
Irgi terbangun ketika merasa ada gerakan tangan yang membelai rambutnya.
Kemudian ia menoleh ke arah Dinda.
"Mas Irgi," ucap Dinda begitu lirih hingga tak terdengar di telinga, hanya gerakan bibirnya yang bisa dibaca oleh Irgi.
"Dinda, Alhamdulillah Kamu sudah sadar," ucap Irgi sambil meneteskan air matanya.
Irgi meraih tangan Dinda kemudian menciumnya.
"Maafkan mas Irgi,Dinda. Mas Irgi nggak bisa jagain kamu."
Dinda hanya tersenyum.
Dinda seperti ingin bicara.Namun, suaranya begitu lirih.
"Kamu ingin bicara Dinda?" tanya Irgi.
Dinda memainkan kelopak matanya.
Irgi kemudian menghampiri Dinda dan menempel daun telinga begitu dekat, untuk mendengar ucapan Dinda.
"Mas Irgi, terima kasih karena telah membahagiakan Dinda selama ini," ucap Dinda lirih dan terbata-bata.
"Iya Dinda, kamu harus kuat ya, demi mas Irgi," ucap Irgi sambil meneteskan air matanya.
"Dinda berusaha untuk kuat Mas, tapi seandainya Dinda dipanggil oleh tuhan,Dinda begitu ikhlas. Dinda sudah merasa bahagia karena pernah memiliki mas Irgi, di hidup Dinda," ucapnya lagi.
"Jangan bicara seperti itu sayang, mas Irgi juga bahagia bisa memiliki kamu," ucap Irgi.
"Kamu jangan bicara yang tidak-tidak ya, lebih baik kamu beristirahat saja. Jangan pikirkan macam-macam."
Dinda tersenyum, setelah beberapa saat ia tertidur kembali.
Sudah seminggu Dinda berada di ruang ICU.
Keadaan terlihat semakin kurus.Namun keadaan Dinda perlahan sudah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
Karena hal tersebutlah, Dinda dipindahkan ke ruangan perawatan dari ruang ICU sebelumnya.
***
Seluruh keluarga besar datang menghampirinya dan menjenguk Dinda, mereka secara bergiliran melihat dan memberikan support kepada Dinda.
Selain Irgi,
Sarah sang adik, bahkan harus izin sekolah untuk menemani Dinda dan sudah seminggu ia berada di rumah sakit tersebut.
Irgi tengah membantu Dinda untuk menggantikan pakaiannya.
Saat itu Dinda menatap heran ke arah Irgi kemudian Dinda tersenyum.
"Kenapa Din?"tanya Irgi sambil mengelap tubuh Dinda yang hanya tinggal tulang dilapisi kulit.
"Gak kok Mas," ucap Dinda sambil tersenyum.
Irgi kemudian meraih tangan Dinda dan mencium tangannya.
"Mas senang sekali kamu bisa tersenyum seperti itu," ucap Irgi.
"Setelah bersih-bersih kamu makan ya Din, cepat sehat," ucap Irgi.
Dinda sudah merasa sedikit segar setelah tubuhnya bersihkan, sudah beberapa hari tubuhnya tak dibersihkan, karena keadaan yang tak memungkinkan.
Irgi meraih mangkuk bubur encer untuk Dinda, dengan sabar ia menyuapkan Dinda.
Entah kenapa hari ini Dinda begitu banyak makan hingga satu mangkuk bubur habis dilahap olehnya.
"Habis," ucap Irgi ketika sendok terakhir ia suapkan pada Dinda.
Tubuh Dinda perlahan berkeringat, wajahnya sedikit lebih segar.
"Wah kamu sudah mulai berkeringat Din, kalau kamu terus makan seperti ini kamu pasti akan segera sehat tutur Irgi.
"Iya Mas ,aku ingin cepat sehat, agar aku bisa pulang ke rumah," ucap Dinda lirih.
"Iya Din, setelah keadaanmu membaik, kita akan pulang ke rumah."
Setelah memberi makan, Irgi kemudian memberikan Dinda obat agar diminumnya.
__ADS_1
Dinda menerima obat tersebut dengan tangan gemetaran, kemudian ia memasukkan obat itu ke dalam mulutnya.
Namun ketika obat itu masuk ke dalam kerongkongan Dinda mengalami sesak nafas karena ia tak bisa menelan obat itu.
Ehk ekh
Setelah berupaya, akhirnya obat tersebut keluar juga dari mulut Dinda dengan cara di muntahkan.
Irgi yang baru saja menyimpan mangku kotor di wastafel, seketika kaget melihat Dinda yang memuntahkan obatnya.
Tempat tidur Dinda pun basah kembali.
Dinda Kamu kenapa tanya Irgi.
"Aku nggak bisa menelan Mas obatnya terlalu besar dan keras," jawab Dinda lirih.
"Keras dan besar? Biasanya kamu juga makan obat ini kan?"
"Nggak tahu Mas tiba-tiba saja aku nggak bisa menelan obat itu," jawab Dinda.
"Ya sudah nanti mas minta dokter untuk mengganti dengan obat yang lain, yang bisa kamu konsumsi," ucap Irgi.
"Sekarang kamu ganti baju kamu lagi," ucap Irgi sambil kembali melepas piyama yang Dinda kenakan.
Dinda menatap sayu ke arah Irgi.
Tiba-tiba bola matanya berembun dan meneteskan air mata.
Irgi melihat itu, langsung menghentikan aktivitasnya.
Saat itu Dinda terlihat begitu sedih meskipun suara tangisannya tak terdengar.
"Dinda Kamu kenapa lagi sih?" tanya Irgi.
Bukannya menjawab, Dinda justru semakin jadi menangis.
"Maafkan Dinda Mas yang selalu saja menyusahkan Mas Irgi,"ucap Dinda dengan Isak tangisnya.
"Jangan bicara seperti itu Din, Mas ikhlas kok merawat kamu, memang sudah tugas Mas Irgi untuk merawat kamu," balas Irgi.
"Hiks iya Mas, Dinda sedih sekali karena Dinda selalu jadi beban dalam hidup Mas Irgi," ucap Dinda di sela-sela tangisannya.
Kreak …pintu pun dibuka tiba-tiba.
Seulas senyum terbit di bibir Dinda ketika melihat kedua orang tuanya datang menjenguknya.
Yura dan Leon selalu menyempatkan diri menjenguk Dinda dua kali sehari. Begitupun dengan Nessa, Nathan, dan Sheon.
Mereka tak pernah absen menjenguk Dinda. Meski mereka tak pernah menjenguk dalam waktu yang lama karena Dinda yang harus banyak beristirahat.
"Bagaimana keadaan kamu Dinda?" tanya Yura sambil mengusap kepala Dinda.
"Baik mommy," ucap Dinda.
Melihat Dinda yang kini kurus kering bola mata Yura pun berembun, ia coba menahan tangisnya karena sedih melihat kondisi anak angkat sekaligus menantunya tersebut.
Namun, Yura tak menunjukkan kesedihannya Ia, bahkan Dinda tak pernah tahu jika wajahnya sudah berubah. Tak ada lagi daging yang menutupi wajahnya. Hanya tersisa tulang yang dilapisi kulit yang keriput. Namun tak pernah sekalipun Irgi mengungkit keadaan Dinda.
Yura masih terus mengusap kepala Dinda mencoba membuat Dinda merasa nyaman dengan sentuhan lembut seorang ibu.
"Wah Sepertinya kamu lebih segar Din," puji Leon untuk menyenangkan hati Dinda.
"Iya Daddy, terima kasih ya, daddy karena daddy dan mommy selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Dinda," lirih Dinda.
"Iya Dinda, jangan kamu pikirkan yang penting kamu sembuh kita semua sangat senang."
Setelah ngobrol bersama Dinda selama 1 jam, Yura dan Leon memutuskan untuk pulang.
"Dinda, berhubung hari sudah semakin sore Mommy dan Deddy pulang dulu ya, kamu beristirahat besok kami akan datang menjenguk kamu lagi," ucap Yura.
"Iya mommy," jawab Dinda lirih.
Leon dan Yura pun bergegas meninggalkan ruangan itu.
***
Hik hiks setibanya di luar ruangan Yura menumpahkan perasaan sedihnya dengan menangis.
"Mommy, Kenapa sih setiap kali menjenguk Dinda Mommy selalu menangis?"tanya Leon
__ADS_1
"Hiks hiks Mommy nggak tega Daddy, melihat Dinda seperti itu, Dinda terlihat begitu menderita" ungkap Yura sambil menangis hingga tersedu-sedu.
"Iya mommy,i tapi kita tak bisa berbuat apa-apa, pengobatan Dinda untuk saat ini tidak akan berpengaruh apa-apa, justru hanya akan menyiksa Dinda. Kita berdoa saja agar Dinda mendapatkan yang terbaik.".
"Hiks hiks iya daddy," jawab Yura sambil menghapus air matanya.
***
Beberapa hari berikutnya keadaan Dinda sudah mulai membaik Bahkan ia bisa duduk sendiri.
Sampai saat ini Dinda belum pernah melihat kondisi wajahnya secara langsung, meskipun ia melihat perubahan yang sangat drastis pada bagian tulang lengan dan kakinya.
"Mas Irgi," panggil Dinda.
Irgi yang sedang memeriksa pekerjaannya, buru-buru menghampiri Dinda.
"Ada apa Din?" tanya Irgi.
"Mas Dinda sudah bisa duduk, kalau begitu besok kita pulang ya, Dinda kangen sekali sama rumah."
"Iya Din menunggu hasil pemeriksaan dokter ya, jika dokter mengijinkan kamu pulang, kamu bisa dirawat di rumah saja," tutur Dinda.
Dinda tersenyum dengan tatapan mata yang kosong.
"Semalam Dinda mimpiin ibu Mas," ucap Dinda lirih.
"Mimpiin ibu, mungkin kamu kangen sama ibu," jawab Irgi.
"Iya Dinda kangen sama ibu, ibu di sana terlihat begitu bahagia, ia tersenyum memanggil Dinda," ucap Dinda dengan tatapan yang kosong.
"Sudahlah Din, kamu istirahat saja ya."
Irgi membaringkan Dinda di atas tempat tidur. Kebetulan saat itu Sarah baru saja dari tokoh membeli kebutuhan mereka.
Dinda tersenyum melihat adiknya yang kini berusia 18 tahun itu.
Kemudian ia melihat Irgi dan kembali tersenyum.
"Sarah sini!" Panggil Dinda pada Sarah yang tengah merapikan barang-barang di atas nakas.
"Ada apa Mbak?" tanya Sarah.
"Sarah Sini," panggil Dinda lagi.
Sarah kemudian mendekat hingga ia berdiri di samping Irgi.
"Mas Irgi, seandainya Dinda pergi, Dinda titip Sarah pada mas Irgi. Hanya mas Irgi yang Dinda percaya," ucap Lirih Dinda.
"Dinda kamu itu ngomong apa? Sarah itukan adik mas Irgi, tentu saja, mas akan jaga Sarah," ucap Irgi sambil merangkul Sarah.
Dinda hanya tersenyum.
"Sarah, Kamu maukan, jadi pengganti Mbak, menjadi istri mas Irgi," tanya Dinda dengan suara parau.
Seketika Irgi dan Sarah saling memandang, kemudian mereka melempar pandangan kembali ke arah Dinda.
"Dinda Kamu ini bicara apa, Mas Irgi dan Sarah itu kan bersaudara, dari kecil mas Irgi menjaga Sarah, mana bisa mas Irgi menikahinya," tolak Irgi.
Seketika Sarah menangis.
"Iya Mbak, Sarah gak mungkin menikah dengan mas Irgi, Sarah gak mau," tangis Sarah sambil memeluk Irgi.
Dinda bergeming dengan bulir bening menetes di pipinya.
"Sudah Sarah, kamu tenangkan dirimu. Mbak kamu lagi sakit," ucap Irgi sambil memeluk Sarah yang menangis di pelukannya. Sarah begitu syok mendengar permintaan Dinda.
Setelah beberapa saat keadaan hening kembali.Sarah pun mulai berhenti menangis karena melihat Dinda yang hanya diam menatap ke arah lurus.
"Din kamu istirahat ya," ucap Irgi sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh Dinda.
Dinda pun langsung memejamkan matanya.
***
Malam semakin menyergap setelah kegiatannya sepanjang hari Irgi bermaksud untuk beristirahat.
Ia pun berbaring di samping Dinda yang tertidur pulas.
Irgi memeluk Dinda, sebelum memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian Irgi kembali membelalakkan bola matanya, Ia pun langsung bangkit.
__ADS_1
"Dinda! Dinda bangun Din!"teriak Irgi.