The Twins CEO

The Twins CEO
Sakit Dinda


__ADS_3

Pagi ini, Nessa dan Irgi sudah bersiap untuk ke kantor bersama sambil menunggu kedatangan Leon dan Yura yang akan membawa asisten rumah tangga mereka.


"Seorang perawat datang menghampiri Farel,kemudian memeriksa keadaannya."


"Nona, ini obat minum untuk pasien ya,tapi sebelum itu pasien harus makan terlebih dahulu ya,"ucap suster tersebut sambil menyodorkan obat.


"Oh iya, terima kasih suster."


Farrel membuka matanya ia berusaha menahan sakit pada bagian wajah dan kepalanya.


"Rel, kamu makan dulu ya, setelah itu minum obatmu,"ucap Nessa sambil membuka penutup mangkok yang berisi bubur.


Farel hanya bisa memberi isyarat dengan mengedipkan matanya. Bahkan untuk bicara saja iya hampir tidak bisa karena bibir dan wajahnya yang bengkak.


Dengan hati-hati Nessa menyuapi bubur encer ke mulut Farel, hanya seujung sendok saja bubur itu bisa  masuk pada bagian celah bibir Farel yang masih bengkak.


Nessa  melihat sendiri saat itu Farel kesulitan untuk menelan. Perasaan iba kembali muncul di hatinya.


Nisa lebih berhati-hati dan lebih sedikit memasukkan bubur ke celah bibir Farel yang menganga karena bengkak.


Setelah 10 suapan kecil, Farel menggelengkan kepalanya lirih pertanda ia tidak ingin disuap lagi.


Dengan lembut Nessa membersihkan bagian bibir Farel dengan menggunakan tisu.


"Rel kamu tahu siapa yang melakukan ini kepada kamu?"tanya Nessa.


Farel hanya menggelengkan kepala dengan lirih. 


"Apa kamu merasa punya musuh?" tanya Nessa.


Farel kembali menggelengkan kepalanya dengan lirih.


"Ya sudahlah, saat ini peristiwa pengeroyokan kamu sudah dilaporkan Daddy kepihak yang berwajib. Semoga pelakunya cepat tertangkap."


"Sekarang kamu minum obat ya. Setelah ini, aku harus ke kantor, nanti aku minta perawat yang akan menjaga kamu." 


"Terima kasih Nona," ucap Farrel lirih.


Selama beberapa saat keduanya saling menatap.


Nessa dan Irgi keluar dari ruangan perawatan, kebetulan saat itu Leon dan Yura baru tiba di ruangan tersebut. Leon dan Yura membawa salah satu dari asisten rumah tangga mereka yang akan membantu Farel kebutuhan Farel selama di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Farrel, Nes?"


"Begitulah mommy. Belum ada perubahan"


Yura dan Leon menghampiri Farel yang sedang berbaring.


"Ya Tuhan Kasihan sekali, mukanya sampai seperti itu," tutur Yura dengan lirih.


"Iya mommy, untuk makan saja dia belum bisa," papar Nessa.

__ADS_1


Saat yang bersamaan, Stefan juga tiba di ruang perawatan tersebut.


"Selamat pagi semua," sapa Stefan dengan Ramah.


"Selamat pagi!" Sahut Yura dan Leon.


"Eh Stefan. Kamu di sini juga?"


"Iya Nyonya. Kedatangan saya kemari untuk menjemput Nessa," ucap Stefan.


"Wah kamu perhatian sekali Stefan."


"Iya Nyonya saya jadi semakin khawatir dengan keselamatan Nessa,sejak peristiwa kemarin."


"Wah Nessa beruntung dapat calon suami yang begitu peduli terhadap dirinya," timpal Leon.


"Karena itulah, saya berniat untuk segera meresmikan hubungan saya dan Nessa tuan, dengan demikian saya bisa melindungi Nessa."


"Iya nanti saya akan bicarakan lagi pada Nessa."


"Terima kasih Tuan, saya yakin anda tidak akan kecewa terhadap saya."


"Iya tentu saja saya sudah tahu latar belakang keluarga kamu, jadi saya rasa tidak masalah."


"Hanya saja, jika seandainya kalian menikah, apa kamu bersedia tinggal di Indonesia?"tanya Leon.


"Bersedia Tuan, tentu saja saya akan lakukan apapun demi Nessa, biar saya dan Daddy bertukar domisili saja."


"Oke nanti kita pertimbangkan, saya juga khawatir setelah kejadian kemarin itu. Maklum saja, saya dan istri juga sibuk tidak bisa memantau Nessa meskipun sudah ada Bodyguard yang mengawasinya."


Stefan tersenyum dengan penuh kemenangan. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Stefan memperlihatkan sisi malaikatnya di hadapan Leon dan Yura.


Sepasang suami istri itu pun jadi  semakin yakin, jika Stefan adalah yang terbaik untuk putri mereka.


Setelah berbincang sebentar, Stefan kemudian mengantar Nessa menuju kantor.


Sepanjang perjalanan Nessa hanya diam. 


"Daddy kamu sudah setuju tuh, dengan rencana pertunangan kita," ucap Stefan.


"Mendengar itu, Nessa hanya diam. Nessa adalah anak menurut, meskipun dia anak manja, karena menurut tradisi keluarga mereka,seorang anak harus patuh terhadap keputusan orang tua.


***


Dinda membuka bola matanya. Seketika ia menjadi kaget dengan suasana yang ada di ruangan itu. Ia berada di salah satu ruang perawatan.


"Dokter," lirih Dinda, ketika melihat dokter Ryan sedang berbicara pada seorang suster.


Dokter Ryan menghampiri Dinda.


"Dokter Dinda, Anda tidak apa-apa?" tanya dokter Ryan.

__ADS_1


Dinda menggelengkan kepala lirih.


"Kenapa saya bisa berada di ruangan ini?"


Dokter Ryan  tidak menjawab, ia hanya tersenyum.


"Sebenarnya kau sakit apa?"tanya dokter Ryan curiga.


Dinda kaget mendengar pertanyaan dokter  tersebut, kemudian bola matanya berkaca-kaca. Dinda memalingkan wajahnya mencoba untuk menahan air matanya agar tak menangis di hadapan dokter Ryan.


Namun, setetes bulir bening itu menetes juga.


Dokter Ryan menyentuh telapak tangan Dinda kemudian menggenggam tangannya.


"Katakan saja Dinda, kita ini teman sekaligus rekam kerja, mungkin saja kau butuh seseorang sebagai pendengar keluh kesahmu,"ucap dokter Ryan untuk lebih meyakinkan.


Beberapa saat Dinda hanya bergeming, dengan bulir bening yang menetes secara perlahan, setetes demi tetes hingga mengakibatkan bola matanya memerah.


Dokter Ryan membiarkan Dinda menjadi tenang terlebih dahulu.


Dinda kembali menolehkan wajahnya ke hadapan dokter Ryan. Dokter Ryan mengangguk untuk meyakinkan Dinda, jika ia adalah pendengar yang baik. 


"Aku menderita leukimia Dok, penyakit yang sama dengan ibu ku," tutur Dinda sambil menghapus bulir bening yang menetes di pipinya.


Dokter Ryan menghela nafas panjang.


"Apa keluargamu tahu?" tanya dokter Ryan.


Dinda menggeleng lirih.


"Kenapa tidak memberitahu mereka?"


Hiks hiks…Dinda kembali menangis dengan menumpahkan air matanya.


Hiks hiks untuk beberapa saat dokter Ryan membiarkan Dinda menangis sampai perasaannya tenang.


Setelah puas menangis, Dinda coba mengatur pernapasannya mengatur kata-katanya.


"Saya tidak ingin merepotkan mereka, karena saya tinggal bersama orang tua angkat saya, hiks. Saya sudah terlalu banyak berhutang Budi pada mereka. "


"Mereka begitu baik, mereka menyekolahkan saya, hingga menjadi dokter, mereka juga membiayai kebutuhan hidup dan menyekolahkan adik saya,dan saya tak akan pernah bisa membalas kebaikan mereka.


"Saya hanya tak ingin menjadi beban bagi keluarga angkat saya. Mengingat biaya untuk melakukan pengobatan sangat mahal, tentu saja untuk gaji dokter muda seperti saya tidak menutupi biaya tersebut,"Papa Dinda dengan sedih.


Sesekali ia menghapus air matanya. Dinda kembali menatap dokter Ryan, saat ini keadaannya sudah lebih tenang.


"Kau tenang saja, masih ada harapan untuk sembuh.Apalagi jika kanker tersebut masih berada di stadium awal. Kamu bisa menggunakan asuransi jiwa, dokter."


"Apalagi di zaman modern seperti ini, kau harus punya keyakinan untuk sembuh Dinda, Kau harus kuat Dinda, yakinlah masih ada harapan apalagi usiamu yang masih tergolong muda, jadi kau lebih semangat"  ucap dokter Ryan.


"Iya dokter terima kasih,"

__ADS_1


Setelah keadaan Diana membaik dokter Ryan mengantar Dinda pulang ke rumahnya.


Bersambung.


__ADS_2