
Dinda kembali bangkit setelah Irgi menyuruhnya istirahat. Karena anggota keluarga yang lain sudah kembali ke kamarnya masing-masing, jadi tak ada yang tahu jika Dinda sedang tidak sehat.
Dinda menuju meja kerjanya, di sana ia menuliskan curahan isi hatinya, tentang perasaan cinta terhadap sang kakak di dalam buku harian.
Aku tahu cinta itu tak pernah salah, yang salah adalah aku, karena mencintai seseorang yang hanya menganggapku saudara.
Aku tak meminta balasan dari perasaan ku, aku hanya ingin suatu saat kau tahu jika aku mencintaimu,sebuah perasaan yang tak mungkin ku ungkapkan secara langsung.
Hiks hiks
Dengan derai air mata Dinda menuliskan semua curahan isi hatinya. Tentang perasaan cinta yang tiba-tiba saja tumbuh di hatinya untuk Irgi
Setelah puas menulis semua perasaannya Dinda kembali menutup buku itu dan menyimpannya di laci yang terkunci.
Setelah itu ia kembali tertidur.
***
Keesokan harinya.
Pukul setengah tujuh pagi Irgi menggedor pintu kamar Dinda. Rencananya mereka akan konsultasi pagi ini
Tok tok tok..
"Din bangun Din!" seru Irgi di balik pintu.
"Iya Mas, sebentar!" sahut Dinda.
Kreak.. pintu terbuka.
Irgi yang semula sedang sibuk dengan layar handphonenya menoleh ke arah Dinda.
Deg deg tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang ketika melihat wajah Dinda yang terlihat berbeda.
Dinda tampak cantik dengan polesan makeup flawless nya, di tambah lagi dengan rambut menggulung yang terjuntai dengan indah dan anting bermata berlian yang semakin membuat wajah Dinda bersinar.
Irgi tercengang melihat perubahan Dinda saat itu.Melihat Irgi yang seperti tersihir di hadapannya,Dinda tersenyum malu,sambil menyembunyikan wajah yang merah merona dengan menundukkan kepalanya.
"Hm, mas, Dinda cantik gak?" tanya Dinda yang seketika membuyarkan lamunan Irgi.
Entah kenapa dengan mudah lidah Dinda menanyakan hal itu.
"Ehm iya-iya Kamu cantik sekali Din."
Bagai tersiram bunga satu taman, hati Dinda berbunga-bunga mendengar pujian itu.
Ia semakin melebarkan senyum dengan wajah yang merona bahagia.
Sebagai seorang dokter, tentu dia tahu resiko apa yang bisa terjadi jika melakukan kemoterapi.
Setidaknya Dinda ingin terlihat cantik di hadapan seseorang yang dicintai, meskipun perasaannya tak mungkin terbalaskan.
Mereka berdua saling melempar senyum kemudian tertunduk malu.
"Hm kalian lagi ngapain sih berdua kok senyum-senyum?"tanya Nessa yang kebetulan lewat.
"Ah nggak kok." Irgi berkilah.
Nessa menoleh ke arah Dinda.
"Wah hari ini kamu cantik sekali Dinda! Kamu mau ke mana dengan pakaian seperti itu?" tanya Nessa ketika melihat Dinda tidak menggunakan pakaian formalnya.
"Dinda mau konsultasi Kak," sahut Dinda.
"Oh, ya sudah turun yuk!" ajak Nessa.
Ketiganya turun dari lantai atas menuju meja makan, dan seperti yang diduga semua kaget melihat penampilan Dinda di pagi itu.
"Wah Dinda,kamu cantik sekali," puji Yura.
"Terima kasih mommy."
"Hari ini aku temani Dinda konsultasi mom," cetus Irgi
"Iya nggak apa-apa."
__ADS_1
"Semoga saja berjalan lancar ya Dinda," ucap Yura.
"Terima kasih Mommy."
"Iya Nak,"balas Yura sambil tersenyum.
***
Setelah selesai sarapan, mereka semua berangkat kerja sementara Irgi dan Dinda langsung menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan, sesekali Irgi melirik ke arah Dinda yang tampak begitu cantik, sangat berbeda dengan Dinda yang sebelumnya.
"Kenapa Mas?" tanya Dinda ketika Irgi ketangkap sedang melihat ke arahnya.
"Ah nggak Mas nggak nyangka, setelah dewasa kamu jadi gadis yang cantik," jawab Irgi.
Dinda kembali tersipu. Rupanya dia berhasil membuat Irgi terkesima, jauh di lubuk hati Dinda ia ingin agar Irgi bisa jatuh cinta padanya.
Setelah pertanyaan Dinda itu, tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menemui dokter Andi spesialis onkologi.
Setelah berkonsultasi, Dokter mulai memeriksa keadaan Dinda.Dokter Andi juga memaparkan prosedur kemoterapi kepada mereka berdua.
Setelah selesai, dokter Andi duduk di hadapan keduanya.
"Baiklah, Seperti yang saya sebutkan dua hari lagi kemoterapi yang pertama akan dilakukan. Anda tahu kan apa yang harus Anda persiapkan? "tanya Dokter yang sudah memaparkan secara panjang dan lebar prosedur kemoterapi.
"Siap dok,"ucap Dinda dengan penuh semangat.
Semangat Dinda kembali menggebu, ia berharap bisa berumur panjang dan berharap bisa merebut hati Irgi, meskipun saat ini Irgi memiliki tunangan.
Cinta memang egois. Namun Dinda juga tahu, jika Irgi tidak mencintai Caroline.
Sebagai anak yang berbakti dan penurut, Dinda tahu jika kakaknya itu menerima perjodohan itu hanya karena kedua orang tuanya.
Meski harapan itu begitu tipis, setidaknya masih ada harapan bagi Dinda.
Entah kapan dia akan berani mengungkapkan perasaan itu kepada Irgi.
Dinda menyentuh bagian dadanya, karena jantungnya berdetak dengan kencang ketika melihat Irgi.
Sesuatu yang tak pernah ia rasakan terhadap pria lainnya.
***
Dua hari kemudian Dinda dan Irgi kembali mendatangi rumah sakit.
Karena hanya boleh ditemani satu orang keluarga, maka Irgi memutuskan untuk menjaga Dinda selama menjalani proses kemoterapi.
Menurut Irgi Dinda adalah tanggung jawabnya karena ia pernah berjanji pada ibunya untuk menjaga adik-adiknya.
Ketika mengetahui Dinda bukanlah adik kandungnya, Irgi tak serta merta melempar tanggung jawab tersebut pada Nathan.
Apalagi Irgi tahu jika saat ini Nathan sedang menghadapi masalah di perusahaan yang ia pimpin.
Sementara kedua orang tuanya juga sibuk dan lebih sering berada di luar kota.
"Bagaimana perasaan kamu Din ?"tanya Irgi, tangannya menyentuh telapak tangan Dinda yang terasa dingin.
Dinda bergeming hanya menundukkan wajahnya.
"Jangan takut, seorang praktisi kesehatan tidak boleh takut menjalani pengobatannya. Karena kamu seorang dokter, Kamu adalah panutan bagi pasien mu, jadi kamu harus kuat ya," ucap Irgi memberi semangat
Dinda tersenyum kecut.
"Iya Mas,"jawabnya singkat.
Setelah persiapan, proses pemberian obat pun dimulai. Dinda berbaring menatap dengan hampa, ketika pembedahan dilakukan untuk pemasangan alat sebelum kemoterapi intravena.
**
Saat ini Dinda sedang menerima obat-obatan melalui pembuluh Venanya.Di temani Irgi yang selalu berada di sampingnya.
Kring... suara getaran telepon terasa di saku celana Irgi.
__ADS_1
Ia langsung menarik ponsel pintar miliknya.
"Sebentar ya Din, Karen menelpon."
Irgi berjalan keluar kamar menyambut telepon tersebut, sementara Dinda menatap punggung Irgi, hingga Irgi menghilang di balik pintu ruangan itu.
***
Di luar ruangan Irgi menyambut telepon dari Karen.
"Halo," sapa Irgi terlebih dahulu.
"Halo Sayang, kamu di mana, rencananya aku mau ngajak kamu makan siang nih sekalian mau fitting baju untuk pernikahan kita," ucap Karen.
"Maaf ya, aku tidak bisa, karena harus menemani Dinda di rumah sakit."
"Menemani Dinda di rumah sakit?! Tapi kenapa harus kamu?"tanya Karen bernada cemburu.
"Ya, Karena Aku kan kakaknya,"sahut Irgi sedikit kesal.
"Please deh Gi, Kenapa sih kamu selalu ada waktu untuk Dinda, sementara kamu nggak punya waktu sama aku sama sekali. Sudah hampir seminggu loh kita tidak bertemu, alasan kamu selalu menemani Dinda, membawa Dinda konsultasi dan semuanya tentang Dinda. Ingat Gi Sebentar lagi kita menikah, Kita juga harus mengurus persiapan pernikahan kita, kita belum fitting baju loh!"tutur Karen memperingati.
"Iya aku tahu itu, tapi Siapa lagi yang mau menjaga Dinda selain aku."
"Kenapa kamu nggak suruh kakaknya saja, biarkan Dia menjaga adiknya!" Gerutu Keren.
"Loh bukannya Dinda juga adik aku, selama ini juga kalau Dinda sakit aku yang jaga, aku yang bawa dia ke rumah sakit, dan aku yang belikan dia obat. Jadi ini bukan pertama kalinya," sahut Irgi, agar Karen tak salah paham.
"Ya sudah kamu urus saja adik kamu itu! Biar saja aku fitting baju sendiri!" Seru Karen sambil menutup teleponnya.
Irgi menghempas nafas kasarnya.
"Huh! Tak ada yang mau mengerti," gumam Irgi sambil menyimpan kembali gawainya.
Setelah menerima telepon dari Karen, Irgi kembali masuk ke dalam ruangan itu.
***
Dinda terbaring di atas tempat tidur sambil meneteskan air matanya, tatapannya mulai kosong.
Sudah satu jam obat tersebut mengalir ke ke tubuh Dinda dan membuatnya tak nyaman.
Dinda merasakan pusing ,nyeri bagian perut dan bagian mulutnya yang tidak berasa.
"Kamu kenapa?"tanya Irgi sambil menggenggam tangan Dinda ketika melihat Dinda meneteskan air mata.
Dinda menggeleng lirih.
"Kamu yang sabar ya," ucap Irgi sambil mempererat genggaman tangannya ke Dinda.
Dinda mengangguk lirih.
tak ada yang bisa dilakukan dia hanya berdoa agar kemoterapi yang dilakukan Dinda itu berhasil.
Setelah dua jam, proses kemoterapi pun selesai. Dinda dibawa ke ruang perawatan.
Saat itu Dinda sedang tertidur. Namun Irgi melihat ada perubahan pada wajah Dinda yang memucat, bibirnya terlihat kering, sementara darah segar kembali menetes di hidung Dinda.
Irgi kaget setengah mati, melihat wajah Dinda seperti mayat, saking pucatnya.
"Dokter apa yang terjadi pada Dinda?" tanya Irgi dengan panik.
"Tidak apa-apa biasanya itu respon dari tubuhnya. Kita tunggu saja obatnya akan bekerja selama 48 jam," papar dokter tersebut.
Meski dokter mengatakan hal yang demikian, cara membuat Irgi menjadi tenang.
Justru Irgi semakin khawatir, Ia pun berinisiatif membangunkan Dinda.
"Dinda! Dinda! Dinda!" Panggil Irgi berkali-kali. Namun Dinda tak juga sadarkan diri.
Dokter kembali memeriksa keadaan Dinda, ketika menyadari Dinda tak sadarkan diri.
"Kalau begitu bawa dia ke ruangan ICU, pasien mengalami koma!" Perintah dokter.
Seketika bola mata Irgi membulat dengan sempurna mendengar penuturan dokter itu.
__ADS_1
bersambung dulu gengs. terima kasih karena telah setia membaca karya author, love u sekebon 😘