The Twins CEO

The Twins CEO
Buku Harian


__ADS_3

Malam hari ini, rumah keluarga Leon terlihat begitu ramai.


Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk membicarakan tentang operasi transplantasi untuk Dinda.


Dinda sendiri duduk di antara orang-orang itu, mereka semua duduk bersila di ruang keluarga.


Setelah ngobrol santai dan bercanda-canda antara sesama anggota keluarga, Leon memutuskan untuk bicara serius.


"Saat ini daddy mengundang kalian semua, karena Daddy ingin membicarakan tentang pengobatan salah satu anggota keluarga kita. Seperti yang kalian ketahui sendiri jika saat ini Dinda menderita leukimia dan saat ini sudah berada di stadium 2" ucap Leon.


Seketika mereka menoleh ke arah Dinda yang tengah meneteskan air mata.


"Saat ini Nathan telah menyetujui jika dia lah yang akan jadi pendonor bagi Dinda, karena Nathan memiliki istri, kita juga harus tanya pendapat istrinya," kata Yura.


"Bagaimana menurutmu Raisa, Apa kamu setuju, jika Nathan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Dinda? " tanya Yura pada Dinda.


"Setuju saja mommy, jika itu bisa mengobati Dinda," sahut Raisa.


"Syukurlah jika kamu mengizinkannya, mommy bertanya seperti itu, karena menjadi pendonor tulang sumsum juga memiliki resiko yang tak main-main."


"Iya mommy, sebelumnya saya dan Nathan juga sudah berkompromi kami juga sudah tanya pada dokter pribadi kami tentang prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang," jelas Raisa.


"Baguslah jika kalian sudah mengetahui resikonya, di sini tidak ada unsur pemaksaan. Sebagaimana yang kalian tahu, mommy selalu mengajarkan agar sesama saudara saling membantu," ucap Yura.


"Jika Raisa sudah setuju,  secepatnya saja kita lakukan pemeriksaan terhadap Nathan, saat ini organ dalam Dinda sudah mengalami masalah dan harus secepatnya dilakukan transplantasi, sebelum kerusakan hati dan limpa pada Dinda semakin parah,"sahut Irgi.


"Baiklah, aku siap kapan saja menjalaninya," ucap Nathan.


"Kalau begitu besok kita akan langsung uji laboratorium, karena Dinda juga akan menjalani pemeriksaan kembali.


Ketika mereka berdiskusi, Dinda hanya diam tanpa sepatah kata pun tatapannya menjadi kosong.


"Dinda, kenapa kamu diam saja ?" tanya Yura.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"tanya Yura yang menyadari Dinda sejak tadi hanya diam menunduk dan meneteskan air matanya..


Keadaan hening seketika, pandangan mereka tertuju pada Dinda yang sedang menghapus bulir bening yang menetes di pipinya.


"Sebenarnya Dinda nggak setuju jika kak Nathan mendonorkan sumsum tulang belakangnya," ucap Dinda dengan lirih.


"Loh kenapa begitu Dinda? Apa kamu tak ingin sembuh?" tanya Yura.


"Bukan begitu mommy, tapi mendonorkan sumsum tulang belakang juga ada resikonya, Dinda nggak mau terjadi sesuatu pada Kak Nathan."


"Tidak apa-apa kok dinda, sebagai saudara, tidak ada salahnya Kak Nathan mendonorkan sumsum tulang belakang untuk kamu," sahut Nathan  sambil mengusap punggung Dinda.


"Gak usah kak, Dinda sudah ikhlas, Dinda gak mau kak Nathan merasakan sakit, Dinda gak mau merepotkan kalian semua," tutur Dinda lirih.


Kemudian Dinda beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil menuju anak tangga.


Mereka semua heran melihat perubahan  sikap Dinda.


"Dinda!" teriak Irgi dan Nathan secara bersamaan.


Mereka hendak menyusul Dinda, namun ditahan oleh Yura.


"Biarkan saja, mungkin saat ini Dinda masih butuh waktu, mungkin Dinda tertekan dengan proses pengobatannya.Nanti biar mommy yang berbicara pada Dinda."


Mereka kembali membicarakan masalah pengobatan Dinda.


Setelah berbicara dengan anggota keluarganya, Yura meminta Nessa untuk menemui Dinda di kamarnya.


***

__ADS_1


Dinda tiba di kamar kemudian mengunci pintu. Tubuhnya berkeringat karena menahan sakit pada perut bagian kirinya yang ia rasakan sejak tadi..


Dinda berjalan tertatih ke arah tempat tidur sambil memegang perut bagian kirinya.


Sesampainya di tempat tidur, Dinda langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ia menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya. Matanya mengantuk, tapi ia tak bisa tertidur karena perasaan nyeri di bagian perutnya.


Suhu tubuhnya pun mendadak naik. Setiap malam Dinda memang sering mengalami demam tinggi. 


***


Tok tok tok


Yura tiba di kamar Dinda kemudian mengetuk pintu.


"Din mommy boleh masuk ya?" tanya Yura.


Dinda mendengar suara orang yang memanggilnya. Namun ia tak mampu untuk bangkit meski hanya sekedar membuka pintu dan menjawab panggilan Yura.


Tok tok tok


"Dinda!"panggil Yura kembali. Namun tak ada jawaban dari Dinda.


Setelah berkali-kali ia pun berhenti mengetuk pintu.


"Mungkin Dinda tertidur mom, maklum saja Dinda kan mengkonsumsi obat, Jadi mungkin dia berada dalam pengaruh obat hingga tidur nyenyak," ucap Nessa.


"Oh iya bener juga, besok sajalah kita bicarakan pada Dinda,"ucap Yura.


"Ya sudah kalau begitu Nessa kembali ke kamar Nessa ya Mom."


"Iya Nak."


***


Keesokan harinya Yura bermaksud melihat keadaan Dinda, karena malam sebelumnya ia tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan Dinda.


Pintu kembali digedor.


"Dinda! Dinda!"panggil Yura.


Setelah beberapa kali memanggil tak terdengar jawaban dari Dinda.


"Apa yang terjadi pada Dinda?" tanya Yura panik.


Yura kembali mengetuk pintu kamar Dinda  dengan lebih kencang, sambil memanggil-manggil namanya.


"Dinda!Dinda!" 


Panggilan dan gedoran pintu di kamar Dinda terdengar hingga di kamar Nessa dan Irgi.


Nessa dan Irgi buru-buru menghampiri kamar Dinda.


"Ada apa mommy?" tanya Irgi.


"Dinda, mommy panggil-panggil tapi  dia tidak menjawab, sudah dari semalam Dinda mengunci pintunya, mommy takut terjadi sesuatu padanya,"ucap Yura dengan nada panik.


"Kalau begitu kita dobrak saja pintunya, atau kita congkel saja handle pintunya," usul Irgi.


"Iya, sebaiknya begitu," sahut Yura


Irgi memanggil satpam untuk membantunya mencongkel pintu kamar Dinda.

__ADS_1


Saat itu Leon juga ada di depan kamar Dinda.


Setelah pintu berhasil dibuka mereka semua masuk dan menghampiri Dinda masih yang terbaring diatas tempat tidur dengan wajah yang pucat.


"Astaga Dinda!" seru Yura ketika melihat keadaan Dinda, tubuh Dinda terasa begitu hangat.


'Ayo kita bawa saja Dinda ke rumah sakit," titah Leon.


Mereka semua membawa Dinda ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, Dinda langsung mendapat penanganan langsung dari dokter yang menanganinya.


Kondisi Dinda saat itu tidak sadarkan diri.


"Bagaimana dokter tanya Leon."


"Sepertinya penyakit pasien semakin parah, saya melihat ada pembengkakan di bagian perut sebelah kiri, mungkin saja saat ini di limpa pasien mengalami pembengkakan akibat penyakit kanker yang dideritanya, untuk lebih jelasnya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," papar dokter itu.


"Hah?" Yura begitu kaget mendengar pernyataannya dokter tersebut.


"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter ?"tanya Yura lagi.


"Sebaiknya secepatnya dilakukan transplantasi sel punca, seperti yang sudah saya sarankan," jawab dokter itu.


'Baiklah Dokter terima kasih," ucap Yura.


Setelah memeriksa dan memberi obat dokter tersebut keluar dari ruangan.


Saat itu Dinda sudah sadar. Ia menatap ke arah Keempat orang yang sedang mengelilinginya.


"Dinda, kamu dokter bilang apa," ucap Yura.


"Segera mungkin kamu harus melakukan operasi transplantasi," imbuhnya.


"Tidak mommy, Biarkan saja Dinda seperti ini, Dinda sudah siap kok," jawab Dinda dengan lirih.


"Dinda jangan begitu, kamu harus semangat menjalani semua ini, Kamu mungkin akan sembuh dari penyakit yang kamu derita setelah dilakukan operasi transplantasi. Kamu nggak ingin sehat lagi? Kamu masih muda loh Dinda, kamu harus bisa sehat dan mengejar mimpi kamu menjadi dokter spesialis saraf seperti yang kamu inginkan," bujuk Yura.


"Iya mommy, tapi Dinda  gak mau sampai terjadi sesuatu pada kak Nathan,  kasihan anaknya masih kecil-kecil," papa Dinda dengan tatapan kosong ke arah depan.


"Tapi Dinda, jika penyakit kamu dibiarkan terus kamu akan semakin parah, mommy jadi khawatir terhadap kondisi kamu," tutur Yura.


"Iya Din, Nathan nggak keberatan sama sekali kok, dia  justru senang bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya kepada kamu," ucap Irgi.


"Gak kak, Dinda nggak mau. Cukup saja sudah Dinda yang menderita, jangan sampai Kak Nathan juga ikut menderita. Ingat kak Nathan juga memiliki resiko yang besar sama seperti Dinda. Dan Dinda nggak mau sampai hal itu terjadi,"tutur Dinda.


Setelah berupaya membujuk Dinda, Dinda tetap bersih kuku untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.


Mereka semua kan pun kehabisan cara untuk membujuk Dinda.


***


Karena rencananya hari ini Dinda akan menginap di rumah sakit lagi, Irgi menyempatkan diri untuk pulang ke rumah untuk membereskan pakaian Dinda.


Dibantu oleh salah satu asisten rumah tangganya, Irgi mempersiapkan kebutuhan Dinda selama di rumah sakit.


Irgi membuka lemari pakaian Dinda, untuk mengambil beberapa pakaiannya ketika menarik pakaian itu ia melihat sebuah buku terjatuh dan terbuka di atas lantai.


Irgi langsung meraih buku tersebut dan tak  melihat tulisan yang ada di buku.


Seketika bola mata Irgi membulat dengan sempurna dengan jantung yang berdetak kencang, setelah ia membaca beberapa baris tulisan tangan Dinda yang ada di buku harian tersebut.


"Dinda?" gumam Irgi dengan lirih.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.maaf author sering kemalaman up nya .


__ADS_2