The Twins CEO

The Twins CEO
Pingsan


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit keadaan Farel mulai membaik. Ia juga sudah diperbolehkan untuk pulang. Hanya saja Farel belum bisa beraktivitas seperti biasanya, minimal 1 bulan Farel harus beristirahat di rumah.


Sementara Stefan semakin gencar mendekati Nessa dan berusa mengambil simpati Leon dan Yura.


***


Di rumah kediaman Leon.


Tuan Charles dan Istrinya sedang membicarakan rencana pertunangan Nessa dan Stefan yang akan digelar dengan mewah.


Mereka sudah menentukan tanggal pertunangan Nessa, kini tinggal cari gedung dan  mempersiapkan acara pertunangan tersebut.


Kebetulan, orang tua Karen juga meminta agar pertunangan antara Irgi dan Caroline dipercepat.Leon mengajukan sebuah usulan.


"Baiklah, nyonya dan Tuan Andre, berhubungan putra kami yang bernama Irgi juga akan bertunangan, Bagaimana jika acara pertunangan Nessa dan Stefan itu kita selenggarakan bersama."


"Karena saya akan merasa kerepotan jika menggelar acara pertunangan yang mewah dalam dua waktu yang berdekatan,"ucap Leon.


"Hahaha itu tidak masalah Tuan, yang terpenting kita bisa mengikat kedua  anak kita, agar kita semakin mudah mempersiapkan pernikahan mereka."


"Nah ini yang saya inginkan,haha," sahut Leon.


Setelah berunding dan dan kepentingan mereka sudah selesai, Stefan dan kedua orang tuanya memutuskan untuk pulang.


Dalam dua minggu lagi pertunangan antara Nessa dan Stefan, serta Irgi dan Caroline akan digelar satu gedung.


Ketiga keluarga dari kalangan Borjuis itu berencana membuat acara pertunangan dengan mewah.


***


Irgi masuk ke kamar Nessa, kemudian duduk di samping Nessa setelah rapat keluarga tadi.


"Nes, kok wajah kamu cemberut gitu sih?"


Nessa semakin memanyunkan bibirnya.


"Jika kamu tidak senang dengan Stefan, masih ada waktu untuk membatalkan pertunangan ini,"ujar Irgi, ketika melihat Nessa yang tak bahagia atas rencana pertunangannya.


"Aku nggak mau buat daddy kecewa, biar saja lah. Aku pikir mungkin cinta akan datang setelah menikah. Jika menurut Deddy dan mommy Stefan adalah jodoh  yang baik, mungkin saja benar, aku saja yang terlalu sensi terhadap Stefan," ucap Nessa.


"Kamu sendiri bagaimana Gi, Sepertinya kamu juga biasa saja, nggak terlihat bahagia sama sekali dengan pertunangan kamu?"


"Ya sama seperti kamu lah, jika memang daddy menganggap Karen itu baik untuk aku, aku akan terima kok, Mungkin memang benar cinta akan tumbuh seiring jalannya waktu.


"Hooh."


Irgi dan Nessa saling bertukar pikiran, mereka menerima calon jodoh pilihan orang tua mereka dengan lapang hati, sebagai bentuk berbakti kepada orang tua.


***


Waktu terus berjalan, beberapa hari lagi, Nessa dan Irgi akan bertunangan dengan pasangan masing-masing.


Sepasang anak kembar itu sibuk mempersiapkan acara pertunangan mereka masing-masing.


Selain sibuk mempersiapkan pertunangan,Nessa dan Irgi juga sibuk dengan urusan kantor. 


Hingga membuat mereka jarang berkumpul bersama keluarga, apalagi lagi saat ini,Nessa melakukan pekerjaan seorang diri,sambil menunggu Farel benar benar sembuh.


Hari ini seharusnya Farel masih beristirahat, karena sudah hampir 3 minggu ia tak bekerja, Farel akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja, karena merasa keadaannya membaik,lagi pula ada seseorang yang begitu ia rindukan.


Farel mulai membuka laptopnya.


Nessa tiba di kantornya dan heran melihat Farel yang sudah duduk di kursi sekretarisnya.

__ADS_1


"Farel kok kamu sudah kerja? Bukannya kamu masih harus beristirahat di rumah?" tanya Nesaa ketika berada di hadapan Farel.


"Iya Nona, keadaan saya sudah cukup membaik,saya juga bosan jika terus berada di rumah. "


"Oh begitu, tapi kamu gak memaksakan diri kan?"


Farel mengangguk,sambil menoleh ke arah undangan yang dipegang oleh Nessa.


"Oh ini undangan pertunangan saya," ucap Nessa sambil menunjukkan sebuah undangan kepada Farel.


Farel menyambut undangan tersebut.Keduanya kemudian saling memandang untuk beberapa saat.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pungkas Nessa


Nessa beranjak dari tempat itu  menuju ruangannya.


Farel menatap lesu ke arah undangan tersebut. Kemudian ia meletakkan begitu saja itu sambil menghela nafas panjang.


***


Irgi pulang ke rumahnya, kemudian ia menghampiri kamar Dinda, sudah dua hari ini ia sibuk mengurusi pertunangan nya. Irgi sempat mendengar dari asisten rumah tangga mereka, katanya Dinda sedang tak enak badan.


Ia pun bermaksud melihat keadaan Dinda.


"Din, mas Irgi boleh masuk ya," tanya Irgi sambil menggedor pintu kamar.


Tok tok tok.


Pintu setelah beberapa kali pintu kamar digedor, Irgi tak mendengar jawaban.


Tok tok tok


" Din! Kamu gak apa-apa kan?" tanya Irgi lagi sambil menempelkan daun telinga nya di pintu.


Tok tok tok, pintu kembali di gedor 


Irgi merasa cemas, karena tak ada jawaban darinya . 


Setelah menekan handle pintu, ternyata pintu kamar Dinda tak dikunci.


"Din, Mas Irgi masuk ya?"


Irgi menekan handle pintu, ia pun masuk ke dalam kamar Dinda.


"Dinda! Kamu tidur ya?"tanya Irgi sambil berjalan memasuki kamar..


Irgi melangkah semakin dekat ke arah tempat tidur.


Dilihatnya wajah Dinda yang terlihat begitu pucat dengan keringat dingin.


"Astaghfirullah, Din," Irgi kaget melihat kondisi Dinda.


'Dinda,Dinda." Irgi menepuk nepuk pipi Dinda dengan pelan.


"Suhu tubuhnya panas?"


"Din, bangun Din." Setelah beberapa kali menepuk pipi Dinda, Dinda tak juga sadar, Irgi pun menjadi semakin panik.


"Dinda! Bangun Din!"


Karena panik, Irgi kemudian merogoh saku celananya untuk menelpon seseorang.


"Halo Den," sapa suara seberang telepon.

__ADS_1


"Pak Udin, siapkan mobil! Saya ingin bawa Dinda kerumah sakit."


" Ke rumah sakit?"


"Iya Pak! Sekarang juga ya!"


Irgi mengangkat tubuh Dinda kemudian membawanya keluar dari kamarnya.


Setibanya di teras rumah, pak Udin sudah menunggu, ia membukakan pintu untuk Irgi yang tengah menggendong Dinda.


"Pak Udin ayo cepat !"


"Baik Den."


Setelah membaringkan tubuh Dinda,Irgi memangku kepalanya.


"Ya Tuhan tubuhnya panas sekali."


Wajah Dinda memerah karena suhu tubuhnya yang terlalu tinggi, sementara bibirnya memucat.


"Yang cepat ya Pak!" titah Irgi dengan panik.


Mobil membelah jalan raya. Sepanjang perjalanan Irgi masih terus berusaha membuat Dinda tersadar dengan mengusap kepala dan menepuk pipi sambil memanggil namanya.


"Dinda, Dinda."


"Aduh, Dinda kenapa kamu bisa seperti ini sih?" tanya Irgi begitu khawatir.


Irgi merogoh saku celananya, kemudian melakukan sambungan telepon kepada seseorang.


"Hallo Than,aku sedang dalam perjalanan rumah sakit."


"Kenapa Gi?"


"Dinda pingsan di kamarnya, tubuhnya terasa panas."


"Hah, Dinda sakit apa?"


"Gak tahu Than, kamu ke rumah sakit saja sekarang."


"Baiklah,nanti aku segera di sana."


Irgi dan Nathan menutup teleponnya.


Sesampainya di rumah sakit,Dinda langsung mendapatkan penanganan.


Suster memeriksa keadaan Dinda, setelah selesai Irgi menghampiri suster tersebut 


"Suster adik saya menderita penyakit apa?"tanya Irgi.


"Menurut rekam medis dokter Dinda menderita penyakit leukimia Pak," papar Suster itu 


"Leukimia? " lirih Irgi sambil membelalak bola matanya.


"Iya, untuk lebih lengkapnya anda bisa konsultasi langsung pada  Andi spesialis onkologi," ucap Suster tersebut.


Irgi tergaman sejenak sambil menelan salivanya.


Irgi menatap ke arah Dinda dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Ya Tuhan, Dinda."


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2