The Twins CEO

The Twins CEO
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Nessa menangis melihat Farel dikeroyok namun Ia juga takut jika dirinya turun, maka  iya juga ikut akan celaka.


Dalam keadaan panik Nessa melihat handphone Farel, langsung saja Ia merekam kejadian tersebut di dalam mobil.


Nessa juga berhasil merekam plat mobil para penjahat itu.


Setelah penjahat itu kabur barulah iya  berani keluar menghampiri Farel.


"Farrel!" Nessa keluar dari mobil menghampiri Farrell.


Nessa belutut di harapan tubuh Farel, kemudian ia membalikan tubuh Farrel tersebut.


"Farrel! Sadarlah!"teriak Nessa sambil memangku kepala Farrel.


Keadaan jalan tersebut kembali ramai oleh para pengendara mobil . Mereka berhenti melihat kejadian itu.


Dua buah mobil berhenti tak jauh dari mobil Nessa. Satu mobil adalah mobil bodyguard, sementara yang satu lagi mobil Stefan.


"Nessa! Kamu tidak apa-apa kan?"tanya Stefan yang datang menghampiri Nisa..


"Hiks tolong bantu, bawa Farel ke rumah sakit hiks hiks," pinta Nessa dengan sambil menangis kepada para bodyguardnya.


Mereka pun membopong tubuh Farrel untuk masuk ke dalam mobil,sementara Nessa yang panik ikut masuk ke dalam mobil.


Stefan menarik tangan Nessa.


"Tunggu Nessa, bagaimana jika kau ikut dengan mobil ku," tawar  Stefan.


"Ah tidak, aku ikut mereka saja, aku khawatir dengan keadaan Farel."


Nessa langsung masuk ke dalam mobil tanpa berbasa basi kepada Stefan.


Stefan mendengus kesal, ketika Nessa kembali mengacuhkannya.


"Bagaimana meletakkan kepalanya?"tanya Bodyguard.


"Biar aku yang memangku kepalanya," sahut Nessa.


'Baik Nona, kalau begitu  kami yang akan membawa mobil nona."


"Iya, kunci mobilnya masih ada di dalam," ucap Nessa.


Mobil segera melaju meninggalkan lokasi kejadian.


Sepanjang perjalanan Nessa menatap iba ke arah wajah Farel yang tak berhenti mengalirkan darah.


"Hiks hiks,Farrel sadarlah!"ucap Nisa sambil menepuk-nepuk pipi Farel dengan lembut.


"Mau di bawah ke mana Nona ?"tanya sopirnya.


"Bawa saja ke rumah sakit terdekat Pak. Yang penting dia segera mendapat pertolongan, darahnya tak berhenti mengalir," Nessa sambil menarik tisu membersihkan hidung Farel yang berdarah.


Secara reflek tangan Nessa mengusap kepala Farel.


Nessa menatap Farel dengan tatapan berembun, entah kenapa hatinya begitu sedih melihat Farel yang tak sadarkan diri dengan wajah yang babak belur.


"Farel sadarlah, Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," ucap Nessa sambil menepuk pipi Farel dengan lembut lagi.


Berkali-kali sudah Nessa mencoba untuk membuat Farel tersadar, nyatanya pria tampan itu tak juga sadar.


Suara dering telepon mengagetkan Nessa, ia langsung merogoh tasnya dan mengambil benda pipih yang biasa digunakan sebagai alat komunikasi.


Suara isak tangis Nessa terdengar di sambungan telepon tersebut.


"Halo Nes, Bagaimana keadaan kamu?" tanya Irgi, aku baru dapat kabar dari Daddy, katanya mobil kamu dihadang oleh orang tak dikenal."


"Aku tidak apa-apa Gi, hanya saja keadaan asisten ku sungguh memprihatinkan wajahnya penuh luka memar hiks.,"

__ADS_1


"Di rumah sakit mana kalian membawanya?"tanya Irgi.


"Belum tahu, ini aku lagi di perjalanan. Nanti aku kasih kabar."


"Iya, Daddy dan Kak Seon sedang dalam perjalanan mereka membatalkan kepergian mereka ke luar kota mendengar musibah yang menimpa kamu."


"Iya Gi, tapi kamu datang kesini ya temani aku."


"Iya aku sedang dalam perjalanan."


Setibanya di rumah sakit, Farel langsung mendapat penanganan.


Ternyata Stefan masih mengikuti mobil yang membawa Farel.


Nessa duduk dengan gelisah di ruang tunggu ruang IGD.


"Bagaimana keadaannya Nes?"tanya Stefan sambil mendaratkan hukumnya di samping Nessa.


"Aku masih belum tahu, masih dalam penanganan."


Stefan memperhatikan Nessa yang terlihat begitu sedih. Rasa cemburuan itu menghampirinya lagi.


"Kamu sudah telepon pihak keluarganya Nes?"tanya Irgi masih di sambungan telepon.


"Belum."


"Oh iya aku lupa, sudah ya sudah Gi, Aku mau telepon seseorang dulu."


Nessa kemudian menyuruh bodyguard-nya membawa handphone Farel yang ada di mobil.


Setelah mendapatkan handphone tersebut, Nessa mencoba untuk membuka dan mencari kontak keluarganya. Namun sayangnya layar handphone milik Farel terkunci.


"Terkunci,lagi Bagaimana aku bisa menghubungi keluarganya,"dengus Nessa.


Seorang suster keluar dari ruang di mana Farel dirawat.


Nessa menghampiri perawat itu.


"Iya suster, Bagaimana keadaannya?"tanya Nessa.


"Ada memar di bagian tengkorak kepalanya dan pasien harus segera dioperasi."


"Operasi?" gumam Nessa.


"Lakukan saja yang terbaik suster, selamatkan dia."


"Baiklah, untuk itu silahkan Anda menandatangani surat persetujuan operasi."


Nessa langsung menandatangani surat persetujuan operasi. Tak Berapa lama kemudian Farel dipindahkan di ruang operasi.


Nessa mengikut ke mana saja petugas medis itu membawa Farel. Hingga ketika  telah tiba di ruang operasi Nessa hanya bisa duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang khawatir dan cemas.


Stefan ikut duduk di samping Nessa.


Melihat Nessa yang terlihat begitu khawatir, Stefan kembali cemburu. Selain itu Nessa juga bersikap acu tak acuh terhadapnya.Hal itu membuat Stefan semakin kecewa.


Tak lama kemudian Irgi  datang menghampiri Nessa.


"Nessa sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Irgi.


"Entahlah, aku juga tidak tahu tiba-tiba saja ada sekelompok orang menyerang kami. Anehnya ia justru menginginkan Farel keluar dari mobil."


"Setelah Farel mereka hajar  habis-habisan, mereka langsung pergi begitu saja."


"Ehm, Apa mungkin ini karena dendam pribadi seseorang terhadap Farel?"


"Bisa saja seperti itu, tapi apapun itu aku tetap akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib," ucap Nessa.

__ADS_1


"Iya Ness."


Stefan mulai terlihat gelisah ketika Nessa mengatakan hendak melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.


Keadaan kembali hening, mereka bertiga hanya diam, mungkin karena ada Stefan sehingga Irgi dan Nessa juga tak banyak bicara.


Satu setengah jam kemudian, para perawat membawa Farrel keluar dari ruang operasi.


Melihat hal itu, Nessa langsung beranjak menghampiri para perawat itu.


"Bagaimana keadaannya suster?" tanya Nessa.


"Syukurlah karena cepat ditangani akhirnya pasien bisa selamat."


"Sekarang pasien akan dibawa ke ruang perawatan."


Mereka bertiga mengikuti para suster menuju ruang perawatan.


Nessa, Irgi dan Stefan menunggu di ruang perawatan.


Beberapa saat kemudian, Sheon dan Leon tiba di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Farel?" tanya Leon.


"Masih belum sadarkan diri Daddy."


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa asistenmu bisa dikeroyok oleh orang yang tak dikenal?" tanya Leon.


"Entahlah aku juga tidak tahu."


"Untung saja kau tak apa-apa Sayang," ucap Leon sambil mengecup pucuk kepala Nessa.


"Sheon! Menurutmu apa Farel memiliki musuh?"tanya Leon.


"Sepertinya tidak Daddy, setahuku Farel orang yang tak banyak bicara. Dia orang baik dan tak neko-neko."


"Aku merasa aneh saja dengan kejadian ini, jika tak Ada barang yang hilang, berarti kasus ini bukan perampokan. Namun ada dendam pribadi," tukas Leon.


"Benar Daddy, sepertinya ada orang yang sengaja  menyuruh para penjahat itu, untuk memukul Farrel."


"Karena saat itu mereka memaksa Farel untuk membukakan pintu, dan setelah Farrel keluar, mereka juga tak menyakitiku," papar Nessa.


"Nessa apa kau punya bukti untuk melaporkan kejadian itu?"tanya Leon.


Nessa baru teringat dengan rekaman yang ada di handphonenya.Ia langsung meraih telepon pintar miliknya.


"Ini Daddy, aku sempat merekam kejadiannya."


Leon melihat ke arah layar handphone, sementara Stefan  kaget karena kejadian tersebut direkam oleh Nessa.


"Bagus Nessa, wajah yang memukul Farel terlihat dengan jelas, Deddy rasa polisi akan mudah menangkap para pelaku."


"Iya semoga saja Daddy, kalau perlu Daddy  suruh orang untuk menyelidiki kasus ini,"


Mendengar itu Stefan semakin was-was, diam-diam ia keluar dari ruangan tersebut.


Stefan menuju toilet umum yang ada di rumah sakit itu.


Kemudian ia menghubungi seseorang.


''Aku transfer uangnya sekarang juga ! kalian harus pergi karena ada yang merekam kejadian itu. Ingat apa punya akan terjadi, kalian jangan pernah bawa-bawa namaku," ucap Stefan di dalam sambungan teleponnya.


"Baik Tuan muda!" Sahut suara yang ada di seberang telepon.


Stefan kembali ke ruangan perawatan Farel. Iya bermaksud untuk menemani Nessa dan mengambil simpati dari  Leon dan Sheon.


Bersambung dulu gengs. Maaf jika banyak typo, karena author nulisnya hanya demo malam hari 🙏

__ADS_1


__ADS_2