
Nessa kembali melipat kertas itu kemudian keluar dari kamar Dinda.
Ia tak lagi menemui Irgi, tapi langsung masuk ke dalam kamarnya.
Untuk memastikan penglihatannya tidak lagi salah, Nessa kembali membuka kertas itu dan membacanya.
Mulut Nessa komat-kamit membaca tulisan tangan Dinda.
"Apa? jadi ternyata Dinda mencintai Irgi?" gumam Nessa.
Sejenak Nessa terdiam dengan detak jantung yang berdetak cepat.
Sebagai saudara tentu saja Nessa ikut prihatin terhadap perasaan Dinda.
"Bagaimana ini? Kenapa bisa Dinda jatuh cinta pada Irgi," gumam Nessa.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus memberitahu Irgi atau pura-pura tidak tahu saja? Aku kasihan pada Dinda, tapi aku juga kasihan pada Irgi.
"Irgi sangat menyayangi Dinda, seperti adiknya sendiri. Apalagi Dinda saat ini sedang sakit, meskipun Irgi tidak mencintai Dinda dia pasti akan melakukan apa saja untuk Dinda," gumam Nessa
Nessa benar-benar berada dalam dilema besar, satu sisi ia memikirkan Dinda yang sedang sakit, sisi lainnya Nessa juga memikirkan Irgi. Sejak dulu Irgi selalu berkorban untuk Dinda dan Sarah, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Sebagai saudara kembar Nessa tak ingin Irgi menerima Dinda hanya karena Dinda sakit dan mengabaikan perasaan Irgi sendiri.
"Tentunya akan sangat sulit bagi Irgi mencintai seseorang yang ia anggap sebagai saudaranya,"guman Nessa sambil mondar-mandir di depan tempat tidurnya.
Ketika sedang dilanda kebingungan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
Pintu diketuk dari arah luar.
"Siapa?!" tanya Nessa.
"Aku Nes," sahut Irgi.
"Masuk saja, nggak dikunci kok!"
Nessa buru-buru menyembunyikan kertas tulisan Dinda.
"Kamu lagi ngapain Ness, aku nungguin loh di meja makan, 'kan aku belum selesai cerita udah kamu tinggalin," dengus Irgi sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur Nessa.
"Oh iya aku lupa."
"Kamu mau cerita apa Gi,"ucap Nessa sambil berbaring memeluk bantal gulingnya.
"Aku mau cerita tentang Dinda."
"Tentang Dinda, kenapa?"tanya Nessa.
"Dinda gak bisa menjalani kemoterapi lagi," cetus Irgi sambil menoleh ke arah Nessa.
"Loh kenapa?!" tanya Nessa sambil bangkit.
"Sel kankernya menolak obat kemoterapi itu, dan justru sel kanker itu berkembang lebih cepat dan mulai kebal terhadap obat kemoterapi yang diberikan " ucap Irgi sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Hah? Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Dinda?" tanya Nessa.
"Jalan satu-satunya hanya transplantasi sumsum tulang belakang," ucap Irgi.
"Transplantasi?" Nessa mengulang pertanyaan itu.
"Saat ini keadan Dinda bukannya semakin membaik, justru semakin meresahkan akibat kemoterapi yang resisten, sel kankernya justru bertumbuh lebih cepat, harapan Dinda untuk sembuh jadi semakin kecil," ucap Irgi sambil meneteskan air matanya.
"Awalnya dokter memprediksi jika umur Dinda paling lama 5 tahun lagi. Namun, setelah diperiksa kembali, harapan hidup Dinda hanya kurang satu tahun lagi, karena kankernya semakin ganas,"ucap Irgi sambil menangis.
Irgi menutup wajahnya dengan telapak tangan untuk menyembunyikan kesedihannya.
Mendengar hal itu Nessa tak hanya kaget, tapi juga sedih. Baginya saudara Irgi adalah saudaranya juga.
Nessa memeluk Irgi Ia pun ikut menangis bersama Irgi.
'Kasihan sekali Dinda, apa aku beritahu saja ya tentang perasaan Dinda pada Irgi, tapi jika ternyata Irgi tak punya perasaan yang sama terhadap Dinda,aku juga kasihan pada Irgi. Irgi pasti akan terbebani dengan perasaan cinta Dinda, sungguh saat ini aku benar-benar dalam dilema,' batin Nessa.
Setelah agak tenang Nessa melepas pelukannya.
"Sepertinya aku harus memberitahu hal ini pada Nathan, menurut dokter kecocokan sumsum tulang saudara kandung itu lebih besar daripada orang tua atau anak, dan aku rasa hanya Nathan yang bisa membantu kesembuhan Dinda," ucap Irgi.
"Kurasa begitu Gi, kalau begitu secepatnya saja kita bicarakan pada Nathan dan keluarga kita."
"Baiklah besok aku akan bicarakan pada Nathan terlebih dahulu," ucap Irgi.
Keesokan harinya.
Tok tok tok
"Din Kak Nessa boleh masuk gak?" tanya Nessa dari luar pintu.
Tak lama kemudian terdengar orang melangkah mendekati pintu Kemudian pintu terbuka.
Bola mata Nessa berkaca-kaca ketika melihat Dinda yang melepas kerudungnya. Kepala Dinda yang botak mulai ditumbuhi rambut, sementara bibir dan wajahnya juga terkupas-kupas.
Dinda merasa malu pada Nessa karena ia tahu Nessa pasti membaca kertas yang ia lempar semalam.
"Din Bisa kita bicara sebentar? tanya Nessa.
"Tentu kak," jawab Dinda.
Nessa kemudian menutup kembali pintu tersebut.
Mereka berdua mendaratkan bokong secara hampir bersamaan di atas tempat tidur.
Lagi-lagi wajah Dinda tertunduk.
"Din seberapa besar perasaan kamu sama Irgi?" tanya Nessa langsung tanpa basa-basi.
Tentu saja Dinda tidak terkejut mendengar pertanyaan dari Nessa, ia tahu jika kedatangan Nessa untuk menanyakan hal itu.
Dinda lalu menghapus bulir bening yang menetes di pipinya.
__ADS_1
"Itu hanya perasaanku kak, aku juga nggak berharap Mas Irgi mempunyai perasaan yang sama terhadapku," tutur Dinda dengan sedih.
Nessa menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya.
"Saat mengetahui hal ini saja Kak Nessa jadi bingung Din,"cetus Nessa
"Bingung kenapa Kak?" tanya Dinda.
"Bingung, kak Nessa harus bagaimana, satu sisi kamu pasti sakit jika menahan perasaan kamu, di sisi lainnya kamu juga takut 'kan, jika ternyata Irgi tahu tentang perasaanmu terhadapnya, ia justru malah kecewa."
Dinda kembali meneteskan air matanya. "Kalau begitu Jangan beritahu pada siapa pun Kak, biar saja aku pendam perasaan ini sampai mati,"tutur Dinda lirih.
Nessa kembali menarik napas panjang.
"Kak Nessa nggak ngerti Din soal cinta, Kak Nessa juga bingung harus bagaimana caranya membantu kamu."
"Aku Ngak apa-apa kak, aku sadar kok,aku sudah jadi beban mas Irgi sejak dulu, dan aku tak ingin jadi beban mas Irgi lagi, aku gak apa-apa," tutur Dinda lirih.
Bruk …tiba-tiba saja pintu kamar dibuka oleh Irgi.
Keduanya tampak kaget dengan kedatangan Irgi yang tiba-tiba.
"Eh ternyata kamu ada di sini Ness," cetus Irgi.
"Din kamu sudah minum obat ?" tanya Irgi sambil berjalan menghampiri mereka.
Dinda hanya diam sambil menundukkan wajahnya yang terlihat sedih.
"Kalian kenapa sih kok sepertinya kaget begitu?"
"Nggak apa kok, Aku cuma mau ajak Dinda sarapan bersama, ayo Din, kita turun sarapan," ajak Nessa.
"Nggak kak, aku sarapan di sini saja."
"Loh kenapa ?"
"Aku malu Kak karena keadaanku seperti ini," ucap Dinda lirih.
"Nggak apa kok Din, nggak ada siapa-siapa, paling aku, Irgi,mommy dan daddy saja."
"Ngak kak, keadaanku terlihat begitu menjijikan," ucap Dinda lirih.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu sih, kulit kamu hanya terkupas kupas akibat obat kemo kemarin," cetus Nessa.
"Ayo Din!" Ajak Nessa lagi.
"Iya Kak, Dinda pakai kerudung dulu," akhirnya Dinda pun mengalah, Dinda sambil memakai kerudung nya sebelum mereka semua pergi menuju meja makan.
Mereka bertiga turun untuk sarapan.
Setelah sarapan, Irgi dan Nessa pergi bersama. Rencananya mereka hendak memberitahu kepada Nathan tentang rencana donor sumsum tulang belakang untuk Dinda.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1