
Nessa kembali ke rumah sakit masih ditemani oleh Stefan.
Di dalam mobil keduanya hanya diam.
"Nes, Kamu marah ya sama aku?"
Nessa menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa kamu diam saja?"
"Ngak apa-apa."
"Sorry ya Nes, aku melakukan itu hanya karena aku sayang sama kamu."
Nessa tetap bergeming.
"Ya sudahlah, kalau kamu marah."
Mobil Stefan berhenti di depan rumah sakit.
"Terima kasih ya, kamu antar kamu di sini saja."
"Loh kenapa Nes?"
"Ini sudah malam,aku mau istirahat setelah seharian berada di rumah sakit. Kan gak enak kalau aku rebahan ada kamu," pungkas Nessa.
"Ya sudah aku antar kamu di depan ruang perawatan saja."
Nessa dan Stefan menuju ke kamar perawatan Farrel, setelah tiba di kamar Farel.Nessa berhenti di depan pintu.
"Terima kasih ya, sudah mengantar aku ke sini."
"Ya sama-sama, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan ya Ness."
"Iya Stef, terima kasih."
Nessa langsung masuk ke ruang perawatan Farel, sementara Stefan terpaksa harus pulang.
'Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu,' batin Stefan dengan wajah dinginnya.
***
Nyonya Reni keluar dari bandara setelah sebulan ia berjalan-jalan ke luar negeri.
"Aduh sudah sebulan tidak melihat rumah aku jadi merindukan suasana rumah," ucap Nyonya Reni kepada suaminya.
Mereka mendaratkan bokongnya di jok mobil pada saat yang hampir bersamaan.
"Stefan di mana daddy? Kenapa dia nggak ikut menjemput mommy.
"Biasalah dia lagi menemani calon istrinya,"ucap Tuan Charles.
"Calon istrinya, siapa? kok Daddy
tidak memberitahu mommy."
"Daddy lupa, karena banyak yang diurus, lagi pula sulit menghubungi mommy."
"Haha iya Daddy, mommy kan harus belanja dari satu toko ke toko lainnya untuk memilih pakaian yang akan dijual di butik mommy."
"Pantesan jarang sekali mengangkat telepon, anak kamu punya calon istri saja kamu tidak tahu."
"Daddy, apa Daddy yakin Stefan akan baik-baik saja kali ini?"
"Kenapa mommy?"
"Itu loh gangguan OCD-nya, Mommy takut Stefan kembali berulah."
"Haha, Tenang saja Mommy, kita sudah memberikan pengobatan yang terbaik kepada Stefan di Amerika, jadi gangguan tersebut Daddy rasa sudah hilang sepenuhnya."
"Semoga saja begitu Daddy, karena mommy nggak mau Stefan mengulangi kejadian yang sama beberapa tahun yang lalu."
__ADS_1
"Haha mommy libatkan di Amerika Stefan sudah menjadi pengusaha yang sukses.Daddy rasa gangguan itu sudah hilang dan Stefan sudah sembuh sepenuhnya."
***
Nessa masuk ke ruang perawatan Farel.
"Kamu sudah makan Gi, nih gua bawa makanan untuk loh,"ucap Nisa sambil menyodorkan rantang makanan.
"Loh Stefan mana, tadi kok aku dengar suaranya."
"Aku suruh dia pulang."
Nesa dan Irgi makan bareng.
"Aku nggak suka deh sama Stefan,"ucap Nessa.
"Nggak suka Kenapa Nes, Aku perhatikan Stefan care kok sama kamu."
"Justru itu dia sepertinya cowok yang over protektif gitu, belum jadi apa-apa saja dia sudah bikin aku nggak nyaman."
"Maksud kamu?"
"Ya, Dia larang aku inilah, nggak boleh gitu lah, pokoknya aku nggak suka deh dengan sikapnya, terlalu banyak ngatur."
"Terus kamu menolak perjodohan dengan Stefan?"
"Maunya sih gitu, tapi aku nggak enak lah nolak gitu aja tanpa ada alasan. Kalau aku bilang pada di Daddy, Stefan terlalu protektif, kayaknya alasan itu cuman dianggap angin aja sama Daddy. Daddy dan Stefan itu kan sama sama-sama protektif. Jadi percuma saja bicara sama Daddy."
"Kamu sendiri bagaimana dengan Karen?"
"Hm aku lupa nih, harusnya malam ini aku diundang oleh keluarga Karen untuk makan malam bersama. Duh aku kok jadi pelupa ya," dengus Irgi.
'Ya sudah kamu telepon saja,sekarang bilangin kamu lagi nemenin aku di rumah sakit."
'Yah ntar lah habis makan."
Setelah selesai makan, Irgi menghubungi Karen dan mengutarakan alasannya tidak hadir dalam undangan makan malam keluarganya.
''Jadi sekali lagi maaf ya Karen,"ucap Irgi di dalam sambungan teleponnya.
"Jadi Karen bilang apa Gi?"tanya Nessa.
"Ya syukurnya dia mau mengerti."
"Oh iya Gi, kamu belum jawab pertanyaan aku tuh."
"Pertanyaan yang mana?!"
Nessa tersenyum Nyengir.
"Kamu belum beritahu aku gadis yang membuat kamu jatuh cinta."
Irgi mengerutkan keningnya.
"Emangnya harus ya memberitahu kamu?!"
"Ya haruslah, Aku kan pengen lihat tipe seperti apa yang kamu suka. Karena selama ini aku nggak pernah tuh lihat kamu pacaran."
Kamu tahu dari mana Aku nggak pernah pacaran
"Aku kan sering periksa HP kamu, dan nggak ada tuh chattingan yang berbau romantis, atau jangan-jangan cinta Pertama kamu itu bukan seorang wanita ya?" Terka Nessa dengan wajah yang curiga.
Irgi mengambil bantal kemudian melemparnya Ke Nessa.
"Dasar kamu, sudah kotak Katik HP orang, pakai nuduh aku nggak normal lagi."
"Ya habisnya Aku kepo saja, secara yang cantik aja mau sama kamu,kamu nggak mau. Dulu di kampus juga banyak yang mengejar kamu, kamu juga nggak mau,Memangnya seperti apa sih tipe kamu Gi?"
"Belum ada yang cocok, kadang ada yang cantik wajahnya tapi pribadi gak cantik, ada juga wajahnya yang gak terlalu cantik, tapi hatinya cantik."
"Ih banyak kok, yang cantik hatinya wajahnya juga cantik, seperti gue! Hehe!"
__ADS_1
"Ehm mulai deh!"
"Udah ah, aku mau lihat, Farel sebentar, setelah itu aku mau tidur."
Nessa berdiri kemudian menghampiri Farel.
Mata Farel tertutup rapat dengan wajah yang babak belur.Diagframa Farel juga terlihat turun naik
Nessa kembali menggeram melihat penderitaan Farel saat itu.
'Kamu tenang saja Far, aku pasti mencari Siapa yang telah melakukan ini terhadapmu,' batin Nessa sambil mengepal tangannya.
Nessa menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh Farel. Setelah itu ia berbaring di atas sofa empuk yang ada di ruangan itu.
"Gi, mata gue udah ngantuk banget nih, lo jagain ya si Farel," ucap Nessa sambil menguap.
Irgi tengah mengutak-atik laptopnya.
"Iya biar gue yang jaga,loh tidur saja!"
**
Pagi hari yang cerah.
Dinda bersiap untuk ke rumah sakit.
Seperti biasanya. Biasanya setiap pagi Irgi akan mengantarkan nya.
Dinda menghampiri meja makan dan melihat hanya ada Yura dan Leon di meja itu.
"Loh mommy, daddy, yang lain pada kemana?"tanya Dinda heran.
'Irgi dan Nessa nginep di rumah sakit."
"Kamu ke Rumah Sakit bersama Daddy saja, daddy dan mommy juga mau melihat keadaan Farel.
"Iya mommy."
Dinda ikut sarapan bersama mereka.
Setelah sarapan, Leon mengantar Dinda ke rumah sakit, kebetulan Rumah Sakit tempat Dinda bekerja adalah rumah sakit yang sama di mana Farel dirawat.
Mereka tiba di halaman parkir. Ketiganya turun kemudian berjalan menghampiri lobby
"Daddy, mommy. Dinda masuk dulu ya, kelihatannya pasien ramai sekali hari ini," ucap Dinda ketika melihat keramaian di ruang UGD.
"Oh iya, silahkan saja."
Setelah menjabat kedua tangan orang tua angkatnya, Dinda bergegas menuju ruang UGD.
Saat itu di UGD begitu ramai dan sebagian pasien adalah anak-anak yang menderita diare.
Setelah menyimpan barang-barangnya di loker, Dinda langsung menuju ruang UGD dan langsung menjalankan tugasnya.
Pasien begitu ramai, Dinda dan Ryan terlihat begitu sibuk hingga mereka tak sempat untuk saling menyapa.
Belum selesai mereka memeriksa satu pasien, datang lagi pasien berikutnya.
Keringat dingin mengalir deras di wajah Dinda, ia sudah merasakan sesak nafas, lambungnya juga terasa perih.
Waktu menunjukkan pukul dua siang dan Dinda saat itu belum makan siang.
Pukul setengah tiga, kerjaan mereka sudah beres, sudah jam pulang juga untuk Dinda.
"Akhirnya selesai juga," ucap Dinda.
Dengan kaki yang gemetaran Dinda berjalan menghampiri locker, kepala sudah terasa begitu pusing.
"Akh kepalaku sakit sekali," keluh Dinda, Dinda coba meraih ujung loker untuk berpegang,sesaat kemudian Dinda merasakan pandangannya menjadi gelap.
Dinda pun pingsan, beruntung ada yang menyambar tubuhnya.
__ADS_1
"Dinda!"
Bersambung dulu gengs.