The Twins CEO

The Twins CEO
Ungkapan Hati


__ADS_3

Nessa dan Sheon mencari keberadaan Farel, dalam pencarian tersebut, Sheon sempat menceritakan kepada Nessa jika Farel lah yang mengikuti penjahat itu.


Farel Bahkan tak memperdulikan luka bagian perutnya untuk menyelamatkan Nessa.


Mendengar hal itu, Nessa semakin terharu, apalagi perasaan terhadap Farel memang sudah ada sejak mereka pertama kali bertemu.


"Farel!" Seru Nessa dan Sheon sambil berlari ketika melihat Farel tumbang dan tergeletak di atas lantai.


Nessa dan Sheon langsung berlari menghampirinya. Nessa langsung berlutut meraih kepalanya Farel.


"Farel bangun Farel!" seru Nessa.


Tapi Farel tak menjawab, wajahnya terlihat begitu pucat.


Cairan darah juga kembali mengalir pada luka di bagian perut Farel.


"Farel bangun Farel! " tangis  Nessa yang tak tega melihat Farel.


"Sudah Nessa, tenangkan dirimu kita bahwa Farel ke rumah sakit sekarang!" titah Sheon.


Beberapa orang membopong Farel dengan hati-hati mereka langsung membawa Farel menuju rumah sakit terdekat.


Nessa menghampiri Leon yang berada di antara gerombolan pasukannya.


Ternyata penculikan tersebut hanya melibatkan beberapa orang saja, jadi Leon merasa sedikit mubazir karena mengirim pasukan yang begitu banyaknya.


Leon  pikir Nessa diculik oleh penjahat besar atau seorang mafia yang menginginkan harta miliknya, hingga ia menurunkan begitu banyak pasukan.


"Daddy!" Nessa berlari memeluk Leon.


"Sayangku, tidak apa-apa kan?" tanya Leon  sambil meraba wajah putrinya.


"Tidak apa-apa Daddy," ucap Nessa yang terlihat kuat.


"Syukurlah kalau begitu, maafkan Daddy karena telah menjodohkanmu dengan pria brengsek seperti Stefan, Daddy tak menyangka jika dia tega melakukan hal yang bejat seperti ini."


"Iya Daddy, tapi nanti saja kita bicaranya, karena aku harus menemani Farel ke rumah sakit. Dia mengalami luka yang cukup serius karena berusaha menyelamatkan ku," ucap Nessa.


"Yah pergilah sayang, setelah urusan Daddy selesai Daddy akan menyusul kalian."


"Terima kasih Daddy,"ucap Nessa.


Setelah meminta izin dari daddynya, Nessa  berlari kecil  menuju mobil yang akan membawa Farel.


Sementara Leon mengurusi kasus tersebut bersama pihak yang berwajib.


Meski marah atas apa yang dilakukan Stefan terhadap putrinya. Namun, Leon tetap menyerahkan urusan tersebut pada pihak kepolisian.


"Selamat siang tuan Leon," ucap komandan polisi kepada Leon.


"Selamat siang juga komandan!" ucap Leon sambil menjabat tangan komandan polisi tersebut.


"Ini dia penjahatnya tuan! Dia adalah anak pengusaha terkenal bernama Andre Martin," ucap komandan tersebut sambil menunjukkan Steven yang terhuyung  dalam keadaan setengah sadar karena sudah disiram air oleh Polisi.


Leon menyunggingkan senyum menyeringainya.


Kemudian Leon menghampiri Stefan yang berdiri diapit oleh dua orang anggota kepolisian.


"Hah! Melihat keadaanmu seperti ini Aku jadi kasihan padamu," ucap Leon dengan nada mengejek.


Steven tak mampu mendongakkan kepalanya, ia terus saja menundukkan kepalanya.


Selain merasa malu, obat yang telah diminumnya tadi masih bereaksi, hingga membuat tubuh Stefan  bergetar karena merasakan amarah yang begitu besar akibat hasrat yang tak tersalurkan.


Leon mencengkram rahang Stefan membuatnya terpaksa mendongakkan kepala.

__ADS_1


"Lihat aku b*******!"cacar leon dengan penuh amarah.


Tatapan mata Stefan tetap sayu, ia tak mampu menatap tatapan tajam dari calon mertuanya itu.


"Kenapa kau tak memikirkan perbuatanmu ini sebelumnya?! Sebenarnya aku dan ayahmu berteman baik, tapi karena kelakuanmu ini! jangan salahkan aku jika aku juga akan menghancurkan usahanya!"seru Leon.


Stefan tak berani menjawab, tubuhnya masih bergetar akibat reaksi dari obat yang ia minum sebelumnya.


"Silakan pak polisi bawa saja dia di penjara! Saya akan siapkan pengacara yang terhebat untuk menuntut Stefan dan keluarganya. Saya rasa bukan kali ini saja dia melakukan kejahatan."


"Baik Tuan Leon, kami akan menggali lagi kasus-kasus yang pernah dilakukan oleh Stefan, karena kami juga pernah mencarinya. Ada sebuah kasus yang masih belum terselesaikan yang menimpa seorang gadis yang pertama Sandra, kini Sandera menjadi pasien Rumah Sakit jiwa karena trauma yang ia alami." 


"Sebelumnya sandera adalah mantan kekasih Stefan, Sandera menjadi gila setelah ditemukan dalam keadaan bugil di semak belukar. Ia mengalami kekerasan sek*sual. Namun karena korban yang menderita trauma hingga mengganggu kejiwaannya kami tak bisa menangkap pelaku. Selain itu tak ada saksi mata dan bukti yang bisa menjadi bukti."


"Apalagi setelah kejadian itu kami mencari keberadaan Stefan, dan menurut keluarganya Stefan sudah berada di Amerika selama seminggu, sebelum kejadian yang menimpa Sandra terjadi."


Leon menyimak setiap penuturan polisi tersebut.


"Karena kami tak cukup bukti, maka kasus itu masih mengambang. Namun, belakangan ini dokter yang memeriksa Sandera menerangkan jika sandera sering berteriak memanggil nama Stefan."


Leon bergidik ngeri mendengar keterangan dari komandan polisi itu.


Tak bisa dibayangkan jika Stefan dan Nessa Sampai menikah.


"Baiklah komandan, silakan Anda dan dengan kekuasaan Anda menyelidiki kasus tersebut, saya bersedia dimintai keterangan kapan saja," ucap Leon sambil menjabat tangan komandan polisi.


"Terima kasih atas bantuannya tuan,"ucap komandan polisi.


***


Setelah mengamankan 10 orang para penculik itu. Leon bermaksud mengunjungi rumah sakit. Untuk melihat keadaan Farel dan nesa.


Leon juga khawatir karena kejadian itu, sang putri tercinta bisa mengalami trauma.


Di rumah sakit Farel segera mendapat penanganan, lagi-lagi Farel  harus dioperasi akibat luka menganga di bagian perutnya.


***


Nessa menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kakak tangannya masih gemetaran.


"Tenangkan saja dirimu, kakak yakin Farel akan baik-baik saja," ucap Sheon sambil mengusap rambut Nessa.


Tak berapa lama Yura dan Nathan datang menghampiri mereka.


Melihat kedatangan Yura, Nessa langsung berdiri dan menghambur memeluk sang ibunda.


"Nessa sayang!"seru Yura yang seketika langsung menangis memeluk putrinya. Wanita cantik itu terlihat begitu khawatir


"Ya Tuhan apa yang terjadi pada kamu Nak?" tanya  Yura sambil menangis menciumi setiap sudut wajah Nessa.


Sebagai seorang ibu ia benar-benar khawatir terhadap keselamatan putrinya.


"Mommy, Mommy Tenang saja Nessa tidak apa-apa. Sekarang yang harus dikhawatirkan adalah kondisi Farel, karena menyelamatkan Nessa Farel mengabaikan luka tusukan di bagian perutnya, hingga ia kembali mengalami pendarahan dan kehilangan banyak darah," papar Nessa.


"Astaga, Kasihan sekali Farel, "gumam Yura.


Yura bisa bernafas sedikit lega melihat putrinya tak luka sedikitpun, bahkan Nessa terlihat baik-baik saja, tak ada luka segores pun pada wajah dan tubuhnya.


Selang berapa lama Leon tiba di rumah sakit.


Mereka pun berkumpul sambil menunggu Farel yang selesai dioperasi.


Satu jam berikutnya, Farel telah selesai menjalani operasinya, keadaannya pun perlahan membaik.


Karena itulah, Leon meminta perawatan Farel dipindahkan ke rumah sakit internasional yang ada di kota.

__ADS_1


Pihak rumah sakit pun menyetujui keputusan Leon tersebut.


Setelah selesai observasi pasca operasi, Farel dipindahkan dengan ambulans khusus yang dipesan oleh Leon sendiri.


Setelah tempat tidur Farel dimasukkan dalam ambulans itu. Nessa juga ikut masuk ke dalam ambulans yang dijaga oleh dua orang perawat.


"Nessa, kamu ikut mommy dan daddy saja Nak," cetus Yura ketika melihat Nessa yang tiba-tiba masuk ke dalam ambulans.


"Tidak mommy, Nessa di sini saja ya menemani Farel," pinta Nisa dengan wajah yang memelas.


Seperti biasanya Leon tidak akan tega melihat wajah putrinya. Ia menghela nafas panjangnya.


"Sayang,  mommy masih mengkhawatirkan keselamatan kamu.  Kamu baru saja mengalami tragedi lho," sahut Yura.


"Tidak apa-apa Mommy, aku merasa bersalah sekali, jika harus meninggalkan Farel sendirian,"ucap Nessa memberi alasan.


"Tapi sayang sayang…"Kata-kata Yura terhenti karena dipotong oleh Leon.


"Biarkan saja mommy. Kita ikuti ambulans dari belakang saja," cetus Leon untuk menengahi keduanya.


Karena sang suami sudah membuat keputusan, Yura tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Yura dan Leon masuk ke dalam mobil yang mengiringi ambulans.


Sementara Sheon juga ikut ke dalam mobil mereka.


Karena ambulans tidak bisa dimasuki lebih dari 3 orang. Sheon terpaksa mengalah ikut orang tuanya, dan membiarkan Nessa ikut di dalam ambulans itu.


Di dalam perjalanan Nessa terus mengamati wajah tampan Farel, meskipun wajah itu pucat namun tak sedikitpun mengurangi ketampanannya.


Tiba-tiba tangan Farel bergerak-gerak diiringi suara yang keluar dari bibir Farel.


"Nona Nessa," ucap Farel dengan lirih. Namun masih terdengar oleh Nessa.


"Iya Farel ada apa?" tanya Nimessa ketika Farel menyebut namanya. Nessa mengira jika saat itu Farel sudah sadar.


"Nona Nessa," sebut Farel berulang kali.


"Nona Nessa, aku …"kata-kata Farel terputus.


"Iya Farel kenapa?" tanya Nessa lagi sambil memperhatikan Farel. Nessa sendiri bingung. Apakah Farel sadar saat itu, atau dia hanya mengigau karena matanya yang masih tertutup dengan rapat.


Saat itu Nessa melihat tiba-tiba saja Farel tersenyum.


"Nona Nessa," lirih Farel kembali.


"Iya Farel katakan saja, ada apa?"tanya Nessa penasaran, sedari tadinya farel hanya memanggil-manggil namanya.


Nessa pikir Farel ingin mengucapkan sesuatu pesan.


"Nona Nessa," ucap Farel sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya.


Melihat telapak tangan Farel yang bergerak-gerak sendiri, Nessa mengambil inisiatif untuk menggenggam telapak tangan Farel.


"Nona Nessa aku mencintaimu,X ucap Ariel lirih sambil tersenyum.


Seketika Nessa membelakan bola matanya, mendengar Farel mengucapkan kata-kata itu.


"Nona Nessa ak..u mencintai mu,"ucap Farel untuk yang kedua kalinya.


Nessa kaget mendengar ucapan dari Farel itu.


"Nona Nessa sebenarnya aku mencintaimu," uca Farel untuk yang ketiga kalinya.


Kali ini Nessa menatap lekat wajah Farel, saat itu ia baru menyadari jika Farel benar-benar masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


" Farel ternyata dia…?" 


__ADS_2