
Karena beberapa hari lagi Sarah akan kembali ke pesantren, rencana pernikahan mereka pun disegerakan.
Sarah berada di dalam kamarnya, sementara di ruang tamu akad nikah sedang berlangsung.
"Saya terima nikahnya Sarah Azahra binti Marwan dengan mas kawin sebentuk cincin emas dibayar tunai," ucap Irgi dengan satu helaan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah," ucap para saksi.
Seketika Irgi meneteskan air matanya.
'Aku sudah menjalankan amanah dari kamu Dinda, semoga saja aku bisa membahagiakan Sarah,' batin Irgi.
Setelah akad nikah selesai dilanjutkan dengan pembacaan doa.
***
Sementara itu di dalam kamar.
"Selamat ya Sarah," ucap Nessa ketika melihat Sarah meneteskan air matanya.
Gadis belia itu sampai nangis tersedu-sedu.
"Sarah tenang dirimu," ucap Nessa.
"Hiks iya kak."
"Sekarang ayo kita keluar, tapi sebelum itu, hapus dulu air mata mu," ucap Nessa sambil meraih tisu.
Setelah keadaannya tenang, Nessa membawa Sarah keluar dari kamarnya kemudian berjalan menghampiri Irgi.
Sarah menghampiri Irgi kemudian mencium punggung tangannya.
Saat itu Sarah tak bisa menahan air matanya.
Hiks hiks, kemudian Irgi memeluknya dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Sarah.
Setelah Irgi, ia kembali menghampiri Nathan, lagi-lagi Sarah menangis memeluk Nathan.
"Semoga kamu berbahagia Dek, Kakak yakin Irgi adalah adalah laki-laki yang tepat untuk kamu," ucap Nathan.
"Iya Kak," jawab Sarah.
Setelah sungkem pada semua orang acara pun dilanjutkan dengan syukuran dan makan malam.
Sarah berkumpul bersama kakak iparnya, mereka memberikan support kepada adik mereka itu, maklum saja meski Sarah tau akan ajaran agama, tak mudah baginya menghadapi hari-hari selanjutnya sebagai seorang istri, mengingat Sarah adalah gadis yang masih polos.
Ketika ngobrol bareng Keluarganya, Nessa melihat kedatangan Farel.
Segera saja ia menghampiri Farel.
"Farel, kamu baru datang? Aku pikir kamu gak datang," ucap Nessa.
"Datang kok sayang, tapi maaf ya aku terlambat."
Nessa mengamati wajah Farel.
"Farel kamu kenapa? kok wajah kamu banyak luka memarnya?" tanya Nessa.
Mendengar pertanyaan Nessa farel jadi gelalapan.
"Gak apa kok sayang ,aku jatuh dari motor," jawab Farel.
"Dari motor, tapi kok…?"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi ya," potong Farel.
"Kamu sudah makan?" tanya Nessa.
"Belum."
"Aku juga belum makan, nungguin kamu.Yuk kita makan "
Nessa dan Farel menuju meja makan.
Nessa menyodorkan sebuah piring ke arah Farel.
"Boleh gak kamu saja yang ambilkan makananya," pinta Farel seraya tersenyum nyengir.
__ADS_1
"Ih kamu nih makin hari makin manja ya," dengus Nessa.
Nessa kemudian menganut nasi dan lauk yang tersaji secara prasmanan
Setelah selesai, Farel meraihnya dengan tangan kiri, dan tentu saja Nessa kembali Heran melihat Farel.
"Sayang, tangan kanan kamu kenapa?"tanya Nessa.
Ia pun menarik tangan kanan Farel yang di sembunyikan di dalam saku Hoodienya.
Nessa kaget ketika melihat jari-jari Farel bengkak dan memar.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Nessa
"Gak apa-apa kok Sayang, seperti yang aku bilang tadi, aku hanya jatuh dari motor. "
Farel sengaja berbohong agar Nisa tak curiga Jika ia mengikuti pelatihan tinju dan gulat untuk memenangkan kontes itu.
"Ya sudah kalau gitu aku tambah nasinya ya, kita makan sepiring berdua," ucap Nessa sambil tersenyum.
"Aseek," jawab Farel sambil tertawa kecil.
Setelah mengaut nasi Nessa dan Farel mencari tempat yang sepi.
Mereka berdua menuju balkon atas.
Setibanya di balkon, Nessa meletakkan sepiring nasi itu di pangkuannya.
"Kamu makan, ya biar aku yang suapin, nggak sopan kalau makan dengan tangan kiri" ucap Nessa.
Tanpa menjawab Farel langsung membuka mulutnya.
"Ih sabar dong," cetus Nessa sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi ke dalam mulut Farel.
Nessa kemudian menyuapi Farel, sesuap untuk Farel sesuap untuknya secara bergiliran.
Farel terlihat sangat lahap ketika ia suapin, melihat hal itu, timbul ide jahil Nessa untuk mengerjai Farel.
Ia menyuapi Farel nasi putih tanpa lauk. Meskipun begitu, Farel tetap semangat memakannya, tak sekalipun ia protes. Nessa jadi sedikit kesal karena niat mengerjai Farel tak berhasil.
"Sayang kok kamu nggak protes aku suapin nasi putih doang?" Tanya Nessa.
"Gimana mau protes, kalau yang menyuapinya bidadari, nasi putih pun lebih enak dari nasi kare," sahut Farel sambil tersenyum.
Setelah beberapa suapan, farel tak lagi melihat Nessa menyuapi dirinya sendiri.
"Sayang kamu nggak makan?"tanya Farel.
"Sudah kenyang dengar rayuan gombal kamu," sahut Nessa.
"Masa'sih?"
"Iya, kalau dengar rayuan kamu aku jadi kenyang."
"Kalau gitu, nanti jika kita sudah menikah, aku gak perlu beli beras dong ya, tinggal gombalin kamu aja, pagi sore, siang dan malam."
"Ehm, enak banget kamu! "Dengus Nessa.
"Kan katanya bisa kenyang dengan digombalin saja," sahut farel.
Ehm. tiba-tiba seseorang berdehem dibelakang mereka.
Nessa dan Farel seketika menjadi pucat ketika melihat Siapa yang datang menghampiri mereka.
Leon duduk di hadapan keduanya.
"Farel, bagaimana, apa kamu sanggup dengan permintaan saya ?"
"Iya Tuan,saya sedang usahakan uang itu," ucap Farel.
"Berapa lama?"tanya Leon seraya menatap wajah Farel.
"Tiga bulan lagi Tuan, insyaallah."
"Baik lah, tiga bulan lagi, jika kamu tak mampu memberikan mahar itu, maka saya terpaksa menjodohkan putri saya dengan pria lain."
"Jangan tuan.Iya, paling lama tiga bulan lagi," ucap Farel.
"Ya sudah, saya percaya dengan kamu," jawab Leon.
__ADS_1
Setelah berbicara seperti itu pada Farel dan Nessa leon beranjak dari sana.
"Sayang, memangnya tiga bulan lagi uang kamu, cukup?"tanya Nessa.
"Cukup gak cukup,aku usaha dulu."
"Iya Sayang, Tapi kalau nggak bisa nggak usah dipaksain Biar aku saja yang bicara pada Daddy ."
Nggak usah, Aku akan berusaha semaksimal mungkin.
Demi kamu,apapun akan ku lakukan," ucap Farel sambil tertawa menatap Nessa.
"Ini bukan sekedar gombal kan?"tanya Nessa.
"Setelah sejauh ini Apa kamu masih belum percaya?"tanya Farel.
"Iya aku percaya kok sama kamu."
Kemudian Nessa kembali menyuapi Farel.
***
Malam semakin larut,para tamu undangan dari persatu pulang, kini tinggal keluarga inti Leon.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Sarah berbaring dengan gelisah, ia belum bisa membayangkan bagaimana malam pertama yang akan ia lalui bersama Irgi.
Sarah mendengar suara langkah kaki mendekati pintu
Ia pun pura-pura memejamkan matanya, ketika Irgi datang menghampiri kamar mereka.
Setelah masuk ke dalam kamar itu, Irgi melepaskan pakaiannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Jantung Sarah berdetak kencang, ia mencoba untuk tertidur, tapi tak bisa tertidur.
Beberapa menit memejamkan matanya, Sarah kemudian mendengar langkah kaki Irgi keluar dari kamar mandi, tak hanya jantung Sarah yang berdetak kencang, tapi tubuhnya juga.
Tiba-tiba saja Sarah menggigil karena ketakutan.
Irgi yang hendak mengganti pakaian, melihat ke arah tempat tidur.
"Sarah Kamu belum tidur?" tanya Irgi, ketika melihat selimut itu bergoyang karena getaran tubuh Sarah.
Karena tak mendapat jawaban, Irgi kemudian menghampiri Sarah kembali.
Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Sarah.
Tampaklah tubuh Sarah yang gemetar dengan bibir yang pucat.
"Sarah kamu kenapa?" tanya Irgi lagi.
Irgi meraba kening Sarah dan merasakan keningnya terasa hangat.
"Sarah kamu demam ya?"tanya Irgi.
Sarah tak menjawab, ia hanya menggigil.
"Kita ke rumah sakit saja ya, Mas takut terjadi sesuatu pada kamu," ucap Irgi.
Irgi tak ingin terjadi sesuatu pada sarah, karena itulah setelah memakai pakaian lengkap, Irgi langsung menggendong Sarah dan membawanya ke rumah sakit.
Ketika menuruni anak tangga, Irgi,langsung dicecar pertanyaan oleh semua orang yang ada di ruang tamu.
"Irgi, Sarah kenapa?"tanya Yura dengan nada panik.
"Nggak tahu Mommy,tiba-tiba saja Sarah demam."
"Demam ?kamu apakan dia?" tanya Yura dengan nada curiga.
"Nggak diapa-apain mommy," jawab Irgi seraya kembali berjalan menuju teras rumah mereka.
"Kamu nggak paksa dia kan Gi?" tanya Leon yang mengikuti Irgi hingga ke teras rumah.
"Enggak kok, disentuh saja enggak," jawab Irgi.
Melihat Irgi yang menggendong Sarah, Leon langsung menghampiri mobil dan membawa Sarah ke rumah sakit.
Saat itu Yura juga ikut di dalam mobil. Sejujurnya mereka khawatir terhadap kondisi Sarah, mereka trauma dengan kondisi Dinda yang mengalami kanker darah akibat turunan dari mendiang ibu dan ayahnya.
Setibanya di rumah sakit, Sarah diperiksa secara keseluruhan termasuk tes darah.
__ADS_1
Setelah diperiksa, Sarah hanya mengalami demam, meskipun belum tahu penyebab pasti demamnya Sarah. Sebenarnya Sarah diperbolehkan untuk pulang malam itu. Namun, Irgi memilih untuk opname di rumah sakit karena khawatir keadaan Sarah akan memburuk. Malam pertama mereka pun berakhir di rumah sakit.
Bersambung dulu gengs, Terima kasih karena sudah sabar menunggu outdoor yang jarang up ini.