The Twins CEO

The Twins CEO
Pertunangan


__ADS_3

Setelah ditangani keadaan Dinda mulai membaik, perlahan suhu tubuhnya menjadi turun.


Nathan dan Raisa menghampi Irgi, begitupun anggota keluarga mereka yang lain yang juga hadir menjenguk Dinda.


Bahkan Leon dan Yura terpaksa pulang cepat, karena mendengar sakitnya Dinda.


Satu malam Dinda tak sadarkan diri, ketika membuka mata ia melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul mengelilinginya.


Dinda kaget melihat mereka semua menatapnya dengan sedih.


"Dinda, kenapa kamu tidak pernah memberitahu tentang penyakitmu?" tanya Yura sambil mengusap kening dan rambut Dinda.


Bibir Dinda mencebik Karena sedih sekaligus haru, Dinda melihat kekhawatiran pada wajah anggota keluarganya.


"Maafkan Dinda mommy, Dinda terpaksa menyembunyikan penyakit Dinda ini, karena tak ingin membuat kalian semua khawatir. Dinda baik-baik saja kok," tuturnya dengan sedih.


Yura meneteskan air matanya melihat gadis yatim piatu yang berwajah pucat itu.


"Dinda, jika saja dari dulu kamu memberitahu kepada kami, kita bisa segera menangani penyakit kamu. Jangan pikir apa-apa lagi ,Yang penting kamu sehat dan sembuh, ucap Yura sambil mencium kening Dinda.


Seketika Dinda menangis haru.


"Dinda nggak mungkin sembuh mommy, seperti apa yang dialami ibu Dinda, tapi Dinda sudah ikhlas kok ,"tuturnya dengan sedih.


Mendengar penuturan Dinda yang menyedihkan itu Leon datang menghampirinya.


"Dinda jangan bicara seperti itu, hidup mati seseorang ditentukan oleh Tuhan yang maha kuasa. Kita sebagai manusia, disuruh melakukan yang terbaik sebagai ikhtiar untuk mencari kesembuhan," ucap Leon.


"Iya Dinda, tak ada yang mustahil di dunia ini, aku yakin kok kamu bisa melewati ini, Dan Kita akan selalu mendukung kamu," ucap Nessa sambil menggenggam erat tangan Dinda.


"Terima kasih Kak Nessa," tutur Dinda.


"Jangan nangis lagi ya," timpal Nathan sambil menghapus air mata adik perempuannya itu.


"Kamu nggak kenapa nggak bilang sama Kakak sih tentang penyakit kamu, kamu nggak nganggap kakak saudara ya?" Tanya Nathan bernada kecewa.


Dinda kembali mencebikkan bibirnya.


"Bukan begitu kak, hanya saja aku tidak ingin merepotkan kakak, Kakak juga pasti sibuk mengurusi perusahaan dan keluarga kakak."


"Iya Dinda, tapi bukan berarti kamu harus menutupi semua ini, sudahlah kamu harus banyak beristirahat, masalah pengobatan kau Jangan pikirkan, biar kakak yang akan membayar pengobatannya, kita lakukan yang terbaik untukmu,"ucapnya sambil menggenggam tangan Dinda.


Dinda  semakin haru Ia pun kembali menangis dan semua yang hadir di sana, memeluk Dinda sebagai bentuk simpati dan support mereka terhadap anggota keluarganya.


***.


Setelah beberapa hari dirawat keadaan Dinda mulai membaik.


Ia pun memutuskan untuk beraktivitas seperti semula. Seperti hari ini, Dinda ikut menghadiri acara pertunangan saudaranya.


Keluarga besar Leon berkumpul di ruang tamu rumah mereka.

__ADS_1


Karena sebentar lagi mereka akan menuju gedung, tempat di mana acara pertunangan anak kembar dari keluarga Leon Sebastian Johnson dirayakan.


Mereka membagi anggota keluarga yang banyak itu terdiri dari berapa mobil.


Nathan beserta anak dan istrinya begitupun Sheon.


Nessa ikut di dalam mobil Yura dan Leon, sementara untuk Sarah dan Dinda naik mobil bersama Irgi.


Sarah duduk di bangku belakang sementara Dinda duduk di samping Irgi.


"Mas Irgi Nanti kalau sudah menikah, apa Mas akan tetap tinggal di rumah mami dan Dedi tanya Sarah.


Irgi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Sarah.


"Memangnya kenapa sih?"


"Sarah nggak suka saja kalau Mas Irgi nggak ada di rumah."


"Kalau Mas Irgi dan Mbak Nessa menikah, rumah pasti kosong dong cuma ada aku dan kak Dinda," sahut Sarah.


"Loh bukannya ada Mommy dan Daddy?"tanya Dinda


"Iya, setelah Kak Irgi dan Kak Nessa menikah,pasti Kak Dinda juga pastinya akan menikah juga kan?  Jadi aku tinggal sendirian dong, mana Mommy sama Daddy sibuk banget, mereka kan sering keluar kota ke luar negeri," curhat Sarah.


Mendengar itu Dinda tersenyum getir.


"Mbak Dinda nggak akan nikah kok Sar. Kamu tenang saja, sampai akhir hayat, Mbak Dinda akan jaga kamu sampai kamu menikah dan ada yang menjaga kamu,"tutur Dinda dengan nada yang sendu.


Irgi sedikit  kaget mendengar penuturan Dinda, yang sepertinya sudah putus harapan.


Dinda hanya diam sambil meneteskan air matanya.


Irgi melirik ke arah Dinda kemudian ia merentangkan tangannya untuk menghapus air mata Dinda.


"Kamu sangat cantik Din, pasti banyak laki-laki yang menyukai kamu. Dan yang mas lihat sepertinya dokter Ryan tertarik pada kamu," ucap Irgi.


"Mana ada orang yang mau dengan wanita yang penyakitan seperti ku Mas," tutur Dinda dengan tatapan kosongnya.


Irgi meraih tangan Dinda kemudian menggenggam tangannya.


"Jangan seperti itu Din, kamu harus kuat,suatu saat kamu juga pasti akan merasakan bahagia di hari pernikahan kamu, bahagia karena menikah dengan orang yang kamu cintai."


Dinda membuang wajahnya sambil menghapus air matanya.


"Sepertinya nggak mungkin lagi Mas, memiliki orang yang aku cintai."


"Loh kenapa?!" tanya Irgi.


"Karena, kini dia telah menjadi milik orang lain dan aku juga tidak akan mungkin bersamanya," tutur Dinda dengan sedih.


"Mungkin benar Cinta memang tak harus memiliki," ujarnya lagi.

__ADS_1


Irgi menghempas nafas kasarnya.


"Jika Cinta memang tak harus memiliki, maka cobalah menerima seseorang yang hadir dan mencintaimu dengan tulus," sahut Irgi.


Dari penuturan Dinda tersebut, Irgi bisa menerka jika saat itu Dinda juga tengah patah hati, karena seseorang yang dicintai telah dimiliki orang lain dan ia tak mungkin bersama orang itu tersebut.


'Apa mungkin karena itu Dinda Jadi kurang bersemangat untuk menjalani pengobatannya,' batin Irgi sambil menoleh ke arah Dinda.


Irgi kembali merentangkan tangan Dinda menjangkau bagian kepalanya.


"Jangan terlalu dipikirin Din, kalau jodoh pasti nggak akan kemana,"tutur Irgi menasehati Dinda.


Dinda hanya mengangguk sambil menghapus air matanya.


Mereka pun tiba di gedung tempat berlangsungnya acara pertunangan.


Tamu-tamu sudah banyak yang hadir begitupun Stefan dan Karen, keluarga ketiganya berkumpul karena acara tunangan akan segera dimulai.


***


Serangkaian acara pun telah selesai dilakukan dan dilaksanakan, kini mereka berada di inti dari acara tersebut.


Seorang MC berada di antara Irgi dan Karen.


"Baiklah, tak terasa kita semua berada di ujung acara ini, dan sebagai simbol ikatan dua insan ini."


Saat yang ditunggu pun tiba, Irgi dan Caroline kini dalam posisi saling menghadap.


Ada sebuah kotak cincin yang dipegang oleh MC.


"Silahkan saudara Irgi dan saudara Karen, saling bertukar cincin sebagai simbol pengikat cinta diantara kalian  untuk sementara sampai hari pernikahan."


Irgi membuka kotak cincin ia mengambil satu dari dua buah cincin yang ada di dalam kotak merah berbahan beludru itu.


Kemudian ia menyematkan cincin di jari manis Keren.


Begitupun sebaliknya Karen terlihat begitu bahagia menerima cincin dari Irgi, Karen pun membalas menyematkan sebuah cincin di jari manis Irgi.


Tepuk tangan menggema di ruangan tersebut, ketika melihat keduanya telah selesai bertukar cincin," resmi sudah aku bertunangan.


Semua yang hadir ikut bahagia melihat acara pertunangan yang berlangsung mewah itu..


Namun ada satu yang tak henti-hentinya meneteskan air matanya ketika melihat Irgi menyematkan cincin kemudian menggandeng tangan gadis yang ada di sampingnya menghampiri satu persatu tamu.


Sarah yang berada di samping Dinda merasa heran melihat ekspresi wajah Dinda.


"Mbak Dinda, kok sepertinya Sarah perhatikan Mbak Dinda nggak senang dengan pertunangan Mas Irgi dan Karen,"tutur Sarah.


Memang benar, ketika melihat Irgi bertunangan dengan Karen. Dinda benar-benar tak mampu menahan perasaannya.


Dinda keluar dari ruangan tersebut karena saat itu ia tak berhenti menangis.

__ADS_1


'Kenapa aku nggak rela Mas Irgi bertunangan dengan keren,' batin Dinda.


"bersambung dulu ya gengs maaf kalau othor banyak typo nya habis ,nulisnya malam-malam sih,"


__ADS_2