The Twins CEO

The Twins CEO
Tentang Sarah


__ADS_3

Sarah terbaring diatas best hospital matanya menatap pada Irgi yang sedang menghampirinya.


Ketika Irgi menghampirinya, Sarah justru memalingkan wajahnya.


"Kamu kenapa sih gitu banget sama mas Irgi?" tanya Irgi.


Tak hanya memalingkan wajahnya, Sarah membalikan tubuhnya membelakangi Irgi.


"Gak kenapa-napa," dengus Sarah.


Irgi hanya tersenyum sambil menghusap kepala Sarah.


"Ya sudah tidur,  mas Irgi gak akan gangguin kok," ucap Irgi sambil tertawa kecil.


Irgi tahu apa yang ada di pikiran Sarah saat itu.


Irgi naik diatas tempat tidur.


"Kalau berbagi tempat tidur, kamu gak keberatan kan?" tanya Irgi lagi.


Sarah hanya diam tak menjawab pertanyaan Irgi. Kemudian ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga kepala.


Irgi membaringkan tubuhnya, melihat tingkah Sarah seperti itu Irgi jadi berniat menggodanya.


Irgi memeluk pinggang ramping Sarah. Namun ditepis oleh Sarah.


Meski ditepis oleh Sarah, Irgi kembali melingkarkan tangannya di perut Sarah dan kembali di tepis lagi.


"Ish apa-apa sih, gerah tau," dengus Sarah.


Irgi tersenyum, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan kembali tertidur.


Sudah dua hari Sarah dirawat di rumah sakit dan keadaannya pun mulai membaik.


Dokter menyarankan Sarah untuk pulang. Kebetulan beberapa hari lagi Sarah akan ke pesantren untuk melanjutkan sekolahnya.


Di dalam mobil keduanya hanya diam. Tak ada seorang pun yang memulai obrolan, bukannya semakin mesra, Sarah justru semakin acuh terhadap Irgi, padahal sebelumnya mereka begitu akrab dan dekat.


Irgi membawa barang-barang Sarah selama di rumah sakit menuju kamar mereka.


"Sarah, karena keadaan kamu sudah mulai membaik, Mas Irgi berangkat kerja dulu ya, kamu istirahat saja di rumah," ucap Irgi.


Sarah hanya melirik ke arah Irgi sekilas, kemudian kembali membuang wajahnya.


Tanpa menghiraukan sikap Sarah tersebut, irgi keluar dari kamar kemudian menutup pintu kamar Sarah.


***


Keren  tiba di kantor Irgi pada pukul 08.00 pagi, ia tahu jika sudah dua minggu Irgi kehilangan istrinya.


Keren pun bermaksud mengucapkan bela sungkawa kepada Irgi, tentu dengan maksud lainnya juga.


"Selamat pagi, bisa bertemu dengan Pak Irgi?" tanya Karen pada Sherly.


"Maaf pak Irgi sudah dua hari tak datang ke kantor," jawab Sherly dengan judes.


"Oh ya Memangnya ada apa?" tanya keren.


"Saya tidak tahu juga Mbak."


"Ya sudah, kalau begitu saya tunggu saja ya dalam ruangan Pak Irgi."


"Maaf mbak tidak bisa, jika anda ingin menunggu, silahkan saja menunggu di luar," ucap Sherly dengan ketus.


"Ya saya akan tunggu," jawab Keren.


Karen duduk di bangku tunggu di dekat meja sekretaris, sambil menunggu ia  mencoba untuk menghubungi Irgi. Namun tak di angkat.


Sherly menatap sinis ke arah Keren, dia tahu jika Karen ingin mendekati duda ganteng yang masih hangat itu.


Begitupun dengan Keren yang juga menatap sinis ke arah Sherly, karena ia yakin jika Sherly memiliki peluang besar untuk mendapatkan Irgi, karena mereka berdua akan sering bertemu.


Perang dingin pun tak terelakkan antara mereka.


Keduanya saling melirik dengan sinis.


***


Setelah mengantar Sarah Irgi bermaksud untuk kembali ke kantor, sudah dua minggu sejak kematian Dinda. Irgi pun bermaksud untuk singgah ke pemakaman Dinda dan kedua orang tua angkatnya.


Setelah berdoa di makam kedua orang tua angkatnya, irgi menghampiri kuburan Dinda yang masih basah.


Tak terasa bulir  bening menetes di pipi  Irgi, ia masih tak percaya jika jasad yang terbaring di dalam liang lahat itu adalah istrinya.


Hanya doa-doa yang bisa diberikan, semoga almarhumah agar  tenang di alamnya.


'Mas Irgi nggak tahu Dinda, apa bisa mendidik Sarah, sepertinya Sarah terpaksa menerima pernikahan ini. Namun, mas Irgi  akan mencoba sebisa mungkin untuk bersabar sampai sarah  siap menjadi istri mas Irgi sepenuhnya.'batin Irgi.


Irgi mengungkapkan perasaannya sambil menabur bunga di makam Dinda. Meski ia sadar Dinda tak akan mendengarkan ceritanya.


Setelah dari pemakaman Irgi kembali ke kantornya.

__ADS_1


Tiba di kantor, Irgi dihadang oleh Sherly sang sekretaris.


"Maaf pak, ada seorang wanita yang sedang menunggu Anda," ucap Sherly dengan wajah sinis.


"Siapa?"  tanya Irgi Sambil melirik ke arah samping.


Karen tersenyum sambil menghampiri Irgi.


Irgi bisa kita bicara empat mata tanya keren.


"Baiklah silakan masuk ke ruanganku," ucap Irgi.


Mendapat lampu hijau itu, Keren tersenyum sambil melirik Sementara Sherly juga membuang wajahnya.


Keduanya pun masuk ke dalam ruangan secara hampir bersamaan.


"Ada apa Karen?" tanya Irgi.


" Sudah lama kita tidak bertemu, aku hanya ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Dinda," ucap Karen.


"Terima kasih," jawab Irgi  lirih.


"Kalau begitu silahkan duduk." Irgi mempersilakan 


"Ada hal penting lainnya yang ingin kau sampaikan?" tanya Irgi.


Keren tersenyum.


"Irgi,  Aku tahu ini terlalu cepat, kamu baru saja kehilangan istrimu dua minggu yang lalu. Aku datang untuk menanyakan tentang hubungan kita," ucap Keren sambil menatap lekat ke arah Irgi.


Irgi menghempaskan nafas kasarnya.


"Hubungan kita sudah berakhir keren, dan sekarang aku juga sudah kembali menikahi Sarah, adiknya Dinda untuk menjalani amanah dari Dinda," ucap Irgi.


Seketika Karen membelalakkan bola matanya.


"Apa? Lalu Bagaimana denganku?" tanya keren dengan bulir  bening menetes di pipinya.


"Maaf Keren, aku pikir kita tak ada lagi hubungan apa-apa."


"Tidak ada hubungan apa-apa katamu?!  aku menunggumu selama ini Irgi, tidakkah kau peduli sedikitpun tentang perasaan ku," ucap Karen dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Maaf Karen, sebaiknya jangan mengharapkan aku lagi, aku sudah menikah, sebaiknya kau cari pria yang benar-benar mencintaimu."


"Tapi tak segampang itu Irgi, aku gak bisa melupakan kamu, sampai sekarang pun aku masih berharap sama kamu."


"Tapi Keren, kita gak akan mungkin memaksakan jodoh jika memang tidak berjodoh, lebih baik kamu terima keadaan dan belajarlah membuka lembaran baru dalam hidup kamu, pasti kamu akan temukan seorang pria yang akan mencintaimu kamu dengan tulus. Jangan memaksakan sesuatu, karena sesuatu yang dipaksakan akan berakhir tidak baik," ucap Irgi menasehati Karen, sekaligus menasehati dirinya sendiri.


" Aku permisi dulu," ucapnya dengan ketus.


Gadis itu  membuka pintu dengan sangat kasar kemudian membantingnya.


 Irgi menatap kepergian Keren sambil menggelengkan kepala karena kaget.


Sherly yang melihat Karen keluar dengan wajah yang merah, seketika tersenyum "Satu saingan sudah tersingkir," gumam Sherly.


"Sekarang giliran aku untuk mencoba mendekati pak Irgi,sebelum beliau kembali menikah," gumam Sherly.


***


Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, sesampainya di rumah Irgi langsung menuju kamarnya.


Saat itu dia melihat Sarah tengah membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper.


"Sarah, kamu mau ke mana?" tanya Irgi.


"Mau pulang ke pesantren," jawab Sarah.


"Pulang, bukannya masih ada libur beberapa hari lagi?" tanya Irgi.


Sarah tak menjawab, kemudian ia mengunci koper miliknya itu, setelah itu ia keluar kamar.


Irgi menatap punggung Sarah yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Benar-benar aneh tuh anak," dengus Irgi.


***


Keesokan harinya Sarah meminta Irgi untuk mengantarnya ke pesantren.


Selama di perjalanan tak ada obrolan di antara mereka, keduanya justru tampak seperti orang asing.


3 jam perjalanan, Mereka pun tiba di kawasan pesantren.


Sarah pun turun dari mobil.


"Sarah turun dulu mas," ucap Sarah sambil meraih telapak tangan Irgi kemudian menciumnya.


"Iya hati-hati, kamu harus sering-sering beritahu Mas tentang kabar kamu," ucap Irgi.


"Iya Mas."

__ADS_1


Sarah turun dari mobil dan langsung 


 masuk ke dalam asrama. Setelah mengantar Sarah, Irgi pun pulang dan kembali ke kantornya.


***


Seminggu sudah kepergian Sarah dari rumah itu, sebenarnya saat ini Sarah tinggal menjalani ujian akhir kelulusan. Setelah ujian itu, dia pun diperbolehkan untuk pulang. Namun setelah tiga minggu Sarah berada di pesantren, Sarah  juga belum meminta Irgi untuk menjemputnya.


Komunikasi Mereka pun terjalin hanya lewat pesan singkat, itupun hanya menanyakan kabar. Sedangkan Sarah sepertinya enggan mengangkat telepon dari Irgi.


Hal ini membuat Irgi semakin bingung menghadapi istri kecilnya itu. 


***


Sarah berada di asramanya sedang menatap dirinya di cermin rias. Kamar yang biasa ditempati 6 orang dan selalu ramai, kini terasa sunyi karena para santriwati lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing.


Suara gedoran pintu terdengar di depan pintu kamar Sarah, Sarah bergegas membuka pintu.


"Umi," ucap Sarah  ketika pintu terbuka lebar.


"Sarah," Umi boleh masuk Nak?"  tanya umi Nisa.


"Boleh Umi," jawab Sarah.


Keduanya pun duduk di bangku yang terbuat dari kayu.


"Sarah Kamu nggak pulang?"tanya Umi.


"Saya masih ingin di sini saja Umi, masih ingin belajar agama."


"Bukannya kamu sudah punya suami Sarah?"tanya Umi.


Sarah mengangguk lirih.


"Sarah kamu sudah dewasa, sudah belajar tentang agama. Kamu tahu sendiri kan dosa, seorang Istri yang meninggalkan kewajibannya terhadap suami?"tanya Umi.


Sarah langsung tertunduk sambil meneteskan air matanya.


"Sarah, kasihan suami kamu, Sudah berapa lama kamu tinggalkan. Umi ngerti sulit bagi kamu untuk menerima mantan suami kakakmu, tapi ketika kamu sudah bersedia untuk menikahinya, maka kamu sudah menanggung kewajiban yang harus kamu jalankan. Sebagai seorang istri kamu wajib melayani suami kamu, meskipun belum ada rasa cinta di hati kamu. Cinta nantinya akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dulu umi dan abi juga tidak saling mencintai, bahkan kami dijodohkan oleh orang tua kami. Dan Alhamdulillah sampai sekarang umi bahagia hidup bersama Abi. Yang terpenting kamu buka hati kamu untuk menerima keadaan."


Sarah semakin menundukkan wajahnya.


"Ayo Nak, dicoba dulu. Kamu praktekkan apa yang kamu pelajari dari sini, cobalah untuk ikhlas Insya Allah, kamu akan merasakan kebahagiaan dalam hidupmu," bujuk umi sambil mengusap punggung Sarah.


Seketika tangis Sarah pecah di pelukan umi.


"Tapi Sarah belum siap Umi,hiks." 


"Siap nggak siap,kamu harus siap. Ayolah Sarah, kamu pulang telepon suami kamu sekarang, jalankan kewajiban kamu dan jadilah istri yang sholehah," bujuk Umi lagi.


Umi membiarkan Sarah menangis, setelah beberapa saat keadaan Sarah pun mulai tenang, ia kembali membujuk Sarah.


"Ayo Nak, telepon suami kamu suruh dia menjemput kamu," ucap Umi sambil mengusap kepala Sarah


"Hiks iya Ummi," jawab Sarah.


***


Setelah diberi pengarahan oleh Umi, Sarah kemudian menghubungi Irgi. Saat itu juga ia meminta Irgi untuk menjemputnya.


Sambil menunggu jemputan Irgi, Sarah berberes di kamarnya ditemani oleh Umi.


Sambil menunggu jemputan, umi  mengajari Sarah Bagaimana cara berbakti pada suami, bagaimana caranya menjadi istri yang baik. Umi pun menjabarkan keutamaan keutamaan untuk menjadi istri yang sholehah. Sedikit demi sedikit Sarah mulai terpengaruh oleh nasehat Umi.


5 jam berikutnya mobil Irgi  tiba di kawasan pesantren.


Irgi menunggu di sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuk tamu.


Umi sendiri yang mengantar Sarah ke ruangan dimana Irgi telah menunggunya.


Irgi tersenyum ketika melihat Sarah yang kini tiba di hadapannya.


"Ayo Sarah kita pulang,"ajak Irgi.


"Iya Mas," jawab Sarah.


"Umi Sarah pulang ya, Terima kasih atas apa yang sudah Umi berikan pada Sarah selama ini. Sarah seperti memiliki ibu saat bersama Umi," ucap Sarah sambil memeluk Umi.


Sarah terharu sekaligus sedih  karena hari ini  hari terakhirnya di pesantren, setelah 3 tahun tinggal dia tinggal di pesantren tersebut.


"Iya nak pulanglah, bukannya Umi ingin mengusir, tapi kamu sudah punya kewajiban lain sebagai seorang istri. Tempat terbaikmu adalah di rumah suamimu, jadilah istri yang baik dan berbakti untuk suamimu, karena istri yang sholehah akan diganjar surga oleh Allah subhanahu wa ta'ala," ucap umi.


"Hiks Insya Allah Umi," balas Sarah sambil menangis. Keduanya pun saling memeluk kembali, sebelum akhirnya Sarah pulang bersama Irgi.


***


Sarah dan Irgi berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


Selama di perjalanan, Sarah memantapkan hatinya untuk menjadi istri yang berbakti pada suaminya seperti ajaran agama yang dipelajarinya di pesantren.


Lalu bagaimana malam pertama mereka 😁

__ADS_1


Bersambung dulu gengs. Maaf author up lama. 🙏😁


__ADS_2