The Twins CEO

The Twins CEO
Menjalankan Wasiat


__ADS_3

"Dinda!"panggil Irgi sambil menangis pilu, karena saat itu tubuh sang istri sudah terbujur kaku.


Sarah yang tidur di sofa buru-buru bangkit menghampiri Irgi.


"Mbak Dinda kenapa mas?" tanya Sarah.


Irgi tak menjawab, ia masih menangis memeluk Dinda, kemudian Sarah menghampiri Dinda dan menyentuh pergelangan tangannya.


Derai air mata menetes di pipi Sarah. Namun, ia masih belum percaya dengan kenyataan itu. Sarah kemudian menyentuh lubang hidung Dinda dengan telunjuknya.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun," seketika tangis Sarah pecah.


"Mbak Dinda!" panggil Sarah sambil memeluk tubuh Dinda.


Irgi tak henti-hentinya mengucap istighfar, berkali-kali ia mengusap wajahnya karena tak percaya.


Saat itu Dinda memejamkan matanya dengan senyum dan wajah yang terlihat bahagia. Seperti seseorang yang telah lepas dari beban beratnya.


Semakin melihat wajah Dinda yang tenang semakin sedih. Iya tak menyangka jika sang istri pergi secepat itu, padahal Irgi belum pun melakukan pengobatan maksimal untuk Dinda.


"Maafkan mas Irgi, Dinda, Mas Irgi belum bisa membahagiakan kamu," ucap Irgi sambil menangis memeluk Dinda.


"Maafkan Sarah juga Mbak," ucap Sarah.


Keduanya begitu sedih ketika di tinggal Dinda.


Irgi dan Sarah menangis haru di kamar itu, setelah beberapa saat keadaannya menjadi tenang, berinisiatif menelpon Yura sang Ibunda.


Pada pagi hari itu juga Dinda dipindahkan ke kamar khusus untuk dimandikan di rumah sakit.


Ketika memindahkan tubuh Dinda pergi menemukan sepucuk surat tulisan tangan Dinda.


***


Rumah Leon yang biasanya kini sepi mendadak jadi ramai.


Para pelayat berdatangan begitupun dengan papan dan karangan bunga belasungkawa berjajar rapi memenuhi halaman rumah tersebut.


Jasad Dinda  terbujur kaku diatas lantai.


Irgi tampak tabah bersimpuh di samping mendiang istrinya, begitupun dengan anggota keluarga mereka yang lainnya.

__ADS_1


Wajah mereka semua tampak murung dan berduka, maklum saja keluarga itu adalah keluarga yang kompak dan saling menyayangi, meskipun mereka memiliki perbedaan dalam keyakinan.


Sikap saling menyayangi dan menghargai tertanam dengan kuat di antara anggota keluarga. Mereka begitu menyayangi Dinda.


Meski sedih mereka hanya menangis tanpa bersuara, untuk menghormati keyakinan yang dipegang oleh almarhum.


Keluarga mereka berkumpul saling menguatkan saling berbelasungkawa. 


"Sabar ya Nak, Dinda susah tenang di sana,dia gak sakit lagi" ucap Yura sambil memeluk Irgi ketika ia melihat sang putra begitu sedih.


Irgi membalas pelukan itu dengan deraian air mata.


"Iya mommy, aku juga sudah ikhlas, aku yakin Tuhan lebih menyayangi Dinda,"ujar irgih sambil menghapus sisa-sisa air matanya.


Setelah pemakaman siap, siang itu juga Dinda dimakamkan. Jasad Dinda di bawa ke dalam mobil ambulans hingga ke komplek pemakaman.


Irgi, Zen dan Nathan ikut membantu mengangkat keranda Dinda hingga menuju liang lahat. 


Dengan tabah Irgi menatap tubuh istrinya untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam liang lahat.


'Selamat jalan Dinda, semoga kau tenang disisinya, mas Irgi selalu ridho dengan apa yang kau lakukan selama kau menjadi istri mas Irgi, insyaallah surga menanti mu di sana,' batin Irgi.


Setelah menguburkan jenazah dan membaca doa, Irgi dan keluarganya kembali ke rumah mereka.


***


Nathan dan Leon berada di samping Irgi mereka berbincang-bincang ringan.


"Apa ada pesan-pesan terakhir dari Dinda Gi, aku sebagai kakak kandungnya, kok gak ada firasat apa-apapun tentang Dinda," sesal Nathan.


"Aku juga, bahkan aku masih tak percaya jika Dinda telah tiada," ucap Irgi. 


"Aku tak punya firasat apa pun tentang Dinda, memang sebelumnya ia pernah memberikan pesan terakhir untuk menjaga Sarah."


"'Menjaga Sarah?" gumam Nathan.


"Iya, dia meminta ku untuk menikahi Sarah, untuk menggantikannya, bahkan dia sampai menulis pesan tersebut di atas secarik kertas yang diselipkan di bawah bantalnya."


Leon dan Nathan saling memandang.


"Bisa aku lihat suratnya?" Pinta Nathan sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Iya, aku ambil dulu di kamar," ucap Irgi seraya beranjak dari tempat duduknya.


Beberapa saat kemudian Irgi kembali dengan membawa sebuah coretan tangan Dinda.


Benar, tulisan Dinda hanya seperti coretan tangan, karena tak begitu rapi.mungkin karena tangan Dinda yang gemetar. Namun tulisan itu tetap bisa dibaca.


*Assalamualaikum mas Irgi, 


Jika saja, mas Irgi menemukan surat ini, itu berarti Dinda sudah tiada didunia ini. Terima kasih karena mas Irgi, Dinda bisa tenang menghadap yang maha kuasa. Hidup Dinda begitu bahagia, meski terasa singkat. Tapi Dinda tak menyesal dengan takdir tuhan. Mas Irgi adalah cinta pertama Dinda dan Cinta sejati untuk Dinda. Dinda berharap dan selalu berdoa agar kelak kita kembali disatukan di kehidupan kekal yang abadi. Mas Irgi, mas Irgi adalah orang yang Dinda cintai dan sayangi, begitu juga dengan Sarah. Dinda berharap agar Mas Irgi bisa membahagiakan Sarah. Nikahi Sarah sepeninggal Dinda, Dinda yakin cinta akan tumbuh di hati kalian berdua setelah menikah. Sekian saja surat dari Dinda. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


Bola mata Nathan berembun ketika membaca surat yang ditulis oleh Dinda tersebut.


"Dinda begitu percaya sama kamu Irgi, kamu pasti sudah membahagiakan Dinda, karena itulah aku sebagai kakak kandung Sarah, dengan ikhlas menyerahkan Sarah padamu, Sarah masih begitu polos, aku yakin kau bisa mendidik Sarah dengan baik," ucap Nathan.


Mendengar itu Irgi seketika menghembuskan nafas panjang.


"Bagaimana bisa aku menikahi adik ku sendiri. Sarah sejak kecil selalu bermanja-manja dengan ku, sampai saat ini pun seperti itu, meskipun dia sudah dewasa. Selain itu aku juga kasihan jika harus menikahi Sarah, mungkin Sarah punya pilihan lain dalam hidupnya," ucap Irgi. 


"Ya sudah kita tanyakan pada Sarah saja," ucap Nathan.


***


Seminggu Setelah meninggalnya Dinda, keluarga kembali berembuk untuk membicarakan pesan terakhir dari Dinda.


"Jadi menurut kalian bagaimana, sebagai orang tua mommy  dan Daddy  setuju saja, Sarah adalah gadis baik, sebagai orang tua kami memang memilih wanita yang baik untuk putra kami," sahut Yura.


Karena merasa sudah diamanahkan oleh orang yang sudah tiada, Irgi pun setuju untuk menjalankan wasiat dari Dinda.


"Saya setuju saja mommy."


"Baiklah, jika kamu sudah setuju, sekarang kita tinggal tanya pada Sarah. 


"Sarah sayang, kamu mau menikah dengan mas Irgi?" tanya Yura.


Bola mata Sarah berkaca-kaca, Irgi memanglah sosok lelaki yang bertanggung jawab, lemah lembut, tampan dan perhatian, tapi tentunya takkan semudah itu untuk menerima Irgi sebagai suaminya. Namun ada pertimbangan lain dari Sarah. Sebagai kecintaannya pada sang kakak yang telah tiada, Ia pun bersedia untuk menerima Irgi sebagai suaminya.


"Iya mommy, Sarah bersedia," ucap Sarah lirih.


Nathan, Yura, Nessa dan anggota keluarga yang lainnya ikut berbahagia atas keputusan Sarah itu.


Sebagai keluarga Irgi, mereka yakin jika Sarah  adalah wanita yang paling pantas untuk Irgi.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


 


__ADS_2