The Twins CEO

The Twins CEO
Memilih


__ADS_3

Nessa menepuk bahu Irgi untuk memberinya semangat.


Ia tahu jika saudara kembarnya itu berada dalam dilema besar. Irgi seorang pria yang begitu menghormati wanita, karena itu berat bagi Irgi untuk memilih antara Dinda dan Nessa.


Sejenak Irgi terdiam dengan tatapan kosong.


Nessa masuk ke dalam ruang perawatan Dinda. Ia sengaja membiarkan Irgi sendiri.


Selang beberapa lama, handphone  Irgi kembali bergetar, karena ada sebuah panggilan masuk.


Irgi merogoh saku celananya kemudian mengangkat telepon tersebut.


"Gi, kamar Dinda dimana?"  tanya Keren, sebentar lagi aku akan tiba di rumah sakit."


"Aku tunggu kamu di lobby saja,"ucap Irgi.


"Oke deh kalau begitu, dah Sayang."


Keren memutuskan sambungan teleponnya.


***


Setelah menyimpan kembali handphonenya, Irgi berjalan longkao menghampiri lobby.


Sepanjang perjalanan melewati koridor, pikiran Irgi melayang entah ke mana.


Tiba di lobby rumah sakit, Irgi melihat mobil Keren baru saja tiba di pelataran parkir rumah sakit.


Jantung Irgi berdetak kencang,ia tak pernah segugup itu ketika melihat Karen.


Irgi menghampi Karen, ketika Karen terlihat membawa parcel buah.


"Hai Gi," sapa Karen, ketika melihat Irgi menghampirinya.


"Aku bawakan ini untuk Dinda."


"Terima kasih," jawab Irgi.


"Bagaimana keadaan Dinda?" 


tanya Karen.


"Keadaan Dinda semakin memburuk,dan harus segera menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang."


"Oh Iya?"


Irgi membawa parcel buah yang dibawa oleh Karen sebelumnya, sementara Karen menggandeng tangan Irgi.


Mereka berjalan melewati koridor.


"Karen, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Irgi.


"Katakan saja."


"Tapi tidak di sini," jawab lrgi.


Karen menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah Irgi.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku, Irgi?! Jangan katakan, kau akan membuat kejutan baru untuk ku," ucap Karen dengan nada menyindir.


Irgi hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku ingin bicara, tapi tidak di sini," ucap Irgi lagi.


"Kamu ingin bicara dimana, Gi?"


"Kalau begitu ikut aku," ajak Irgi.


Karen mengikuti Irgi ke mana ia membawanya.


Mereka tiba di sebuah lorong rumah sakit yang cukup sepi.


"Kamu mau bicara apa sama aku Gi?" tanya Karen sambil menatap tajam ke arah Irgi.


Irgi menundukkan wajahnya sesaat, ia tak sanggup menatap wajah Karen.


"Karen, maaf …"


"Kamu pasti  mau bilang ingin mengundurkan tanggal pernikahan kita kan Gi?" potong Karen dengan nada yang sedikit tinggi.


"Bukan itu," jawab Irgi lirih.


"Lalu apa?!" tanya Karen seolah mendesak.


"A-aku ingin mengakhiri hubungan ini," ucap Irgi lirih. Namun menatap yakin ke manik mata Karen yang tengah membulat dengan sempurna karena ucapan darinya.


"Apa?! Kamu bilang ingin mengakhiri hubungan ini?" tanya Karen dengan bulir bening yang menetes di pipinya.


"Maaf Karen," ucap Karen lirih.


"Hiks tapi kenapa Gi? Apa salahku?!" tanya Keren sambil memukul dada Irgi.


Irgi kembali menundukkan wajahnya, ia tak mungkin mengungkapkan alasannya.


"Hiks,ini  pasti karena Dinda kan Gi?"tanya Karen penuh penekanan.


"Jawab Gi! Pasti karena Dinda kan? " tanya Karen emosi.


"Jawab Irgi?!" tanya Karen sambil menarik kemeja yang dikenakan Irgi.


"Jawab Gi? Jawab! Pasti karena Dinda kan? Kamu tega melakukan ini pada ku? Iya kan Gi?" tanya Karen bertubi-tubi Sambil memukul dada bidang Irgi.


Irgi hanya diam dengan wajah yang menunduk.


"Maafkan aku Karen, aku gak bisa melanjutkan hubungan kita karena aku harus menjaga perasaan Dinda,saat ini Dinda sedang sakit," ucap Irgi lirih.


"Apa? Kamu memutuskan hubungan kita hanya untuk menjaga perasaan Dinda? Tapi kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku? Aku juga sakit Gi! Aku sudah terlanjur cinta sama kamu Gi! Hiks apalagi pernikahan kita sudah  disetujui kedua belah pihak keluarga! Kamu tega sama aku Gi?"


Karen pun memeluk Irgi sambil membenamkan wajahnya pada ceruk leher Irgi.


'Kamu gak tau Gi, aku benar-benar cinta sama kamu,apa kamu tega menyakiti seseorang yang tulus mencintai kamu," ucap Karen sambil menangis memeluk Irgi.


Irgi menjadi semakin dilema. Ia pun membalas pelukan Karen.


"Karen, sungguh aku gak bermaksud menyakiti hati kamu. Jujur saja berat bagi aku untuk memilih di antara kamu dan Dinda," ucap Irgi sambil mengusap punggung Karen yang memeluknya semakin erat.


Karen menangis sejadi-jadinya,ia semakin erat lagi memeluk Irgi, seolah-olah tak rela kehilangan Irgi.


"Aku gak mau Gi! Aku gak mau putus, aku sudah cinta mati sama kamu Gi, Please jangan lakukan ini padaku," pinta Karen sambil menangis.


Pada awalnya Karen mau menikah dengan Irgi karena permintaan ayahnya.Namun, perasaan cinta itu perlahan tumbuh di hati Karen ketika semakin dekat dengan Irgi. 


Menurut Karen, Irgi tak hanya ganteng dan kaya, tapi ia memiliki pribadi yang unik, yang membuatnya tampak sempurna di mata Karen.Karen merasa jika Irgi adalah pria terbaik yang pernah ia kenal.

__ADS_1


Melihat Karen seperti itu,Irgi juga tak tega.


"Please Gi, jangan tinggalkan aku, aku akan lakukan apa saja asal tidak kehilangan kamu,hiks," tutur Karen.


"Aku gak bisa berbuat apa-apa Karen, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah,"ucap Irgi.


Irgi melepaskan pelukannya.Namun keren kembali memeluknya.


"Jika kamu pergi dari aku, kamu akan menyesal Gi! Aku bisa berbuat nekat!" Ancam Karen sambil menatap wajah Irgi.


Karen melepaskan pelukannya, kemudian berlalu meninggalkan, Irgi yang hanya terdiam.


Irgi menatap Karen yang berlari sambil menangis melewati koridor.


***


Irgi kembali ke ruangan perawatan Dinda, tapi tak menemuinya di sana.


"Loh kemana Dinda dan Nessa?" Gumam Irgi panik.


Ia langsung merogoh koceknya dan langsung menelpon Nessa.


"Halo Nessa, kalian dimana?" tanya Irgi Panik.


"Dinda masuk ruangan ICU. Dinda kembali kehilangan kesadarannya," jawab Nessa pada sambungan teleponnya.


"Ruang ICU?"


Setelah menutup teleponnya, Irgi langsung menghampiri ruangan ICU.


Irgi meminta izin untuk menemui Dinda di rumah ruang ICU.


***


Di ruang ICU.


"Apa yang terjadi pada Dinda, Ness?" tanya Irgi.


"Tekanan darahnya turun Gi, detak jantung melemah" jawab Nessa lirih.


"Dinda," guman Irgi sambil menoleh ke arah Dinda.


Irgi menatap Iba pada Dinda yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat bantu medis.


Seorang dokter tengah memeriksa keadaannya. Setelah selesai, dokter menangani Dinda dokter itu pergi meninggalkan ruangan.


Irgi melirik ke arah EKG, denyut jantung Dinda terlihat begitu lemah, ia pun  duduk di samping Dinda.


Dirabanya wajah Dinda yang terlihat begitu pucat. 


"Dinda kamu harus kuat ya, mas Irgi ada di sini bersama kamu," ucap Irgi, kemudian ia mengecup kening Dinda.


Irgi kemudian meraih tangan Dinda dan menggenggamnya.


"Dinda kamu harus sembuh, karena mas Irgi tak ingin kehilangan kamu,, mas Irgi cinta sama kamu Dinda," bisik Irgi sambil meneteskan air matanya.


Sedetik  kemudian Irgi merasa gerakan dari tangan Dinda.


"Mas Irgi," ucap Dinda begitu lirih.


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


 


__ADS_2