
Nessa dan Farel duduk di sofa yang ada di ruangannya, mereka berdua sedang memeriksa laporan bulanan.
"Syukurlah ada peningkatan meski hanya dua persen," ucap Nessa sambil menutup berkas tersebut.
"Iya Nona, produk kita mulai diminati konsumen,saya rasa penjualan produk kita sebentar lagi menembus pasaran Asia tenggara."
"Bagus itu."
Bruk ..
Tiba-tiba terdengar pintu terbuka dari arah luar.
"Selamat siang sayang," sapa Stefan.
Nessa melirik ke arah Stefan yang datang menghampiri.
Sebuah kecupan langsung mendarat di pipi Nessa tanpa permisi.Nessa dan Farel terkejut melihat hal itu.
Sepertinya Stefan sengaja melakukannya di hadapan Farel.
"Ih apa-apa sih?" tanya Nessa sambil menyentuh pipinya di telapak tangan.
"Loh kenapa sih, aku kan tunangan mu," ucap Stefan
Melihat suasana yang tak lagi nyaman, Farel memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Permisi Nona," ucap Farel.
"Iya silahkan," jawab Nessa dengan wajah yang sedikit masam.
Nessa merapikan berkas yang ada di atas meja dengan wajah yang cemberut.
__ADS_1
Entah kenapa dia semakin tak menyukai Stefan setelah bertunangan.
Semakin dekat dengan Stefan, ia semakin tak menyukai pria itu. Entahlah, menurut Nessa ada yang salah dari diri Stefan, dari sikapnya yang sok romantis itu.
"Kamu kenapa sih? Setiap bertemu aku kok wajah kamu cemberut gitu?" tanya Stefan.
Nessa menoleh ke arah Stefan, kemudian tertunduk karena tak bisa menjawab pertanyaannya.
'Iya juga sih, ternyata menjalani hubungan tanpa cinta itu rasanya begitu hambar, setiap kali bertemu Stefan mood ku kok berubah ya,' batin Nessa
"Nessa! Kok melamun sih?"tanya Stefan yang sontak saja membuat Nessa kaget.
"Oh gak apa-apa."
"Oh ya Ness, kedatangan ku kemari untuk mengajak kamu makan siang bersama, setelah itu bagaimana kita fitting baju untuk acara pernikahan kita," ucap Stefan.
"Pernikahan? bukan nya pernikahan kita belum di tentukan tanggal nya, lagi pula aku nggak mau terburu-buru!"
"Nessa, aku Gak bisa terlalu lama berada disini, Kamu tahukan pekerjaanku di Amerika bagaimana, aku rela meninggalkan pekerjaan ku hanya untuk berada disampingmu, biar kita saling dekat, agar bisa tumbuh rasa cinta di antara kita," tutur Stefan.
"Iya tapi aku butuh waktu untuk menerima kamu, ini itu masalah perasaan, gak bisa dipaksakan,aku mau menikah dengan seorang yang benar-benar aku cintai. Jadi sabar dong, kita jalan saja dulu, jika di tengah jalan gak ada kecocokan di antara kita bagaimana? Aku gak mau pernikahan seumur jagung sudah bercerai!" ucap Nessa dengan tegas.
Stefan memperbesar lensa matanya.
"Jadi mau kamu apa Ness?"tanya Stefan yang mulai terpancing emosi.
Stefan berusaha menutupi kemarahannya.
"Aku Gak mau kamu tekan aku terus tentang pernikahan ini! jika memang kamu gak bisa sabar menunggu aku sampai aku siap, lebih baik kita putus saja!" ancam Nessa.
Sekali lagi Stefan melototkan bola matanya.
__ADS_1
Tak ingin terpancing emosi, ia buru-buru keluar dari ruangan tersebut.
Nessa menatap kepergian Stefan yang tanpa permisi itu.
Kemudian Nessa kembali menghempaskan napasnya.
"Dasar tidak sopan!" dengus Nessa.
Bruk…
Pintu tertutup dengan kasar, karena dihempas oleh Stefan.
Dengan begitu kesalnya Stefan keluar dari ruangan itu.
'Lihat saja Nessa, aku akan buat perhitungan denganmu, jika saat ini kau menolak cinta ku,maka akan ku buat kau yang akan mengemis meminta aku untuk menikahimu!' batin Stefan dengan wajah merah penuh amarah.
Stefan mendengus seperti banteng yang marah, dengan tangan gemetaran ia merogoh saku celananya untuk merogoh benda pipih miliknya kemudian menelpon seseorang.
"Hallo tuan muda,"sapa suara di seberang telepon.
"Halo Lucky,aku ingin kau bikin rencana khusus untuk menculik tunangan ku," ucap Stefan dengan dada yang bergemuruh di dadanya.
"Tunangan anda?!" tanya pria yang di seberang telepon.
"Iya gunakan skenario saat kita menculik Sandra dulu," ucap Stefan.
"Sandara? Tapi tuan muda, tunangan anda orang kaya, tak mudah melakukannya, kita bisa celaka," ucap Lucky di seberang telepon.
"10 miliar asal kau berani melakukannya, tugasmu hanya menculiknya dan membuat situasinya aman, sisanya biar aku yang melakukannya," ucap Stefan masih dengan tangan yang gemetaran.
"Sepuluh miliar? Ba-baik tuan muda, saya siap melaksanakannya."
__ADS_1
Stefan menutup teleponnya, tangannya tetap akan gemetar seperti itu jika sesuatu yang ia inginkan belum tercapai mengingat gangguan kecemasan yang di deritanya.