat Dinda menyimpan obatnya.
Dinda langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ,tanpa menjawab pertanyaan dari Irgi.
Irgi membuka laci obat kemudian menyerahkan beberapa butir pil yang biasa dikonsumsi oleh Dinda.
"Minum obat dulu kamu Dinda, setelah itu beristirahatlah," ucap Irgi sambil menyodorkan segelas air minum pada Dinda.
Dinda meraih gelas tersebut dengan wajah yang masih mengkerut.
__ADS_1
Setelah minum obatnya, Dinda langsung berbaring kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Irgi.
Irgi heran melihat perilaku Dinda, tak biasanya Dinda bersikap acuh terhadapnya.
Meskipun begitu, Irgi coba mengerti.Mungkin obat-obatan yang Dinda minum mengubah mood-nya," batin Irgi.
Setelah memastikan Dinda sudah meminum obatnya,Irgi kembali ke meja kerjanya.
Selama 2 jam ia berkutat dengan laptopnya, setelah pekerjaannya selesai Irgi menghampiri tempat tidur, kemudian langsung tertidur.
***
Seperti biasanya pagi-pagi sekali Irgi berolahraga sebelum mandi pagi, itu ia lakukan untuk menjaga stamina tubuhnya.
Karena hari ini hari Minggu, Irgi bermaksud mengajak Dinda berolahraga di taman.
Meski Dinda tidak boleh melakukan gerakan olahraga, Namun setidaknya Dinda bisa menghirup udara segar dan melihat pemandangan di alun-alun kota agar pikirannya lebih fresh.
"Din, kamu siap-siap yuk, Mas mau ajak kamu jogging di taman."
"Aku kan nggak bisa jogging Mas, pergi saja sendiri," ucap Dinda dengan ketus.
Irgi menoleh ke arah Dinda, ia melihat wajah Dinda yang terlihat jutek dan sinis terhadapnya.
"Dinda kenapa ya, aku salah apa ?" gumam Irgi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Agar tak terjadi kesalahpahaman, Irgi menghampiri Dinda.
"Din, Kamu marah ya sama Mas Irgi, tapi masalah apa sih sampai kamu ngambek gitu?" tanya Irgi pada Dinda.
"Pikir saja sendiri," sahut Dinda dengan sinis.
"Ih kok jawabannya gitu sih, Kalau Mas Irgi ada salah, kasih tahu dong Din," Ciletuk Irgi.
Tapi respon Dinda malah semakin menatapnya dengan sinis, kemudian Dinda membuang wajahnya seperti tak sudi menatap Irgi.
Melihat sikap Dinda itu, Irgi mencari-cari kesalahan apa yang telah ia lakukan, sehingga Dinda sepertinya ngambek kepadanya.
Tak hanya hari ini,bahkan beberapa hari yang lalu sikap Dinda terhadapnya juga sinis.
"Ya sudah deh Mas Irgi nggak tahu salah Mas Irgi apa, mungkin kamu butuh waktu sendiri ya," ucap Irgi.
Karena Dinda tak mau diajak jogging di alun-alun, Irgi juga tak jadi. Irgi hanya berolahraga di balkon kamar dengan mengangkat barbel dan beberapa olahraga ringan lainnya.
Dari balkon kamarnya, Irgi melihat kehadiran Sheon dan keluarganya.
Langsung saja ia menghentikan kegiatan berolahraganya, untuk menyambut kedatangan Kakak sulungnya, karena saat itu mommy dan daddynya tidak berada di rumah.
"Din ada Kak Shdon datang, samperin yuk," ajak Irgi mencoba untuk membujuk Dinda.
Bukannya menjawab, wajah Dinda justru semakin masam, hingga membuat Irgi semakin kebingungan.
"Mungkin lagi berhalangan kali jadi bawaannya marah terus," cetus Irgi.
__ADS_1
Namun, Irgi mematah sendiri dugaannya, karena selama tidur bersama Dinda, ia tak pernah melihat sampah pembalut atau sejenisnya di tong sampah kamar mereka.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Irgi keluar dari kamarnya dan turun menghampiri Sheon.
Ternyata Nessa juga melihat kehadiran Kakak tertua mereka ,Ia pun berhamburan dari kamar menghampiri keponakannya yang baru lahir.
Sementara Irgi dan Sheon berjalan berbarengan.
"Mommy sama Daddy, pergi ke luar negeri yah?" tanya Sheon
"Iya Kak, katanya dua minggu baru pulang."
"Kamu bagaimana? nggak ingin pergi ke luar negeri untuk berbulan madu? kali aja disana kalian bisa menemukan pengobatan yang lebih baik untuk Dinda," usul Sheon.
"Aku belum berani bawa Dinda ke luar negeri, meskipun keadaannya sudah mulai membaik," jawab Irgi.
"Ya kadang penyakit seseorang tergantung pembawaan kita, jika kita semangat untuk sembuh, maka penyakit itu tidak akan mudah menggerogoti tubuh kita, tapi ketika tak ada lagi semangat dalam hidup kita, jangankan penyakit ganas, penyakit flu saja akan susah diobati" ucap Sheon.
Mereka berbincang di ruang tamu. Sementara Nessa dan Sasha berbincang di ruang tengah.
Karena anak Sheon yang baru lahir bisa diletakkan di atas tempat tidur khusus bayi yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana keadaan Dinda Gi?" tanya Sheoul ketika tak mendapati Dinda berada di antara mereka.
"Dinda masih di atas, nggak tahu beberapa hari ini bawaannya cemberut terus, aku jadi bingung," cetus Irgi.
"Apapun yang aku lakukan selalu saja salah dimatanya," keluh Irgi
Hahaha Seon tertawa.
"Kamu tahu nggak? ada dua kondisi wanita yang sering uring-uringan seperti itu."
"Kondisi Apa itu Kak?" tanya Irgi.
"Yang pertama, ketika mereka sedang PMS dan yang kedua, saat hasrat mereka tak terpenuhi," jawab Sheon.
Irgi menoleh ke arah Sheon.
"Serius Kak, hanya karena itu?" tanya Irgi.
"Ya serius lah, Tapi kamu jangan meremehkannya,sebagai seorang suami kamu juga harus lebih peka terhadap istrimu.Wanita juga butuh belaian, bukan hanya perhatian dan uang," ungkap Sheon.
Irgi semakin lekat menatap Seon.
"Kalau kau sudah tahu penyebabnya, kau bisa jadi lebih mudah mengatasinya," lanjut Sheon lagi
"Jika masalahnya ada pada saat istrimu sedang haid, kau harus lebih bersabar menghadapinya."
" Tapi jika masalahnya karena hasrat istri mu tidak terpenuhi, kau tidak boleh sabar, sebagai seorang suami kau juga wajib memenuhi nafkah batin istrimu," cetus Sheon.
Seketika Irgi tersentak, "Jika dikatakan kakaknya itu benar, itu berarti saat ini, hasrat Dinda tidak terpenuhi," gumam Irgi, karena ia tahu pasti jika Dinda tidak sedang haid saat itu.
Sekarang tahulah Irgi Apa yang menyebabkan Dinda ngambek kepadanya.
__ADS_1
Selama mereka menikah Irgi memang belum pernah menyentuh Dinda sama sekali.
"Jadi, karena itu Dinda ngambek padaku," gumam Irgi sambil tersenyum.