
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, keadaan Dinda berangsur membaik. Namun, saat ini operasi cangkok sumsum tulang belakang belum bisa dilakukan karena menunggu pemeriksaan lanjutan.
Irgi membuka pintu kamar untuk Dinda, pagi-pagi ini Irgi sudah mengantar Dinda pulang ke rumah, karena siang nanti akan ada rapat penting.
Irgi meletakkan koper mereka di samping tempat tidur..
Inilah pertama kalinya mereka tidur sekamar.
"Dinda, sebaiknya kamu beristirahat saja, Mas Irgi pergi dulu, karena hari ini ada rapat dewan direksi dan Mas harus hadir," ucap Irgi.
"Iya Mas," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Kalau butuh sesuatu jangan lupa panggil bi Siti saja. Nanti mas akan beritahu bi Siti untuk mengawasi kamu," ucap Irgi kemudian ia mendarat kecupan di kening Dinda.
"Iya Mas, hati-hati," jawab Dinda.
Dinda menatap punggung Irgi yang meninggalkannya.
Tadinya ia berharap Irgi akan mengecup bibirnya sebelum berangkat ke kantor,sama seperti apa yang akan dilakukan oleh mommy dan Daddynya.
Pasangan itu selalu bersikap romantis di rumah, karena itulah Dinda berharap Irgi akan bersikap romantis terhadapnya juga.
Beberapa saat setelah Irgi muar keluar dari kamar, bi Siti masuk ke kamar dan menghampirinya.
"Non Dinda ada yang bisa bibi bantu?" tanya Bi Siti.
"Untuk sementara nggak ada Bi, nanti siapkan makan siang ya, karena sebentar lagi saya harus minum obat,"ucap Dinda.
'Iya tentu Non," jawab Bi Siti.
"Non, mau mbok masakan apa?" tanya Bi Siti.
"Sayur bening saja Bi, sama buah, Dinda kan nggak boleh makan yang berminyak."
"Baik Non."
Bi Siti segera keluar dari kamar, 2 jam berikutnya ia kembali lagi dengan membawa nampan yang berisi makan siang untuk Dinda
Saat itu Dinda tengah menggunakan masker pada bagian wajahnya.
"Ini makanan untuk Non, sekalian Bibi bawa air hangat."
"Terima kasih Bi,"
Dinda memperhatikan tubuhnya di depan meja rias, tubuhnya kini begitu kurus, dengan wajah yang sedikit cekung.
Sedih terasa di hatinya melihat wajahnya tak secantik dulu.
"Aku harus makan yang banyak agar tubuh ku kembali seperti semula," gumam Dinda.
Meski sayur itu terasa hambar ,Dinda berusaha makan sebanyak-banyaknya, ia ingin menambah berat badannya agar terlihat normal kembali.
Setelah makan siang, Dinda menarik lacinya untuk mencari obat-obatan yang harus diminum siang itu.
Dinda menelan salivanya ketika melihat pil pil yang berukuran besar dan banyak.
"Sampai kapan aku harus mengkonsumsi obat ini," batin Dinda.
Terkadang perutnya menolak obat-obatan tersebut. Namun, mau tidak mau ya harus mengkonsumsi obat itu setiap hari.
Satu persatu Dinda minum obat yang berjumlah 7 pil dan tablet tersebut.
Setelah minum obat, ia akan merasa ngantuk.
Dinda merangkak naik di atas tempat tidur untuk beristirahat agar sore nanti ia bisa kembali fit.
Irgi keluar dari ruangan rapat.
Kemudian kembali ke ruangannya.
Sudah hampir seminggu ia tak menginjak ruangan itu.
Tiba di ruangannya, Irgi dikagetkan dengan kehadiran Karen.
Karena berdiri ketika melihat kedatangan Irgi.
"Karen kamu di sini?" tanya Irgi.
__ADS_1
Karen menatap Irgi dengan bola mata yang berembun.
"Kamu tega sekali sama aku Gi,
Kamu memutuskan hubungan kita, kemudian menikahi Dinda. Kenapa secepat itu kamu mengambil keputusan hiks?" tanya Karen.
"Maaf, Karen." Hanya itu yang mampu Irgi ucapkan.
"Kamu bahkan nggak memikirkan perasaan aku Gi, bagaimana rasa ditinggal menikah oleh orang yang kamu sayangi, hatiku hancur sehancur hancurnya Gi," ucap Karen dengan matanya yang berembun.
"Maafkan aku Karen,tapi aku tak mencintai mu, kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari ku," ucap Karen.
Mendengar itu Karen langsung meraung.
"Hiks hiks,kamu juga gak cintakan Gi sama Dinda, tapi kamu menikahinya.
Irgi bergeming sambil menatap Karen.
"Irgi, jika kamu bisa menikahi Dinda hanya karena kasihan melihatnya, kamu juga pasti akan bisa menikahiku kan, meski kamu hanya kasihan pada ku," ucap Karen sambil menangis.
Irgi kaget mendengar ucapan dari Karen.
"Maksud kamu Karen?" apa tanya Irgi.
"Aku tahu kamu tidak mencintai Dinda kamu hanya kasihan padanya, kalau begitu kasihanilah aku juga,agar kamu bisa menikahi ku,hiks hiks," jawab Karen dengan sisa-sisa isak tangisnya.
"Menikahi kamu? Apa aku gak salah dengar?" tanya Irgi semakin kaget.
"Iya Irgi, aku bersedia menjadi istri kedua kamu, aku tahu Dinda pasti takkan bisa melayani kamu sebagai istri karena penyakitnya,aku bersedia membagi cinta ku, asalkan kamu mau menikahi ku," tutur Karen sambil menatap Irgi.
Irgi terdiam mendengar kata-kata dari Karen.
Karen melangkah semakin dekat dengan Irgi. Kini ia ada di hadapan Irgi mereka berdua hanya berjarak sejengkal.
"Irgi, aku mencintaimu dengan tulus, aku sudah tak menginginkan pria lain selain kamu, karena itulah aku rela Kau jadikan aku istri kedua, aku yakin Dinda pasti akan mengerti, karena dia pasti tak bisa melayanimu dengan baik sebagai seorang istri," ucap Karen sambil meraba wajah Irgi.
Irgi terdiam beberapa saat, kemudian ia membelalakkan bola matanya, ketika merasakan bibirnya dikecup oleh seseorang.
Karen mengecup bibir Irgi untuk pertama kalinya. Bola mata Keren berembun menatap Irgi .
"Irgi aku mohon pertimbangkanlah hal itu, aku tak bisa melupakanmu Irgi, Aku benar-benar mencintaimu," ucap Karen sambil memeluk Irgi.
Karen melepas pelukannya kemudian menatap ke arah Irgi lagi
"Aku tunggu keputusanmu," ucap Karen.
Irgi masih bergeming, hanya ekor matanya yang bergerak menoleh ke arah Karen yang perlahan meninggalkan ruangannya.
Irgi menghempas nafas beratnya ketika Karen berlalu darinya.
Jika bisa jujur, ia memang melihat ketulusan dari pancaran sinar mata keren.
Tapi akan sangat tidak mungkin jika ia membagi cintanya pada Karen. Itu sama saja membunuh Dinda secara perlahan.
Irgi kembali duduk di atas kursi kebesarannya.
Hampir setengah jam Irgi melamun memikirkan ucapan keren.
Jujur saja di hati Irgi memang pernah tumbuh benih cinta untuk Karen. Namun, benih cinta itu kembali harus dikubur setelah mengetahui jika Dinda juga mencintainya.
Irgi lebih memilih perasaan Dinda, daripada perasaannya sendiri. Saat ini saja ia masih harus bernegosiasi dengan hatinya. Karena sampai saat ini Irgi masih menganggap Dinda seperti adiknya, masih menyayanginya seperti adiknya, bukan seperti istrinya.
Irgi berusaha untuk tak memikirkan ucapan keren dengan mencari kesibukannya sendiri. Karena terlalu banyak mengambil cuti bekerja, pekerjaan Irgi pun menumpuk dan ia langsung menyelesaikan pekerjaan itu.
***
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari sudah menunjukkan jam 05.00 sore dan Irgi masih berkutat dengan pekerjaannya.
Langkah kaki seseorang terdengar membuka pintu ruangan Irgi.
"Pak Irgi, ini sudah jam 05.00 sore. Apa Anda tidak pulang?" tanya Sherly sang sekretaris.
"Jam 05.00 sore," gumam Irgi sambil melirik ke arah arlojinya.
"Astagfirullah, karena banyak pekerjaan, aku jadi lupa. Dinda pasti sudah menungguku di rumah," ucap Irgi sambil merapikan berkas-berkasnya.
Setelah merapikan meja kerjanya,Irgi keluar dari kantor untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
***
Dinda melirik petunjuk waktu yang berada di dinding kamarnya,waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore dan dia sudah berdandan di depan cermin rias.
Dinda kembali melirik wajahnya di depan cermin, saat ini wajahnya terlihat cantik dengan dandanan natural. Dinda bermaksud menyambut kedatangan sang suami.
Namun, ketika jam menunjukkan pukul 05.00 sore, Irgi belum juga pulang.
Dinda pun mondar-mandir di depan kamar sambil sesekali merapikan riasannya.
Ia bermaksud menyambut suaminya dengan wajah yang cantik agar iki lebih berselera terhadapnya.
Pukul 05.30 pintu kamar Dinda dibuka.
Senyum seketika terkembang di wajah Dinda ketika melihat Irgi.
Langsung saja ia berdiri menghampiri Irgi.
"Baru pulang Mas?" tanya Dinda sambil membantu melepaskan jas yang dikenakan oleh Irgi.
"Iya maaf ya Mas pulang, terlambat karena banyak tugas yang harus dikerjakan," ucap Irgi.
"Ah nggak apa kok mas."
Dinda langsung menyimpan jas yang dikenakan ke Irgi.
Setelah melepas dasi, Irgi langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk.
Dinda kembali menatap ke arah Irgi yang sepertinya sungkan, untuk membuka pakaiannya di hadapan dirinya.
Beberapa saat kemudian Irgi keluar dengan handuk sepinggang, wajahnya terlihat begitu segar dan semakin tampan dengan rambut yang sedikit basah.
Irgi menarik kaos oblong dan celana pendek, kemudian ia kembali menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya di kamar mandi.
Pemandangan itu mungkin terbiasa bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Dinda.
"Sepertinya Mas Irgi masih sungkan terhadapku," gumam Dinda dengan hati yang teriris-iris.
***
Setelah makan malam,Dinda kembali ke kamarnya, sementara Irgi masih membahas tentang pekerjaan bersama Leon dan Nessa.
Dinda masuk kedalam kamar, kemudian mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan satin model baby doll.
Agar semakin cantik, Dinda memoles loose powder dan lipstik berwarna lembut di wajahnya.
Setelah penampilan terlihat sempurna, ia kembali menghampiri laci tempatnya meminum obat.
Sebenarnya Dinda merasa bosan dengan obat-obatan yang dikonsumsi.
Namun keinginannya untuk sembuh begitu besar.
Dinda sengaja tak minum satu obat yang mengandung obat tidur, agar ia terjaga malam ini.
Maklum saja selama menikah mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri.
Satu jam menunggu akhirnya Irgi kembali ke kamarnya.
"Belum tidur Din?" tanya Irgi.
"Belum Mas," sahut Dinda.
Irgi mendaratkan bokongnya di samping Dinda.
"Tidur lah Din, kau harus banyak istirahat," ucap Irgi sambil mengusap kepala Dinda yang baru ditumbuhi rambut.
Dinda tersenyum kecut, kemudian berbaring dengan hati yang kecewa.
Dinda tidur membelakangi Irgi, matanya terpejam tapi belum bisa terlelap.
Irgi ke kamar mandi sebentar, kemudian berbaring di atas tempat tidur.
Dalam beberapa saat Dinda sudah mendengar suara dengkuran halus dari Irgi.
Bulir bening menetes di pipi Dinda, karena malam ini ia kembali gagal melakukan ritual malam pertamanya.
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.
__ADS_1