
Dinda terbangun di pagi hari karena merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungnya.
Ia pun meraba cairan di hidungnya dan ternyata itu darah.
Dinda kemudian bergegas turun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi membersihkan wajahnya.
Darah segar kembali menetes di hidung Dinda, kemudian ia membersihkan hidungnya dengan mendongkarkan kepalanya.
Setelah beberapa saat, mimisan itu pun berhenti. Kepala Dinda terasa pusing.
Dinda menatap pantulan dirinya di depan cermin yang ada di wastafel.
Wajahnya terlihat begitu pucat, tapi itu yang menarik perhatiannya.
Dinda melihat ada beberapa jejak kepemilikan pada leher dan juga bagian dadanya.
Dinda tersenyum, meskipun saat itu kepalanya terasa pusing, karena terbayang dengan malam pertama yang telah mereka lalui.
Karena waktu mendekati subuh Dinda melanjutkan rutinitasnya untuk mandi pagi.
Setelah selesai mandi, Dinda menghampiri tempat tidur.
"Mas bangun mas! ucap Dinda sambil mengguncangkan tubuhirgi dengan pelan.
Irgi terbangun dan membuka matanya, ia heran melihat Dinda tersenyum.
"Kenapa tersenyum!" tanya IG.
"Tuh!" Tunjuk Dinda ke arah bawah turbo Irgi yang tak tertutupi benang selembar pun.
Saat itu Irgi lupa, Jika dia dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun.
Irgi buru-buru mencari penutup tubuh, kemudian ia menarik sprei untuk menutupi tubuh bagian pinggang hingga ke bawah.
"Nggak usah ditutupin Mas, aku sudah terlanjur lihat kok, udah ngerasain juga," cetus Dinda Sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Irgi hanya tersenyum mendengar ucapan Dinda. Meski Dinda telah melihat seluruh tubuhnya, tetap saja dia malu jika harus ke kamar mandi dalam keadaan bugil.
"Din tolong ambilin handuk," cetus Irgi.
Dinda meraih handuk yang tergantung di depan pintu kamar mandi. Kemudian ia menyodorkan handuk tersebut ke arah Irgi
Irgi segera menyambut handuk itu dan memakainya, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Dinda menghampiri tempat tidur bermaksud untuk membereskan tempat tidur mereka yang berantakan.
Ketika ia menebak selimut, Dinda begitu kaget dengan noda dara6 yang berceceran.
"Darah apa ini?" tanya Dinda sambil menyingkap Sprei.
"Pasti darah mimisan ku," gumam Dinda. Dinda kemudian menggulung sprei agar tak terlihat oleh Irgi.
Setelah itu ia menyimpan di keranjang pakaian kotor.
***
Irgi berolahraga raga ringan di balkon kamarnya, sebelum berangkat ke kantor.
Setelah beberapa gerakan pemanasan ia kembali ke kamar.
__ADS_1
"Ini Mas pakaian kamu sudah aku siapin," ucap Dinda.
Irgi tersenyum ke arah Dinda.
"Enak ya punya istri apa-apa di siapin," ucap Irgi.
"Iya dong," jawab Dinda sambil tersenyum.
Dinda membantu Irgi mengenakan kemeja dan dasi.
Satu persatu kancing kemeja Irgi dia karena kan.
"Mas aku mau buka praktek dokter saja, Bagaimana menurut kamu?" tanya Dinda.
"Menurut Mas kamu fokus dengan pengobatan kamu dulu, kamu nggak boleh terlalu lelah."
."Ya Mas aku rasa sayang banget sekolah 5 tahun di fakultas kedokteran tapi ilmu yang aku dapatkan tidak bisa dimanfaatkan," ucap Dinda dengan bibir yang cemberut.
"Bukan nggak boleh, nanti setelah operasi transplantasi sumsum tulang belakang kamu selesai, baru kamu pikirkan rencana kamu selanjutnya," ucap Irgi sambil mencubit dagu Dinda.
Dinda tersenyum lagi, "Iya deh kalau begitu Mas," sahut Dinda.
"Iya, kamu jaga diri baik-baik ya, jangan lupa obatnya diminum," ucap Irgi sambil mendaratkan ciuman di kening Dinda.
"Iya Mas."
"Ya sudah, Mas pergi dulu ya."
"Mas aku boleh gak antar Mas Irgi sampai di depan pintu seperti Mommy dan Daddy?" tanya Dinda.
"Boleh, yuk," ajak Irgi.
"Dah, mas pergi dulu ya," ucap Irgi ketika berada di depan pintu.
Dinda menyalami tangan Irgi kemudian mencium punggung tangan suaminya.
Ketika Irgi hendak melangkah, Dinda kembali menahan dengan menarik tangan Irgi.
"Ada apa Dinda?" tanya Irgi.
"Mas, aku minta satu hal lagi nggak?" tanya Dinda
"Boleh, mau minta apa?"
"Aku mau mengantar kamu seperti mommy saat mengantar Daddy berangkat kerja."
Irgi tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian menghampiri Dinda mendaratkan kecupan di kening, mata, hidung dan bibir Dinda, hal itu persis dilakukan Leon pada Yura.
Ehm, suara deheman mengagetkan mereka.
"Wah ada yang meniru Mommy dan daddy nih," ujar Nessa.
Dinda tersenyum.
"Emangnya gak boleh Kak, kan sudah halal?" tanya Dinda dengan senyum yang tersipu.
"Bukannya nggak boleh, hanya saja kalian berdua bikin aku iri, jadi pengen kawin juga, hehe " tutur Nessa .
"Udah, kalau pengen kawin, minta Si Farel melamar kamu saja, beres kan."
__ADS_1
Nessa menghela napas panjang.
"Kamu tau gak, berapa mahar yang diminta oleh Daddy pada Farel untuk bisa melamar aku?"tanya Nessa.
"Berapa !"Irgi balik bertanya.
"Satu miliar tau," sahut Nessa dengan bibir yang cemberut.
"Satu miliar ?" Tanya Irgi.
"Iya satu M, padahal Farel mana punya uang sebanyak itu."
"Sudahlah Nes, setiap keputusan dari Daddy, itu yang terbaik untuk kamu. Daddy pasti ingin melihat kesungguhan Farel untuk mendapatkan kamu, dia ingin lihat Bagaimana Farel berusaha membahagiakan kamu. Maklum saja kamu adalah Putri kesayangannya," ujar Irgi.
"Ih tapi aku rasa nggak gitu-gitu juga kali, si Farel sampai kerja siang malam loh, untuk ngumpulin uang satu miliar," sahut Nessa dengan mendengus.
"Aku yakin bisa kok, karena cinta bisa membuat sesuatu yang tak mungkin jadi mungkin," cetus Irgi.
"Itu kan hanya teori," sahut Nessa
"Teori itu ada karena sudah pernah kejadian sebelumnya. Jadi aku cuma mau bilang sama kalian berdua semangat untuk memperjuangkan cinta kalian," ucap Irgi.
"Iya dong," sahur Nessa.
"Ya udah yuk berangkat," ajak Irgi.
"Kamu berangkat sendiri saja, aku pergi sama Farel," jawab Nessa.
"Ya sudah kalau begitu tapi kamu hati-hati ya, ingat selalu waspada terhadap siapapun."
"Beres!"
***
Ketika tiba di rumah Nessa, Farel menyempatkan diri untuk izin pada Sheon.
"Ya sudah, kamu boleh pergi sama Nessa, tapi ingat hati-hati. Nessa itu kesayangan kami semua, tentunya menjaga Nessa adalah tugas yang cukup berat," ucap Sheon pada Farel.
"Iya Pak, Saya janji akan menjaga Nessa bahkan dengan nyawa saya," ucap Farel.
"Ya sudah kalau begitu, pergilah."
Nessa dan Farel tersenyum, akhirnya kini mereka pergi berdua.
Nessa masuk ke dalam mobil.
"Nes kita ke suatu tempat dulu ya ,Ada yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Farel.
"Ke mana Rel?!" tanya Nessa.
"Ada deh nanti kamu pasti takjub," jawab Farel.
Nessa mengerucutkan bibirnya
'Kira-kira Farel mau bawa aku ke mana ya,' batin Nessa .
bersambung dulu gengs.
.
__ADS_1