The Twins CEO

The Twins CEO
Persalinan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sarah terbangun karena merasa basah pada bagian bawah tubuhnya.


"Mas, Mas Irgi bangun mas,"ucap Sarah sambil mengguncang tubuh Irgi.


Irgi membuka sedikit matanya melihat ke arah Sarah.


"Sarah kamu kenapa?"tanya Irgi.


"Perut aku mules Mas, rasanya sakit banget.


"Kamu mau melahirkan ya, tapi tapi taksirannya masih 2 minggu ."


"Iya tapi rasanya sakit banget."


"Ya sudah kita buru-buru saja ke rumah sakit, takut terjadi sesuatu pada kamu."


Irgi dan Sarah langsung bergegas ke rumah sakit. 


Saat perjalanan menuju mobil, Sarah merasakan bagian perutnya yang terasa mulas seperti diremas-remas.


"Aduh sakit sekali Mas," keluh Sarah ketika berada di depan pintu mobil.


"Iya sayang kamu tenang dulu ya. Kita ke rumah sakit sekarang."


Irgi membukakan pintu untuk istrinya, kemudian ia berjalan menghampiri pintu kemudi mobil.


Karena mereka tak memiliki sopir pribadi. Irgi membawa sendiri mobilnya.


"Aduh mas Sakit," keluh Sarah sambil mengusap perutnya.


"Iya Sayang, tenang dulu atur nafas saja."


"Aduh gak bisa Mas, sakit banget, cepat sedikit dong," keluh Sarah. 


"Iya, mas berusaha cepat ini."


Irgi berusaha fokus untuk menyetir, sambil mengusap perutnya istrinya.


"Akh! Mas, sudah gak tahan lagi Mas," keluh Sarah. Tubuhnya sampai berkeringat.


Irgi semakin cepat membawa mobilnya. Untuk sementara ia tetap fokus menyetir dan membiarkan istri mengeluh kesakitan.


"Hiks, mas Irgi, kok diam saja sih? Sarah nih kesakitan tau!" dengus Sarah, karena Irgi hanya diam saja.


"Mas Irgi bukannya gak peduli, tapi lagi fokus nyetir. Kalau kamu panik, mas Irgi juga panik bisa celaka kita," sahut Irgi sambil mengusap perut Sarah.


"Akh! Mas sakit! Jerit Sarah lagi.


"Iya Sayang. Sebentar lagi kita sampai."


Saking sakitnya Sarah sampai menangis dan menjerit. Namun Irgi yang lebih dewasa itu memilih untuk tetap tenang. Hingga mobil mereka pun tiba di pintu UGD rumah sakit.


"Akh! Sakit banget Mas, Sarah gak maulah punya anak lagi, cukup ini saja," Tangis Sarah.


"Iya, Sabar lah Sayang kita sudah sampai."


Setibanya di depan pintu ruang UGD paramedis sudah menyiapkan tempat tidur untuk Sarah.


Mereka mengangkat tubuh Sarah dan meletakkannya di atas tempat tidur. 


Setelah itu Sarah langsung diperiksa.


Sarah di periksa oleh seorang bidan Sementara dua orang suster memaksakan infus di tangannya.


"Akh! Sakit Mas," ringis Sarah sambil meremas tangan Irgi.


"Iya Sabar ya Sayang." Hanya itu kata-kata yang bisa Irgi ucapkan.


Dengan perasaan cemas dan was-was Irgi  berusaha untuk tetap tenang karena sang istri terus saja menangis. Usia Sarah memang tergolong masih muda saat melahirkan. Selain itu, Sarah memang manja Karena itulah dia tak tahan dengan rasa sakit.


"Sudah pembukaan empat ya Bu," ucap bidan yang memeriksa keadaan Sarah.


"Aduh Mas Sarah gak tahan, sakit sekali!" keluh Sarah sambil menggigit bibir bagian bawahnya hingga berdarah.


"Iya Sayang sabar sebentar ya," ucap Irgi sambil mengusap kepala Sarah.


Meskipun begitu, Sarah tetap menggeliat tubuhnya.


Irgi menggenggam tangan Sarah, sambil membacakan shalawat untuk Sarah.


Setelah beberapa saat Sarah baru tenang.

__ADS_1


Sudah berjam-jam Sarah menunggu, saat ini kesabarannya untuk menjadi seorang ibu benar-benar di uji. 


Selama enam jam Sarah harus menahan sakit, yang terkadang datang dan terkadang pergi. 


Tepat pukul sembilan, persalinan Sarah di mulai.


"Ayo Bu rentangkan kakinya," ucap salah seorang suster ketika air ketubannya sudah pecah.


"Gak mau! Malu," ucap Sarah.


"Gak usah malu Bu, memang seperti ini caranya melahirkan normal."


"Mas Irgi, Sarah malu," rengek Sarah.


"Gak usah malu, Sayang. Memang ini caranya persalinan normal," ucap Irgi sambil mengusap kepala Sarah.


"Ayo Bu, nanti sakit lagi loh."


Tiba-tiba Sarah merasakan ada sesuatu yang mendorong dari arah perutnya.


"Akh! " Jerit Sarah sambil membuka lebar pangkal pahanya.


"Ayo Bu atur nafasnya, sebentar lagi keluar."


Sarah mengatur nafasnya mengikuti instruksi dari dokter kandungan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan bayi.


Oek oek…


"Alhamdulillah, selamat ya Pak. Anaknya laki-laki."


"Alhamdulillah," ucap Irgi rasa syukur.


Sarah sudah merasa lemas karena kehabisan tenaganya.


Kemudian dokter kandungan, mencolok bagian inti tubuh Sarah untuk memecahkan ketuban Sarah yang kedua kalinya.


Beberapa saat kemudian Sarah kembali mengejan dan melahirkan.


"Alhamdulillah, bayi anda laki laki lagi Pak, selamat ya," ucap Bu dokter.


Sarah yang sudah benar-benar kehilangan tenaganya itu bersandar pada bantal.


"Alhamdulillah Sayang, kita punya dua anak laki-laki yang tampan," ucap Irgi.


"Iya Mas, aduh leganya," ucap Sarah sambil menghapus keringat dingin yang membanjiri keningnya.


"Bu ada luka robek ya, saya jahit ya."


"Ngak mau dokter!"teriak Sarah ketakutan 


Baru saja Sarah merasa beban berat di pundaknya terlepas setelah melahirkan kini ia harus menerima jahitan lagi.


"Haha, kenapa gak mau, kalau gak mau nanti jelek loh ibu bentuknya," canda dokter.


"Biarin aja jelek. Kan gak dilihat,cuma dirasain," sahut Sarah dengan nafas yang terengah-engah.


"Ntar kalau gak di jahit, gak enak juga Bu, nanti suaminya cari yang baru," canda suster.


"Hah, massa?" Sarah jadi sedikit panik.


"Iya dong Bu. Udah jelek gak enak lagi," sahut Suster sambil mengulum senyumnya.


"Iya suster di jahit saja," ucap Sarah dengan pasrah.


Mereka semua pun menertawakan kepolosan Sarah.


***


Setelah proses persalinan selesai Sarah dipindahkan ke ruang perawatan.


Sarah langsung tertidur karena kehabisan tenaganya.


Dua orang suster datang membawa dua box bayi. Diikuti oleh Yura dan Leon yang menggendong kedua cucu mereka.


"Halo, mommy dan Daddy," ucap Yura ketika memasuki ruang perawatan tersebut.


Mendengar suara Yura, Sarah terbangun.


"Mommy," lirih Sarah.

__ADS_1


Yura memberikan bayi Sarah ke pada Irgi. 


"Selamat ya Sarah, sekarang kamu sudah jadi Ibu," ucap Yura sambil memeluk Sarah.


"Iya mommy, terima kasih."


Tak berapa lama rombongan keluarga mereka kembali datang. Saudara-saudara semua hadir untuk mengucapkan selamat sekaligus ikut berbahagia atas kelahiran anggota baru mereka.


Suara riuh terdengar dari ruangan perawatan Sarah, dimana mereka berebutan untuk menggendong bayi-bayi mereka.


"Aduh jadi semakin ingin punya bayi kembar," ucap Shasa ketika ia dan suaminya menggendong sepasang bayi kembar itu.


"Iya seperti cuma aku yang gak dapet anak kembar. Nessa dan Farel juga dapat anak kembar," keluh Sheon.


"Hehe, benih kita tokcer Kak," sahut Farel.


"Jadi kamu bilang, benih aku tidak tokcer?" Sheon hendak menyiku Farel.


"Hehe, mungkin," sahut Farel.


"Tenang saja kakak, masih ada aku yang gak punya anak kembar," sahut Nathan.


"Hiks, iya Than. Sini kita berpelukan. Kita gak punya anak kembar," ucap Sheon sambil merentangkan tangannya kepada Nathan.


Mereka pun berpelukan.


"Lebai banget kalian !," sahut Shasa.


Saking asiknya berada di ruangan itu dari pagi sampai sore mereka di sana, makan minum bersama. Hingga suasana ruangan tersebut seperti rumah tak seperti rumah sakit.


Beruntung mereka berada di ruang perawatan super VIP yang memang jauh dari ruangan perawatan lainya.


Setelah hari mulai gelap. Barulah keluar satu RW itu berbondong-bondong pulang. Setelah seharian mengganggu ketenangan Sarah dan Irgi.


"Akhirnya sepi juga," ucap Irgi sambil menutup pintu ruang perawatan Sarah.


Sarah hanya tersenyum mendengar keluhan suaminya itu.


Irgi menghampiri box mereka kemudian menggendong salah satu bayi mereka.


"Akhirnya daddy bisa gendong kamu Nak. Paman dan Tante mu itu tak memberikan kesempatan untuk daddy gendong ya. Kalian berdua jadi rebutan ya."


"Mas bawa sini Mas, aku mau gendong juga."


Irgi membawa satu bayi mereka dan menyodorkan ke Sarah.


Setelah itu ia mengambil satu bayi mereka dan menggendongnya.


Sepasang suami itu merasa bahagia ketika melihat dua malaikat kecil mereka itu.


"Lihatlah Sarah, anak-anak kita lucu dan sehat-sehat. Semoga jadi anak yang Sholeh. Aamiin," ucap Irgi.


"Iya Mas, rasa sakit yang tadinya menyiksa seakan tak terasa lagi. Berganti dengan kebahagiaan yang sempurna."


Sarah meneteskan air matanya.


Sesuatu yang menyakiti sudah ia lewati sekarang tinggal menikmati perjuangannya selama sembilan bulan. Buah dari kesabaran dan keikhlasan sebagai seorang wanita. 


***


Tiga bulan berikutnya. Kini giliran Nessa yang melahirkan dua putri kembarnya. 


Lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga Leon. 


Untuk memperkokoh persaudaraan di antara mereka. 


Nessa dan Irgi sepakat untuk kembali menjodohkan pasangan anak kembar mereka.


Bagaimana kisah anak-anak mereka nantinya?


Lanjut di buku Selanjutnya ya dengan judul : Perjodohan Silang.


Insyaallah setelah lebaran Author up. Untuk sementara author selesaikan dulu novel author yang mengikuti event. Maaf ya reader jika endingnya tidak sesuai dengan harapan. Jujur author kesulitan menulis kisah yang gak ada konfliknya.


Terima kasih untuk para reader yang tetap setia dan terus menantikan cerita ini.. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada author ada salah ya. 🙏


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.


🌹🌹🌹🌹🌹Tamat🌹🌹🌹🌹🌹


 

__ADS_1


__ADS_2