
Setelah tiba di rumah sakit Farel kembali dibawa ke ruang perawatan.
Farel membuka matanya, saat itu ia melihat Nessa yang tersenyum ke arahnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar Farel," ucap Nessa.
"Nona," lirih Farel sambil membalas senyum Nessa.
"Farel, terima kasih karena telah menyelamatkan Nessa," ucap Leon dari arah belakang Farel.
Farel kaget ketika melihat ternyata tak hanya Nessa saja yang berada di ruangan itu, akan tetapi anggota keluarga Leon yang lain juga ikut hadir.
"Oh iya,sama-sama Tuan," ucap Farel.
"Farel, karena keberanian kamu dalam menyelamatkan Nessa,hingga kamu mengabaikan keselamatan diri sendiri,saya akan memberikan hadiah khusus untuk kamu," ucap Leon.
"Tidak perlu Tuan, keselamatan nona sudah menjadi tanggung jawab bagi saya," sahutnya lirih.
"Iya, saya tahu kamu orang yang bertanggung jawab, tapi saya tetap akan memberikan promosi jabatan untuk kamu," ucap Leon.
'Promosi jabatan? semoga saja tidak jauh-jauh dari nona Nessa,' batin Farel.
"Yah sudah, tidak usah dipikirkan, sekarang kamu istirahat saja, karena saya masih ada urusan dengan tuan Andre."
"Ayo mommy," ajak Leon.
Leon dan Yura keluar dari ruangan perawatan Farel karena sebelumnya mendapatkan telepon dari pihak kepolisian.
Kini tinggallah Nessa dan Farel berduaan lagi.
Keadaan kembali hening selama beberapa saat, sejak Nessa tahu jika Farel memiliki perasaan khusus terhadap dirinya, ia jadi grogi ketika berhadapan dengan Farel
Sementara Farel terus menatap ke arah Nessa yang tertunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Pasien sudah sadar ternyata,"ucap seorang suster yang tiba-tiba masuk ke ruangan Farel hingga mengejutkan keduanya.
"Eh suster."Nessa bergerak memberi ruang untuk suster tersebut agar bisa leluasa memeriksa keadaan Farel.
"Keadaan pasien sudah stabil ya, hanya saja butuh istirahat," ucap Suster tersebut sambil memberikan suntikan melalui infus Farel.
Setelah memberi suntikan untuk Farel, suster tersebut kembali keluar dari ruangan.
Farel dan Nessa tinggal berdua lagi.
Keduanya kembali hening, Nessa menjadikan insecure karena sejak tadi Farel terus memandanginya sedari tadi.
Beberapa saat kemudian Farel kembali menguap matanya kembali terpejam dengan sendirinya, mungkin karena reaksi dari suntikan yang diberikan oleh suster tersebut.
"Huh, syukurlah jika Farel kembali tertidur," gumam Nessa, ia pun beranjak menuju sofa untuk beristirahat sejenak.
"***
Leon tiba di kantor polisi,di saat yang sama tuan Andre dan Istrinya juga hadir di kantor polisi.
Melihat Leon yang datang, Tuan Andre buru-buru menghampirinya.
Langkah kaki Leon terhenti ketika tuan Andre menghadang di depannya.
Dengan tatapan tajamnya, Leon menatap ke arah tuan Andre yang berhenti tepat di hadapannya.
"Tuan Leon, maafkanlah putra saya, saya mohon Tuan. Ini pasti hanya kesalahpahaman,"ucap Tuan Andre sambil menutup kedua telapak tangannya.
"Apa katamu salah paham? Tidak Tuan, proses hukum harus tetap dilaksanakan! Saya sendiri sebenarnya tidak menyangka jika Stefan memiliki perilaku yang menyimpangkan," sahut Leon ketus.
"Tidak Tuan, Stefan itu sebenarnya menderita penyakit gangguan kecemasan, Karena itulah ya tidak bisa mengontrol emosinya, jadi saya mohon dengan sangat kepada anda, agar anda bisa mencabut laporan anda."
"Mencabut laporan?! "tanya Leon balik.
"Iya Tuan, apalagi Stefan adalah calon menantu anda dan kita adalah rekan bisnis, saya rasa masalah ini bisa dibicarakan secara kekeluargaan," bujuk tuan Andre.
__ADS_1
"Secara kekeluargaan?!" tanya Leon dengan sedikit emosi mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh rivalnya saat itu.
"Maaf tuan sejak kejadian ini,saya tidak menerima dia lagi sebagai calon menantu saya! Selain itu, saya juga tidak akan melanjutkan kerjasama kita, kontrak kerja kita saya batalkan!"ucap Leon dengan tegas.
"Membatalkan kontrak kerja, tapi kenapa tuan? Bukannya masalah pekerjaan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi?!"
"Tentu saja bisa! saya tak ingin bekerja sama dengan seseorang yang telah berbuat jahat pada anggota keluarga saya, saya tak peduli berapapun kerugian saya, saat ini kontrak kerjasama saya batalkan titik!" Leon dan Yura terus berlalu meninggalkan Tuan Andri dan istrinya yang terdiam.
Beberapa saat kemudian Tuan Android kembali mengejar Leon.
"Tapi Tuan, kita akan mengalami kerugian yang besar, tolonglah Tuan anda pikirkan kembali," pinta tuan Andre sambil membuntutinya.
"Keputusannya saya sudah bulat!" Leon berlalu dari tuan Andre, ia masuk ke sebuah ruangan yang ada di kantor ke polisi untuk memberi keterangan.
Tuan Andre hanya bisa menatap kepergian Leon dan istrinya.
"Duh daddy, bagaimana ini, bagaimana dengan nasib putra kita hiks ?" tanya nyonya Andre sambil menangis meratapi nasib putranya.
"Tenang saja mommy, daddy akan berusaha membujuk tuan Andre,agar ia mau mencabut tuntutan pada Stefan," bujuk tuan Andre.
"Iya daddy, mommy gak mau masa depan Stefan hancur karena harus di penjara, kasihan Stefan Hikss hiks. "
Ketika sedang bicara seperti itu Andre dan istrinya mendengar keributan dari arah penjara.
"Daddy itu suara Stefan! Apa yang terjadi padanya?"
"Iya mommy, ayo kita lihat keadaan Stefan."
Mereka menghampiri penjara karena menderita keributan di ruang tahanan.
***
Tubuh Stefan menggigil akibat obat perangsang yang ia minum, perasaannya menjadi gelisah, hingga menimbulkan emosi yang tak terkendali.
Stefan berdiri di pintu yang terbuat dari jeruji besi.
"Keluarkan aku dari sini!" teriak Stefan sambil menggoncang jeruji besi itu dengan kedua telapak tangannya.
Bruk! bruk ! Pintu sel tahanan di goncangan dengan kuat, Stefan juga berteriak-teriak hingga memancing emosi para tahanan titipan di sel itu.
"Woy berisik banget sih loh!"seru salah seorang narapidana yang berada dalam satu ruangan bersama Stefan.
Mendengar dirinya ditegur oleh narapidana yang lain, Stefan langsung menoleh ke arah pria itu
Dengan tatapan nanar nya, ia menghampiri pria itu langsung memukul wajahnya.
Bugh! Akh!
Pria itu berusaha menangkis serangan Stefan yang brutal itu, Namun, masih kalah cepat. Stefan sudah dikuasai oleh emosi akibat hasrat yang tak tertahankan Karena itulah ia menjadi brutal.
"Kamu berani padaku hah!" teriak Stefan sambil memukul pada bagian wajah dan pria itu secara bertubi-tubi.
Ada dua orang pria lain yang juga dikurung di dalam tahanan tersebut.
Melihat temannya dipukul oleh Stefan, kedua tahanan tersebut menarik tubuh Stefan hingga terangkat ke atas.
"Berani sekali kau anak baru memukul teman kami!"Ucap salah satu dari mereka sambil menarik kerah baju Stefan.
Stefan ditarik hingga berdiri, kini keadaan berbalik, tiga orang itu menghajar Stefan secara membabi buta.
"Mau sok jagoan kamu rupanya di sini hah !" teriak salah satu dari mereka, sambil memukul wajah dan perut Stefan tanpa henti.
Suara keributan itu memancing para petugas kepolisian mereka langsung menghampiri ruang penjara.
Hanya Stefan yang dimasukkan dalam sel itu ,sementara anak buahnya dititipkan di sel yang berbeda.
Polisi dan Tuan Andre kaget melihat Stefan yang tak sadarkan diri dengan luka lebam di wajah dan sekujur tubuhnya.
"Apa yang terjadi ini tanya?" Tuan Andre dengan emosi yang tak tertahan.
__ADS_1
"Stefan!" teriak Nyonya Andre, seketika ia jatuh pingsan melihat putranya tergeletak dengan wajah yang berdarah.
Polisi membuka pintu sel tahanan itu mereka semua ikut masuk.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya para polisi itu kepada ketiga narapidana yang melakukan pengeroyokan terhadap Stefan.
Keadaan pun menjadi semakin panik karena istri dan anak Tuan Andre Andre dalam keadaan pingsan.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Farel kembali membuka matanya.
Ia tersenyum karena Nessa masih berada di ruangan itu untuk menjaganya.
"Farel Kamu sudah sadar?" tanya Nessa.
Farel kembali tersenyum, seolah tak merasa sakit sedikitpun.
"Ih ditanya kok malah senyam senyum sih," cetus Nessa sambil tersenyum simpul.
"Habis aku harus apa, aku lagi bahagia karena itulah aku tersenyum," ucapnya sambil menatap lekat wajah Nessa.
Nessa melirik sekilas ke arah Farel kemudian menundukkan wajahnya, Farel benar-benar berhasil membuatnya semakin grogi.
"Farel kamu makan dulu ya, setelah itu minum obat biar cepat sembuh," ucap Nessa sambil meraih semangkuk bubur yang sudah di siapkan di atas nakas.
Nessa sengaja mengalihkan keadaan,agar suara tidak menjadi kaku.
"Aku pasti cepat sembuh kok, kalau perawatannya secantik anda," ucap Farel dengan tatapan mata berbinar.
Ehm, mendengar sanjungan dari Farel, Nessa jadi semakin Nervous.
"Ih kamu sudah pandai merayu ya," cetus Nessa sambil mencubit lengan Farel.
Nessa tak mampu menyembunyikan perasaannya yang berbunga-bunga itu.
"Bukan merayu, tapi memang kenyataannya, siapa pun pasti akan cepat sembuh jika susternya secantik anda," puji Farel lagi, yang kembali membuat Nessa tersanjung.
Wajah Nessa menjadi bersemu merah merona.
Ehm,suara deheman seseorang mengusik suasana romantis yang mulai tercipta di antara mereka.
Nessa dan Farel menoleh ke arah asal suara.
"Memang benar kok, kalau suster secantik adik ku ini, siapa pun pasiennya pasti akan cepat sembuh," sahut Sheon sambil merentangkan tangannya di pundak Nessa.
Nessa dan Farel saling melempar senyum kembali.
"Ehm sudahlah, karena kakak sudah datang aku pamit dulu ya," ucap Nessa sambil mengambil tasnya di atas nakas.
"Farel aku pulang dulu ya," ucap Nessa.
Farel mengangguk dan tersenyum.
Sebenarnya Farel kecewa, ketika Nessa memutuskan untuk pulang. Namun ia mengerti, jika Nessa berasal dari keluarga terhormat dan keluarga tak mungkin membiarkan Nessa menjaga dirinya yang hanya seorang asisten.
Meskipun demikian, Farel merasa bahagia ketika melihat wajah Nessa yang bersemu saat di puji olehnya.
***
Malam semakin larut, Namun farel belum juga bisa memejamkan matanya.
Farel terlentang sambil menatap langit-langit ruangan tersebut.
'Ya Tuhan berikan aku keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepada Nessa, karena aku yakin Nessa juga memiliki perasaan yang sama terhadapku,' batin Farel.
Bersambung dulu gengs.
__ADS_1