
Handphone Nessa berbunyi sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
Segera ia bangkit dan meraih handphone tersebut.
"Halo,"sapa Nessa.
"Halo Nessa, aku Stefan."
"Stefan? Iya ada apa ya Stef?"
"Aku sudah ijin pada daddy mu untuk mengajakmu makan siang bersama, boleh kan ya, aku menjemputmu di kantor?"
Ehm Nessa menggigit bibirnya, mau menolak tapi gak enak. Mau terima tapi masih sungkan karena baru kenal.
"Ehm iya deh."
"Oke, sekarang juga aku jemput kamu."
"Ehm Iya."
"Kalau begitu aku tutup teleponnya."
Nessa menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas.
"Kalau begitu saya permisi Nona," ucap Farrell yang sejak dari tadi berada di samping Nessa.
"Iya silahkan."
Nessa kembali ke meja kerjanya, begitupun dengan Farrell.
Baru saja duduk di kursi, Farrell dihampiri oleh seorang pria tampan bergaya eksekutif muda.
"Selamat siang, ruangan Nona Nessa dimana ya?"
"Saya asisten nona Nessa tuan, boleh saya tahu ada keperluan apa?" tanya Farrell.
Stefan mulai tak senang melihat Farrell, maklum saja Farrell begitu tampan apalagi ketika ia menyatakan jika dirinya adalah asisten Nessa.
"Saya Stefan, calon suami Nessa, saya sudah izin pada Daddynya untuk menjemputnya Nessa," ucap Stefan bernada ketus.
Calon suami?
"Oh iya, silahkan," ucap Farrel sambil menunjuk ruang yang ada di sebelahnya.
Stefan langsung masuk ke ruangan.Nessa sempat kaget dengan kedatangan Stefan.
"Hai Nessa."
"Hai Stefan, cepat sekali tibanya, aku pikir tadi masih di jalan."
"Aku memang tipe gercep, begitu dapat izin dari Daddy mu, aku langsung menuju kemari."
"Oh, mau pergi sekarang?"tanya Nessa.
"Boleh."
Nessa beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri Stefan.
Mereka keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Farrel aku keluar dulu ya, jika ada yang mencari katakan aku kembali setelah makan siang."
"Baik Nona."
Farrel menatap punggung Nessa yang berlalu darinya.
"Asisten kamu cowok ya?"tanya Stefan.
"Iya, itu dipilih kak Sheon, katanya Farrel itu jujur dan amanah, sebelumnya dia juga orang kepercayaan kakak ku."
"Oh begitu ya."
"Tapi hati-hati loh Ness, kamu bisa dimanfaatkan oleh dia."
"Gak lah aku tahu kok mana yang baik dan mana yang salah."
Stefan tersenyum.
"Sejujurnya aku keberatan jika calon istri ku, memiliki asisten seorang pria.Sebagai laki-laki ya wajar dong aku cemburu," cetus Stefan.
Calon suami? kita saja belum ada hubungan yang jelas.
Nessa hanya tersenyum kecut.
Tiba di restoran keduanya duduk saling berhadapan.
Stefan terus menatap wajah Nessa tanpa berkedip, membuat Nessa jadi Insecure.
"Nessa,kamu cantik sekali. Sejak pertama melihatmu, aku langsung jatuh hati padamu."
Nessa menatap manik mata Stefan dan perasaannya biasa saja, tak ada debaran aneh seperti ketika ia menatap Farrell.
"Bertunangan?"
"Iya, kedua keluarga kita juga saling setuju kan?"
Nessa kaget mendengar pertanyaan dari Stefan.
"Nanti deh aku tanya Daddy dulu," ucapnya lirih.
Stefan tersenyum mendengar penuturan dari Nessa, ia yakin sekali jika Leon setuju dengan rencananya.
***
Pulang dari mengantar Nessa, Stefan langsung menghampiri daddynya.
"Daddy, bagaimana jika malam nanti kita ke rumah tuan Leon untuk melamar Nessa."
"Hah, secepat itu?"
"Iya daddy, aku sudah terlanjur cinta sama Nessa, aku tak ingin Nessa diambil orang."
"Haha, kamu ini, gak akan ada merebutnya dari kamu. Kita sudah dapat restu dari tuan Leon."
"Tapi daddy, Nessa itu memiliki asisten pribadi pria,aku takut jika dia dan asistennya itu menjalin hubungan," tutur Stefan bernada cemburu.
"Benar juga yang kamu katakan, jika seorang wanita dan pria berdekatan bisa timbul perasaan yang berbeda," ucap tuan Andre.
"Nanti malam kita akan datangi rumah tuan Leon."
__ADS_1
"Oke daddy."
"Kalau begitu Dedi akan telepon Tuan Leon sekarang untuk memberitahu pada mereka, tentang rencana kita nanti malam."
"Iya Daddy, sekarang Daddy telepon saja Tuan Leon. Siapa tahu lamaran kita langsung diterima dan Aku dan Nessa segera akan bertunangan."
Tuan Andre langsung menghubungi Leon.
"Halo selamat siang tuan Andre ada apa?"
"Selamat siang juga tuan, tadi saya sudah mendengar dari Stefan jika ia dan Nessa makan siang bersama, setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama, Stefan berniat untuk bertunangan dengan Nessa secepatnya, anda tahu sendiri kan, jika Stefan bekerja di Amerika. Ia takut jika Nessa diambil orang, makmum saja Putri Tuan itu begitu cantik dan menawan."
"Hahaha Apa karena alasan itu Stefan ingin mempercepat pertunangan mereka?"
"Iya Tuan maklum saja umur mereka juga sudah cukup, saya rasa tidak usah berlama-lama. Kedua keluarga kita juga saling mengenal bukan?"
"Oh begitu ya?"
"Iya Tuan, bagaimana kalau nanti malam kami datang ke rumah anda untuk membicarakan pertunangan mereka?"
"Oh kalau begitu silahkan saja, tapi saya tidak menjamin jika Nessa mau bertunangan secepat ini. Maklum saja sebelumnya Nessa memang belum pernah berhubungan dengan seorang pria."
"Hahaha Karena itulah kami takut calon menantu kami diambil orang," kelakar Tuan Andre.
"Oke nanti malam silahkan Anda datang ke rumah kami akan bicarakan dengan anggota keluarga dan Nessa sendiri."
Setelah kesepakatan itu keduanya menutup sambungan telepon.
Stefan tersenyum melihat raut wajah ayahnya yang terlihat senang
***
"Bagaimana dengan hari pertama kamu bekerja Din?" tanya Irgi di dalam mobil menuju arah pulang.
"Hehehe baru pertama kali kerja saja sudah sibuk Mas, tapi alhamdulillah aku senang karena rekan kerjaku semuanya baik-baik."
"Begitu ya, lalu pria tampan yang mengenakan jas putih itu siapa?"
"Oh dia Ryan, dokter umum juga. Kami sama-sama bertugas di ruang UGD, sebenarnya dokter Ryan dapat shift siang. Namun, karena tadi pasien membludak jadi dia terpaksa ikut ambil shift pagi."
"Sepertinya dia perhatian sekali sama kamu, tadi Mas lihat ekor matanya mengikuti kamu yang menuju mobil."
"Ih mas, bisa saja."
"Mas nggak menyuruh kamu dekat dengan dia, justru karena mas ingin kamu berhati-hati, jaga diri kamu baik-baik jangan terlalu dekat dengan seseorang yang bukan mahram kamu."
"Iya Mas, Mas Tenang saja, aku bisa kok jaga diri aku baik-baik."
"Iya Mas percaya kok sama kamu Din."
Tiba-tiba Dinda merasakan sakit di kepalanya. Namun sebisa mungkin ia menutupi rasa sakit tersebut dengan tidak mengeluh.
Irgi menoleh ke arah samping Iya tak sengaja melihat darah mengalir di hidung Dinda.
"Din hidung kamu kenapa? kamu kenapa jadi mimisan gitu?" tanya Irgi panik Ia pun menepikan mobilnya.
Dinda kaget karena mesakan lelehan darah yang mengalir dari hidungnya. Segera saja ia meraih tisu kemudian membersihkan darahnya dan menengadahkan kepalanya ke atas dengan menutup hidung itu dengan tisu, agar pendarahan di hidungnya berhenti.
'Ya Allah sudah sejauh inikah penyakitku,'batin Dinda.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih,🙏🥰