
Mobil yang membawa Farel melaju mengejar mobil yang ada di depannya, sambil meringis kesakitan ia menarik benda pipih untuk menghubungi seseorang.
"Halo tuan muda, Saat ini saya sedang mengejar seseorang yang tengah menculik Nona Nessa," ucap Farel sambil meringis.
Saat itu Farel tak lagi memperdulikan darah yang masih mengucur di bagian perutnya.
"Apa Nessa diculik?!" tanya Sheon begitu kaget.
"I-iya Tuan muda, saat ini saya mengejar mobil yang telah membawa nona Nessa.Saya akan aktifkan GPS, silahkan anda ikuti saja jejak saya," ucap Farel terbata-bata.
Kemeja yang dikenakan Farel perlahan basah oleh cairan merah yang keluar dari luka menganga akibat tusukan itu.
"Tuan, apa sebaiknya luka anda diobati terlebih dahulu?" tanya Sopir yang berada di samping Farel.
"Tidak usah! Jalan saja terus! Nona Nessa dalam keadaan bahaya."
Farel menyimpan benda pipih miliknya di tempat yang tersembunyi, jika ia sampai di tempat tujuan dan terjadi sesuatu, mereka tetap bisa menemukan jejak Nessa.
Mendengar adiknya di culik, Sheon langsung menghubungi Leon.
Sambungan telepon langsung tersambung.
"Daddy, Nessa diculik." Tanpa sempat menyapa, Sheon langsung mengatakan hal itu.
"Hah?!"Leon membelalak bola matanya yang tajam.
"Siapa yang menculiknya?"
"Tidak tahu daddy, saat ini Farel tengah mengikuti mobil si penculik."
"Berani sekali mereka menculik putri kesayangan ku!"Leon benar-benar murka.
Ia langsung menutup telepon Sheon, dan segera menghubungi anak buahnya.
"Siapakan seluruh pasukan kalian, tunggu instruksi selanjutnya!" Ucap Leon dengan nada suara yang bergetar.
Leon benar-benar murka saat itu.
"Maaf tuan-tuan saya harus pergi sekarang juga,"ucap Leon tanpa menjelaskan apa-apa.
Ia langsung keluar dari ruangannya, padahal ada tamu yang penting di ruangannya.
Para tamu itu pun mengerti situasi akan situasi yang Leon hadapi saat itu, dari pembicaraan di telepon bersama dengan putranya.
***
Sheon bergerak dengan dua puluh mobil bodyguard, begitupun Leon yang juga menghubungi Nathan.
Mendengar saudaranya diculik dengan segera Nathan juga membawa pasukan bodyguardnya. Namun sebelum itu ia pulang untuk menghampiri Yura, sementara pasukannya mengikuti instruksi dari Sheon.
Siang itu, seperti ada kegiatan pawai dan konvoi di jalan ibu kota, mobil hitam yang memiliki kode plat sama berbaris antri di jalan raya.
Mobil polisi mengaum di jalan raya.Menuju satu titik yang sama sesuai dengan instruksi dari Sheon yang mengikuti arah mobil Farel.
***
"Haha, ternyata tak terlalu sulit menculik putri seorang konglomerat!" tawa mereka bersama ketika melihat Nessa yang tertidur akibat obat bius yang mereka berikan.
"Kalau begitu lapor bos! Suruh bos bersiap menanti kekasihnya, haha."
Para penjahat terus merasa bahagia, karena sebentar lagi mereka bisa menikmati uang 10 milyar seperti yang dijanjikan oleh Stefan.
Mereka sengaja memilih arah luar kota untuk menyekap Nessa.
Saat itu Nessa masih tidak sadar jika ia berada di dalam mobil bersama dengan tiga pria asing.
***
Stefan sedang mondar-mandir di depan sebuah ruko menunggu informasi dari anak buahnya.
Tak lama ketika ia tiba di tempat itu, Stefan mendapatkan panggilan telepon.
"Hallo bos,kami sudah berhasil membawa tuan putri anda haha."
"Bagus! Pastikan keadaan saat ini aman!" perintah Stefan.
"Siap bos!"
Setelah menelpon Stefan. Mereka semakin laju membawa kendaraannya agar tak ada yang mengejar.
Tiba-tiba sang sopir melihat dari spion mobil,ada sebuah mobil yang berada tak jauh di belakang mereka, mobil itu juga melaju mengikuti baju kendaraan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya kita di ikuti dari belakang!" Seru si sopir.
Pria yang berada di samping sopir menoleh ke arah mobil Farel yang terus mengejar dalam keadaan yang laju.
"Sepertinya begitu!"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu penjahat dengan panik.
"Perlambat mobilnya, aku akan menembak mobil mereka,"ujar seorang penjahat yang berada di samping sopir.
Penjahat tersebut kemudian menarik pistolnya yang disimpan di dalam jaket kulit hitam miliknya.
Sang supir pun memperlambat laju kendaraan mereka.
Penjahat itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan mengarahkan pistolnya ke arah mobil yang berada sekitar 50 meter dari arah belakang.
Dor dor dor.
Tembakan demi tembakan di arahkan ke mobil hitam yang mengikuti mereka.
Namun, tak ada satupun peluru yang bisa mengenai mobil di belakang mereka.
Sebenarnya sang sopir yang membawa mobil Farel bisa mengejar. Namun, mereka sengaja tak mengejar untuk memastikan siapa dalang di balik penculikan terhadap Nessa.
Mobil Farel memilih untuk tak mengejar dan membiarkan mobil tersebut terus melaju.
"Haha, ternyata mereka takut juga, keadaan aman sekarang!" Para penjahat tersebut kembali tenang.
Sementara mobil yang membawa Farel kembali mengejar, karena arah menuju luar kota hanya memiliki satu jalur, mereka akan mudah mengejar mobil tersebut.
Mobil Farel pun berpapasan dengan mobil Sheon yang bergerak sangat laju.
Sheon menghubungi Farel untuk melakukan komunikasi.
"Dimana mobil yang menculik Nessa Farel?" tanya Sheon disambungkan teleponnya.
"Di depan tuan muda, saya sengaja tak mengejar mobilnya agar bisa langsung menyergap dalang dari penculikan nona Nessa," tutur Farel lirih.
Wajah Farel semakin pucat, meski pendarahan di bagian perutnya sudah berhenti.
Farel tak sempat berhenti hanya untuk membeli obat atau membalut lukanya ia hanya menggunakan kaos singlet miliknya sendiri untuk membalut luka pada bagian perutnya.
"Saya mencurigai Stefan tuan muda," ucap Farel sambil meringis menahan rasa sakit
"Farel kau kenapa?"t anya Sheon yang sejak tadi mendengar suara Farel meringis meskipun tak terlalu kentara.
"Tidak apa-apa tuan muda," jawab Farel.
Sementara itu mobil pasukan Leon juga berpapasan dengan mereka.
Kini di Jalan luar kota yang biasanya sepi tersebut mendadak rame karena puluhan mobil yang seragam jenis dan warnanya berjejer saling melaju dengan kecepatan tinggi.
***
Mendengar rencana penculikan itu berhasil Stefan tersenyum menyeringai.
Ia lalu mencampur obat perangsang kedalam air yang berada di dalam gelas.
"Hari ini kau akan menjadi milik ku Nessa, kau tak akan bisa menolak dan menunda pernikahan kita lagi haha, justru nantinya kaulah yang akan memohon agar aku segera menikahimu karena akan ku pastikan kau akan mengandung anak ku haha!"
Stefan langsung meminum air dalam gelas tersebut dan menegak nya hingga habis.
Beberapa saat kemudian ia mendengar suara mobil yang berhenti di halaman dari ruko miliknya itu.
Wajah Stefan memerah, terbayang sudah akan kenikmatan yang akan ia reguk sebentar lagi.
Stefan menatap nanar, dengan kewarasan sudah memudar saat itu, akibat obat perangsang yang ia minum sudah mulai bereaksi.
Stefan berada di teras ruko miliknya..
"Bawa langsung dia kedalam!" titah Stefan yang sudah tidak sabar.
Salah satu bodyguard itu mengangkat tubuh Nessa dan membawanya ke dalam sebuah ruangan di dalam ruko tersebut.
Stefan langsung melepaskan kemeja yang ia kenakan ketika melihat Nessa terbaring tanpa daya di atas tempat tidur yang sudah disediakan.
Stefan menelan ludahnya dengan jantung yang berdetak kencang.
"Akhirnya kamu menjadi milikku juga Nessa." Ia menghampiri Nessa, kemudian mendarat kecupan di bibir Nessa hingga membuat Nessa tersadar.
"Stefan! Apa yang kau lakukan?" tanya Nessa dengan kepala yang masih terasa pusing, pandangan matanya berkunang-kunang.
__ADS_1
"Sayang, kau sudah bangun, kalau begitu mari kita nikmati malam pertama kita haha," ucap ucap Stefan sambil tertawa kecil.
"Bajingan kau!"teriak Nessa sambil mendorong tubuh Stefan.
Dorongan Nessa tak berarti apa-apa bagi Stefan, karena saat itu tenaga Nessa juga belum pulih.
Stefan mulai melepas kancing kemeja yang dikenakan Nessa
"Maaf sayang, aku harus mempercepat malam pertama kita karena kau selalu menolak ku," ucap Stefan dengan wajah merah karena menahan geroranya.
"Lepaskan!" teriak Nessa sambil meronta ketika Stefan mulai menindih tubuhnya.
Dor! Dor!
Suara tembakan dan keributan seketika menggema di sekitar ruko tersebut.
Sontak saja membuat Stefan panik dan melepaskan kukungannya. Stefan pun turun dari atas tempat tidur dan berjalan perlahan ke arah pintu.
Melihat Stefan yang lengah Nessa mengambil kesempatan, ia melepaskan sepatu heel rendahnya dan memukuli Stefan ketika Stefan mengintip dari lobang kunci pintu.
"Akh! Kau berani memukul ku!" Stefan merasa sakit pada bagian wajahnya, hantaman sepatu Nessa tersebut membuat hidung dan tepi bibirnya berdarah.
"Dasar kau bajingan! Berani sekali kau ingin menodai ku! pantas saja hati kecilku selalu menolak kehadiran mu! Ternyata kau memang seorang bajingan!" teriak Nessa.
Nessa! Nessa! Teriakan seseorang membuat Stefan kaget.
Wah gawat aku harus melarikan diri, Stefan mengedarkan pandangannya dengan cepat, ia pun bermaksud melarikan diri jendela tersebut.
Kini gantian Nessa yang berusaha membuka pintu yang terkunci rapat dari luar.
Stefan tak lagi memperdulikan Nessa yang sedang berusaha membuka pintu.
"Tolong! Aku disini!" Teriak Nessa di antara keributan yang terjadi di luar .
Stefan membuka kusen jendela, sementara seseorang sudah berusaha membuka pintu kamar tersebut.
Melihat Stefan yang hendak Kabur Nessa menghampiri pot bunga yang ada di nakas.
"Rasakan bajingan!" Teriak Nessa sambil melemparkan pot bunga tersebut.
Brugh…
pot bunga tersebut melayang tepat mengenai bagian kepala belakang Stefan.
"Akh!" Stefan yang hendak melompat merasakan sakit, karena kepalanya bocor akibat pot bunga yang dilempar oleh Nessa.
Tubuh Stefan bergetar antara menahan amarah dan menahan konaknya yang sudah berada di level tertinggi,hingga tubuh Stefan kembali terhuyung. Namun, Stefan kembali tak mengindahkan hal itu ia terus melompat.
Bruk… pintu kamar tersebut pun terbuka.
Nessa melihat Farel dan Sheon yang terlihat panik menghampirinya.
"Kakak!" seru Nessa yang langsung berlari menghampiri Sheon.
"Nessa kau tidak apa-apa kan?"tanya Sheon yang langsung memeluk adiknya
Sementara Farel yang melihat sekelebat bayangan Stefan yang turun dari jendela, ia juga ikut turun dari jendela untuk mengejarnya.
Farel tak peduli dengan luka yang ada pada perutnya.Farel sudah terlanjur dendam dan sakit hati atas perbuatan Stefan.
"Mau kemana kau pengecut!" Seru Farel yang terhuyung huyung mengejar Stefan. Stefan yang tak sempat mengenakan pakaiannya itu tak memiliki senjata apa pun untuk melawan Farel.
Melihat Farel yang tak berdaya akibat luka di perutnya,Stefan bermaksud untuk menghabisi Farel, lagi pula ternyata ia sudah tak punya kesempatan untuk lari.
Kawasan tersebut terkepung oleh ratusan orang, apalagi dari kejauhan sudah terdengar sirene mobil polisi.
Stefan berlari kemudian melompat dan memberikan tendangan pada Farel,dan Farel masih bisa menghindarinya.
Ia menarik salah satu kaki Stefan yang hendak menendang ke arahnya, kemudian memutarkan tubuh Stefan dengan sisa tenaganya hingga kepala Stefan terjungkal menghantam dinding.
"Jangan bergerak!" tiba-tiba seorang polisi berlari ke arah mereka. Stefan sudah tergeletak tak sadarkan diri akibat kepalanya yang kembali menghentak dinding ketika polisi datang untuk membekukannya.
Begitupun dengan Farel, karena pergerakan yang dilakukannya luka robek yang ada di perutnya kembali berdarah.
Farel bersandar pada dinding karena pandangannya tiba-tiba saja gelap setelah itu Farel tak tahu apalagi yang terjadi.
,🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bersambung dulu gengs masih ada satu episode lagi ya
__ADS_1