
Waktu terus berlalu pernikahan Irgi dan Sarah sudah berjalan tiga bulan, keduanya pun semakin tampak lengket dan mesra.
Setiap harinya Sarah selalu ikut suaminya ke kantor, bahkan Irgi sudah menyediakan sofa empuk yang bisa digunakan untuk beristirahat dan bercinta sewaktu-waktu mereka menginginkannya di ruangan kantornya.
Seperti biasanya, setiap akan ke kantor Sarah selalu menyiapkan pakaian untuk Irgi ke kantor, begitupun dengan hari ini ketika Sarah menyimpul dasi suaminya.
"Mas, nanti di kantor aku pengen banget makan asinan buah, Uh ngebayangin saja aku sudah ngiler," ucap Sarah sambil menelan ludahnya yang terasa mengembang.
"Mau asinan buah, sini cium dulu biar gak ngiler lagi," ucap Irgi sambil mendaratkan kecupan di bibir Sarah.
"Ehm Mas." Sarah berusaha menghindari ciuman Irgi. Dicium seperti itu membuatnya merasa mual.
"Udah Mas! aku mual," ucap Sarah seraya berlari ke kamar mandi.
Irgi kaget karena biasanya Sarah tak pernah menolak dicium olehnya, bahkan selalu membalas dengan lebih gila.
Sesampainya kamar mandi Sarah langsung muntah muntah.
Uek
Irgi menatap heran ke arah Sarah yang berlari ke kamar mandi.
"Sarah Kenapa sih? Apa mulutku bau ya?"gumam Irgi sambil menghembuskan nafasnya pada telapak tangan.
"Ih masih segar," cetus Irgi yang mencium nafasnya yang beraroma Mint.
Karena khawatir pada Sarah, Irgi menghampirinya ke kamar mandi.
Uek uek uek Sarah masih saja muntah, meski hanya air yang dimuntahkan olehnya.
"Sarah kamu kenapa Sayang?' tanya Irgi sambil memijit tengkuk Sarah.
"Nggak tahu Mas Sarah tiba-tiba merasa mual saja, pengen muntah.
Uek uek, Sarah terus saja muntah-muntah meski tak ada lagi yang di muntahkannya.
Setelah selesai membersihkan wajahnya dengan air mengalir yang ada di wastafel.
Saat itu ia baru menyadari jika wajahnya terlihat pucat.
"Muka ku kenapa jadi pucat gini?"gumann sarah dengan panik
"Sarah, kamu kenapa?" tanya Irgi ketika melihat raut wajah Sarah yang berubah di pantulan cermin.
"Mas wajahku pucat ya?" tanya Sarah sambil menepuk pipinya .
Irgi memperhatikan wajah Sarah pada pantulan cermin.
"Iya sayang,tapi itu mungkin kamu kurang istirahat atau kurang darah saja," ucap Irgi.
Sarah tertunduk lesu mendengar ucapan Irgi tersebut.
"Sarah kamu kenapa kok kelihatan sedih?" tanya Irgi lagi .
Sarah semakin menundukkan wajahnya untuk menutupi kesedihan yang ia rasakan saat itu.
"Sarah, kamu kenapa ?" tanya Irgi dengan lemah lembut.
"Sarah takut Mas," ucap Sarah lirih.
"Takut kenapa Sayang?"
"Aku takut punya penyakit yang sama seperti Mbak Dinda dan ibu, wajah mereka juga pucat dan mereka sering merasa mual," sahut Sarah.
Mendengar itu, Irgi juga ikut khawatir karena dia sudah pernah kehilangan dua orang yang dicintai dan sayangi karena penyakit ganas itu. Namun Irgi mencoba untuk berfikir positif.
"Nggak lah sayang, selama ini kan kamu baik-baik saja.Ngak usah berpikiran yang macam-macam ya.
"Iya Mas,aku jadi parno sendiri," gumam Sarah.
"Bagaimana jika kita memeriksakan kondisi kamu di rumah sakit. Dari sana kita akan tahu penyebab wajahmu yang pucat, apa karena kamu hanya kurang darah atau karena terlalu lelah," usul Irgi.
"Iya Mas, Aku nggak mau mati terlalu cepat mas, aku masih ingin hidup lebih lama bersama kamu," ucap Sarah dengan nada manja.
"Iya sayang, mas Irgi tahu, Karena itulah kita harus segera memeriksakan kondisi kamu."
"Iya Mas."
"Sudah nggak usah panik ya, paling juga itu kamu kelelahan."
"Nanti setelah periksa, mas antar kamu pulang ke rumah biar kamu istirahat di rumah saja."
"Nggak mau lah, Aku mau temani kamu sampai kamu pulang dari kantor."
"Iya terserah kamu saja," sahut Irgi.
Mereka keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
"Mas, apapun hasil pemeriksaan Tolong jangan beritahu Mommy dan Daddy ya Mas. Mereka pasti mengkhawatirkan aku."
"Iya tenang saja. Mas yakin sekali kamu hanya kelelahan karena setiap hari harus begadang melayani Mas," cetus Irgi.
"Enggak lah Mas, melayani seperti itu sih nggak bikin capek, justru bikin aku semangat dan seger,," cetus Sarah sambil tersenyum mesum.
"Ehm dasar," ucap Irgi sambil mencubit pipi Sarah.
__ADS_1
"Hm, Hm Pengantin baru lengket terus seperti perangko!" Ejek Nessa yang ada di belakang mereka.
"Biarin, nanti juga kalau kamu menikah seperti itu," sahut Irgi.
"Ah tapi gak akan seperti kalian berdua, kemana selalu bersama," dengus Nessa sambil melewati mereka berdua.
Nessa sengaja memisahkan Irgi dan Sarah dengan lewat diantara mereka.
"Ih mbak Nessa kenapa?" tanya Sarah.
"Biasa jealous, sejak mas Irgi nikah, kan gak ada yang manja-manjain dia, gak ada yang gendong-gendong dia," cetus Irgi.
"Ih siapa yang jealous, aku juga sudah punya Ayank," sahut Nessa sambil menuruni anak tangga.
Mereka bertiga pun turun dari tangan secara bersamaan.
"Mas, kamu sudah bilang sama Mommy tentang rencana kepindahan kita?" tanya Sarah.
"Oh iya belum, mas sampai lupa, habisnya mommy dan Daddy jarang di rumah sih."
"Kalau gitu kasih tau saja Mas," ucap Sarah.
"Iya, eh tapi kamu masih mual gak?"
'Sepertinya gak lagi."
"Ya sudah mungkin tadi itu masuk angin."
"**
Irgi menarik kursi untuk sarah kemudian ia duduk di samping Sarah di meja makan..
"Selamat pagi Mommy selamat pagi Daddy," ucap mereka bertiga secara bersamaan.
"Selamat pagi juga," balas Yura dan Leon.
Ketika duduk Sarah kembali merasakan perutnya yang bergejolak. Namun ia berusaha untuk menahannya karena mereka berada di meja makan.
Sambil mengunyah roti,Irgi menyatakan maksudnya.
"Mommy, rencananya aku dan Sarah mau pindah ke rumah kami yang baru jika rumah itu selesai di renovasi," ucap Irgi.
"Emang kapan kalian beli rumah? Kok gak kasih tahu mommy?" tanya Yura.
"Sebulan yang lalu, habis mommy gak ada di rumah, jadi baru sempat bilang." jawab Irgi
"Loh kok secepat itu kalian pindahnya, trus mommy tinggal sama siapa di rumah ini?" tanya Yura
"Kan masih ada Nessa, mommy," sahut Irgi.
"Ih aku juga mau pindah loh," cetus Nessa.
" Nessa dan Farel berencana tinggal di ruko mommy, kan Farel bikin usaha bengkel, jadi kami memutuskan untuk membangun rumah impian kami itu di ruko itu," sahut Nessa.
'Ya, kalau semuanya pindah, rumah ini sepi dong," dengus Yura.
"Iya mommy, aku dan Farel berencana akan membangun impian kami dengan konsep rumah minimalis, gak seperti ini rumah yang besar tapi gak ada orangnya."
"Iya terserah kamu saja," ucap Yura setengah merajuk.
"Biarkan saja mommy,Daddy setuju kok, biar mereka membangun sendiri rumah idaman mereka dan rumah kita akan jadi tempat pertemuan anak cucu kita nantinya, rumah ini gak akan sepi kok justru akan semakin rame," ucap Leon.
"Iya anak Sheon ada dua, Nathan tiga, belum anak Irgi dan Nessa," ucap Yura sambil menghitung dengan jarinya.
Sarah sedari tadi hanya diam itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di sekitar dapur.
Melihat istrinya seperti itu Irgi langsung berlari mengejar Sarah.
Uek uek.
Lagi-lagi Sarah muntah muntah di kamar mandi.
Leon dan Yura saling melempar senyum.
"Baru saja di omongin," cetus Yura.
"Emang kenapa Mommy?"tanya Nessa.
"Ehm, sepertinya tak lama lagi akan ada anggota baru di rumah ini," ucap Yura.
"Maksud mommy, Sarah hamil?"
"Sepertinya begitu," sahut Yura.
"Yah! Irgi selalu saja selangkah dari aku," dengus Nessa.
***
Setelah puas memuntahkan isi perutnya,Sarah terkulai lemas ia pun bersandar pada dinding kamar mandi.
"Ya Allah, perutku sakit sekali," gumam Sarah.
Melihat istrinya yang terlihat lemas, Irgi kembali panik.
"Sarah ayo kita kerumah sakit saja, kalau seperti ini gak bisa dibiarkan," ucap Irgi sambil menggendong tubuh Sarah.
__ADS_1
Irgi menggendong Sarah keluar dari kamar mandi
Melihat itu Yura, Leon dan Nessa ikut berdiri.
"Sarah Kenapa Gi?" tanya Yura.
"Gak tahu mommy! Irgi mau bawa kerumah sakit saja," ucap Irgi.
Pak Nanang langsung membuka pintu mobil yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk Irgi ke kantor .
Sarah pun dibawa masuk ke dalam mobil.
"Ayo jalan pak!" perintah Irgi.
Di dalam mobil Sarah menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas tak bertenaga.
Sementara detak jantung Irgi sudah tak beraturan karena khawatir terjadi sesuatu pada istri.
Irgi jadi lebih banyak diam sambil berdoa dalam hati.
Sementara Leon, Yura dan Nessa menyusul dengan mobil lainnya.
Setibanya di rumah sakit, Irgi kembali mengangkat tubuh Sarah yang masih lemas menuju ruang IGD.
Sarah langsung mendapatkan penanganan di ruang UGD.
Leon, Yura dan Nessa masih berada di luar ruang UGD menunggu hasil pemeriksaan Sarah.
Sementara Irgi masih terus bersama Sarah di ruang UGD.
Ketika sudah diberikan pertolongan pertama, Sarah langsung dibawa ke ruang perawatan.
Irgi, Yura, Nessa dan Leon mengikuti hospital bed yang membawa Sarah.
"Irgi apa kata dokter, Sarah sakit apa?"tanya Yura, ada rasa khawatir dalam diri mereka tentang keadaan Sarah.
"Belum tahu Mommy,masih menunggu hasil pemeriksaan," ucap Irgi.
"Iya yang sabar ya Irgi," ucap Yura sambil menepuk putranya yang terlihat khawatir.
"Iya mommy,semoga saja apa yang ku takutkan tak terjadi," gumam Irgi.
"Iya Nak, berdoa saja."
Keempat orang itu hening, seketika perasaan mereka jadi khawatir.
"**
Setelah berada di ruang perawatan, Sarah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Seorang dokter datang untuk memeriksa Sarah.
Setelah diperiksa, Irgi menghampiri dokter .
"Istri saya sakit apa dokter?"tanya Irgi.
Dokter wanita itu justru tersenyum.
"Istri anda saat ini tengah hamil lima minggu, dan keadaan nya saat ini adalah normal untuk wanita yang hamil muda," ucap dokter tersebut.
"Jadi Sarah beneran hamil?"tanya Yura.
"Alhamdulillah," ucap Irgi sambil mengusap kepalanya.
"Iya Pak, tapi untuk saat ini biarkan pasien beristirahat, pasien mengalami dehidrasi akibat terlalu banyak memuntahkan cairan," ucap dokter itu.
"Iya dokter terima kasih," ucap Irgi.
"Sama-sama."
Yura,Nessa dan Leon langsung menghambur memeluk Irgi
"Selamat ya Gi, sebentar lagi kamu jadi ayah," ucap ketiganya dengan binar kebahagiaan.
"Iya terima kasih, Alhamdulillah bisa dikasih secepat ini," sahut Irgi.
"Ya iyalah, bikinnya setiap hari,wajar saja langsung jadi," dengus Nessa.
"Tau saja kamu, pasti ngintip ya?" tanya Irgi.
"Gak ngintip sih, suara desahnya sampai keteliga saja!"sahut Nessa.
"Bohong saja lu, kamar kita kedap suara kok."
"Sudah gak usah berdebat, yang penting sekarang keadaan Sarah baik-baik saja. Dan sebentar lagi keluarga kita akan bertambah satu orang lagi," cetus Yura.
"Dua dong mommy," sahut Nessa.
"Dua, satunya siapa?" tanya Irgi.
"Farel!"
"Ih kirain kamu mau bilang kalau anak aku kembar," sahut Irgi.
Bukannya membiarkan Sarah beristirahat seperti saran dokter,mereka terus saja ngobrol dan bercanda karena bahagia.
__ADS_1
Sarah membuka matanya karena keributan di ruangannya, ia pun tersenyum mendengarkan kabar bahagia itu.
'Alhamdulillah, ternyata aku cuma ngidam,' batin Sarah sambil mengusap perutnya.