
"Gak mesti di jawab sekarang kok," ucap Farel ketika melihat kebingungan di wajah Nessa.
Nessa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Lain kali saja ya Nona," cetus Farel lagi.
Nessa kembali menganggukkan kepalanya.
"Yuk kalau begitu kita kembali ke ruang perawatan Dinda," ajak Nessa.
Farel dan Nessa kembali berjalan menuju rumah sakit.
Keduanya tampak kikuk setelah Farel mengungkapkan perasaannya.
Mereka tiba di seberang rumah sakit, saat itu kendaraan begitu ramai yang lalu lalang.
Nessa hendak menyebrang. Namun, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Farel.
Sejurus kemudian ada sebuah motor melaju dengan kencang dan menyalip kendaraan yang ada di depannya.
"Awas Nona!" teriak Farel sambil menggenggam tangan Nessa.
Beruntung tubuh Nessa tertarik mundur ke belakang jika tidak,motor tersebut pasti akan menyambar Nessa.
"Uh hampir saja!" dengus Nessa sambil mengelus dadanya.
"Hati-hati menyebrangnya," ucap Farel.
Farel menggenggam tangan Nessa kemudian menuntunnya untuk menyebrangi jalan.
Farel menghadang kendaraan agar tak melaju ketika mereka lewat.
Akhirnya tiba juga mereka di seberang jalan.
Farel tetap menggenggam tangan Nessa sampai mereka tiba di lobby, bahkan hingga mereka melewati koridor.
Nessa menatap heran ke arah Farel yang masih menggenggam tangannya.
Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta..
Nessa sempat menarik tangannya.Namun Farel justru semakin menggenggamnya erat.
Nessa pun mendelikkan matanya ke arah Farel dan hanya di balas dengan senyuman olehnya.
Sepanjang koridor mereka berjalan saling bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih.
Beberapa pengunjung yang lewat terkagum kagum melihat Nessa dan Farel yang terlihat begitu serasi.
"Nona, bagaimana caranya agar saya bisa membuktikan perasaan cinta saya terhadap anda?" tanya Farel tiba-tiba.
Nessa kaget, ia langsung menoleh ke arah Farel,ia sendiri bingung, bagaimana cara membuktikan seseorang yang benar-benar mencintainya.
Farel menoleh ke arah Nessa.
"Gak usah dijawab juga gak apa-apa, suatu saat pasti akan ada masanya untuk saya bisa membuktikannya nona," ucap Farel.
Nessa hanya membalas Farel dengan seulas senyuman.
Tiba di lift, Farel belum juga melepaskan genggaman tangan terhadap Nessa.
__ADS_1
Mereka terus berjalan melewati koridor masih dengan bergandengan tangan.
Tiba-tiba saja Nessa terpikir sesuatu.
"Aku tahu, bagaimana cara membuktikan perasaan mu terhadap ku," ucap Nessa.
Seketika Farel langsung menoleh.
"Bagaimana caranya?" tanya Farel.
"Kau tinggal bilang pada ayah ku, jika kau mencintai ku,dan menginginkanmu untuk jadi kekasihmu, apa kau berani?" tantang Nessa.
Deg deg Ser, seketika darah aliran darah Farel melesat lebih cepat.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
"Din, minum obat kamu dulu ya," ucap Irgi sambil menyodorkan beberapa pil dan segelas air.
Dengan segera Dinda, meminum obat yang diberikan Irgi untuknya.
Dinda pun meminum obat tersebut dengan segelas air putih.
Irgi tersenyum melihat Dinda yang lebih semangat di hari sebelumnya.
"Ya sudah, jika kamu lelah, kamu tidur saja dulu ya, mas Irgi mau periksa laporan yang dikirimkan oleh Sherly," ucap Irgi.
"Iya Mas," sahut Dinda sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dinda melirik ke arah Irgi yang terlihat sibuk otak-atik laptopnya.
'Malam ini adalah malam pertama pernikahan kami, seharusnya kami merasakan bahagia malam ini, sayangnya karena penyakit dan keadaan ku, aku jadi tak bisa melayani mas Irgi sebagai seorang suami,' batin Dinda.
Ada rasa iba dihatinya melihat sang suami yang selalu sibuk bekerja di malam hari.
Irgi bahkan sering tidur larut malam karena saat siang hari ia tak sempat menguruskan perusahaannya.
Entah kenapa malam ini Dinda belum juga bisa memejamkan matanya. Jantungnya selalu berdebar di setiap detik pergantian waktu. Dinda seperti sedang menanti sesuatu.
Pukul 11.00 malam penantian itu pun tiba.
Setelah selesai dengan urusan pekerjaannya, Irgi menutup laptopnya kemudian merapikan barang-barang yang ada di meja sofa kembali.
Karena malam juga semakin larut, Ia pun menghampiri Dinda.
Irgi naik di atas tempat tidur, untuk tidur bersama istrinya.
Perasaan lelah mendera tubuh Irgi, Karena itulah beberapa saat meletakkan kepalanya di atas bantal, Irgi langsung tertidur lelap.
Satu tangannya melingkar di sepanjang bagian perut Dinda.
Dinda yang pura-pura tidur itu seketika membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.
Dinda merentangkan tangannya memeluk Irgi, Indra penciumannya
seketika mencium aroma tubuh Irgi yang beraroma maskulin yang lembut.
Belum lagi dengkuran halus yang terdengar lirih, itu membuat hati dan perasaan Dinda menjadi tenang.
__ADS_1
Dinda semakin merapatkan tubuhnya mencari kehangatan di dalam depan tubuh Irgi.
'Akhirnya aku bisa memeluk kamu Mas, rasanya begitu damai bisa berada disampingmu,' batin Dinda.
Dinda kemudian membalikkan tubuhnya untuk menatap langit-langit kamarnya.
"Ya Tuhan, berikan lah kesembuhan untuk ku, agar bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku," pinta Dinda dengan bulir bening yang menetes di pipinya.
***
Seperti yang dijanjikan oleh Leon kepada Farel. Hari ini Farel akan diberi promosi jabatan.
Para Staf dan direksi berada di sebuah ruangan, sementara Leon sedang memimpin rapat tersebut.
"Saya mengundang anda semua disini karena hari ini, saya bermaksud mengangkat Farel Abimana Putra sebagai Direktur keuangan PT AX yang baru," ucap Leon.
Farel begitu kaget mendengar penuturan Leon.
Seketika tepuk tangan membahana di ruang rapat.
Para staf karyawan dan pemegang saham ikut memberikan selamat kepada Farel.
Begitu pun Nessa,ia juga tak menyangka jika Farel akan menjabat posisi penting di perusahaannya.
" Selamat ya Farel,atas pelantikan kamu," ucap Nessa.
"Terima kasih Nona, tapi saya lebih suka dengan jabatan saya yang lama, sebagai asisten anda nona," ucap Farel.
"Bukannya kita masih satu kantor, jika ada masalah saya juga bisa meminta tolong pada kamu," ucap Nessa .
"Tentu dong," jawab Nessa.
***
Setelah acara pelantikan jabatannya selesai, Farel menghampiri ruang kerja Leon yang berada di gedung terpisah dari gedung AX company.
"Permisi Tuan," ucap Farel ketika berada di ambang pintu ruangan Leon.
"Eh Farel! Masuk!" Leon mempersilahkan Farel untuk masuk.
Farel masuk kemudian duduk di hadapan Leon.
"Ada apa Farel, sepertinya ada sesuatu yang penting?" tanya Leon.
Farel menundukkan kepalanya selama beberapa saat.
Leon mengernyitkan keningnya, menatap Farel menanti jawabannya.
"Saya ingin mengatakan sesuatu Tuan," ucap Farel.
"Katakanlah!" titah Leon.
"Kedatangan saya kemari untuk mengungkapkan. Perasaan saya," ucap Farel.
Leon memijat kepalanya, ia semakin bingung menanggapi Farel.
"Maksud kamu apa?"tanya Leon.
__ADS_1
"Saya ingin mengungkapkan perasaan saya terhadap nona Nessa. Saya mencintai nona Nessa, Tuan, dan berharap bisa mendapatkan restu dari anda," ucap Farel.
Seketika bola mata Leon membulat membelalak dengan sempurna.