The Twins CEO

The Twins CEO
Tanda Jatuh Cinta


__ADS_3

Setelah kepulangan tuan Charles dan putranya Irgi menghampiri Nessa dan kedua orang tuanya.


"Bagaimana Nessa, menurut pendapat kamu tentang putranya tuan Charles?" Tanya Leon.


" Tentang apa Daddy, mana bisa aku menilai seseorang dari pandangan pertama."


"Jadi kamu suka gak, sama calon pilihan Daddy?"tanya Irgi menyambar.


"Ih gak tahulah. Aku kan baru pertama bertemu," sahut Dinda.


"Kesan pertamanya kamu bagaimana Nessa?"tanya Leon.


Nessa nyengir, ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya.


"Yaelah ditanya malah Nyengir," sahut Irgi.


"Iya abis gue gak tahu, perasaan gua biasa-biasa saja."


"Kata orang ada cinta pada pandangan pertama, jika pertama kali kita melihatnya jantung kita berdebar-debar kencang, itu berarti ada perasaan tak biasa. Begitu juga jika kita menatap mata seseorang dan ketika menatapnya jantung kita berdebar-debar mungkin saja kita sedang jatuh hati."


"Haha gitu ya ? Kok loh tau sih Gi, loh kan belum pernah punya pacar?!"


"Yee, belum pernah punya pacar bukan berarti gak pernah jatuh cinta kan?" Sahut Irgi.


"Berarti lo udah pernah dong jatuh cinta ?!" tanya Nessa.


"Mungkin," sahut Irgi ambigu.


"Hah! Siapa Gi? Siapakah wanita yang beruntung bisa membuat saudara ku ini jatuh cinta?" tanya Nessa penasaran.


Sementara Yura dan Leon tersenyum melihat saudara kembar itu.


"Ada deh!" Irgi langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Hah siapa Gi?"tanya Nessa sambil mengejar Irgi.


"Ada deh, Lo gak boleh tau, mulut loh kan ember!"


Irgi berjalan semakin cepat, tapi Nessa lebih cepat.


"Ayo Gi, kasih tau gua, siapa cinta pertama loh please biar gua nggak penasaran?"


Nessa mengejar Irgi ketika menaiki anak tangga ia meloncat dan memeluk Irgi dari belakang kemudian menaikkan kedua kakinya hingga melingkar ke pinggang Irgi.


Mau tak mau Irgi menggendong saudara kembarnya yang manja itu.


"Gi siapa sih Gi,wanita yang pertama bikin lo jatuh cinta?"


"Mau tahu  aja Loh,"seru Irgi.


"Please beritahu gua siapa? Tiara ya? Marisa, Hana,  Almira atau mbak meylani Putri ?"


 "Berisik loh!" Irgi masuk ke kamar Nessa kemudian meletakkan Nessa yang sedang digendongnya di tempat tidur.


"Sudah Ya mending loh bobo, besok mau kerja," ucap Irgi sambil melepaskan tautan tangan Nessa di lehernya.


"Irgi, kasih tau gue dong, biar gua nggak penasaran," sungut Nessa.


Tapi Irgi tetap berlalu pergi meninggalkan esa kemudian menutup pintu kamar Nessa.


"Ih si Irgi misterius banget, kira-kira siapa ya, wanita yang membuat Irgi jatuh cinta, penasaran gue."


Nessa kembali menerka-nerka tentang sosok wanita di hati saudara kembarannya itu.


***


Tuan Charles dan Stefan berada di mobil setelah pulang dari rumah Leon.


"Bagaimana Stefan? Apakah putri tuan Leon menarik hati mu?"tanya Charles pada putranya.


"Sangat menarik Daddy, bahkan ia terlihat cantik meski tanpa make-up sekalipun."


"Haha pilihan Daddy pasti yang terbaik, sekarang kau dekati dia, menurut tuan Leon putrinya itu tidak pernah berhubungan dengan seorang pria sama sekali, tentu saja kau harus menunjukkan perhatian lebih kepadanya mulai saat ini."


"Iya Daddy, pertama kali melihatnya saja aku sudah jatuh hati padanya."

__ADS_1


"Bagus, Daddy dukung itu."


***


Hari ini untuk pertama kalinya Dinda akan menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit.


Dengan jas putihnya dia keluar dari kamarnya. Seperti biasanya pagi-pagi mereka akan berkumpul untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi semua," sapa Dinda.


"Eh bu dokter, sini Bu, kita sarapan sama-sama," ucap Nessa.


Dinda menghampiri meja makan dan duduk di sebelah Nessa.


"Dinda hari ini kamu sudah mulai kerja nak?" Tanya Yura.


"Iya mommy, doain Dinda agar nyaman di tempat yang baru ya."


"Tentu saja Nak, momny bangga salah satu anak mami bisa jadi dokter."


"Iya kalau Dadddy sakit ada y? bu dokter yang periksa," cetus Leon.


"Haha gak usah gitu dong Daddy. Dinda doakan agar Daddy  dan mommy selalu sehat Amin,"ucap Dinda.


"Amin."


Setelah sarapan Dinda diantar oleh Irgi ke rumah sakit.


"Pulang jam berapa kamu Din?"tanya Irgi.


"Jam tiga sore Mas."


Dinda keluar dari mobilnya.


Ia membaca doa sebentar sebelum memasuki rumah sakit tersebut.


Dinda masuk ke ruang UGD karena nantinya dia yang akan bertugas menjadi dokter jaga di ruangan itu.


"Selamat pagi dokter," ucap Para perawat di ruangan UGD.


Setelah meletakkan barang-barang di sebuah loker, Dinda langsung menjalankan tugasnya sebagai dokter.


Kebetulan pagi itu ruang UGD cukup ramai pasien, bahkan tenaga medis hampir kewalahan karena pasien yang tiba-tiba membludak.


Seorang Dokter muda kembali datang untuk membantu penanganan medis di ruang tersebut.


Jam makan siang pun tiba, pasien juga sudah ditangani.


"Huh, hari yang melelahkan." Dinda membuka lokernya.


"Baru tugas ya  dok?",sapa seorang dokter muda tampan.


Dinda menoleh sambil tersenyum.


"Iya Dok."


"Saya dokter Ryan," ucap dokter muda itu sambil menyodorkan tangannya.


"Dinda."


"Dokter mau makan siang?"


"Iya dokter."


"Kalau begitu saya punya tempat yang bagus untuk makan siang. Bagaimana jika makan siang dengan saya saja," tawar dokter Ryan.


"Boleh."


Dinda dan Ryan berjalan menuju kantin rumah sakit.


"Anda dokter baru ya?"tanya Ryan.


"Iya dokter, anda sudah berapa lama tugas di rumah sakit ini?"


"Baru tiga bulan."

__ADS_1


Dokter Ryan dan Dinda tiba di kantin.Mereka ngobrol santai sambil bercerita tentang pengalaman mereka saat kuliah.


Karena kehadiran Ryan, Dinda jadi tak begitu canggung dengan lingkungan kerjanya yang baru.


Pukul dua siang jam dinas mereka pun telah usai.


Dinda membereskan barang-barang, kemudahan ia menghubungi Irgi untuk menjemputnya.


"Iya Mas aku tunggu di lobby ya."


"Dokter mau pulang?"tanya Ryan ketika Dinda berada di lobby.


"Iya dokter."


"Yuk sekalian saya antar," tawar Ryan.


"Eh, saya sudah dijemput."


"Ya sudah saya temani kamu menunggu."


"Iya terima kasih dokter."


Dinda dan Ryan duduk di kursi yang ada di lobby, mereka kembali ngobrol ringan dan santai. Dokter Ryan adalah sosok yang humble dan hangat, jadi siapapun yang mengenalnya,pasti akan menyukai pria berkacamata itu.


Sekitar sepuluh menit Irgi tiba di kawasan rumah sakit.


"Dokter saya permisi dulu ya, saya sudah dijemput."


"Oh iya silahkan."


"Kalau begitu terima kasih ya dokter, terima kasih juga karena telah mentraktir saya di kantin."


"Haha gak usah di ingat terus."


"Permisi dokter," ucap Dinda dengan sopan.


"Silahkan."


Dokter Ryan menatap Dinda yang berjalan menuju sebuah mobil mewah.


"Ehm seperti dokter Dinda bukan orang biasa."


Dinda masuk ke dalam mobil.


***


Nessa dan Farrell berada di satu ruangan. Farrel membuka laptopnya ketika mereka sudah siap.


"Nona presentasi kita mulai sekarang saja Ya?"


"Iya silahkan."


Nessa dan Farrell berada di sofa yang sama.


"Jadi target keuntungan kita kali ini adalah dua puluh persen pertahun," ucap Farrel.


 "Lalu bagaimana target pasar kita, apa sudah, punya siasat untuk membuat target kita tercapai."


"Kita bisa gunakan jasa promosi Nona untuk bisa memperkenalkan produk kita ke konsumen."


"Kamu atur saja," ucap Nessa..


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi." Nessa dan Farrell beranjak sejara bersamaan.


Prank.. tiba-tiba handphone milik Nessa terjatuh ke lantai. Sontak membuat keduanya secara refleks menunduk dan menyentuh handphone tersebut secara bersamaan untuk mengambil.


Tanpa sengaja tangan Farrell menyentuh tangan Nessa.Keduanya pun saling menatap secara refleks, hingga dua bola mata indah itu saling bertentangan.


Deg 


Deg 


Deg


Bersambung dulu ya gengs 

__ADS_1


__ADS_2