
"Den Irgi sudah selesai!"seru si mbok yang seketika membuyarkan lamunan Irgi.
"Iya ada apa mbok?" tanya Irgi.
"Ini pakaian non Dinda sudah beres," ucap simbok sambil menyodorkan sebuah koper.
Irgi kembali menyimpan buku harian itu, beberapa saat ia merenungi tulisan yang ada di buku harian Dinda.
"Ayo Den!"panggil si mbok lagi, ketika melihat Irgi yang terpaku di depan lemari pakaian milik Dinda.
"Oh iya Mbok."
Irgi melangkah sambil menarik koper kemudian ia mengunci pintu kamar Dinda.
Didalam mobil, pikiran Irgi kembali melayang pada tulisan tangan Dinda.Sepanjang perjalanan Ia hanya melamun.
Bahkan ketika mobil nya tiba di rumah sakit, Irgi masih belum sadar dari lamunannya.
"Sudah sampai Den," ucap sang sopir yang kembali membuatnya hampir tersadar.
Irgi keluar sambil mendorong koper tersebut.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tak menyangka jika Dinda punya perasaan cinta terhadap ku,' batin Irgi.
Irgi melewati koridor, kakinya melangkah, Namun pikirannya melayang entah kemana.
Saat tiba di ruang perawatan Dinda, Irgi melihat ada beberapa tenaga medis di sana sedang memeriksa keadaan Dinda..
"Nessa ada apa ini ?" tanya Irgi.
"Dinda kembali tidak sadarkan diri, suhu tubuhnya kembali meningkat," ucap Dinda.
"Kenapa bisa seperti itu, Bukannya tadi saat ditinggalkan suhu tubuhnya sudah menurun?" tanya Irgi.
"Iya, tapi keadaan Dinda saat ini masih tidak stabil, tubuhnya kelebihan memproduksi leukosit tekanan darahnya juga turun, Dinda juga mengalami sesak nafas sebelum ia tak sadarkan diri," papar Nessa.
Irgi pun semakin khawatir dengan keadaan Dinda.
Dokter selesai melakukan pemeriksaan.
Irgi dan Nessa buru-buru menghampiri dokter.
"Sebaiknya operasi pencangkokan sumsum tulang belakang segera dilakukan, karena terjadi pembengkakan di kelenjar getah bening, dan jika dibiarkan keadaan pasien akan sangat membahayakan," tutur dokter tersebut.
Nessa dan Irgi hanya bisa saling memandang mereka menelan ludah kasar karena begitu mengkhawatirkan keadaan Dinda.
"Sekarang pasien sudah siuman, jadi biarkan saja beristirahat terlebih dahulu,"ucap dokter.
"Baiklah terima kasih Dokter," ucap Nessa dan Irgi secara bersamaan.
Keduanya menghampiri Dinda yang saat itu masih menutup matanya. Dinda tampak begitu lemah dengan infus dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
"Dinda, kamu dengar sendiri kan
apa kata dokter, kelenjar getah bening kamu sudah mengalami pembengkakan, jika terus dibiarkan maka itu akan membahayakan kamu. Kamu mau kan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang?" tanya Irgi sambil berbisik.
__ADS_1
Dinda hanya menggelengkan kepalanya dengan lirih.
"Kenapa Dinda? Mas pergi ingin melihat kamu sembuh,"ucap sambil menggenggam tangan Dinda.
Dinda hanya diam beberapa detik kemudian ia meneteskan air matanya.
"Ya sudah, kamu istirahat saja ya Jangan dipikirkan,"ucap Irgi.
Irgi merogoh celananya Karena ia merasakannya getaran handphonenya.
"Karen," lirih Irgi.
Irgi memberi kode kepada Nessa jika ia ingin mengangkat telepon tersebut. Kemudian ia keluar dari ruangan.
"Halo ada apa Keren?" tanya Irgi.
"Irgi kamu di mana?"tanya Karen dengan nada manja.
"Aku sedang berada di rumah sakit menjaga Dinda."
"Di rumah sakit? Dinda sakit lagi?"
"Iya, penyakit Dinda kambuh lagi."
"Oh baiklah kalau begitu aku ke sana saja untuk melihat keadaannya,"ucap Karen sambil mematikan sambungan teleponnya.
"Tung…"
Irgi tak jadi melanjutkan kata-katanya, karena sambungan teleponnya terputus.
Karena sekarang Irgi tahu jika Dinda punya perasaan cinta terhadapnya, dan Dinda cemburu jika Irgi bersama Karen.
Irgi coba menghubungi Karen kembali. Namun, teleponnya tak diangkat oleh Keren.
"Huh apa yang harus aku lakukan?" Guman Irgi.
Karena keadaan Dinda yang begitu mengkhawatirkan Irgi menjadi dilema.
'Apa aku harus melanjutkan pernikahan ku dengan Karen? Jika aku melanjutkan pernikahan itu itu berarti aku semakin melukai Dinda. Jika aku memutuskan hubungan dengan Keren, maka itu akan menyakiti Keren, huh apa yang harus aku lakukan, Bagaimana caranya agar salah satu dari mereka tidak terluka,' batin Irgi.
Irgi masih berada di luar ruang perawatan Dinda, ia duduk di kursi tunggu.
Irgi mencondongkan sedikit tubuhnya dengan siku bertumpu pada lutut.
Jarinya bergerak tak beraturan, sementara otaknya mencari solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi.
Nessa keluar dan ikut mendaratkan bokongnya di samping Irgi.
"Kamu mikirin apa sih kok kayaknya gelisah banget ?"tanya Nessa.
"Ah nggak papa kok."
"Udah lagi kamu nggak usah bohong sama aku, kamu tuh keliatan lagi khawatir, lagi gelisah, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"tanya Nessa.
Irgi hanya diam mendengar pertanyaan saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Gi lo nggak percaya sama gue? Selama ini kalau ada apa-apa kan kita saling sharing, lu mau cerita sama siapa lagi kalau bukan sama gua," tutur Nessa.
"Aku bingung aja Ness, "
"Bingung kenapa Gi?"
"Aku bingung antara menjaga perasaan Dinda dan menjaga perasaan Karen,"sahut Irgi.
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu harus bingung menjaga perasaan Dinda dan menjaga perasaan Keren?" tanya Nessa.
"Karena Dinda punya perasaan cinta terhadap aku Nes,
dan dia merasa cemburu ketika aku bersama Karen,"tutur Irgi lirih.
Nessa sedikit kaget mendengar penuturan Irgi itu.
"Jadi kamu sudah tahu Gi?" tanya Neasa.
Bukannya menjawab Irgi malah memicingkan bola matanya ke arah Nessa.
"Berarti kamu sudah lebih duluan tahu?"tanya Irgi balik.
Nessa mengangguk lirih.
Irgi menghela nafas panjang.
"Aku jadi bingung harus bagaimana? " gumam Irgi.
"Sekarang kamu tanya dalam hati kamu Gi, Siapa yang lebih kamu sayangi dan lebih kamu cintai.," Ucap Nessa.
"
"Dalam hidup memang selalu ada pilihan, meski sebenarnya kita berat untuk memilih salah satu dari pilihan itu." Imbuhnya lagi.
"Semua keputusan ada di tangan kamu Gi, sebenarnya aku sudah beberapa hari mengetahui jika ternyata Dinda benar-benar mencintai kamu dan berharap bisa memiliki kamu. Meskipun ia sadar jika itu tak mungkin. Aku rasa Karena itulah dia enggan untuk melakukan pengobatan, Dinda itu tersiksa dengan perasaannya, karena tak mungkin memiliki seseorang yang ia cintai, mungkin karena itu ia membiarkan penyakitnya tanpa ingin diobati, agar ia lepas dari tekanan dari perasaannya sendiri," tutur Nessa.
Irgi kembali menoleh ke arah Nessa, ditatapnya wajah Nessa.
"Apa menurutmu karena itu, Dinda tak mau melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang?" tanya Irgi.
"Sepertinya begitu,"Sahut Nessa.
Wajah Irgi kembali menegang. Iy
a kembali menunduk seraya meremas rambutnya.
"Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan Ness?" tanya Irgi, Ia seperti orang yang frustasi.
"Aku nggak tahu Gi, yang aku inginkan adalah yang terbaik untuk kamu, kalau bisa terbaik juga untuk Dinda. Sekarang aku tanya sama kamu, mana yang kamu pilih menyakiti Dinda atau menyakiti Karen?"tanya Nessa sambil menatap Irgi.
Lagi-lagi Irgi tak bisa menjawab pertanyaan itu, bukan karena ia mencintai Karen atau lebih mencintai Dinda, tapi karena Irgi tak tega menyakiti salah satu diantara mereka.
Tapi hidup memang harus memilih dan pilihlah Irgi adalah…
Hehe bersambung dulu ya gengs, maaf author belum bisa up banyak, karena harus bagi-bagi waktu antara real dan menulis .
__ADS_1