
Pukul delapan malam setelah makan malam, Irgi dan Dinda kembali ke kamar.
"Jangan lupa minum obatnya ya Din?" ucap Irgi seraya meraih laptopnya.
"Iya Mas," jawab Dinda.
Dinda meminum obatnya, kemudian berbaring di atas tempat tidur.
Diikuti oleh Irgi yang masih mengotak atik laptopnya di atas tempat tidur.
Dinda yang awalnya berbaring terlentang itu, kemudian membalikkan tubuhnya.
Ia mengusap ngusap kaki Irgi seraya tersenyum.
"Kenapa Dinda?"tanya Irgi.
Dinda tersenyum sambil mengedipkan matanya.
Irgi meletakkan laptop di atas nakas kemudian ia berbaring di samping Dinda. Karena mengetahui kode dari istrinya itu.
Keduanya pun kembali melakukan hubungan suami istri di malam kedua.
***
Dinda mengatur nafas sambil mengusap peluh yang membasahi wajah setelah pertarungan yang baru saja selesai, sementara Irgi masih berada di kamar mandi.
Setelah nafasnya teratur Dinda bangkit dari duduknya, tiba-tiba ia merasakan ada yang mengalir melalui hidungnya.
Dinda segera menyalakan lampu tidur dan kaget karena darah segar mengalir melalui kedua lubang hidungnya
"Mimisan lagi," gumannya. Sebelum Irgi selesai mandi, ia buru-buru membersihkan darah yang ada pada hidungnya. Setelah semua bersih Ia pun pura-pura tidur, padahal kepalanya terasa begitu pusing.
***
Setelah melihat pengumuman di Gym saat itu, juga Farel mendaftar di turnamen bulat nasional.
Dan saat itu juga Farel mulai berlatih dengan gigih, tak hanya berlatih di gym, Farel juga mendaftar pelatihan gulat untuk mempersiapkan turnamen yang akan di ikutinya.
Karena sibuk berlatih, mengurusi bengkel dan menjaga kebugaran tubuhnya, Farel jadi jarang bertemu dengan Nessa.
Nessa duduk di atas tempat tidur. Saat ini ia sedang melamun sendiri di kamarnya
Sudah dua hari Farel tak pernah mengantar dan menjemputnya pulang ya meskipun Farel selalu menyempatkan diri untuk selalu menelponnya.
Nessa merasa sepi di rumah itu, karena kebetulan hari ini hari Minggu, Irgi dan Dinda sedang mengunjungi adik mereka di pesantren.
"Duh bosan banget, si Farel Kemana ya?" Guman Nessa.
Nessa kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan meraih handphonenya.
Setelah mendapati nomor Farel, Ia pun menghubungi kekasihnya itu.
Berkali-kali Farel dihubungi. Namun, panggilan darinya selalu tak terjawab.
Setelah 4 kali menghubungi, barulah Farel mengangkat teleponnya.
"Halo sayang," sapa Farel di seberang telepon.
"Farel Kamu kemana sih, Aku telepon dari tadi kok baru diangkat."
"Maaf Sayang aku lagi sibuk. "
"Lagi sibuk sibuk apa?" tanya Nessa.
"Lagi sibuk di bengkel," cetus Farel dengan nafas yang ngos-ngosan.
Nessa mendengar ada gelagat aneh dari Farel.
"Beneran kamu sibuk di bengkel?"tanya Nessa ragu.
"Bener dong."
"Ya udah kalau begitu Aku nyusul kamu ke sana ya."
"Jangan, nggak usah sayang, nanti biar aku saja yang jemput kamu ya," cetus Farel kemudian ia langsung memutus sambungan teleponnya.
Farel sengaja tidak ingin memberitahu Nessa tentang dirinya yang sudah mendaftar di turnamen gulat. Karena jika Nessa tahu dirinya mencari uang dengan cara seperti itu, sudah pasti Nessa akan melarang.
__ADS_1
"Ih Farel Kenapa sih kok makin aneh ya," guman Nessa.
Karena Farel sebentar lagi menjemputnya, Nessa pun bersiap.
Beberapa saat kemudian Farel tiba di rumah Nessa. Nisa langsung masuk ke dalam mobil Farel dan mereka pun langsung berangkat.
"Kamu ke mana aja sih Rel, kok kayaknya sibuk banget nelpon aku saja sudah jarang banget. Kamu bosan ya sama aku?" tanya Nessa dengan nada sedikit ngambek.
"Bosan? ya nggak bosan lah sayang, aku kerja biar bisa mengumpulkan uang untuk bisa segera melamar kamu."
Nessa melirik ke arah Farel dan tubuh Farel saat itu masih dibanjiri keringat.
"Masa' sih," dengus Nessa yang sedikit curiga.
"Iya, masa kamu nggak percaya. Kalau nggak percaya belah aja dadaku," cetus Farel.
"Kalau dada kamu dibelah, mati dong, ntar aku kawin sama siapa?" tanya Nessa.
"Ya sama arwah akulah, sampai matipun aku nggak akan rela kamu dimiliki oleh siapapun," ucap Farel sambil meraih tangan Nessa kemudian menciumnya.
"Jangan marah lagi ya," ucap Farel sambil mencolek dagu Nessa.
Nessa tersenyum, kalau sudah di rayu Farel ,dia pasti tak bisa marah.
Keduanya pun saling melempar senyum.
"Kalau aku sibuk, kamu gak usah berpikir macem-macem ya Sayang, karena percayalah, apa yang aku lakukan saat ini semuanya untuk kamu dan untuk kita, jadi jangan pernah berfikir jika aku sudah bosan," ucap Farel sambil merangkul Nessa.
"Iya tapi aku kan kangen,kalau lama gak bertemu kamu," dengus Nessa.
"Iya, aku janji akan bagi waktu lagi, biar setiap hari aku bisa antar jemput kamu lagi," ucap Farel sambil tersenyum.
"Ehm baiklah, kali ini aku pegang janji kamu," cetus Nessa.
"Eh kamu bilang tadi kangen ya sama aku?" tanya Farel.
"Iya, Kenapa?" tanya Nesaa balik.
"Kalau kangen sini dong, aku peluk biar kangennya hilang," cetus Farel sambil merangkul pundak Nessa dan menarik Nessa dalam pelukannya.
Nessa melingkar tangannya ke pinggang Farel, sambil meletakkan kepalanya di dada bidang Farel.
"Ilove you too," balas Nessa seraya tersenyum.
Farel kembali mencium pucuk kepala Nessa dengan lekat, untuk menunjukkan betapa sayangnya dirinya terhadap Nessa.
***
Beberapa hari berikutnya.
Dinda terbangun dari tidurnya, karena merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungnya.
Tangannya meraba bagian basah itu dan ternyata itulah adalah darah
"Mimisan lagi," ucap Dinda sambil menghapus darah segar itu kembali.
Dinda melirik ke arah Irgi yang tengah tertidur lelap.
"Kenapa ya setiap aku dan mas Irgi berhubungan suami istri, aku selalu mimisan."
Dinda kembali menghapus darah yang mengalir di hidungnya.
Tapi darah itu semakin banyak hingga tak berhenti.
Dinda kembali membersihkan darah tersebut. Hingga satu pack tissue hampir habis. Namun mimisannya tak juga berhenti.
"Kenapa gak berhenti juga " Dinda jadi makin panik .
Irgi membuka matanya karena merasakan gerakan di tempat tidur.
"Dinda, kamu kenapa?" tanya Irgi seraya bangkit.
Saat itu tubuh Dinda sudah gemetaran.
"Kamu mimisan lagi?"tanya irgi.
Irgi mencoba membersihkan hidung Dinda dengan tisu. Namun, masih saja darah itu mengalir, justru semakin lama semakin deras
__ADS_1
"Dinda kenapa mimisan kamu gak berhenti?" tanya Irgi makin panik.
"Ngak tau mas," jawab Dinda.
"Kita kerumah sakit sekarang!"
Irgi segera beranjak dari tempat duduknya kemudian mengenakan pakaiannya, setelah itu ia membantu Dinda untuk mengenakan pakaiannya.
Bola mata Dinda semakin sayu, dengan perlahan mata itu tertutup rapat padahal belum pun selesai Irgi mengganti pakaiannya.
"Dinda!Dinda," panggil Irgi ketika Dinda tak lagi membuka matanya .
"Ya Allah tolonglah Dinda, Dinda bangun sayang," panggil Irgi setengah menangis.
Setelah dipanggil beberapa kali dan tidak di respon.
Dengan segera Irgi membawanya keluar dari kamar.
Kebetulan saat itu sopir pribadi Nessa tengah menonton acara siaran langsung sepakbola.
"Pak Eko! Tolong siapkan mobilnya," titah Irgi.
Sang sopir langsung bergegas ketika melihat Irgi menggendong Dinda.
Dinda dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beruntung mimisannya berhenti saat itu
Setibanya di rumah sakit, Dinda langsung mendapatkan tindakan dan langsung masuk ruang ICU.
Dokter jaga saat ini tengah memeriksa kondisi Dinda.
"Bagaimana dokter, kenapa istri saya mengalami mimisan yang begitu banyak sekali?"
"Untuk penyebab pastinya akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter yang menangani penyakit kanker pasien. Sementara ini kami menduga ada pembuluh darah pasien yang pecah," ucap dokter tersebut.
"Pecah pembuluh darah?" gumam Irgi sambil menelan ludahnya.
"Apakah akan berbahaya?"tanya Irgi.
"Kemungkinan pasien mengalami kerusakan beberapa bagian organ dalam tubuhnya karena penyakit kankernya. Untuk lebih jelasnya silahkan menunggu pemeriksaan dokter Andi."
"Oh begitu," gumam Irgi ia pun berasa begitu sedih.
Setelah memeriksa keadaan Dinda dokter keluar dari ruangan tersebut.
Irgi menghampiri Dinda yang terbaring dengan beberapa selang terpasang di tubuhnya.
"Dinda," panggil Irgi ketika melihat wajah Dinda yang pucat.
"Maafkan mas Irgi Dinda, mas Irgi gak bisa jagain kamu," ucap Irgi lirih.
Irgi menyesal karena telah melakukan hubungan suami istri kepada istrinya yang sedang sakit.
Namun itu juga bukan sepenuhnya ke inginan Irgi karena kebanyakan Dinda yang meminta padanya.
Sepanjang malam itu Dinda tak sadarkan diri. Keesokan harinya dokter Andi datang memeriksa keadaannya.
"Sepertinya kanker yang diderita pasien sudah stadium akhir," ucap dokter Andi.
Irgi begitu kaget mendengarnya, padahal selama ini keadaan Dinda terlihat baik-baik saja.
"Stadium akhir dok?"tanya Irgi.
"Iya, ada beberapa organ bagian dalam pasien yang mengalami kerusakan," tutur dokter tersebut.
"Lalu apa istri saya masih bisa disembuhkan?"tanya Irgi.
Dokter Andi menghela nafas panjang.
Kanker yang diderita istri anda sangat ganas, Karena itulah fase stadiumnya begitu cepat meningkat. Saat ini pengobatan takkan terlalu mempengaruhi keadaan hanya saja bisa mengurangi rasa sakit dan membuat hidup pasien bertahan lebih lama."
Jadi Apakah istri saya bisa sembuh dokter tanya Irgi.
"Berdoa saja hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan istri anda," ucap dokter Andi sambil menepuk pundak Irgi.
Seketika air mata Irgi berlinang dengan tubuh yang terasa kaku, matanya melirik ke arah Dinda yang masih terbaring tak berdaya.
"Hiks hiks Dinda," gumam Irgi. Irgi pun menangis memeluk Dinda.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs, terima kasih masih setia menunggu cerita ini walaupun author jarang update karena kondisi kesehatan author yang kurang Fit.