
"Karen!"
Irgi melepaskan pelukannya.
Sementara Karen menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Ini tak seperti yang kau pikirkan," ucap Irgi sambil menghampiri Karen.
Irgi menarik tangan Karen untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Apa lagi ini?"tanya Karen.
"Karen, aku dan Dinda tak …"
"Tak ngapa-ngapain? Begitukah? Jelas-jelas aku melihat kalian sedang berpelukan!" Karen menginterupsi.
"Iya tapi …"
"Tapi apalagi Gi?!"
"Saat ini Dinda sedang down, kamu gak lihat keadaannya?!" tanya Irgi dengan penuh penekanan.
"Itu hanya alasan dia saja, Irgi.Dia sengaja mendramatisir keadaannya agar kamu semakin simpati terhadapnya!"
"Dia itu mau merusak hubungan kita! Kamu gak sadar itu Gi!" bentak Karen.
"Kamu itu sudah sudah mengabaikan aku, Ingat Gi! kurang dari enam bulan lagi kita menikah, tapi kita belum persiapkan apa pun, belum cetak undangan! Belum fitting gaun resepsi! Belum memilih gedung! Jika kamu sibuk mengurusi adik kamu itu, kapan waktu kamu untuk aku?!"tanya Karen dengan suara yang lantang.
Irgi menghela nafas panjangnya.Karena sejak tadi Karen terus saja memotong pembicaraannya.
Irgi bahkan tak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
" Iya aku tahu, tapi saat ini Din…"
"Dinda! Dinda! Dinda! Selalu itu yang jadi alasan kamu!" cecar Karen.
__ADS_1
Mendengar Karen yang selalu nyolot, Irgi pun hilang kesabaran nya.
"Oke, sekarang mau kamu apa?! " tanya Irgi sedikit emosi.
Keren membelalak bola matanya mendengar pertanyaan Irgi tersebut.
"Kamu pilih aku atau Dinda?!" tanya Karen dengan tegas.
Kali ini Irgi membelalakan bola matanya.
"Aku beri kamu waktu tiga hari Gi, jika kamu gak ada itikad untuk mengurus sendiri pernikahan kita, mending kita batalkan saja pernikahan ini!"
Ancam Karen, karena kesal.Ia pun berlalu meninggalkan Irgi yang masih membeku di hadapannya.
Dinda mendengar semua pembicaraan mereka, ia jadi merasa bersalah terhadap Irgi. Karena dirinya Irgi jadi harus bertengkar dengan tunangannya.
Bulir bening menetes di pipi Dinda, kemudian di hapus nya dengan terburu-buru.
Irgi masuk ke dalam kamar Dinda.Kemudian ia menghampiri Dinda.
"Din kamu kenapa?" tanya Irgi yang seolah tak terjadi apa-apa.
Irgi yakin jika Dinda mendengar semua pembicaraan bersama Karen. Hingga membuat Dinda tersinggung.
"Din, kamu jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Karen Ya," ucap Irgi sambil menggenggam tangan Dinda..
Dinda hanya diam dengan tatapan hampa menatap ke arah Irgi.
"Iya Mas, apa yang dikatakan tunangan mas Irgi memang benar. Tak seharusnya mas Irgi menghabiskan waktu untuk menjaga ku, aku bukan siapa -siapa mas Irgi. Aku bisa sendiri kok jaga diri aku," ucap Dinda sambil menghapus air mata.
"Gak usah bicara seperti itu Din. Karen hanya salah paham saja. Dia nggak tahu apa yang terjadi. Sudah lah biar saja dia, yang penting kamu harus segera sembuh ya."
Irgi meraih mangkok bubur yang ada di samping nakas.
"Kamu makan dulu ya Din, biar cepat sembuh, kasihan Sarah setiap hari ia bertanya tentang kamu. Katanya Sarah ingin pulang dari pesantren dan merawat kamu bersama Mas. Tapi mas bilang kamu gak apa-apa," tukas Irgi sambil menyuapi Dinda sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Mas, kalau aku gak ada aku titip Sarah ya.Aku tahu kak Nathan bisa menjaga Sarah dengan baik, tapi Sarah sendiri nggak terlalu dekat dengan kak Nathan," tutur Dinda dengan lirih.
Perasaan sedih kembali menyelimuti hati Dinda , ia tak tahu bagaimana reaksi Sarah jika melihat keadaannya yang seperti ini.
Sambil menerima suapan Irgi.Dinda menghapus air matanya.
Setelah selesai menyuapi Dinda, Irgi meletakkan mangkuk bubur itu di atas nakasnya.
"Din,Mas Irgi punya sesuatu untuk kamu," ucap Irgi sambil membuka tote bag yang ia letakkan di atas tempat tidur.
Dinda menoleh ke arah Irgi yang membawa lipatan kain ke arahnya.
Kemudian Irgi merentangkan berwarna peach itu, hingga menutupi kepala Dinda, kemudian menyatukan dua sisi kain di bawah dagu Dinda dengan jarum pentul.
Dinda kaget melihat apa yang dilakukan oleh Irgi.
"Nah kalau begini kan kamu tambah cantik," ucap Irgi setelah mengenakan Dinda kerudung.
Dinda tersanjung atas pujian Irgi,ia langsung menundukkan wajahnya, menyembunyikan kebahagiaannya.
Kemudian Irgi memakai Dinda syal yang terbuat dari bahan rajutan.
"Ayo sekarang kita keluar, kamu pasti bosan kan jika berada di kamar terus?"tanya Irgi sambil mengulurkan tangannya.
Dinda menggangguk, ia menyambut tangan Irgi, setelah Dinda berdiri Irgi memegang standar infusnya.
"Ayo Din, biar kamu gak ngambang,kamu gandeng tangan mas Irgi."
Dinda mencebikkan bibirnya, ia merasa terharu terhadap perlakuan baik Irgi tersebut.
Keduanya pun keluar dari kamar dengan bergandengan mesra.
***
Dokter Ryan membawa sekutum bunga mawar merah untuk Dinda, karena kunjungan sebelumnya ia tak sempat bicara pada Dinda.
__ADS_1
Seketika bunga yang berada di genggaman Ryan layu, ketika Ryan melihat Irgi dan Dinda keluar dari kamar dengan bergandengan tangan.
bersambung dulu gengs