The Twins CEO

The Twins CEO
Ketahuan


__ADS_3

Dinda dan Irgi baru pulang dari rumah sakit, sepanjang perjalanan sesekali Dinda melihat Irgi yang sedang menyetir.


Irgi terlihat begitu resah dan gelisah, Karena itulah Dinda enggan untuk mengajaknya bicara.


Sepanjangan perjalanan mereka hanya diam.


Irgi masih mengingat kata-kata yang diucapkan oleh dokter. dan itu membuatnya menjadi gelisah.


Suasana di dalam mobil terasa dingin.


Dinda melirik ke arah Irgi Yang sepertinya tak berniat mengajaknya bicara.


"Mas Irgi kenapa ya, apa dia marah padaku?' batin Dinda.


sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan terjadi di antara mereka.


***


Setelah dari rumah sakit Nessa langsung pulang ke rumah diantar oleh sopir.


Saat yang bersamaan Irgi juga tiba bersama dengan Dinda yang juga baru keluar dari rumah sakit.


"Nessa!"panggil Irgi sambil menghampiri Nessa.


Nessa menahan langkah kakinya menanti Irgi yang datang menghampirinya.


"Ness, maaf ya tadi aku nggak bisa ikut Deddy karena…"


"Nggak apa-apa kok Gi, Aku tahu kamu lagi ngurus Dinda yang lagi sakit," sahut Nessa .


"Tapi kamu tidak apa-apa kan Ness?"


tanya Irgi sambil melihat ke arah Dinda dari atas sampai bawah.


"Nggak apa-apa kok kamu lihat sendiri kan, aku tidak cedera sedikitpun, hanya saja…."


"Hanya saja kamu dan Stefan putus tunangan?" terka Irgi.


"Ya begitulah," sahut Nessa sambil tersenyum. akhirnya ia punya alasan untuk menolak Stefan.


"lo Dinda mana Gi?" tanya Nessa.


Dinda keluar dari dalam mobil.


Nessa kaget ketika menatap ke arah Dinda yang terlihat begitu kurus.


"Dinda Bagaimana keadaan kamu?" tanya Nessa.


"Seperti yang kak Nesaa lihat," tutur Dinda dengan lirih.


"Kak Nessa tidak apa-apa kan?"tanya Dinda yang juga terlihat khawatir.


"Nggak apa kok, Ayo kita masuk, Kamu nggak boleh terlalu lelah ya, sebaiknya istirahat saja."


Nessa mengantar Dinda menuju kamarnya sementara Irgi dan sopir membawa barang-barang mereka.


Bola mata Nessa berkaca-kaca ketika melihat Dinda yang terlihat begitu kurus, dengan kantung mata yang terlihat begitu tegas dan berwarna gelap.


Dengan hati-hati ia menuntun Dinda menuju tempat tidurnya.


"Kamu istirahat saja Din, sudah minum obat kan?"tanya Nessa.


"Sudah Kak,"jawab Dinda.

__ADS_1


"Oke kalau begitu kamu istirahat saja, Biar Kak Nessa temani kamu sampai kamu tidur."


"Nggak apa kok Kak, Dinda tahu Kak Nessa pasti lelah setelah seharian bekerja, apalagi tadi kakak sempat mengalami masalah."


"Ah nggak apa-apa Kamu tidur saja, Kakak akan temani kamu sampai kamu terlelap," ucap Nessa sambil mengkotak-atik nomor handphonenya.


Karena tak enak hati terhadap Nessa, Dinda pun pura-pura tidur. Setelah 10 menit menjaga Dinda, Nessa melihat ke arah jendela Dinda yang belum tertutup, ia meletakkan handphonenya di atas nakas.


Setelah itu Nessa berjalan menutup jendela kamar Dinda.


Melihat Dinda yang sudah tertidur, Nessa langsung keluar kamarnya.


Nessa menutup pintu kamar Dinda.


Saat itulah ia melihat Irgi sedang melintas menuruni anak tangga.


"Mau ke mana Gi?" tanya Nessa.


"Mau makan, aku belum makan ,"cetus Irgi.


"Ya udah aku temenin," sahut Nessa sambil berjalan menuruni anak tangga.


"Eh tadi kita belum selesai bicaranya," ucap Irgi sambil menarik kursi meja makan.


"Kamu nggak makan?" tanya Irgi ketika melihat Nessa yang meletakkan dadunya pada telapak tangannya yang terlentang


'Aku kenyang," dan jawab Nessa.


"Oh iya aku belum dengar tuh cerita kamu Bagaimana kamu bisa diculik dan diselamatkan?" tanya Irgi sambil mengunyah makanannya.


"Aku nggak nyangka Gi, Stefan sejahat itu, "ucap Nessa sambil bergedik ngeri.


"Tapi syukurlah Ness, kejadian itu membuat kita mengetahui sifat asli Stefan, Untung saja kamu nggak sampai kenapa-napa," cetus Irgi.


Mendengar kata-kata Nessa, Irgi langsung meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.


"Sepertinya aku dan Karen juga akan putus,"cetus Irgi


"Loh kenapa?" tanya Nessa sedikit kaget.


"Aku nggak suka sifat Karen yang terlalu egois, kata-katanya kasar tidak seperti saat pertama kami bertemu," lapar pergi Irgi dengan nada kecewa.


Nessa memandang Irgi dengan tatapan melongo.


"Dia nggak suka kalau aku merawat Dinda, katanya Dinda itu mau merusak hubungan kami, sepertinya Karen tipe wanita yang banyak menuntut, aku harus inilah, aku harus itulah, nggak boleh ginilah nggak boleh gitu lah," curhat Irgi.


"Ih kok kita sama gitu ya Gi," situs Nessa.


"Ternyata bener, menjalani sebuah hubungan karena dijodohkan itu nggak sesederhana yang kita pikirkan," imbuhnya lagi.


"Iya Ness, Aku juga merasa seperti itu."


"Ya sudahlah Gi, kalau kamu nggak cocok sama Karen, kamu tinggal bilang sama Daddy."


"Tapi aku nggak enak, aku takut Daddy kecewa."


"Aku rasa nggak kecewa kok kalau kamu beri alasan yang benar, jangan sampai setelah menikah, justru rumah tangga kalian bisa berantakan," nasehat Nessa.


"Iya nanti aku pikirkan lagi."


"Sekarang aku mau telpon Daddy, Daddy dan mommy kemana sih kok belum pulang?"tanya nesa sambil meraba blazernya.


Nessa merogoh saku blazernya tapi ya tak menemukan handphonenya.

__ADS_1


"Ih sepertinya handphone aku tertinggal deh di kamar Dinda, "ucap


nya sambil beranjak dari meja makan.


***


Setelah Nessa keluar dari kamarnya, Dinda kembali membuka matanya.


Sebenarnya ia tidak bisa tidur karena di rumah sakit iya sudah beristirahat seharian selama seminggu penuh.


Dinda bangkit kemudian menuju meja kerjanya.


Ia membuka Diary nya dan menuliskan pengalamannya di rumah sakit bersama Irgi.


Dinda sengaja menulis kesan-kesannya di dalam buku diary Karena ia merasa tak ada lagi tempat yang tepat untuk mencurahkan perasaannya.


Setelah menyiapkan lembaran buku dan pensil Dinda mulai menulis.


Dear diary,


Lama tidak bertemu, aku sudah tidak sabar untuk mencatat di atas kertas putih mu ini.


Aku tidak sabar untuk mengatakan kepadamu, sesuatu hal yang rasanya tak mungkin kukatakan pada orang lain.


Aku bahagia, karena selama seminggu ini aku sudah ditemani oleh Mas Irgi.


Bersamanya saja aku, sudah merasa bahagia sekali, seperti dunia milik kami berdua,.


Tapi ada satu hal yang membuatku menyadari, semakin sering aku bersamanya, aku pun semakin yakin jika Mas Irgi hanya menganggapku sebagai adiknya.?


Mungkin selamanya cinta ini harus aku pendam.Aku tak ingin Mas Irgi sampai tahu jika aku mencintainya.


Apa yang terjadi jika Mas Irgi tahu jika Aku memiliki perasaan terhadapnya


Dia pasti akan menjauhiku.


Dear diary tolong aku agar aku bisa melupakan perasaan ini ,agar tak menyakiti Mas Irgi.


Semua keluarga ku pasti akan kecewa, jika mengetahui tentang perasaanku ini.


Aku seperti seorang wanita yang tak tahu malu tak sadar diri hiks hiks, aku memang tak seharusnya mencintai Mas Irgi.


Tolong aku , bantu aku agar aku bisa lepas dari siksaan ini.


Jujur saja aku tersiksa Dengan Cinta terlarang ini .


Sambil menulis diary tersebut Dinda menangis.


Setelah menulis, ia kemudian merobek di Diary dan hendak bermaksud membuangnya.


Tiba-tiba Dinda mendengar suara seseorang yang berjalan menghampiri pintu kamarnya, setelah merobek dan menggenggam kertas itu, Dinda melemparkan ke keranjang sampah, Namun, kertas itu malah tercecer di lantai ,Dinda kemudian kembali ke tempat tidur dan pura-pura tertidur.


Crack ..pintu kembali dibuka oleh Nesa, Nessa berjalan perlahan ke kamar Dinda, untuk mengambil handphonenya yang terletak di atas nakas, setelah mengambil handphone tersebut, tiba-tiba ia melihat gumpalan kertas Dinda kemudian meraihnya.


Kertas itu seperti kertas sobekan.


"Kertas apa ini?" gumam Nessa sebelum membuang kertas itu, Nisa bermaksud melihat isi dari kertas robekan itu, Nessa pun membuka kertas itu dan membaca isinya.


Alangkah terkejutnya Nessa, ketika melihat tulisan tangan Dinda yang terukir rapi di atas gambaran putih bergaris.


Mendengar langkah Nessa terhenti, Dinda membelalakkan bola matanya, ia pun mengintip dari balik selimut, ketika melihat Nessa yang tengah membaca lembaran kertas yang ia buang…


"Jadi Dinda.....?" Nessa menatap ke arah Dinda yang kini pura-pura tidur.

__ADS_1


Sementara Dinda menangis di bawa selimutnya karena ketahuan oleh Nessa tentang perasaannya terhadap Irgi.


__ADS_2