The Twins CEO

The Twins CEO
Posesif


__ADS_3

Stefan menggandeng mesra tangan Nessa sambil menghampiri beberapa rekannya.


Ia tampak bahagia dan bangga, karena bisa menggandeng gadis cantik Putri salah seorang pengusaha terkaya di negeri ini.


"Wah hebat kamu Fan, punya calon istri yang begitu cantik," ucap salah satu temannya.


"Iya dong, aku kan pasti akan mendapatkan apapun yang aku mau,"jawab Stefan.


Hahaha, tentu saja mereka terkekeh akan jawaban spontan dari Stefan, karena mereka tahu sendiri Steven akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Jawaban Stefan justru membuat Nessa jadi ilfil.


"Lalu kapan rencana pernikahan kalian, jika acara pertunangannya semeriah ini, pasti acara pernikahannya akan lebih meriah lagi."


"Iya dong pernikahan kami kelak, akan diadakan di dua negara sekaligus, di sini dan di Amerika,"tutur Stefan.


Stefan dan teman-temannya saling mengobrol, saling memamerkan pencapaian yang mereka raih selama ini.


Semakin lama, Nessa merasa tak nyaman berada di antara teman rekan-rekan Stefan.


"Fan, aku permisi dulu ya," ucap Nessa sambil melepaskan genggaman tangan Stefan.


"Eh kamu mau ke mana Sayang?"


"Aku mau menghampiri Mommy."


Tanpa persetujuan Stefan, Nessa pergi begitu saja.


Nessa hendak menghampiri Leon dan Yura, ketika hendak menghampiri kedua orang tuanya, di saat yang bersamaan Farel juga menghampiri Leon dan Yura.


Mereka terlibat pembicaraan beberapa saat, sebelum Nessa tiba di sana.


Melihat kehadiran Nessa, seketika Farel melempar senyum." Selamat atas pertunangan anda Nona," ucap Farel sambil tersenyum manis, meskipun hatinya terasa sakit.


"Iya, terima kasih ya." Nessa membalas.


"Tuan Leon!"sapa seseorang sambil menepuk pundak Leon secara tiba-tiba.


"Eh Tuan Michael !"Leon menjabat tangan Michael.


"Apa kabarmu tuan?"


"Baik-baik saja, lama kita tidak bertemu,"ucap Michael.


"Tuan, saya dan beberapa pengusaha lainnya sedang berbincang, bagaimana kalau anda bergabung?" Tanya Tuan Michael.


"Tentu saja," ucap Leon.


"Ayo sayang kita ikut Tuan Michael,"ajak Leon pada Yura.


"Farel, saya tinggal dulu ya," ucap Leon sambil menepuk pundak Farel.


"Iya tuan, silakan!"


Tinggal Nessa dan Farel berdua.


Keduanya sama-sama tersipu malu, setelah saling melempar senyum manis, wajah keduanya tertunduk merona.


Mungkin mereka masih belum menyadari jika sebuah rasa mulai tertanam di hati mereka.


Entah kenapa, mereka Jadi terlihat sungkan satu sama lain di malam ini.


***


"Eh Stefan, lu lihat tuh! calon istri lo bersama dengan cowok ganteng!"tunjuk salah satu Rekan Stefan.

__ADS_1


Stefan langsung menoleh ke arah Nessa dan juga Farel, raut wajahnya langsung berubah menjadi masam.


'Dia lagi,' gumamnya lirih.


"Gue cabut dulu ya,"Ucap Stefan


Stefan pun Langsung menghampiri Nessa kemudian menggandeng tangan.


"Sayang, kamu ngapain disini, ayo ikut aku. Kamu gak boleh jauh-jauh dari aku ya," ucap Stefan menatap ke arah Stefan.


Nessa memilih ikut bersama Stefan, mereka pun berkeliling mengitari ruang tersebut sambil memperkenalkan diri pada para kolega mereka masing-masing.


"Kamu ngapain sih bicara sama dia, dia kan nggak selevel dengan kita,"tutur Stefan pada Nessa.


"Apaan sih, kok kamu bicara masalah level gitu, Aku nggak suka lah membanding-bandingkan manusia dengan manusia yang lainnya hanya karena kamu lebih kaya dan lebih berjaya dari orang itu bukan berarti kamu yang terbaik,"ucap Nessa dengan ketus.


Stefan hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Nessa tersebut


***


Akhirnya acara pertunangan yang berlangsung secara meriah itu pun berakhir, setelah tamu mereka pulang, mereka pun berniat untuk pulang ke rumah masing-masing


Seolah tak ingin melepaskannya lagi, Karen terus saja menggandeng tangan Irgi.


Mereka berjalan cepat mengitari koridor dari gedung tersebut.


"Gi, kita mau kemana sih, kok dari tadi kamu bawa aku muter-muter gak jelas?" tanya Karen.


"Aku mau cari adikku, Dinda."


Sedari tadi Irgi tak menemukan Dinda, sementara Sarah sudah pulang bersama Leon dan Yura.


Dengan langkah tergesa-gesa Irgi berjalan mengelilingi gedung tersebut dengan tangan keren yang terus saja menggendongnya.


Tiba di salah satu sisi gedung, Irgi melihat Dinda yang duduk meringkuk sambil memeluk lututnya.


"Dinda kenapa kamu bisa berada di sini?!"tanya Irgi.


Dinda mendongakkan kepalanya, menatap sayu ke arah Irgi.


Wajah Dinda terlihat sembab dan pucat, perlahan darah mengalir melalui salah satu lubang hidungnya.


"Dinda kamu mimisan lagi!" Ucap Irgi dengan panik.


Irgi  membantu membersihkan darah segar yang mengalir di hidung Dinda, dengan menggunakan sapu tangannya kemudian ia mendongakkan kepala agar Dinda agar mimisannya berhenti.


Sementara Karen menjunggikan bibirnya ke samping. Bola matanya memutar ke segala arah.


Ia cemburu melihat Irgi dan Dinda.


Dinda mendongakkan kepalanya bertumpu pada lengan Irgi sementara lutut Irgi menahan tangannya.


Dalam beberapa saat mereka hening, darah yang mengalir di hidung Dinda juga berhenti secara perlahan.


Setelah mimisan Dinda berhenti, Irgi membantu Dinda untuk berdiri.


"Ayo kita pulang sekarang,"ucap Irgi sambil menopang tubuh Dinda yang terlihat sangat lemah.


"Kamu kenapa ada di sini sih, tadi Mas sudah bilang kalau kamu masih sakit kamu nggak usah ikut, bikin Mas khawatir saja kamu," ucapnya sambil berjalan merangkul Dinda.


Lagi-lagi Karen memutar bola mata malasnya.


"Karen, Maaf ya karena adikku lagi sakit aku nggak bisa nganter kamu, ucap Irgi.


"Loh kenapa begitu?!"tanya Keren dengan sinis.

__ADS_1


"Kamu nggak lihat ya, tubuh Dinda yang sudah lemas,"sahut Irgi.


"Jadi aku pulang sama siapa dong?mommy dan daddy aku sudah pulang," sahut Keren.


"Ya sudah kalau begitu kita antar Dinda  dulu dah pulang dulu baru setelah itu aku antar kamu pulang."


"Iya."


Irgi berjalan sambil merangkul Dinda  kemudian membawanya di halaman parkir gedung itu. Sementara Karen yang tidak mau kalah ,menggandeng tangan Irgi di sebelah kanannya.


Ketika sampai di mobil ,Irgi membuka pintu depan mobil untuk Dinda.


'Sialan kenapa harus dia yang duduk di depan bersama Irgi,' batin keren.


Selama di perjalanan keren harus memendam perasaan dongkolnya terhadap Dinda.


Tapi ia tidak mau menunjukkan sifat aslinya karena itu bisa berakibat fatal bagi Karen untuk mendapatkan Irgi.


***


"Din kamu masih merasa sakit?"tanya Irgi sambil mengusap-ngusap kepala Dinda.


Dinda menggeleng lirih. 


"Ya sudah Din, kamu itu dokter tentunya kamu tahu apa yang terbaik untuk pengobatan kamu. Bagaimana kalau kamu menjalani kemoterapi?" Tanya Irgi.


Dinda bergeming, hanya bulir bening yang menetes di pipinya saat itu.


"Kamu nggak usah mikirin biaya Din, Mas Irgi yang bayar terapi kamu. Mas heran Sejak kapan kamu merasa sungkan sama Mas. Dulu, bukannya kamu apa-apa selalu mengadu sama Mas Irgi,


 Apa ada yang berubah dari mas Irgi sehingga membuat kamu tidak nyaman lagi untuk tempat cerita?" tanya Irgi.


"Enggak kok mas, menurutku kemoterapi juga bukanlah tindak yang baik untuk penderita kanker,mengingat efek samping yang akan timbul setelah melakukan terapi itu."


"Ya nggak apa-apa lah Din, daripada keadaan kamu semakin parah. Besok kita konsultasikan ke dokter Andi."


"Iya Mas," ucap Dinda, akhirnya ia setuju juga 


Setelah mengantar Dinda dan memastikan Dinda sudah beristirahat, Irgi harus mengantar Karen.


***


Di dalam mobil, keadaan semula hening kemudian terpecahkan karena sebuah pertanyaan yang dimulai oleh Karen.


"Dinda itu bukan adik kandung kamu kan?"akhirnya pertanyaan bernada sinis itu keluar juga dari mulut Karen ia sudah tak tahan melihat perhatian calon suaminya kepada wanita lain.


Melihat dari tatapan Dinda terhadap Irgi, Karen yakin, jika Dinda punya perasaan lain terhadap calon suaminya itu.


"Iya Memangnya kenapa?"tanya Irgi.


"Enggak, aku kok melihat kalian berdua, seperti ada sesuatu antara kamu dan Dinda," cetus Karen sambil menoleh ke arah Irgi.


"Sesuatu, maksud kamu apa?"tanya Irgi.


"Sepertinya Dinda memiliki perasaan lain terhadap kamu, mungkin saja Dinda menyukai kamu," sahut Karen dengan lugas 


"Hah ! Kamu itu bicara apa sih, dari dulu kami juga memang seperti itu. Kami dari kecil bersama-sama dan bersaudara, jadi nggak akan adalah perasaan suka seperti yang kamu pikirkan itu."


"Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin Gi, sebaiknya kamu jauhi Dinda, sebelum dia menghancurkan rencana pernikahan kita," cetus Karen.


"Menghancurkan rencana pernikahan kita? Enggak lah, aku tahu Dinda, selama 16 tahun kami menjadi saudara dan kami memang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Jadi, itu mungkin hanya perasaan cemburu kamu saja terhadap Dinda," sahut Irgi dengan sedikit kesal


Melihat Irgi yang selalu membela Dinda, Karim jadi semakin kesal.


Akhirnya kedua orang itu memilih diam sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏.


kalau banyak typo Maaf ya outhor nulisnya sudah malam, dan sedikit ngantuk 😁


__ADS_2