The Twins CEO

The Twins CEO
Sadar Dari Koma


__ADS_3

Karena keadaan Dinda yang koma, Irgi menelpon seluruh keluarganya untuk memberitahu.


Mereka semua hadir untuk melihat keadaan Dinda.


Satu persatu mereka mendatangi rumah sakit.


"Kenapa dengan Dinda, Gi?"tanya Yura yang baru saja tiba bersama suaminya.


"Kemungkinan tubuhnya menolak salah salah satu obat kemoterapi nya mommy," jelas Irgi.


"Ya Tuhan Dinda, Semoga  kamu segera sadar Nak," ucap Yura sambil menangis.


"Iya Mommy.Semoga saja."


mereka semua rela menunggu di ruang tunggu ruang ICU demi menunggu kabar Dinda yang siuman.


namun hingga jam menunjukkan pukul 09.00 malam belum ada tanda-tanda Dinda akan siuman ciuman.


Hari sudah larut malam,Dinda juga belum siuman jadi pihak keluarga memutuskan untuk pulang, karena hanya satu orang yang bisa berjaga di ruangan ICU tersebut.


Karena lelah, Irgi membaringkan kepalanya di samping Dinda dengan posisi duduk sambil menutup matanya.


sambil memejamkan matanya Dinda terus memanggil-manggil seseorang dalam tidurnya "Mas Irgi! Mas Irgi! " panggil Dinda lirih dalam tidurnya.


Mendengar namanya dipanggil-panggil, Irgi langsung membuka matanya.


"Dinda, Dinda kamu sudah sadar?" tanya Irgi sambil menatap wajah Dinda yang tetap terpejam.


"Mas Irgi," panggil Dinda berkali-kali.


"Iya Din, ini mas Irgi," ucap Irgi sambil menggenggam tangan Dinda.


"Din kamu mau bicara apa? Katakan saja?" tanya Irgi sambil berbisik di telinga Dinda.


Dinda tak menjawab pertanyaan Irgi, ia bergeming kembali, dengan jantung yang berdetak lebih cepat, hingga terdengar oleh Irgi.


"Ya Tuhan selamatkanlah Dinda."


Irgi langsung memanggil petugas medis untuk memeriksa Dinda.


***


Semalam Irgi menjaga Dinda, hingga ia kurang beristirahat.


Dokter sedang mengecek keadaan Dinda.


"Keadaan pasien mulai stabil, sebentar lagi mungkin ia akan kembali sadar," ucap dokter tersebut.


"Iya dokter, semoga saja dokter."


Benar saja, selang beberapa jam, Dinda pun sadar.


"Dinda kamu sudah sadar?"tanya Irgi karena hanya dirinya lah yang berada di ruangan itu.


Dinda menetes air mata.


"Hiks mas Irgi,"ucap Dinda yang langsung menangis bahagia, seolah senang.


"Iya, tapi kenapa kamu menangis?"tanya Irgi.


"Aku pikir, aku tak akan kembali ke dunia ini lagi," tutur Dinda begitu lirih. Namun masih terdengar oleh Irgi.


Irgi mengusap kepala Dinda.


"Jangan pikirkan itu,saat ini kamu sudah selamat dari koma," ucap Irgi.


" Koma?"


"Iya,tapi sudahlah,yang terpenting sekarang kamu sudah sadar."

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang sejenak Dinda kembali tidur Karena ia merasa begitu mengantuk.


***


Keadaan Dinda semakin membaik, Ia pun dipindahkan di ruang perawatan.


Pagi ini, seseorang datang mengunjungi Dinda dengan membawa setangkai bunga mawar merah.


"Assalamualaikum,"ucap dokter Ryan ketika berada di depan pintu.


Irgi yang sedang duduk langsung berdiri menghampiri dokter Ryan.


"Eh dokter,"sapanya sambil menjabat tangan dokter Ryan.


"Bagaimana keadaan dokter Dinda, Mas ?" tanya dokter Ryan pada Irgi.


"Semalam ia sempat mengalami koma, beruntungnya tadi pagi ia sudah sadar dan sekarang sedang beristirahat," tutur Irgi.


Dokter Ryan menoleh ke arah Dinda yang berbaring dengan wajah yang begitu pucat.


I"ya kalau begitu biarkan saja dia beristirahat," ucap dokter Ryan.


Irgi dan dokter yang berbincang-bincang sejenak. Ketika asyik berbincang anggota keluarga mereka hadir satu persatu,untuk melihat keadaan Dinda.


Melihat keluarga Dinda yang cukup ramai, dokter Ryan memutuskan untuk berpamitan pada Irgi dan keluarganya.


Di kesempatan itu, Irgi memperkenalkan dokter Ryan sebagai rekan sejawat Dinda.


Beberapa saat, Ryan dan keluarga Dinda terlihat pembicaraan ringan.


Mereka menemani Dinda seharian, keluarga Leon sangat mensupport Dinda, mereka semua hadir tanpa terkecuali di hari itu.


Termasuk keponakan Dinda yang masih bayi. Dinda pun semakin semangat untuk sembuh dengan hadirnya orang-orang yang ia sayangi.


Setelah itu mereka berdoa bersama untuk kesembuhan Dinda.


***


Ia menyentuh bagian bibirnya yang terasa mengembang.


"Ya Tuhan apa yang terjadi padaku,"lirih Dinda.


Uek ! Uek! Dinda merasa mual secara tiba-tiba, tapi tak juga bisa dimuntahkan.


hal itu membuat perasaan Dinda semakin tidak nyaman perutnya terasa kembung dan penuh.


Irgi yang tertidur di samping Dinda perlahan membuka matanya, karena mendengar suara seperti orang yang hendak muntah.


"Din kamu kenapa?" tanya Irgi.


"Aku merasa mual,Mas."


"Memang begitu efek sampingnya Din. Kamu tenang saja, setelah ini, mas yakin kamu bisa sembuh seperti sedia kala," ucap Irgi dengan bola mata yang berembun.


Dinda mengangguk lirih.


"Sekarang kamu tidur saja ya, istirahat yang banyak.Masih subuh kok," ucap Irgi sambil melirik arlojinya.


Dinda mengangguk patuh.


Ia kembali berbaring kemudian memejamkan matanya.


***


Pukul enam pagi,


Dinda kembali terbangun. Setelah menenangkan perasaannya, Dinda mencoba untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


Ia merasa ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat tumpukan rambut berserakan di atas bantal nya.


"Hah! apa ini?" tanyanya sambil menggenggam rambut tersebut.


Hiks Dinda kembali merasakan sesuatu jatuh kembali dan ternyata rambutnya kembali gugur, bukan sehelai demi sehelai, tapi sekebat bahkan ketika ia hanya menyentuh kepalanya saja rambutnya rontok seperti daun daun yang berguguran.


"Hiks rambut ku gugur,hiks hiks," tangis Dinda. Ia kemudian meraih cermin yang ada di meja nakasnya.


Dinda kembali kaget ketika melihat wajahnya di depan cermin.


"Akh! "Dinda menjerit dan menangis sambil melemparkan cermin tersebut ke lantai.


Prank ! Cermin itu berderai di atas lantai.


Irgi yang baru tiba di ruangan tersebut kaget.


"Dinda! Kamu kenapa nangis?!"tanya Irgi sambil menghampiri Dinda.


Hiks Dinda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sementara tubuhnya berguncang dan terdengar suara isak tangis di balik wajahnya yang tertutup.


"Dinda,kamu kenapa?"tanya Irgi mengulang.


Dinda terus saja menangis sambil terus menutupi wajahnya.


Dengan perlahan Irgi mencoba membuka telapak tangan Dinda, yang menutupi wajahnya.


Sedikit demi sedikit Wajah yang tertutupi itu terbuka.


Dinda kembali menjerit.


"Hiks hiks jangan di buka mas aku malu," tutur Dinda sambil menangis sedih 


"Tidak apa-apa Dinda," ucap Irgi sambil membuka telapak tangan Dinda.


Sebenarnya Irgi sudah melihat perubahan wajah Dinda sejak kemarin. Namun ia tidak memberitahu Dinda sama sekali tentang hal itu karena tak ingin Dinda sedih. Akhirnya Dinda mengetahuinya sendiri.


Melihat Dinda yang terlihat begitu sedih, Irgi langsung memeluknya, mencoba menenangkan Dinda yang sedang syok.


"Hiks wajah ku kenapa jadi jelek seperti ini?" Tanya Dinda sambil menangis memeluk Irgi.


Saat itu, kulit wajah Dinda merah dan terkelupas kelupas bibirnya juga sedikit sedikit bengkak dengan rambut yang botak tak merata.


Irgi mengusap punggung Dinda untuk menenangkannya. Karena Dinda tak berhenti-hentinya menangis menyesali perubahan pada wajahnya.


"Dinda tenanglah, ini hanya sementara waktu, rambut dan wajahmu bisa kembali seperti semula setelah siklus tubuhmu kembali normal," bujuk pergi sambil menenangkan Dinda yang sepertinya terguncang .


Dinda masih menangis terisak dengan tubuh yang memeluk Irgi semakin erat.


"Aku malu Mas, punya wajah seperti ini, aku tak menyangka jika wajahku bisa sejelek ini," tuturnya dengan tangis yang meratap.


"Siapa bilang kamu jelek, bagi mas Irgi kamu tetap cantik kok," ucap Irgi sambil mengusap punggung Dinda.


Dinda mencoba menghentikan Isak tangisnya, kata-kata Irgi sedikit membuatnya merasa tenang.


"Hiks, Apa benar begitu Mas?"tanya Dinda lagi.


"Iya Dinda, di mata Mas Irgi kamu tetaplah seorang gadis yang sangat cantik," ucap Irgi.


Dinda sedikit terpengaruh akan ucapan Irgi tangisnya pun berhenti.


"Nah seperti itu dong, sekarang tenangkan diri kamu ya, semua akan berlalu dan wajah kamu akan kembali seperti semula. Setelah kamu sembuh bahkan kamu akan menjadi gadis yang lebih cantik lagi," ucap Irgi masih dengan memeluk Dinda.


Bruk…tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar karena dibuka oleh seseorang.


"Oh jadi ini yang kalian lakukan selama berdua di ruangan ini ?!"tanya seorang wanita yang baru saja hadir.


Seketika Dinda dan Irgi mengurai pelukannya karena kaget. Mereka pun menatap ke arah wanita yang berjalan menghampiri mereka.


Gadis itu menatap keduanya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


bersambung dulu gengs.


__ADS_2